Wednesday, October 8, 2014

Karakteristik dan Komponen Tujuan Pendidikan Agama Islam


DOWNLOAD BAGIAN BUKU 

"PENGEMBANGAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM: REINTERPRETASI BERBASIS INTERDISIPLINER"

FORMAT PDF  >> di sini <<


Oleh:
Edi Priyanto
(Penulis adalah guru Negeri MAN 3 Kota Kediri, Alumni Pascasarjana STAIN Kediri)
Foto Edi Priyanto, sumber foto facebook




4.    Karakteristik Pendidikan Agama Islam
Pendidikan agama dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan spiritual dan membentuk peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia. Akhlak mulia mencakup etika (baik-buruk, hak-kewajiban), budi pekerti (tingkah laku), dan moral (baik-buruk menurut umum) sebagai perwujudan dari keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Peningkatan kemampuan spiritual mencakup pengenalan, pemahaman, dan penanaman nilai-nilai keagamaan, serta pengamalan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan individual ataupun kolektif kemasyarakatan dan bertujuan pada optimalisasi kemampuan yang dimiliki manusia yang aktualisasinya mencerminkan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan[1].
Ruang lingkup materi Pendidikan Agama Islam yaitu Al-Qur’an-Hadits, Aqidah, Akhlak, Fiqih, dan Sejarah Kebudayaan Islam. Sesuai dengan tujuan pembelajaran, penilaian pada kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia terfokus pada aspek kognitif atau pengetahuan, psikomotor dan aspek afektik atau perilaku[2]. 
Dengan demikian, mata pelajaran Pendidikan Agama Islam didasarkan pada ketentuan-ketentuan yang ada pada dua sumber pokok ajaran Islam, yaitu al-Quran dan al-Sunnah (al-Hadits Nabi Muhammad Saw) sebagai dalil naqli. Melalui metode Ijtihad (dalil aqli) para ulama mengembangkan konsep Pendidikan Agama Islam tersebut dengan lebih rinci dan mendetail dalam bentuk fiqih dan hasil-hasil ijtihad lainnya.
Pemikiran dasar Pendidikan Agama Islam yaitu terbentuknya peserta didik yang memiliki akhlak mulia budi pekerti yang luhur. Tujuan tersebut merupakan misi utama diutusnya Nabi Muhammad Saw, di dunia. Dengan demikian, pendidikan akhlak (budi pekerti) adalah ruh Pendidikan Agama Islam. Hal ini bukan berarti bahwa pendidikan Islam tidak memerhatikan pendidikan jasmani, akal, ilmu, ataupun segi-segi praktis lainnya, tetapi maksudnya adalah bahwa pendidikan Islam memerhatikan segi-segi pendidikan akhlak seperti juga segi-segi lainnya.

5.    Komponen Tujuan Pendidikan Agama Islam
Tujuan ialah hasil yang diharapkan tercapai setelah suatu usaha selesai. Maka pendidikan merupakan suatu usaha yang berproses melalui tahap-tahap dan tingkatan-tingkatan.Tujuan pendidikan bukanlah suatu benda yang berbentuk tetap dan statis, tetapi merupakan suatu keseluruhan dari kepribadian seseorang, berkenaan dengan seluruh aspek kehidupannya.[3]
Tujuan akhir harus lengkap (comprehensive) mencakup semua aspek, serta terintegrasi dalam pola kepribadian ideal yang bulat dan utuh.Tujuan akhir mengandung nilai-nilai islami dalam segala aspeknya. Abdul Mujib menjelaskan tujuan akhir dibedakan menjadi tiga bagian, yaitu:
a. Tujuan normatif,yaitu tujuan yang ingin dicapai berdasarkan norma-norma yang mampu mengkristalisasikan nilai-nilai yang hendak diinternalisasi. b. Tujuan fungsional, yaitu sasaran diarahkan pada kemampuan peserta didik untuk memfungsikan daya kognisi, afeksi, dan psikomotorik dari hasil pendidikan yang diperoleh sesuai dengan yang ditetapkan. c. Tujuan operasional, yaitu sasaran teknis manajerial.[4]

Dengan demikian, tujuan pendidikan Islam merupakan gambaran nilai-nilai Islami yang hendak diwujudkan dalam pribadi manusia-didik pada akhir dari proses tersebut. Dengan istilah lain perwujudan nilai-nilai Islami dalam pribadi manusia-didik yang diikhtiarkan oleh pendidikan muslim melalui proses yang terminal pada hasil (produk) yang berpribadian Islam yang beriman, bertakwa dan berilmu pengetahuan yang sanggup mengembangkan dirinya menjadi hamba Allah yang taat.[5]


[1]BSNP, Panduan Penilaian Kelompok Mata Pelajaran Agama dan Akhlak Mulia, (Jakarta: Bidakara, 2007), 3.
[2]Ibid., 4-5.
[3] Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam, 29.
[4]Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakkir, Ilmu Pendidikan Islam, 75-76.
[5]Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan Islam (Bandung: Pustaka Setia, 1999), 58-59.

No comments:

Post a Comment