Pengembangan Pendidikan Agama Islam: Reinterpretasi Berbasis Interdisipliner

Pengembangan Pendidikan Agama Islam

--- BUKU MURAH (ASLI bukan FOTOCOPY-AN/BUKAN BUKU BAJAKAN): " Buku MURAH BERKUALITAS hanya Rp.47.000,- (belum ongkos kirim. Ongkos kirim diperkirakan Rp. 18.000 - Rp. 35.000 tergantung lokasi pengiriman) berjudul PENGEMBANGAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM: REINTERPRETASI BERBASIS INTERDISIPLINER (Yogyakarta: LKiS, 2015). Sebagai info harga buku ini di pasaran berkisar 70-90 ribu). Serta buku ini hanya dijual di toko buku daerah YOGYAKARTA saja.Info lebih lanjut hubungi: 08563-350-350 (11 digit)”---

Wednesday, October 8, 2014

Implementasi Penilaian Afektif Pendidikan Agama Islam


DOWNLOAD BAGIAN BUKU 

"PENGEMBANGAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM: REINTERPRETASI BERBASIS INTERDISIPLINER"

FORMAT PDF  >> di sini <<



 Oleh:

Edi Priyanto
Foto Edi Priyanto, sumber foto facebook

D.      Implementasi Penilaian Afektif Pendidikan Agama Islam
1.    Pengertian Penilaian Ranah Afektif
Penilaian ranah afektif diartikan sebagai penilaian terhadap sikap (respon atau minat, perasaan dan emosi) dan nilai (perilaku yang sesuai dengan kepatutan agama serta sosial) yang lebih sulit diukur dari pada ranah lainnya. Sebagaimana menurut Bloom yang dikutip dalam Permendiknas Nomor 20 tahun 2007 bahwa hasil belajar menurut Bloom mencakup prestasi belajar, kecepatan belajar, dan hasil afektif. Dalam permendiknas tersebut Andersen juga menyebutkan bahwa karakteristik manusia itu terdiri dari berbagai tipikal yang meliputi tindakan berpikir, berbuat (praktik), dan perasaan. Jika pendapat Andersen tersebut dikaitkan dengan taksonomi Bloom maka tipikal berfikir adalah ranah kognitif, tipikal berbuat adalah ranah psikomotorik, dan tipikal perasaan adalah ranah afektif. Ketiga ranah tersebut merupakan karakteristik manusia sebagai hasil belajar dalam bidang pendidikan. Untuk ranah afektif mencakup watak perilaku yang spontan (reflek) seperti perasaan, minat, sikap, emosi, atau nilai.[1]
Tentang kemampuan afektif manusia Akhmad Sudrajat menerangkan::

Kemampuan afektif berhubungan dengan minat dan sikap yang dapat berbentuk tanggung jawab, kerjasama, disiplin, komitmen, percaya diri, jujur, menghargai pendapat orang lain, dan kemampuan mengendalikan diri. Semua kemampuan ini harus menjadi bagian dari tujuan pembelajaran di sekolah, yang akan dicapai melalui kegiatan pembelajaran yang tepat.[2]


Sedangkan Zainal Arifin menjelaskan bahwa:

Domain afektif (affective domain), yaitu internalisasi sikap yang menunjuk ke arah pertumbuhan batiniah dan terjadi bila peserta didik menjadi sadar tentang nilai yang diterima, kemudian mengambil sikap sehingga menjadi bagian dari dirinya dalam membentuk nilai dan menentukan tingkah laku.[3]


Indikator dari seseorang yang mempunyai kecerdasan afektif adalah sikapnya yang selalu ingin menampilkan sikap ingin dipercaya (kredibel), menghormati dan dihormati. Pendidikan agama justru mempunyai kepentingan yang besar dengan aspek ini karena lebih menekankan kepada pembentukan kepribadian, pembentukan sikap, pembentukan karakter, pemupukan perasaan, penyempurnaan akhlak, penanaman keimanan dan ketakwaan.Oleh karena itu, sangat perlu dilaksanakan penilaian afektif ini yang memang tampaknya belum begitu mendapat perhatian.
Jadi penilaian ranah afektif mata pelajaran PAI adalah prose kegiatan pengumpulan data dan informasi dengan menggunakan instrumen tentang sikap, nilai, kepribadian, serta akhlak siswa baik dalam pembelajaran ataupun di luar pembelajaran PAI.

2.    Tujuan dan Fungsi Penilaian Ranah Afektif
Penilaian afektif adalah suatu kegiatan yang direncanakan dan mempunyai tujuan, sebelum guru melakukan penilaian, harus terlebih dahulu merumuskan tujuan bagaimana dan untuk apa penilaian itu dilakukan. Berkenaan dengan sikap, yang terdiri dari lima aspek, yaitu penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi dan internalisasi. Ranah afektif berkenaan dengan sikap dan nilai. Penilaian hasil belajar afektif kurang mendapat perhatian dari guru. Para guru lebih banyak menilai ranah kognitif semata-mata. Tipe hasil belajar afektif tampak pada siswa dalam berbagai tingkah laku seperti perhatiannya terhadap pelajaran, disiplin, motivasi belajar, menghargai guru dan teman sekelas, dan hubungan sosial.
Sekalipun bahan pelajaran berisi ranah kognitif, ranah afektif harus menjadi bagian integral dari bahan tersebut dan harus tampak dalam proses belajar dan hasil belajar yang dicapai oleh siswa. Oleh sebab itu, penting dinilai hasil-hasilnya.

3.    Karakteristik afektif
Berdasarkan buku Juknis Penyusunan Perangkat Penilaian Afektif Di SMA yang disusun oleh Direktorat Pembinaan SMA Ada lima tipe karakteristik afektif yang penting, yaitu;
a.    Sikap
Sikap merupakan suatu kencendrungan untuk bertindak secara suka atau tidak suka terhadap suatu objek. Sikap dapat dibentuk melalui cara mengamati dan menirukan sesuatu yang positif, kemudian melalui penguatan serta menerima informasi verbal. Penilaian sikap adalah penilaian yang dilakukan untuk mengetahui sikap peserta didik terhadap mata pelajaran, kondisi pembelajaran, pendidik, dan sebagainya.

b.   Minat
Minat adalah suatu disposisi yang terorganisir melalui pengalaman yang mendorong seseorang untuk memperoleh objek khusus, aktivitas, pemahaman, dan keterampilan untuk tujuan perhatian atau pencapaian.
c.    Konsep diri
konsep diri adalah penilaian yang dilakukan individu terhadap kemampuan dan kelemahan yang dimiliki. Target, arah, dan intensitas konsep diri pada dasarnya seperti ranah afektif yang lain. Konsep diri ini penting untuk menentukan jenjang karir peserta didik, yaitu dengan mengetahui kekuatan dan kelemahan diri sendiri dapat dipilih alternatif karir yang tepat bagi peserta didik.
d.   Nilai
Nilai adalah suatu objek, aktivitas, atau ide yang dinyatakan oleh individu dalam mengarahkan minat, sikap, dan kepuasan. Target nilai cenderung menjadi ide, target nilai dapat juga berupa sesuatu seperti sikap dan perilaku. Arah nilai dapat positif dan dapat negatif.
e.    Moral
Moral berkaitan dengan perasaan salah atau benar terhadap kebahagiaan orang lain atau perasaan terhadap tindakan yang dilakukan diri sendiri. Moral berkaitandengan prinsip, nilai, dan keyakinan seseorang.[4]

4.    Komponen penilaian afektif
Dalam Standar Kompetensi Lulusan KTSP yang telah ditetapkan pada satuan pendidikan Madrasah Aliyah dijelaskan bahwa untuk rumpun mata pelajaran PAI yang meliputi Aqidah Akhlak, Qur’an Hadits, Fiqih, dan SKI harus mempuat setidak-tidaknya sebagai berikut:[5]
a)    Aqidah Akhlak
1)   Memahami istilah-istilah aqidah, prinsip-prinsip, aliran-aliran dan metode peningkatan kualitas Aqidah serta meningkatkan kualitas keimanan melalui pemahaman dan pengahayatan al-Asmaul Husna serta penerapan perilaku bertauhid dalam kehidupan.
2)   Memahami istilah-istilah akhlak dan tasawuf, menerapkan metode peningkatan kualitas Akhlaq, serta membiasakan perilaku terpuji dan menghindari perilaku tercela.
b)   Qur’an Hadits
Memahami isi pokok ajaran al-Qur’an, fungsinya dan bukti-bukti kemurniannya, istilah-istilah hadits, fungsi hadits terhadap al-Qur’an, pembagian hadits ditinjau dari segi kuantitas dan kualitasnya, serta memahami dan mengamalkan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits tentang manusia dan tanggungjawabnya di muka bumi, demokrasi serta pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
c)    Fiqih
Memahami dan menerapkan sumber hukum Islam dan hukum taklifi, prinsip-prinsip ibadah dan syari’at dalam Islam, fiqih ibadah, mu'amalah, munakahat, mawaris, jinayah, siyasah, serta dasar-dasar istinbath dan kaidah ushul fiqih.
d)   SKI
1)   Memahami dan mengambil ibrah sejarah dakwah Nabi Muhammad pada periode Mekkah dan periode Madinah, masalah kepemimpinan umat setelah Rasulullah SAW wafat,  perkembangan Islam pada abad pertengahan /zaman kemunduran (1250 M – 1800 M), abad pertengahan /zaman kemunduran (1250 M – 1800 M), masa modern /zaman kebangkitan (1800-sekarang), serta perkembangan Islam di Indonesia dan di dunia.
2)   Mengapresiasi fakta dan makna peristiwa-peristiwa bersejarah, dan mengkaitkannya dengan fenomena kehidupan sosial, budaya, politik, ekonomi, dan ipteks.
3)   Meneladani tokoh-tokoh yang berprestasi dalam perkembangan sejarah kebudayaan/peradaban Islam.
Dari penjabaran di atas maka dapat dianalisis bahwa sesungguhnya rumpun mata pelajaran PAI di Madrasah Aliyah lebih menekankan pada penguasaan aspek afektif daripada kognitif. Oleh karena itu penyusunan instrumen, penguasaan, dan penerapan penilaian afektif pada rumpunt mata pelajaran PAI sangat penting.

5.    Aspek-aspek afektif
Aspek afektif ini berhubungan dengan sikap mental, perasaan dan kesadaran siswa. Hasil belajar dalam aspek ini diperoleh melalui proses internalisasi, yaitu: suatu proses ke arah pertumbuhan rohaniah dan batiniyah siswa. Pertumbuhan itu terjadi ketika siswa menyadari suatu nilai yang terkandung dalam pengajaran agama dan kemudian nilai-nilai dijadikan suatu sistem nilai diri sehingga menuntut segenap pernyataan sikap, tingkah laku dan perbuatan moralnya dalam menjalani kehidupan ini. Aspek afektif yang dominan pada mata pelajaran Pendidikan Agama meliputi aspek penanaman nilai-nilai akhlak, sebagaimana yang tercantum dalam SK Dirjen Mandikdasmen Nomor 12/C/KEP/TU/2008 tentang Bentuk dan Tata Cara Penyusunan Laporan Hasil Belajar Peserta Didik Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.[6]
Ranah afektif ini sebagaimana dikutip Nana Sudjana oleh Krathwohl dan kawan-kawan ditaksonomi menjadi lebih rinci lagi ke dalam lima jenjang, yaitu:

a.       Reciving/attending, yakni semacam kepekaan dalam menerima rangsangan (stimulasi) dari luar yang datang kepada siswa dalam bentuk masalah, situasi, gejala, dan lain-lain. Dalam tipe ini termasuk kesadaran, ke­inginan untuk menerima stimulus, kontrol, dan seleksi gejala atau rangsangan dari luar.
b.      Responding atau jawaban, yakni reaksi yang diberikan oleh seseorang terhadap stimulasi yang datang dari luar. Hal ini mencakup ketepatan reaksi, perasaan, kepuasan dalam menjawab stimulus dari luar yang datang kepada dirinya.
c.       Valuing (penilaian) berkenaan dengan nilai dan kepercayaan terhadap gejala atau stimulus tadi. Dalam penilaian ini termasuk di dalamnya kesediaan menerima nilai, latar belakang, atau pengalaman untuk menerima nilai dan kesepakatan terhadap nilai.
d.      Organisasi, yakni pengembangan dari nilai ke dalam satu sistem organisasi, termasuk hubungan satu nilai dengan nilai lain, pemantapan, dan prioritas nilai yang telah dimilikinya. Yang termasuk ke dalam organisasi ialah konsep tentarig nilai, organisasi sistem nilai.
e.       Karakteristik nilai atau internalisasi nilai, yakni keterpaduan semua sistem nilai yang telah dimiliki seseorang, yang mempengaruhi pola kepribadian dan tingkah lakunya. Kedalamnya termasuk keseluruhan nilai dan karakteristiknya.[7]

Adapun untuk ciri-ciri dari kelima jenjang afektif sebagai berikut:
Tabel 2.2 Ciri-ciri Lima Jenjang Afektif[8]

Tingkat/hasil belajar
Ciri-cirinya
1.  Receiving
-          Aktif menerima dan sensitif (tanggap) dalam menghadapi gejala-gejala (fenomena)
-          Siswa sadar tetapi sikapnya pasif pada stimulus
-          Siswa bersedia menerima, pasif terhadap fenomena tetapi sikapnya mulai aktif
-          Siswa mulai selektif artinya sudah aktif melihat dan memilih.
2.  Responding
-          Bersedia menerima, menanggapi dan aktif menyeleksi reaksi
-          Compliance mengikuti sugesti, dan patuh
-          Sedia menanggapi atau respon
-          Puas dalam menanggapi.
3.  Valuing
-          Sudah mulai menyusun/memberikan persepsi tentang obyek/fenomena
-          Menerima nilai (percaya)
-          Memilih nilai/seleksi nilai
-          Memiliki ikatan batin (memiliki keyakinan
-          terhadap nilai).
4.  Organization
-          Pemilikan sistem nilai
-          Aktif mengkonsepsikan nilai dirinya
-          Mengorganisasikan sistem nilai (menjaga agar nilai menjadi aktif dan stabil).
5.  Characterization by a value or value complex
-          Menyusun berbagai macam sistem nilai menjadi nilai yang mapan dalam dirinya
-          Predisposisi nilai (terapan dan pemilikan sistem nilai)
-          Karakteristik pribadi, atau internalisasi nilai (nilai sudah menjadi bagian yang melekat dalam pribadinya).



[1]Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah tentang. Bentuk dan Tata Cara Penyusunan Laporan Hasil Belajar Peserta Didik Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah (SD/MI/SDLB SMP/MTs/SMPLB dan SMA/MA/SMK/SMALB) Standar Nasional Pendidikan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2007 tentang Standar Penilaian Pendidikan. Jakarta: Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah.
[3]Zainal Arifin, Evaluasi Pembelajaran, 49.
[4] Diknas, Juknis Penyusunan Perangkat Penilaian Afektif Di SMA (Jakarta: Direktorat Pembinaan SMA, 2010), 46
[5]Perangkat Pembelajaran KTSP Madrasah Aliyah SKL-SK-KD, untuk mata pelajaran Aqidah Akhlak, Qur’an Hadits, Fiqih, dan SKI.
[6]Ibid, 47.
[7]Nana Sujana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, 29-30.
[8]Suke Silverius, Evaluasi Hasil Belajar dan Umpan Balik, 53.

No comments:

Post a Comment