Pengembangan Pendidikan Agama Islam: Reinterpretasi Berbasis Interdisipliner

Selasa, 01 Juli 2014

Menelusuri Jejak Korupsi

Baca juga:








Banyak politikus, terutama saat kampanye mengumbar janji akan memberantas korupsi hingga ke akar-akarnya. Yakni, memeriksa dengan teliti dan merata kepada seluruh pejabat, pengusaha, dan siapapun yang diindikasikan terlibat dalam pusaran korupsi. Kemudian setelah terbukti bersalah, pelaku korupsi akan ditindak tegas dan dihukum seberat-beratnya.
Tentu saja bila janji itu secara kuantitas terealiasi 85% saja dan secara kualitas terealisasi 100%, maka dipastikan akan menjadi peristiwa fenomenal. Terlebih bagi mata rakyat Indonesia yang haus dan butuh “rasa keadilan.” Dari itu, selanjutnya pemberantasan korupsi bisa menjadi komoditas “pencitraan” elite politik. Yakni, agar rakyat mencitrakan pemimpin tersebut bersih dan anti korupsi.
Bila semuanya tadi benar-benar direalisasikan, sangat mungkin rakyat akan merasa puas atas kinerja pemimpinnya. Mereka merasa dihargai dan tidak merasa dipermainkan lagi atas penegakan hukum di negeri ini. Yakni, ketika sistem kepemerintahan sanggup membuat koruptor menjadi malu dan terdiam pasrah penuh penyesalan. Hingga pada akhirnya diharapkan ia akan mengalami perubahan gaya hidup secara lahir dan batin setelah dipastikan wajib dibina selama puluhan tahun di Penjara.
Sedang dalam kajian hukum kausalitas (sebab akibat), korupsi bukan hanya sebagi penyebab terjadinya sesuatu. Misalnya lambatnya terselesainya proyek, tercederainya hak rakyat, dan terjadinya ketidak harmonisan dalam lingkungan sosial maupun birokrasi yang korup. Akan tetapi korupsi juga sektor yang bertindak menjadi akibat, yaitu terjadi diakibatkan karena adanya kesempatan atau peluang. Oleh karena itu, agar tindakan nista itu musnah hingga ke akarnya maka seharunsya sistem pemerintah harus melenyapkan unsur kesempatan tersebut.
Apabila ditelisik lebih mendalam disertai analisis dari berbagai aspek bidang kajian ilmu, sesungguhnya akar permasalahan korupsi itu sangat rumit dan komplek. Selama ini banyak kalangan yang menganggap biangkladi terjadinya korupsi disederhanakan hanya pada faktor individu, misalnya gaya hidup hedonis, berkarakter rakus, dan tuntutan harga diri (gengsi) untuk berkuasa. Padahal masalah korupsi ini terjadi sistematis, bukan hanya berhenti pada faktor individu. Oleh karena itu, untuk menghapus korupsi mata rantai dan akar masalahnya harus dipotong-potong terlebih dahulu.
Dengan demikian, persaingan gaya hidup mewah yang dilakukan oleh koruptor maupun keluarganya bukan merupakan penyebab inti kasus korupsi. Alasannya, siapapun pasti ingin hidup mewah, berfasilitas serba bersih, berfasilitas teknologi canggih, dan terjamin semuanya. Tak peduli ia adalah pemulung, tukang becak, kuli, sopir, pembantu, pejabat, atau siapapun mereka pasti mendambakan kehidupan yang seperti itu. Selanjutnya, tinggal bagaimana cara yang ditempuh untuk mendapatkan kemegahan itu.
Dapat disimpulkan akar permasalahan korupsi bukanlah sifat rakus, keinginan hidup mewah, dan keinginan manusia membantai manusia lain dengan segala cara (homo homini lupus). Namun, korupsi ada karena adanya satu karakter buruk yang dimiliki manusia. Yakni, memanfaatkan kesempatan (misalnya, kesempatan jabatan) sebesar-besarnya di tengah kesempitan (kesulitan) banyak orang. Bahkan agar bisa terus berkorupsi ia akan selalu melanggengkan kesempitan yang diderita orang banyak itu dengan berbagai cara yang ditempuh. (BanjirEmbun/20/06/2014)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar