Pengembangan Pendidikan Agama Islam: Reinterpretasi Berbasis Interdisipliner

Pengembangan Pendidikan Agama Islam

--- BUKU MURAH (ASLI bukan FOTOCOPY-AN/BUKAN BUKU BAJAKAN): " Buku MURAH BERKUALITAS hanya Rp.47.000,- (belum ongkos kirim) berjudul PENGEMBANGAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM: REINTERPRETASI BERBASIS INTERDISIPLINER (Yogyakarta: LKiS, 2015). Sebagai info harga buku ini di pasaran berkisar 70-90 ribu). Info lebih lanjut hubungi: 08563-350-350 (11 digit)”---

Saturday, June 28, 2014

KPK Milik Siapa

Baca Juga:


KPK Milik Siapa

KPK masih saja tertidur lelap dengan nyamannya, seakan tak punya beban moral dan hutang kepada rakyat untuk giat memberantas korupsi. Betapa tidak dugaan kasus BLBI, BCA, Rekening gendut Polisi, dan dugaan-dugaan korupsi lainnya masih terasa amat sulit dibedah tangan KPK. Belum lagi kasus dugaan korupsi Transjakarata yang ditangani oleh Jaksa Agung, yang idealnya harus ditangani oleh KPK.
Kenyataannya KPK tak bergeming, ia masih berada di Zona nyaman untuk terus menentukan “tersangka” korupsi di waktu dan momen yang tepat. Mungkin tujuannya untuk mendramatisasi keadaan, agar masyarakat tahu aksi heroik KPK itu bisa mempermalukan koruptor. Bila betul demikian, pasti semua rakyat akan setuju dengan cara KPK tersebut. Namun, apabila dalam konteks pilpers 2014 tujuannya adalah ingin “mempermalukan” kubu capres tertentu maka itu merupakan tindakan nista. Yakni, menyalahgunakan wewenang atau jabatan (kekuasaan) untuk kepentingan sendiri atau orang/kelompok lain.
Kita lihat saja SDA sebagai tim sukses Prabowo ditetapkan sebagai tersangka Koruptor setelah PPP benar-benar resmi mendukung Prabowo. Bila ada pertanyaan “Kenapa penetapannya tidak sejak dulu-dulu kala?” tentu dengan mudah akan dijawab “Karena dua alat bukti baru bisa ditemukan baru-baru saja, itupun harus diayakinkan dulu.” Itu adalah jurus ampuh untuk berkilah dan memang harus diakui sangat sulit untuk membuktikan ada kesalahan pada dalih itu.
Lalu ada pertanyaan lagi “Bila PPP bergabung dengan kubu Jokowi apakah SDA akan ditetapkan sebagai koruptor di waktu itu juga? Atau menunggu momen setelah ia berhenti menjabat menjadi menteri?” Pertanyaan-pertanyaan nakal itu yang mampu menjawab hanyalah KPK dan “penunggangnya” saja. Dalam kehidupan ini apapun atau siapapun itu bisa menjadi penunggangnya “siapapun” dan “apapun” juga, termasuk menunggangi KPK. Sedangkan sebaik-baik penunggang itu adalah kebenaran. (BanjirEmbun/28/06/2014)
Salam Banjir Embun…

No comments:

Post a Comment