Pengembangan Pendidikan Agama Islam: Reinterpretasi Berbasis Interdisipliner

Rabu, 08 Oktober 2014

Teknik Observasi





Oleh:
Edi Priyanto
Foto Edi Priyanto, sumber foto facebook


7.    Teknik Observasi
Penilaian ranah afektif peserta didik selain menggunakan kuesioner juga bisa dilakukan melalui observasi atau pengamatan. Prosedurnya sama, yaitu dimulai dengan penentuan definisi konseptual dan definisi operasional. Definisi konseptual kemudian diturunkan menjadi sejumlah indikator. Indikator ini menjadi isi pedoman observasi. Misalnya indikator peserta didik berminat pada mata pelajaran matematika adalah kehadiran di kelas, kerajinan dalam mengerjakan tugas-tugas, banyaknya bertanya, kerapihan dan kelengkapan catatan. Hasil observasi akan melengkapi informasi dari hasil kuesioner. Dengan demikian informasi yang diperoleh akan lebih akurat, sehingga kebijakan yang ditempuh akan lebih tepat.[1]
Tabel 2.6 : Contoh Isi Buku Catatan Harian
No Hari/tanggal
Nama murid
Kejadian
(positif dan negatif)




Catatan dalam lembaran buku tersebut, selain bermanfaat untuk merekam dan menilai perilaku murid sangat bermanfaat pula untuk menilai sikap murid serta dapat menjadi bahan dalam penilaian perkembangan murid secara keseluruhan. Selain itu, dalam observasi perilaku dapat juga digunakan daftar cek (cheklist) yang memuat perilaku yang diharapkan muncul dari murid atau dalam keadaan tertentu.
Seperti yang sekilas dijelaskan di atas, bahwa teknik yang digunakan untuk menilai dapat dibedakan menjad idua, yaitu tes dan non tes. Tes dapat diberikan secara lisan (menuntut jawaban secara lisan), ada tes tulisan (menuntut jawaban secara tulisan), dan ada tes tindakan (menuntut jawaban dalam bentuk perbuatan).Sedangkan non tes sebagai alat penilaian mencakup observasi, kuesioner, wawancara, skala, sosiometri, studi kasus.


[1] Lampiran Pengembangan Perangkat Penilaian Afektif, 17.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar