Pengembangan Pendidikan Agama Islam: Reinterpretasi Berbasis Interdisipliner

Pengembangan Pendidikan Agama Islam

--- SELALU ADA YANG BARU DI BLOG BANJIR EMBUN: "Kami Mengucapkan Terima Kasih Atas Kunjungan Anda. Bila butuh bantuan atau ada pertanyaan silakan hubungi ke nomor 08563350350 atau kirim email ke: banjirembun@yahoo.co.id subjek: BanjirEmbun Menjawab”---

Sabtu, 01 November 2014

INOVASI PENGEMBANGAN BAHAN AJAR PEMBELAJARAN PAI (Telaah Pada Materi Ajar Pembelajaran al-Qur`an Hadis MI)

DOWNLOAD BAGIAN BUKU 


"PENGEMBANGAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM: REINTERPRETASI BERBASIS INTERDISIPLINER"


FORMAT PDF  >> di sini <<





INOVASI PENGEMBANGAN BAHAN AJAR PEMBELAJARAN PAI
(Telaah Pada Materi Ajar Pembelajaran al-Qur`an Hadis MI)
By: Fitratul Uyun

PAI BSI UIN MALIKI MALANG

Silakan anda download tulisan ini:
Download: file Pdf dan file word doc

 
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Al-Qur`an adalah kitab suci yang berbahasa Arab, namun memiliki karakteristik yang berbeda dengan teks-teks bahasa arab pada umumnya. Al-Qur`an dengan keindahan bahasanya berisikan petunjuk-petunjuk yang bersifat wahyu. Dalam Q.S. Fushshilat: 3
Ò=»tGÏ. ôMn=Å_Áèù ¼çmçG»tƒ#uä $ºR#uäöè% $|Î/ttã 5Qöqs)Ïj9 tbqßJn=ôètƒ ÇÌÈ
“Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui”.(Q.S. Fushshilat (41): 3).

Al-Qur`an yang secara harfiah berarti “bacaan sempurna,” merupakan suatu nama pilihan Allah yang sangat tepat, karena tidak ada satu bacaanpun semacam al-Qur`an yang dibaca oleh ratusan juta orang, yang dipelajari bukan hanya susunan redaksi dan pemilihan kosakatanya, tetapi kandungannnya yang tersurat, tersirat bahkan sampai kepada kesan yang ditimbulkannnya.[1] Untuk mengkaji al-Qur`an diperlukan pengetahuan yang selaras dengan karakteristik yang dimiliki oleh al-Qur`an itu sendiri.
Demikian dalam melakukan kajian terhadap Hadis. Hadis merupakan penjelas dari al-Qur`an. Hadis merupakan manifestasi dari ucapan, tindakan, atau ketetapan Nabi Muhammad SAW. yang dijadikan pedoman bagi umat Islam. Sebagaimana diketahui bahwa fungsi Hadis bagi al-Qur`an diantaranya adalah: (1) Bayan li al-taqri>r yakni menetapkan dan memperkuat  apa yang telah diterangkan di dalam al-Qur`an (2) Bayan li al-tafsi>r yakni penjelasan terhadap ayat-ayat yang memerlukan perincian atau penjelasan lebih lanjut seperti pada ayat yang mut}la>q, mujma>l (3) Bayan li al-tasyri>’ yakni menetapkan aturan atau hukum.[2]
Dalam mempelajari al-Quran maupun Hadis sebagai dua pedoman yang dianut oleh umat Islam, seyogyanya harus memuat perangkat-perangkat ilmiah yang diperlukan untuk memahami keduanya secara holistik. Salah satu perangkat ilmiah yang dapat digunakan adalah dengan pendekatan hermeneutik. Pendekatan hermeneutik dilakukan dalam rangka memberikan penafsiran terhadap al-Qur’an yang lebih bermakna sehingga senantiasa s{>alih{un li kulli al-zama>n wa  al-maka>n. Bagaimana pesan moral atau ideal moral dapat ditangkap dari pembacaan terhadap al-Qur`an maupun Hadis serta diambil sebagai sebuah pembiasaan karakter sebagai pengamalan dalam kehidupan keseharian umat Islam.
Terkait dengan hal tersebut di atas, sebuah upaya pemahaman terhadap al-Qur`an maupun Hadis serta kemampuan mengamalkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya merupakan kewajiban umat Islam sekaligus menjadi  tolok ukur kualitas keislamannya. Sehingga merupakan sebuah konsekuensi yakni upaya pemenuhan terhadap hak-hak al-Qur`an maupun Hadis untuk didekati secara ilmiah sehingga senatiasa s{>alih{un likulli al-zama>ni wa al-maka>n baik oleh masyarakat secara umum apalagi oleh para pendidik dan pebelajar al-Qur`an Hadis (peserta didik). Salah satunya dengan melakukan kajian filosofis dalam menafsirkan al-Qur`an maupun Hadis melalui pendekatan hermeneutik.
Hanya saja yang terjadi adalah bahwa pembelajaran al-Qur`an Hadis di masyarakat secara umum, bahkan yang terjadi di sekolah-sekolah, kebanyakan masih pada tataran membaca bunyi-bunyi lafaz| al-Qur`an, bagaimana mengucapkan huruf-huruf secara tepat dan sesuai dengan tajwid- walaupun ini juga merupakan bagian yang penting- namun porsi terhadap pemahaman terhadap kandungan ayat-ayat al-Qur`an maupun Hadis, masih sedikit terabaikan.
Seyogyanya dalam melakukan kajian terhadap al-Qur`an Hadis, para pendidik dan pebelajar al-Qur`an Hadis (peserta didik) di sekolah mencermati 4 tahapan terkait dengan bahan ajar dan pembelajaran al-Qur`an Hadis yakni: (1) Kemampuan membaca teks-teks al-Qur`an maupun Hadis, (2) Kemampuan memahami makna kata-kata (alfa>z|) al-Qur`an maupun Hadis, (3) Mengkaji  interpretasi-interpretasi terhadap teks-teks al-Qur`an maupun Hadis, (4) Menggali nilai-nilai ajaran/ hukum (istinba>t}u al-ah}ka>m) yang terdapat dalam al-Qur`an maupun Hadis.
Hal ini senada dengan uraian tentang tujuan pembelajaran matapelajaran al-Qur`an Hadis di MI dalam Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia (Permenag) –selanjutnya ditulis Permenag-  Nomor 2 Tahun 2008 bahwa mata pelajaran al-Qur`an Hadis di Madrasah Ibtidaiyah bertujuan untuk: (a) Memberikan kemampuan dasar kepada peserta didik dalam membaca, menulis, membiasakan, dan menggemari membaca al-Qur`an Hadis; (b) Memberikan pengertian, pemahaman, penghayatan isi kandungan ayat-ayat al-Qur`an Hadis melalui keteladanan dan pembiasaan; (c) Membina dan membimbing perilaku peserta didik dengan berpedoman pada isi kandungan ayat al-Qur`an Hadis. [3]
Ditegaskan pula bahwa mata pelajaran al-Qur`an Hadis di MI secara substansial memiliki kontribusi dalam memberikan motivasi kepada peserta didik untuk mencintai kitab sucinya, mempelajari dan mempraktikkan ajaran dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sebagai sumber utama ajaran Islam dan sekaligus menjadi pegangan dan pedoman hidup dalam kehidupan sehari-hari. [4]
Berkaitan dengan karakteristik materi al-Qur`an Hadis, di dalam Permenag disebutkan bahwa Pendidikan Agama Islam (PAI) di Madrasah Ibtidaiyah yang terdiri atas empat mata pelajaran[5] memiliki karakteristik sendiri-sendiri. Al-Qur`an Hadis diantaranya menekankan pada kemampuan baca tulis yang baik dan benar, memahami makna secara tekstual dan kontekstual, serta mengamalkan kandungannya dalam kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan hal tersebut di atas, adalah tepat menurut penulis ketika pembelajaran al-Qur`an Hadis di kelas 5 Madrasah Ibtidaiyyah dengan kondisi perkembangan psikologis peserta didik yang sudah memasuki tahap operasional formal (11-12 tahun)[6] mulai dipraktikkan dengan mengadopsi  pendekatan hermeneutik yang dikemas secara sederhana. Hal ini diupayakan agar pengetahuan terhadap materi ajar baik al-Qur`an maupun Hadis di sekolah dan pemahaman atas kandungannnya bersifat utuh sehingga dapat menginternalisasi dalam kognitif, afektif dan psikomotorik peserta didik. Hal ini sesunguhnya relevan  dengan pemikiran modern yang diusung oleh para pakar al-Qur’an maupun Hadis dalam memberikan penafsiran terhadap al-Qur’an yang lebih segar melalui pendekatan hermeneutik.[7] Dalam pada itu, upaya-upaya inovatif dan kreatif di bidang pembelajaran khususnya pembelajaran al-Qur`an Hadis yang mengarah pada usaha pemahaman al-Qur`an yang lebih baik perlu mulai diwujudkan, salah satunya dengan pengembangan bahan ajar pembelajaran al-Qur`an Hadis dengan pendekatan hermeneutik bagi siswa MI yang dikemas secara sederhana dengan bahasa yang dialogis dan komunikatif.
Demikian sebagaimana teridentifikasi dari upaya inovatif dan kreatif di bidang pendidikan, banyak faktor yang mempengaruhi kualitas suatu program pendidikan diantaranya seperti kualitas siswa, kualitas guru, kualitas dan ketersediaan bahan ajar, kurikulum, fasilitas dan sarana, pengelolaan dan sebagainya. Sebagai salah satu komponen dalam pendidikan, bahan ajar dalam berbagai bentuk dan jenisnya[8] merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap mutu pendidikan. Dalam sudut pandang teknologi pendidikan, bahan ajar dalam berbagai bentuknya dikategorikan sebagai bagian dari media pembelajaran[9].
Tersedianya media penting sekali untuk merangsang kegiatan belajar siswa. Kehadiran guru untuk mengarahkan kegiatan belajar, buku teks sebagai sumber informasi, dan media-media lain sangat diperlukan  untuk merangsang kegiatan belajar siswa. Interaksi antara siswa dengan media inilah, menurut I Nyoman Sudana Degeng  yang sebenarnya merupakan wujud nyata dari tindak belajar.[10] Menurutnya, hal belajar terjadi dalam diri siswa ketika mereka berinteraksi dengan media dan karena itu, tanpa media, belajar tidak akan pernah  terjadi.
Bahan ajar sebagai salah satu media pembelajaran, mempunyai peranan penting dalam proses pembelajaran yaitu sebagai acuan bagi siswa dan guru untuk meningkatkan efektifitas pembelajaran. Bagi siswa, bahan ajar menjadi bahan acuan yang diserap isinya dalam proses belajar sehingga dapat menjadi pengetahuan. Sedangkan bagi guru, bahan ajar menjadi salah satu acuan penyampaian ilmu kepada siswa.[11]
Ada banyak bahan ajar yang tersedia di pasaran, ada juga buku paket bahan ajar yang sudah disusun secara nasional oleh Depdiknas[12]. Namun demikian, merupakan sebuah tanggung jawab profesional bagi guru, maupun pihak yang berkepentingan untuk tetap mengembangkan sendiri bahan ajar yang dibutuhkan untuk pembelajarannya. Hal ini dikarenakan dunia pendidikan adalah dunia yang dinamis sedinamis manusia sebagai subyek belajarnya dengan berbagai konteks sosial, ekonomi, budaya, politik yang selalu melatari sepanjang waktu. Merupakan sebuah keniscayaan bahwa tuntutan hidup beserta tantangannya selalu menghantui perjalanan hidup manusia.
Demikian halnya dengan keberadaan kurikulum yang sering berganti dalam waktu yang relatif cepat sebagai konsekuensi kebutuhan dunia pendidikan dengan manusia sebagai subyeknya, belum tentu dapat diikuti dengan kecepatan pengadaan bahan ajar untuk siswa, sehingga pengembangan bahan ajar mutlak diperlukan.
Penelitian pengembangan ini dipilih karena setelah mencermati bentuk fisik dan muatan materi serta desain yang ditampilkan buku tersebut, dapat dikatakan belum memenuhi semua unsur atau faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam pengembangan bahan ajar[13] baik dari segi materi maupun desainnya.
Dari segi materi, kondisi riil yang dihadapi kaitannnya dengan bahan ajar pembelajaran al-Qur`an Hadis di sekolah sebagai salah satu sumber belajar bagi siswa masih kurang efektif, mengutamakan hafalan, pemahaman terhadap materi al-Qur`an maupun Hadis cenderung sepotong-potong atau tidak utuh, sehingga kesan yang ada adalah bahwa satu ayat berdiri sendiri dengan keberadaan dirinya tanpa ada korelasinya (al- muna>sabah) dengan ayat yang lain. Sementara yang ingin dikembangkan ke dapan adalah bagaimana bahan ajar al-Qur`an Hadis yang akan dikembangkan selain mengakomodir hafalan dan terjemah ayat atau hadis juga menumbuhkan kesadaran nilai-nilai beragama yang hendak diwujudkan oleh materi yang menjadi hafalan sehingga harapannya dapat mentransformasi dan menginternalisasi dalam kesalehan pribadi, kesalehan sosial, kesalehan ekonomi, kesalehan budaya serta aspek kesalehan peserta didik lainnya.  
Adapun ditinjau dari segi desain yakni pada komponen illustrasinya, pada buku tersebut cenderung menampilkan gambar pendukung materi ulasan yang disajikan dalam bentuk animasi. Sementara  yang diharapkan adalah ketika mampu menampilkan ilustrasi tersebut dalam bentuk atau contoh-contoh yang lebih konkret atau riil sehingga dapat lebih interaktif bagi penggunanya.[14]
Demikian pula dalam penggunaan bahasa, ragam bahasa yang digunakan cenderung menggunakan bahasa baku sehingga kurang komunikatif dan kurang menimbulkan rasa ingin tahu siswa untuk melakukan eksplorasi lebih lanjut terkait pokok bahasan.[15] Dalam hal perwajahan atau pengemasan, narasi atau teks yang ditampilkan terlalu padat dalam satu halaman, sehingga diasumsikan dapat membuat siswa lelah membacanya, juga pada jenis dan ukuran huruf dari awal sampai akhir bab dengan menggunakan font dan jenis huruf yang sama, atau kurang divariasikan dalam rangka untuk menarik perhatian siswa.
Demikian riilita dilapangan, pengembangan bahan ajar al-Qur`an Hadis dengan spesifikasi pendekatan hermeneutik dengan bahasa yang dialogis dan komunikatif dengan penggunaan gambar dan ilustrasi visual serta kombinasi warna yang cukup proporsional sehingga lebih menarik motivasi dan perhatian siswa yang diasumsikan dibutuhkan belum ada tersusun. Demikian, ketika melakukan pencarian data melalui internet mengenai BSE (Buku Sekolah Elektronik) yang memuat tema al-Qur`an Hadis pun belum tersusun sampai tertanggal 17 Juni 2009,[16] sebagaimana lebih detail diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 2 Tahun 2008 tentang buku Bab 1 Pasal 1.[17]
Bertolak dari latar belakang masalah yang dikemukakan di atas, dapat dirumuskan permasalahan pengembangan bahan ajar mata pelajaran al-Qur`an Hadis dengan pendekatan hermeneutik sebagai berikut: Belum adanya buku ajar yang berupa buku pegangan guru dan siswa yang dapat dijadikan rujukan untuk pembelajaran al-Qur`an Hadis yang dikembangkan berdasarkan pendekatan hermeneutik. Apakah produk pengembangan bahan ajar al-Qur`an Hadis dengan pendekatan hermeneutik dapat meningkatkan keefektifan dan kemenarikan pembelajaran al-Qur`an Hadis di kelas 5 MI?
B. PEMBAHASAN
Kajian pengembangan bahan ajar PAI ini akan mencakup tentang: 1) pengembangan bahan ajar dalam kawasan ke-PAI-an materi al-Qur`an Hadis, 2) karakteristik bahan ajar, 3) karakteristik pendekatan hermeneutik dalam al-Qur`an Hadis, 4) kajian hermeneutik yang diadopsi dalam prototipe produk pengembangan buku ajar, 5) pengembangan bahan ajar al-Qur`an Hadis dengan pendekatan hermeneutik pada kawasan madrasah ibtidaiyyah  dan 6) kerangka teori pengembangan bahan ajar al-Qur`an Hadis dengan pendekatan hermeneutik.
1)        Pengembangan Bahan Ajar dalam Kawasan Ke-PAI-an.
Penetapan Undang-undang Nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) yang diikuti oleh PP Nomor 28 tahun 1990 tentang Pendidikan Dasar telah membawa perubahan besar terhadap madrasah sebagai salah satu institusi pendidikan Islam. Madrasah –MI dan MTs- tidak lagi disebut sekolah agama, tetapi berubah menjadi sekolah umum yang bercirikan Islam dan sejajar dengan sekolah-sekolah umum yang lain. Karena berdasarkan SK Mendikbud No. 0487/U/1992 dan No. 054/U/1993 yang ditindaklanjuti oleh SK Menag Nomor 368 dan 369 tahun 1993 madrasah wajib memberikan bahan kajian sekurang-kurangnya sama dengan SD/SLTP. Dengan demikian, tidak ada lagi perbedaan mendasar antara MI dan SD, serta MTs dan SMP.
Demikian, keberadaan SKB tiga menteri, Mendikbud, Mendagri dan Menag pada 1975 tentang kesetaraan madrasah dengan sekolah umum yang kemudian dikuatkan lagi dengan perubahan struktur kelembagaan madrasah pada UUSPN tahun 1989 yang merekomendasikan bahwa dari sisi kelembagaan, madrasah memiliki status yang sama dengan sekolah-sekolah umum di bawah naungan Departemen Pendidikan Nasional, telah menempatkan madrasah mendapatkan hak yang sama dengan sekolah-sekolah umum, baik dari segi pendanaan, pengembangan, perhatian pemerintah, perekrutan dan pembinaan tenaga pendidik dan kependidikan, serta derajat lulusan.
     Tidak terkecuali satuan pendidikan dasar madrasah dalam hal ini Madrasah Ibtidaiyyah sebagai bagian dari sitem pendidikan nasional, dituntut untuk selalu berupaya meningkatkan kualitas dalam penyelenggaraan pendidikan, hingga dapat menghasilkan lulusan yang berkualitas, mampu bersaing serta mampu menghadapi tantangan zaman.
Dari sinilah madrasah mengalami sejumlah perubahan dan perkembangan penting. Perubahan dan perkembangan tersebut bermuara pada satu tujuan, yaitu peningkatan kualitas madrasah, baik dari segi manajemen, kelembagaan, maupun kurikulum.[18]  Hal ini dikarenakan kebijakan otonomi daerah dan desentralisasi pendidikan memberi peluang bagi kepala madrasah, guru dan peserta didik untuk melakukan inovasi dan improvisasi di madrasah, berkaitan dengan masalah kurikulum, pembelajaran, dan manajerial yang tumbuh dari aktivitas, kreatifitas dan profesionalisme yang dimiliki oleh Madrasah.[19]
Dalam rangka mewujudkan keberhasilan manajemen Madrasah, maka proses pembelajaran yang didalamnya terdapat siklus belajar mengajar dengan komponen; pendidik-tujuan-bahan-metode-sarana-evaluasi dan anak didik perlu dikembangkan secara lebih efektif dan efisien dalam berbagai segi yang salah satu implementasinya adalah pada pengembangan bahan ajar sebagai salah satu komponen dalam sistem pembelajaran.
            Dalam upaya membelajarkan siswa dengan mudah, cepat dan menarik dan tidak membosankan, sehingga dapat dicapai hasil belajar yang optimal, diperlukan pengembangan bahan ajar pembelajaran yang cocok sesuai kondisi dan karakteristik peserta didik, karakteristik mata pelajaran  dengan mengacu pada paradigma teknologi pembelajaran.
            Teknologi pendidikan atau pembelajaran[20] berusaha memecahkan dan atau memfasilitasi pemecahan masalah belajar pada manusia sepanjang hayat, dimana saja, kapan saja, dengan cara apa saja dan oleh siapa saja. [21]                      
Hal ini bersesuaian dengan capaian proses pembelajaran yang seyogyanya diikuti oleh setiap satuan pendidikan sebagaimana termaktub dalam Peraturan Pemerintah No 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, pasal 19 ayat 1 yakni;
“Adapun proses pembelajaran pada satuan pendidikan hendaknya diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik”[22]

       Teknologi pembelajaran hadir sebagai suatu disiplin terapan yang berkembang karena adanya kebutuhan di lapangan, yaitu kebutuhan untuk belajar lebih efektif, lebih efisien, lebih banyak, lebih luas lebih cepat dan lain sebagainya.[23]
       Secara konseptual, pengertian atau definisi teknologi pembelajaran adalah teori dan praktik dalam desain, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan, penilaian dan penelitian proses, sumber dan sistem untuk belajar.  Ilustrasi dari definisi tersebut dapat dilihat pada gambar 2.1. sebagai berikut:
Gambar 2.1.
Definisi Teknologi Pembelajaran (Adaptasi dari Seels & Richey, 1994) Sebagaimana dikutip oleh Miarso.
Pengembangan proses, sumber,& sistem belajar
Desain proses, sumber & sistem belajar
TEORI
&
PRAKTIK
Pemanfaatan proses, sumber& sistem belajar
Pengelolaan proses, sumber & sistem belajar
Penilaian proses, sumber & sistem belajar
Penelitian proses, sumber & sistem belajar
 














Sebagai salah satu domain teknologi pembelajaran, pengembangan didefinisikan sebagai proses penerjemahan spesifikasi desain ke dalam bentuk fisik.[24]
       Dalam kaitannya dengan pengembangan buku ajar al-Qur`an Hadis, pemanfaatan teknologi pembelajaran dimaksudkan untuk memfasilitasi dan meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran al-Qur`an Hadis.  Dengan demikian, proyek pengembangan bahan pembelajaran ini merupakan rangkaian kegiatan yang berada dalam kawasan teknologi pembelajaran, khususnya dalam fungsi pengembangan komponen sistem pembelajaran berupa buku ajar al-Qur`an Hadis.
       Secara kuantitatif, pengembangan bahan pembelajaran al-Qur`an Hadis dengan pendekatan hermeneutik diperlukan untuk mengatasi problem pembelajaran al-Qur’an Hadis dengan alokasi waktu yang terbatas di kelas, harapannya adalah nilai-nilai yang terkandung didalam materi ajar al-Qur`an Hadis dapat lebih meluas dan merata pengaruhnya serta menginternalisasi dalam jiwa dan perilaku peserta didik baik di dalam maupun di luar sekolah.  Secara kualitatif, bagaimana menjadikan materi al-Qur`an Hadis lebih baik dan lebih maju sejalan dengan ide-ide dasar yang dibangun didalamnya, sehingga harapannya peserta didik dapat merespon permasalahan hidupnya dan kehidupan sekelilingnya dengan berpedoman pada al-Qur’an dan Hadis.
2)        Karakteristik Bahan Ajar
1.    Pengertian Bahan Ajar
Bahan ajar Menurut Pannen adalah bahan-bahan atau materi  pelajaran yang disusun secara sistematis yang digunakan guru dan siswa dalam proses pembelajaran.[25] Muhaimin dalam modul “Wawasan Pengembangan Bahan Ajar” mengungkapkan  bahwa bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru/ instruktur dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. Dalam website Dikmenjur dikemukakan pengertian bahan ajar sebagai seperangkat materi atau substansi pelajaran (teaching material) yang disusun secara sistematis menampilkan sosok utuh dari kompetensi yang akan dikuasai siswa dalam kegiatan pembelajaran.[26]
2.    Tujuan Bahan Ajar
Bahan ajar disusun dengan tujuan: (a) mambantu siswa dalam mempelajari sesuatu (b) menyediakan berbagai jenis pilihan bahan ajar (c) memudahkan guru dalam melaksanakan pembelajaran (d) agar kegiatan pembelajaran menjadi menarik.[27]
3.    Jenis-jenis Bahan Ajar
Bahan ajar jika dikelompokkan menurut jenisnya, ada 4 jenis yakni bahan cetak (material printed) seperti antara  lain  handout, buku, modul, lembar kerja siswa, brosur, leaflet, wallchart, foto/ gambar, model. Bahan ajar dengar sepert kaset, radio, piringan hitam dan compact disk audio. Bahan ajar pandang dengar seperti video compact disk, film. Bahan ajar interaktif seperti compact disk interaktif. [28](lebih detail lihat pada lampiran)
4.    Buku Ajar Sebagai Produk Pengembangan
Buku ajar adalah bahan tertulis yang menyajikan ilmu pengetahuan buah pikiran dari pengarangnya. Oleh pengarangnya isi buku didapat dari berbagai cara misalnya: hasil penelitian, hasil pangamatan, aktualisasi pengalaman, otobiografi atau hasil imajinasi seseorang yang disebut sebagai fiksi.
Buku sebagai bahan ajar merupakan buku yang berisi suatu ilmu pengetahuan hasil analisis terhadap kurikulum dalam bentuk tertulis. Guna mendapatkan bahan ajar yang sesuai dengan tuntutan kompetensi yang harus dikuasai oleh peserta didik diperlukan analisis terhadap kurikulum[29], analisis sumber belajar dan penentuan jenis serta judul bahan ajar. [30]
Disamping komponen tersebut diatas, terdapat beberapa faktor yang harus dipertimbangkan dalam melakukan pengembangan bahan ajar. Faktor-faktor tersebut adalah kecermatan isi, ketepatan cakupan, ketercernaan, penggunaan bahasa, ilustrasi, perwajahan/ pengemasan, serta kelengkapan komponen bahan ajar.[31]
Gambar 2.2.
Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam pengembangan bahan ajar (adaptasi dari Paulina Pannen dalam Tian Belawati)
Kecermatan isi
Perwajahan/ pengemasan
Ketercernaan
Ilustrasi
Ketepatan cakupan
Penggunaan bahasa
Kelengkapan komponen
 









               

Dengan gamblang Paulina Pannen memaparkan penjelasan faktor-faktor tersebut diatas sebagai berikut[32]:
a.       Kecermatan isi menunjuk pada validitas / kesahihan isi atau kebenaran isi secara keilmuan dan keselarasan isi atau kebenaran isi berdasarkan sistem nilai yang dianut oleh suatu masyarakat atau bangsa. Validitas isi menunjukkan bahwa isi bahan ajar dikembangkan berdasarkan konsep dan teori yang berlaku dalam bidang ilmu serta sesuai dengan kemutakhiran perkembangan ilmu dan hasil penelitian empiris yang dilakukan dalam bidang ilmu tersebut.
b.    Ketepatan cakupan berkenaan dengan keluasan dan kedalaman materi serta keutuhan konsep yang dibahas berdasarkan bidang ilmunya.
c.    Ketercernaan bahan ajar meliputi pemaparan yang logis, penyajian materi yang runtut, contoh dan ilustrasi yang memudahkan pemahaman siswa, alat bantu yang memudahkan, format yang tertib dan konsisten dan terdapat penjelasan tentang manfaat bahan ajar.
d.     Penggunaan bahasa meliputi pemilihan ragam bahasa, pemilihan kata, penggunaan kalimat efektif dan penyusunan paragraf yang bermakna. Bahan ajar yang baik diharapkan dapat memotivasi siswa untuk membaca, mengerjakan tugas-tugasnya, serta menimbulkan rasa ingin tahu siswa untuk melakukan eksplorasi lebih lanjut tentang topik yang dipelajarinya. Dengan demikian, ragam bahasa yang digunakan dalam bahan ajar biasanya ragam bahasa non formal atau bahasa komunikatif yang lugas dan luwes.
Dalam bahasa komunikatif, pembaca diajak untuk berdialog secara intelektual melalui sapaan, pertanyaan, ajakan, dan penjelasan, seolah-olah dialog dengan orang kedua itu benar-benar terjadi.  Penggunaan bahasa komunikatif akan membuat siswa merasa seolah-olah berinteraksi dengan gurunya sendiri melalui tulisan-tulisan yang disampaikan dalam bahan ajar.
e.      Perwajahan / pengemasan berperan dalam perancangan atau penataan letak informasi dalam satu halaman cetak, serta pengemasan dalam paket bahan ajar multimedia. Penataan letak informasi untuk satu halaman cetak, menurut Paulina, hendaknya mempertimbangkan beberapa hal berikut ini; Narasi atau teks yang terlalu padat dalam satu halaman membuat siswa lelah membacanya, bagian kosong ( white space) dari satu halaman sangat diperlukan untuk mendorong siswa mencorat-coret bagian kosong tersebut dengan rangkuman atau catatan, menggunakan sistem paragraf yang tidak rata pinggir kanan, karena paragraf seperti itu lebih mudah dibaca, menggunakan dan memvariasikan jenis dan ukuran huruf untuk menarik perhatian, tetapi jangan terlalu banyak sehingga membingungkan.
f.     Penggunaan ilustrasi dalam bahan ajar memiliki ragam manfaat antara lain membuat bahan ajar menjadi lebih menarik, komunikatif, membantu retensi dan pemahaman siswa terhadap isi pesan. Ilustrasi dapat dibuat sendiri oleh pengembang bahan ajar, juga dapat diambil dari sumber foto, majalah dan lain sebagainya
g.      Kelengkapan komponen berkenaan dengan paket bahan ajar yang memiliki tiga komponen inti yakni, komponen utama, komponen pelengkap dan komponen evaluasi.
3)        Karakteristik Pendekatan Hermeneutik
1.        Asal-usul dan Teori Hermeneutika
Hermeneutika berasal dari istilah Yunani, dari kata kerja hermeneuin yang berarti menafsirkan dan kata benda hermeneia yang berarti interpretasi. Kata tersebut terdapat dalam teks yang terus bertahan semenjak awalnya. Aristoteles  menemukan kelayakan subyek ini pada risalah besarnya yakni Organon, Peri Hermeneias (tentang penafsiran).[33] Kedua istilah tersbut diasosiasikan kepada Hermes Trismegistus[34], seorang utusan (dewa) dalam mitologi Yunani Kuno yang bertugas menyampaikan dan menerjemahkan pesan Dewata yang masih samar-samar ke dalam bahasa yang bisa dipahami oleh manusia.   Tiga akar kalimat hermeneutika diatas, dalam penggunaan aslinya, berarti a.  mengungkapkan kata-kata, b. menjelaskan, seperti menjelaskan sebuah situasi, c. menerjemahkan, seperti di dalam transeliterasi bahasa asing. Ketiga makna tersebut, dapat diwakilkan dengan bentuk kata kerja dalam bahasa Inggris to interpret.[35]
Richard E, palmer, memberikan peta hermeneutik sebagai berikut;[36]Pertama; hermeneutik sebagai teori penafsiran Kitab Suci. Hermeneutik dalam bentuk ini pada mulanya terdapat dalam tradisi gereja dimana masyarakat Eropa mendiskusikan otentitas Bibel untuk mendapatkan kejelasan akan maknanya. Hermeneutik identik dengan prinsip interpretasi. Bentuk hermeneutik semacam ini dikaji oleh J.C. Dannauher’s.
Kedua; Hermeneutik sebagai sebuah metode filologi. Kajian dalam bentuk ini dimulai oleh Ernesti pada 1761M, sampai kemudian corak ini dianggap sebagai metode penafsiran sekuler oleh pihak gereja. Kehadiran bentuk ini mulai tampak pada abad 19 M, yang sering didiskusikan oleh filolog Schleirmacher dan August Wolf. Ia memberikan porsi yang sama terhadap Kitab Suci dan teks lainnya.
Ketiga; Hermeneutika sebagai ilmu pengetahuan linguistik. Dalam perspektif historis, hermeneutik patut dianggap sebagai pahlawan dalam penafsiran Bibel serta filologi tradisional. Sebab dengan munculnya kedua bentuk disiplin ini, menandai adanya pemahaman secara linguistik atau bahasa terhadap teks.
Keempat; Hermeneutik sebagai fondasi ilmu kemanusiaan.[37] Kerangka hermeneutik ini, dimulai Wilhelm Dithley. Ia berusaha membawa hermeneutik dalam menafsirkan ilmu kemanusiaan, seperti menginterpretasikan ekspresi kehidupan manusia.  Di akhir perkembangan pemikirannya, Dilthey berusaha menginterpretasikan psikologi dalam memahami dan menginterpretasikan.
Kelima, Hermeneutik sebagai fenomena dassein  dan pemahaman eksistensial. Corak hermeneutik ini diungkap oleh pertama kali oleh Martin Heidegger yang berangkat dari filsafat eksistensialisme yang dipengaruhi oleh gurunya, Edmund Husserl. Dalam perjalanannya, bentuk hermeneutik filosofis ini, dikembangkan oleh Gadamer yang memberikan perhatian lebih kepada filsafat dalam hermeneutiknya.[38]
Keenam, Hermeneutika sebagai sistem penafsiran. Bentuk pemaknaan hermeneutik, merupakan suatu teori tentang seperangkat aturan yang menentukan suatu interpretasi (exegisis) suatu bagian dari teks atau sekumpulan tanda yang dianggap sebuah teks. Kajian tipe terakhir ini, dikemukakan oleh Paul Ricoeur. [39]
2.        Metodologi Hermeneutika al-Quran
Dalam dekade 1960-1970 an, muncul tokoh-tokoh yang mulai serius memikirkan persoalan metodologi tafsir ini. Diantara tokoh-tokonya dan buah pemikirannya adalah sebagai berikut:
a.         Fazlur Rahman dengan Double movementnya merumuskan penafsiran dua arah yaitu merumuskan visi al-Qur’an utuh dan kemudian menerapkan prinsip umum tersebut dalam situasi sekarang. [40] Lebih jelas diungkap dalam[41] bahwa Rahman menawarkan sebuah proses dengan dua pergerakan;  dari masa kini ke periode al-Qur’an dan kembali ke masa kini. Pergerakan pertama; yakni memahami al-Qur’an sebagai keseluruhan dan lewat perintah dan ketetapan khusus yang diturunkan sebagai respon pada situasi tertentu. Ini dilakukan dalam dua tahap, tahap pertama, mempelajari situasi historis dan tuntutan moral etisnya, menadahului kajian atas teks-teks al-Qur’an dalam situasi spesifik; tahap kedua,  menggeneralisasi jawaban-jawaban spesifik itu dan membingkainya sebagai pernyataan tentang tujuan moral situasi umum. Hal ini diperoleh dari teks-teks spesifik dengan melihat latar belakang sosio historisnya.  Pergerakan kedua, menerapkan tujuan umum yang telah diperoleh dari pergerakan pertama ke dalam konteks sosio-historis konkret masa kini.
b.        Arkoun dengan proses pewahyuannya berpendapat bahwa hubungan individu dengan firman Tuhan ini menyerupai hubungan sosio politik dengan komunitas. Gagasan Arkoun mengimplikasikan bahwa bisa jadi ada kelas “pembaca super”, ahli sejarah, atau linguis, yang sanggup mencapai makna sebenarnya dari sebuah teks.[42]
c.         Hassan Hanafi menawarkan sebuah hermeneutika al-Qur’an yang bercorak sosial eksistensial. Model tafsir yang dihasilkan dari hermeneutika jenis ini dimaksudkan oleh Hassan Hanafi sebagai  jawaban terhadap kebutuhan masyarakat Muslim yang masih banyak bergelut dengan berbagai bentuk penindasan dan keterbelakangan.
d.        Untuk merumuskan model tafsir ini, secara metodologis, Hanafi menggunakan banyak temuan dan problematika yang dibincangkan dalam hermeneutika, fenomenologi dan marxisme  sebagai alat yang kuat dalam tradisi ilmu-ilmu sosial dan humaniora kontemporer, setelah terlebih dahulu mentesiskannya dengan ilmu-ilmu keislaman klasik.[43]
e.         Dalam konteks pemikiran keislamannya, Asghar Ali Engineer, lebih memfokuskan diri pada persoalan-persoalan teologi pembebasan. Untuk itu, Asghar Ali Engineer menawarkan pemikiran, filsafat serta hermeneutiknya guna memahami ayat al-Quran yang warna teologi pembebasannya sangat kental. [44]
f.         Dalam pandangan Asghar Ali Engineer, setiap mufassir memiliki semesta intelektualnya sendiri, dan ketika menafsirkan al-Qur’anpun seseorang dibimbing oleh welstanchaungnya masing-masing, yang itu tidak lepas dari bagaimana ia memandang relaitas. Oleh karena itu,  rumusan-rumusan dan interpretasi setiap orang harus dilihat dalam perspektif sosiologis mereka.[45] Bagi Asghar, apa yang menjadi essensi al-Qur’an adalah petunjuk, prinsip-prinsip dan nilai-nilainya yang suci.[46]
3.        Metodologi Hermeneutika Hadis
Musahadi mengungkapkan bahwa refleksi historis menunjukkan bahwa teladan (Sunnah) Nabi merupakan bagian dari wacana religius selain Al-Qur’an yang bersifat dinamis. Adanya tradisi praktikal yang beraneka ragam di berbagai wilayah Islam yang kesemuanya mengacu kepada teladan Nabi sebagai sumber inspirasinya menjadi bukti bagi kebenaran tesis ini.[47]
Watak dinamis teladan Nabi ini sebagian besarnya jelas disebabkan oleh usaha Nabi untuk menjadi teladan universal. Sebagai teladan universal, Nabi dengan kearifannya menampilkan wacana yang tidak selalu monolitik, melainkan lebih memberikan keputusan-keputusan atas berbagai masalah aktual yang muncul di tengah masyarakat secara bijaksana.[48]
Perubahan watak teladan Nabi yang dinamis menjadi statis  dan tertutup terjadi ketika Sunnah sebagai wacana verbal dan praktikal menjadi wacana tekstual. Ini terjadi ketika Sunnah Nabi hanya dipahami sebagai corpus tertutup yang tertuang dalam kitab-kitab Hadis, khususnya setelah kodifikasi Hadis menjadi sebuah gerakan.  Akibatnya, wacana teladan Nabi yang semula lebih berorientasi pada riilisasi isi dan tujuan kemudian menjadi corpus tertutup yang berorientasi pada bentuk tekstual.
Melihat keadaan yang demikian lestarinya, beberapa tokoh Muslim klasik seperti Ibnu taimiyyah pada dasarnya sudah membangun idenya dengan mempertanyakan ketiga unsur yang sebetulnya terangkum dalam dimensi hermeneutika dalam melakukan sebuah penafsiran terhadap teks.[49]  Demikan, pada periode modern ini, nuansa-nuansa hermeneutika Hadis juga dapat ditelusuri dalam pemikiran-pemikiran para pakar studi Islam kontemporer.
Hermeneutika Hadis mensyaratkan adanya dialog secara intensif antara teks-teks Hadis sebagai warisan masa lalu dengan penafsir dan audiensnya masa kini. Ibarat gerakan, maka hermeneutika Hadis bergerak dari masa kini dengan horizon kekiniannya ke masa lalu dimana teks Hadis muncul dengan horizon masa lalunya, selanjutnya masa lalu dengan horizonnya bergerak ke masa kini dengan horizon kekiniannya.
Pertemuan masa lalu dan masa kini  inilah yang akan melahirkan dialog struktur triadik, yakni antara teks-teks Hadis, penafsir dan audiens, sehingga pada gilirannya melahirkan wacana penafsiran Hadis yang lebih bermakna dan fungsional bagi kehidupan manusia pada segmen sejarah tertentu. Adapun gambar dialog struktur triadik dapat diilustrasikan dalam gambar 2.3. sebagai berikut:






Gambar 2.3.
Dialog struktur triadik pada teks

Teks-teks Hadis dengan latar situasional masa lalu

1.       
Penafsir                   Latar situasional kekinian                            Audiens

Dalam rangka memahami makna Hadis dan menemukan signifikansi kontekstualnya, beberapa Tokoh Cendikiawan Muslim mengutarakan  pemikirannya mengenai hermeneutika Hadis. Diantaranya adalah[50]:
a.         Hermeneutika Hadis Yusuf Qardhawi[51]
Qardhawi menganjurkan beberapa prinsip penafsiran Hadis antara lain:
1)      Memahami Sunnah berdasarkan petunjuk al-Qur’an
Hal ini berdasarkan pada argumentasi bahwa al-Qur’an adalah sumber utama yang menempati hierarki tertinggi dalam keseluruhan sistem doktrinal Islam. Sedangkan Hadis adalah penjelas atas prinsip-prinsip al-Qur’an. Logikanya, penjelas tidak boleh bertentangan dengan yang dijelaskan. Oleh karenanya, makna Hadis dan signifikansi kontekstualnya tidak bisa bertentangan dengan petunjuk al-Qur’an. [52]
2)      Menghimpun Hadis yang topik bahasannya sama.
Hal ini dimaksudkan agar makna sebuah Hadis dapat ditangkap secara holistik, tidak parsial. Qardhawi mencontohkan Hadis mengenai keharaman memanjangkan kain hingga ke tanah. Ketika Hadis tersebut dipahami dengan mengkonfirmasikan kepada Hadis-Hadis lain yang mempunyai kesamaan topik, maka dapat ditarik makna yang lebih komprehensif yakni memanjangkan kain hingga ke tanah itu haram hukumnya jika dimaksudkan sebagai ekspresi kesombongan seseorang. Jika tidak dalam rangka kesombongan, maka tidak menjadi haram.
Bunyi teks asli Hadisnya adalah sebagai berikut.

أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ عَنْ مُحَمَّدٍ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ عَلِيِّ بْنِ الْمُدْرِكِ عَنْ أَبِي زُرْعَةَ بْنِ عَمْرِو بْنِ جَرِيرٍ عَنْ خَرَشَةَ بْنِ الْحُرِّ عَنْ أَبِي ذَرٍّعَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ثَلَاثَةٌ لَا يُكَلِّمُهُمْ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فَقَرَأَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَبُو ذَرٍّ خَابُوا وَخَسِرُوا خَابُوا وَخَسِرُوا قَالَ الْمُسْبِلُ إِزَارَهُ وَالْمُنَفِّقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلِفِ الْكَاذِبِ وَالْمَنَّانُ عَطَاءَهُ      [53]
Ternyata ketika ditelusuri dengan tema kata kunci terkait, terdapat Hadis lain yang menjadi tandingan bagi Hadis ini, sehingga pemahamannya secara tekstual adalah tidak sebagaimana yang terkandung dalam redaksi Hadis tersebut.
Hadis tersebut adalah Hadis tentang memperbolehkan menjulurkan kain dengan tidak bermaksud menyombongkan diri. Bunyi redaksi hadis tersebut adalah sebagai berikut:

ثنا يعلى بن عبيد ، ثنا عبد الملك بن أبي سليمان ، عن مسلم بن يناق قال : كنت مع ابن عمر في مسجد بمكة فمر فتى مسبل (1) إزاره ، فقال : يا فتى ممن أنت ؟ قال : من بني بكر . قال : أما تحب أن ينظر الله إليك يوم القيامة ؟ قال : سبحان الله بلى . قال : فارفع إزارك (2) إذا فإني سمعت أبا القاسم صلى الله عليه وسلم بأذني هاتين وأومأ بإصبعيه إلى أذنيه ، يقول : « من جر إزاره لا يريد إلا الخيلاء لم ينظر الله إليه يوم القيامة »[54]
3)      Memahami Hadis berdasarkan latar belakang kondisi dan tujuannya.
Maksudnya yakni memperhatikan eksistensi Hadis-Hadis yang dipelajari sesuai dengan latar belakang khusus atau kaitannya dengan penyebab tertentu yng tertuang dalam teks Hadis atau dari maknanya yang terbaca dari kenyataan yang melahirkan Hadis yang bersangkutan. Dengan cara ini, orang yang mempelajari Hadis, akan menemukan makna Hadis dan signifikansinya bagi kebutuhan historis si penafsir sehingga ia dapat menemukan solusi bagi problematika yang dihadapi dan mampu merefleksikan kemaslahatan yang menjadi tujuan pokok syari’at.
b.        Hermeneutika Hadis Syuhudi Ismail
Selain dalam karya-karya Yusuf Qardhawi, prinsip-prinsip hermeneutika Hadis juga dapat ditemui dalam karya Syuhudi Ismail. Berangkat dari landasan normatif surat al-Ma>idah: 3, yakni:
tPöquø9$# àMù=yJø.r& öNä3s9 öNä3oYƒÏŠ àMôJoÿøCr&ur öNä3øn=tæ ÓÉLyJ÷èÏR àMŠÅÊuur ãNä3s9 zN»n=óM}$# $YYƒÏŠ 4 Ç`yJsù §äÜôÊ$# Îû >p|ÁuKøƒxC uŽöxî 7#ÏR$yftGãB 5OøO\b}   ¨bÎ*sù ©!$# Öqàÿxî ÒOÏm§ ÇÌÈ
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”

Syuhudi Ismail menegaskan sebagai ajaran yang berlaku untuk semua umat manusia, Islam sangat relevan dengan perubahan spasial dan temporal serta berlaku untuk semua umat dalam  segala ras dan generasinya. Syuhudi membedakan  antara ajaran Islam yang berwatak universal di satu sisi dan ajaran Islam yang berwatak temporal dan lokal di sisi lain.[55]
Universalitas, temporalitas dan lokalitas Hadis Nabi tersebut juga ditentukan oleh fungsi dan perannya di dalam rentang sejarah hidupnya. Dalam sejarah, Nabi Muhammad berperan dalam banyak fungsi, antara lain sebagai Rasulullah dan kepala negara, pemimpin rakyat, hakim dan juga pribadi. Ini menunjukkan bahwa penafsiran dan pemahaman terhadap Hadis Nabi perlu dikaitkan dengan keanekaragaman fungsi dan peran Nabi ketika Hadis itu muncul.
Selanjutnya, prinsip-prinsip hermeneutika Syuhudi Ismail dapat disimak dalam kutipannya berikut ini:
“ Segi-segi yang berkaitan erat dengan diri Nabi, dan suasana yang melatarbelakangi maupun menyebabkan terjadinya Hadis tersebut mempunyai kedudukan penting dalam pemahaman suatu Hadis. Mungkin saja suatu Hadis tertentu lebih tepat dipahami secara tersurat (tekstual), sedang Hadis tertentu lainnya lebih tepat dipahami secara tersirat (kontekstual). Pemahaman dan penerapan Hadis secara tekstual dilakukan bila Hadis yang bersangkutan, setelah dihubungkan dengan segi-segi yang bersangkutan dengannya misal latar belakang terjadinya, tetap menuntut pemahaman sesuai dengan apa yang tertulis dalam teks Hadis bersangkutan. Dalam pada itu, pemahaman dan penerapan Hadis secara kontekstual dilakukan bila “dibalik “ teks suatu Hadis ada petunjuk yang kuat yang mengharuskan Hadis yang bersangkutan dipahami dan diterapkan tidak sebagaimana maknanya yang tersurat (tekstual).” [56]

Titik tekan hermeneutika Hadis Syuhudi tampaknya, lebih diarahkan pada pembedaan makna tekstual dan kontekstual Hadis. Perbedaan ini dapat dilakukan dengan memperhatikan sisi–sisi linguistik Hadis menyangkut stile bahasa seperti jawami’ al-kalim (ungkapan singkat sarat makna)[57], tamsil[58], ungkapan simbolik[59], bahasa percakapan[60] dan ungkapan analogi.[61]
c.         Hermeneutika Hadis Muhammad Iqbal
Muhammad Iqbal lebih banyak mengarahkan hermeneutika Hadisnya pada Hadis hukum. Iqbal menyatakan bahwa dalam menentukan hukum, Nabi sangat memperhatikan kebiasaan-kebiasaan, cara-cara dan spesifikasi–spesifikasi masyarakat yang dihadapinya. Mereka dijadikan semacam pilot project atau dalam bahasa Iqbal, nucleus, untuk membangun syari’at Islam yang bersifat universal. Dengan demikian, Nabi hendak memberikan penekanan pada prinsip-prinsip universal untuk diaplikasikan dalam kasus-kasus konkrit yang dihadapi masyarakat Arab pada waktu itu. Hukum-hukum yang dihasilkan dari aplikasi tersebut, misalnya; aturan–aturan mengenai hukuman kejahatan, adalah spesifik untuk masyarakat tersebut. Oleh karenanya, hal itu tidak harus diterapkan secara persis bagi kasus-kasus yang dihadapi generasi selanjutnya.[62]
d.        Hermeneutika Fazlur Rahman
Fazlur Rahman memperkenalkan teorinya tentang penafsiran situasional terhadap Hadis. Penafsiran situasional dilakukan melalui studi historis dalam rangka mencairkan Hadis-hadis ke dalam bentuk “Sunnah yang hidup”. Penafsiran situasional yang dikehendaki oleh Rahman, mengisyaratkan adanya beberapa langkah strategis, pertama, memahami makna teks Hadis Nabi kemudian memahami latar belakang situasionalnya, yakni menyangkut situasi Nabi dan masyarakat pada periode Nabi secara umum, termasuk dalam hal ini adalah asbabul wurud. Disamping itu juga memahami petunjuk-petunjuk al-Qur’an yang relevan. Dari sini akan dapat dipahami dan dibedakan nilai-nilai nyata atau sasaran hukumnya dari ketetapan legal spesifiknya, dan dengan demikian dapat dirumuskan prinsip ideal moral dari Hadis tersebut. Langkah kedua, penubuhan kembali hukumnya, yakni prinsip ideal moral yang didapat tersebut diaplikasikan dan diadaptasikan dalam latar sosiologis dewasa ini. [63]
4)        Kajian Hermeneutik yang Diadopsi dalam Buku Ajar Produk Pengembangan
Kajian hermeneutik yang diadopsi dalam penyajian isi bahan ajar yang akan dikembangkan adalah pada poin kritik eidetis / kesadaran eidetis / al-syu`u>r al-ta`ammuli>y sebagaimana terpetakan dalam hermeneutika al-Qur`annya Hassan Hanafi [64] dan Musahadi HAM dalam hermenenutika Hadisnya[65]:
Kritik Eidetis (proses pemahaman) memuat tiga langkah utama sebagai berikut:
1.      Analisis isi adalah pemahaman terhadap muatan makna Hadis melalui beberapa kajian yaitu kajian linguistik, kajian dengan mempergunakan prosedur-prosedur gramatikal bahasa Arab, kajian tematis komprehensif, kajian dengan mempertimbangkan teks al-Qur`an maupun Hadis lain yang memiliki tema yang sesuai dengan tema pokok ayat atau hadis yang bersangkutan dalam rangka mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif, dan kajian konfirmasi pada hadis yakni kajian dengan mengkonfirmasikan makna Hadis yang diperoleh dengan petunjuk-petunjuk al-Qur`an.
Pada tahap ini siswa diharapkan memiliki kompetensi berupa
a.       Siswa dapat mengartikan arti kata perkata ayat al-Qur`an maupun teks Hadis yang menjadi materi ajar,
b.      Siswa dapat menerjemahkan secara tekstual ayat per-ayat,
c.       Siswa dapat mengenali ayat atau hadis lain yang berhubungan dengan tema pokok supaya mendapatkan penguatan makna maupun pemahaman yang lebih komprehensif.
d.      Pada teks hadis seperti pada unit ke 4 dari buku ajar ini,[66] siswa dapat mengkonfirmasikan makna hadis yang diperoleh dengan petunjuk al-Qur`an.
Sehingga yang diharapkan adalah bahwa pemahaman siswa secara tekstual terhadap arti tekstual ayat atau hadis menjadi lebih komprehensif.
2.      Analisis realitas historis adalah upaya untuk menemukan konteks sosio-historis teks baik al-Qur`an maupun Hadis materi ajar. Makna atau arti suatu pernyataan dipahami dengan melakukan kajian atas riilitas, situasi dan problem historis dimana pernyataan Hadis itu muncul. [67]
Pada tahap ini siswa diharapkan memiliki kompetensi berupa
(1)   Siswa dapat mengidentifikasi dan menjelaskan kembali asba>b al-nuzu>l ayat yang menjadi materi ajar melalui rujukan sumber kitab induk atau kitab-kitab tafsir terkemuka.
(2)   Siswa dapat mengidentifikasi dan menjelaskan kembali asba>b al-wuru>d hadis yang menjadi materi ajar melalui rujukan sumber kitab syarah hadis terkemuka.
3.      Analisis Generalisasi adalah upaya menangkap makna universal yang tercakup dalam Hadis atau ideal moral -bahasa Fazlur- yang hendak diwujudkan oleh teks Hadis.
Pada tahap ini siswa diharapkan memiliki kompetensi berupa:
a.       Siswa dapat mendeskripsikan kandungan makna yang dimiliki oleh ayat atau hadis yang menjadi materi ajar.
b.      Siswa dapat mengkonstruk atau menemukan makna baru atau nilai-nilai yang dikandung oleh ayat atau hadis yang menjadi materi ajar melalui kontekstualisasi ayat atau surat dengan kehidupan yang dialami oleh siswa.
c.       Siswa dapat mengamalkan kandungan makna teks ayat atau hadis yang menjadi materi ajar dalam kehidupan sehari-hari.
5)        Pengembangan Bahan Ajar al-Quran Hadis dengan Pendekatan Hermeneutik
Dalam penelitian pengembangan ini, peneliti ingin mengembangkan bahan ajar al-Qur`an Hadis dengan asumsi bahwa peserta didik kelas 5 dengan usia rata-rata 11-12 tahun sudah mencapai pada tahap formal operasional.  Menurut Piaget, Periode ini ditandai dengan kemampuan untuk mengoperasikan kaidah-kaidah logika formal yang tidak lagi terikat oleh objek-objek yang bersifat konkrit.[68]
Oleh sebab itu pengembang menganggap perlu untuk memulai menyajikan buku ajar pembelajaran al-Qur`an Hadis dengan pendekatan hermeneutika al-Qur`an Hadis yang disajikan secara sederhana dengan bahasa yang komunikatif dan mudah dicerna oleh anak didik. Unsur-unsur yang ada dalam pendekatan hermeneutik diadopsi dalam penyajian uraian materi buku ajar ini.
Adapun pengembangan bahan ajar di dalam penelitian ini ditujukan sebagai suatu proses atau langkah-langkah yang sistemik dan sistematis untuk mengembangkan suatu produk baru atau menyempurnakan produk yang telah ada dan dipakai dalam pembelajaran -khususnya buku teks Mengenal al-Qur`an Hadis untuk kelas 5 MI- oleh satuan pendidikan dasar MIN 1 Malang dengan   menghasilkan produk pengembangan berupa buku ajar al-Quran Hadis  dengan spesifikasi pendekatan hermeneutik yang terstandar.[69]
Prosedur pengembangan bahan ajar dilakukan secara sistematik berdasarkan langkah langkah yang saling terkait untuk menghasilkan bahan ajar yang bermanfaat. Langkah-langkah tersebut terkategorikan menjadi lima tahapan, yakni tahap analisis, perancangan, pengembangan, evaluasi dan revisi.[70]
Pada tahap analisis, karakteristik awal dan perilaku awal siswa coba dikenali. Perilaku awal berkenaan dengan penguasaan dan kemampuan bidang ilmu atau mata pelajaran yang sudah dimiliki oleh siswa. Pengenalan yang baik terhadap perilaku awal dan karakteristik awal siswa sangat diperlukan untuk menentukan kebutuhan siswa kemudian merancang bahan ajar yang bermanfaat bagi siswa.
Pada tahap perancangan, ada beberapa hal yang harus dilakukan atau diperhatikan, yaitu perumusan tujuan pembelajaran berdasarkan analisis, pemilihan topik mata pelajaran, pemilihan media dan sumber serta pemilihan strategi pembelajaran.
Selanjutnya adalah tahapan pengembangan dimulai dengan menyusun prototipe buku ajar dan tahap terakhir yakni evaluasi dan revisi. Evaluasi diperlukan untuk melihat efektifitas bahan ajar yang sedang dikembangkan. Berdasarkan komentar yang diperoleh pada setiap tahap evaluasi, revisi dilakukan terhadap bagian bahan ajar yang perlu diperbaiki  dan penyesuaian pada bagian lainnya agar bahan ajar yang dikembangkan tersebut menjadi bahan ajar yang utuh dan terpadu.

6)        Kerangka Teori Pengembangan Bahan Ajar al-Quran Hadis Dengan Pendekatan Hermeneutik
Gambar 2.4.
Kerangka teori kerja pengembangan bahan ajar al-Qur`an Hadis
dengan pendekatan hermeneutik.
Adaptasi dari Disertasi Dr.Sutiah “Pengembangan Model Bahan Ajar Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Berbasis Pendidikan Karakter dengan Pendekatan Kontekstual Di SMA Kelas X Kota Malang.


Hasil Pengembangan
Buku ajar pembelajaran al-Qur`an Hadis dengan pendekatan hermeneutik kelas 5 Madrasah Ibtidaiyyah terbukti meningkatkan keefektifan dan kemenarikan dari hasil uji coba di lapangan .

Mengkaji permasalahan
(ditemukan perlunya buku ajar al-Qur`an Hadis dengan pendekatan hermeneutik)

Mengkaji karaktersitik mata pelajaran
 al-Qur`an Hadis kelas 5

Mengkaji  karakteristik pendekatan hermeneutik
Mengkaji karakteristik hermeneutik yang diadopsi dalam buku ajar al-Qur`an Hadis MI kelas 5
Mengkaji  hakikat buku ajar
Melakukan Prosedur Pengembangan
Menetapkan komponen- komponen buku ajar al-Qur`an Hadis dengan pendekatan hermeneutik: Petunjuk buku ajar, (2) Tujuan pembelajaran umum , (3) Tujuan pembelajaran khusus ,(4) Kerangka isi (epitome),  (5) Peta kompetensi (6) Uraian isi pembelajaran (7) Ilustrasi, contoh, gambar (7) Aktivitas belajar (simak cari dapat) (8) Rangkuman , (9) Kata-kata sulit (My Words), (10) Soal-soal latihan, (11) Kunci dan balikan.
Menetapkan Model Pengembangan
 






















D. DAFTAR PUSTAKA
Karel A. Steenbrink, Pesantren Madrasah dan Sekolah Pendidikan Islam dalam Kurun Modern. (Jakarta: LP3ES, 1994).

Depag RI, Pedoman Manajemen Berbasis Madrasah (Jakarta: Depag, 2005),

Yusufhadi Miarso, Menyemai Benih Teknologi Pendidikan ( Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2007), hlm. 168.

Permen No 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, pasal 19 ayat 1

Seels & Richey, Instuctional Tecnology: The Definition and Domains of The Field. (Washington DC: Association for Educational Communications and Technology), 1994.

Tian Belawati Tian Belawati dalam Materi Pokok Pengembangan Bahan Ajar  Edisi ke Satu (Jakarta: Universitas Terbuka, 2003

Muhaimin. Modul Wawasan tentang Pengembangan Bahan Ajar . Bab V. Malang: LKP2-I , 25 mei 2008. Bahan perkuliahan Pengembangan Bahan Ajar, PPS PGMI UIN Malang, Smt:2

Richard E. Palmer,  Interpretation Theory in Schleirmacher, Dilthey, Heidegger and Gadamer. Diterj. Musnur Hery dan Damanhuri Muhammed. Terj. Hermeneutika; Teori Baru mengenai Interpretasi (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003
Sahiron Syamsuddin, dkk. Hermeneutika Alquran Madzhab Yogya (Yogyakarta: Islamika, 2003

Mudjia Rahardjo, Hermeneutika Gadamerian; Kuasa Bahasa Dalam Wacana Politik Gus Dur (Malang: UIN Malang Press, 2007).


Fakhruddin Faiz, Hermeneutika Qur’ani; Antara Teks, Konteks dan Kontekstualisasi; Melacak Hermeneutika Tafsir al-Manar dan Tafsir al-Azhar (Yogyakarta: Qalam, 2002), Hermeneutika Qur’ani, Op.Cit.,

Ilham B. Saenong Hermeneutika Pembebasan; Metodologi Tafsir al-Qur’an menurut Hassan Hanafi ( Jakarta: Teraju, 2002), hlm.8-9.

Ahmad Baidhowi, Tafsir Feminis; Kajian Perempuan Dalam al-Quran dan Para Mufassir Kontemporer (Bandung: Nuansa, 2005), hlm.147.

Asghar Ali Engineer dalam. Islam and Liberation Theology; Essay on Liberative Elements in Islam. Diterj. Agung prihantoro. Terj. Islam dan Teologi Pembebasan (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000,hlm 2-3. Dalam konteks keindonesiaan,

Zuhairi Misrawi dalam Justisia; Jurnal Lintas Agama dan Budaya Edisi 22 Th. X 2002 (Semarang: fakultas Syari’ah IAIN Walisongo, 2002

Musahadi HAM, Evolusi Konsep Sunnah; Implikasinya pada Perkembangan Hukum Islam (Semarang: Aneka Ilmu bekerjasama dengan IAIN Wali Songo Press, 2000

Lihat juga dalam buku induknya, Yusuf Qardhawi, Kaifa Nata’amal Ma’a Al-Sunnah al-Nabawiyyah. Diterj. Muhammad al-Baqir. Terj. Bagaimana Memahami Hadis Nabi (Bandung: Karisma,1997), hlm. 92.

Muhammad al-Ghazaly dalam bukunya, al-Sunnah al-Nabawiyyah Baina Ahl al-Fiqh wa Ahl al-Hadis. Diterj. Muhammad al-Baqir. Terj.Studi Kritis Atas Hadis Nabi SAW; Antara Pemahaman Tekstual Dan Kontekstual (Bandung: Mizan, 1993).

Yusuf Qardhawi, Op.Cit. hlm.106. Hadis ini ditakhrij oleh al Nasai dalam Kitab Sunannya,  Bab Sunan al-Nasai, juz 5, hlm 85.

Al-Bukhari BabTahri>mu jarr al-Tsaub Khaila>an wa Baya>nu Haddin pada juz 14, hlm. 80 dalam CD al-Maktabah al-Sya>milah.

 Syuhudi Ismail, Hadis Nabi Yang Tekstual dan Kontekstual; Telaah Ma’ani al-Hadis tentang Ajaran Islam yang Universal, Temporal dan Lokal (Jakarta: Bulan Bintang, 1994



[1] M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur`an; Tafsir Maudhu`I atas Pelbgai Persoalan Umat ( Bandung: MIZAN, 1996), hlm.3.
[2] Lihat M. Ajjaj al-Khatib Ushulul Hadis. Terj. Pokok-Pokok Ilmu Hadis. Alih Bahasa. M. Qadirun Nur. ( Jakarta: Gaya Media Pratama, 1998), hlm. 34. Lihat juga Utang Ranuwijaya Ilmu Hadis ( Jakarta: Gaya Media Pratama, 1998), hlm. 27-33.
[3] Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia (Permenag) Nomor 2 Tahun 2008, hlm. 20.
[4]  Ibid..
 [5] Empat mata pelajaran tersebut yakni al-Qur`an Hadis, Aqidah Akhlak, Fiqh dan SKI. Al-Qur’an-hadis, menekankan pada kemampuan baca tulis yang baik dan benar, memahami makna secara tekstual dan kontekstual, serta mengamalkan kandungannya dalam kehidupan sehari-hari. Aspek akidah menekankan pada kemampuan memahami dan mempertahankan keyakinan/keimanan yang benar serta menghayati dan mengamalkan nilai-nilai al-asma’ al-husna. Aspek akhlak menekankan pada pembiasaan untuk melaksanakan akhlak terpuji dan menjauhi akhlak tercela dalam kehidupan sehari-hari. Aspek fikih menekankan pada kemampuan cara melaksanakan ibadah dan muamalah yang benar dan baik. Aspek Sejarah Kebudayaan Islam menekankan pada kemampuan mengambil ibrah dari peristiwa-peristiwa bersejarah (Islam), meneladani tokoh-tokoh berprestasi, dan mengaitkannya dengan fenomena sosial, budaya, politik, ekonomi, iptek dan seni, dan lain-lain untuk mengembangkan kebudayaan dan peradaban Islam.
[6]. Periode ini ditandai dengan kemampuan untuk mengoperasikan kaidah-kaidah logika formal yang tidak terikat lagi oleh objek-objek yang bersifat kongkrit. ( Sebagaimana dikutip oleh Abin Syamsudin dalam Psikologi Kependidikan; Perangkat Sistem Pengajaran Modul (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005), hlm. 103.
[7] Beberapa pakar yang menekuni bidang hermeneutika al-Qur’an diantaranya Hassan Hanafi dengan hermeneutika pembebasannya, Fazlur Rahman dengan Double Mouvementnya, Asghar Ali Enginer dengan Teologi Pembebasannya, dalam bidang hermeneutika Hadis terdapat Yusuf Qardhawi, Syuhudi Ismail. Kesemua pakar ingin merefleksikan bagaimana sebuah teks masa lalu dalam hal ini al-Qur`an maupun Hadis sebagai wahana yang merekam event masa lalu dipahami dan dihadirkan secara eksistensial sehingga dapat selalu bermakna dan fungsional di dalam setiap segmen sejarah tertentu. Lihat Musahadi HAM, Evolusi Konsep Sunnah; Implikasinya pada Perkembangan Hukum Islam (Semarang: Aneka Ilmu, 2000), hlm.150. Lihat juga dalam Fakhruddin Faiz, Hermeneutika Qur’ani; Antara Teks, Konteks dan Kontekstualisasi; Melacak Hermeneutika Tafsir al-Manar dan Tafsir al-Azhar (Yogyakarta: Qalam, 2002), hlm.22.
[8] Bahan ajar jika dikelompokkan menurut jenisnya, terdapat empat jenis yaitu bahan cetak (material printed) seperti antara  lain  handout, buku, modul, lembar kerja siswa, brosur, leaflet, wallchart, foto/ gambar, model. Bahan ajar dengar sepert kaset, radio, piringan hitam dan compact disk audio. Bahan ajar pandang dengar seperti video compact disk, film. Bahan ajar interaktif seperti compact disk interaktif. (lebih detail lihat pada lampiran)
[9] Kata media berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium yang berarti secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Gagne menyatakan bahwa media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk belajar. Sementara Briggs berpendapat bahwa media adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar, contohnya, buku, film, kaset dan lain sebagainya. Dari berbagai pendapat di atas, disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat meragsang pikiran, perasaan, perhatian, dan minat siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi. Lihat… sebagaimana dikutip dalam Arif S. Sadiman, dkk. Seri Pustaka Teknologi Pendidikan No. 6, Media Pendidikan; Pengertian, Pengembangan dan Pemanfaatannya (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003), hlm. 6.
[10] I Nyoman Sudana Degeng Ilmu Pengajaran Taksonomi Variabel (Jakarta: Depdikbud DirJen Perguruan Tinggi Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan, 1989), hlm.150.
[11] Tian Belawati dalam Materi Pokok Pengembangan Bahan Ajar  Edisi ke Satu (Jakarta: Universitas Terbuka, 2003), hlm. 2.2.
[12] Salah satunya adalah sebagaimana sekarang bisa didownload pemakaiannya yaitu Buku Sekolah Elekronik (BSE).
[13] Faktor-faktor yang dipertimbangkan dalam pengembangan bahan ajar adalah: kecermatan isi, ketepatan cakupan, ketercernaan, ilustrasi, penggunaan bahasa, pengemasan atau perwajahan dan kelengkapan komponen. Lihat paparan penjelasannya dalam Tian Balawati, hlm. 2.2.
[14] Bisa dilihat pada contoh seluruh gambar yang disajikan.
[15] Lihat salah satunya pada halaman 5 paragraf  4. Tegasnya……
[16] Melacak informasi dari internet mengenai keberadaan Buku Sekolah Elektronik (BSE) Pendidikan Agama SD, hasilnya belum ada yang tersusun. Demikian juga Buku Sekolah Elektronik (BSE) al-Qur`an Hadis. Informasi ini peneliti ketahui dari Perkuliahan Pengembangan Kurikulum MI Semester II PPS PGMI, diampu oleh Dr. H. Nur Ali, 11 Juni 2009, pkl. 13-00WIB, setelah sebelumnya Beliau mengikuti seminar yang dilaksanakan oleh BSNP pada tanggal 11 Juni 2009 pkl.09.00 tentang “ Validasi Instrumen Penilaian Buku Teks Pelajaran Agama Dan Pendidikan Kewarganegaraan” yang dilaksanakan di Kota Malang. Menurut peneliti ini adalah informasi yang terbarukan yang bisa dijadikan ladang penelitian.  Istilah terbarukan peneliti peroleh dari bahasa Dr. Saifullah, M.Hum dalam matakuliah: Metodologi Penelitian Tesis, kaitannya dengan Kajian Pustaka atau Studi Pendahuluan.
[17]Lihat Permendiknas nomor 2 Tahun 2008 tentang buku, bab 1 tentang Ketentuan Umum, pasal 1 poin 3. Dikatakan bahwa “ Buku  teks pelajaran pendidikan dasar, menengah dan perguruan tinggi yang selanjutnya disebut buku teks adalah buku acuan wajib untuk digunakan di satuan pendidikan dasar dan menengah atau perguruan tinggi yang memuat materi pembelajaran dalam rangka peningkatan keimanan, ketakwaan, akhlak mulia dan kepribadian, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, peningkatan kepekaan dan kemampuan estetis, peningkatan kemampuan kinestetis dan kesehatan yang disusun berdasarkan standar nasional pendidikan.”
[18] Hal ini dikuatkan dengan temuan penelitian Steenbrink tentang munculnya madrasah Ibtidaiyyah (MI) yang bermutu tinggi di sejumlah kota besar di Indonesia yang mampu bersaing dengan sekolah dasar yang dikelola oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Hal ini menunjukkan bahwa kompetisi peningkatan mutu antara sekolah umum dan madrasah terjadi dan terbukti setelah adanya perubahan tersebut.Lihat... Karel A. Steenbrink, Pesantren Madrasah dan Sekolah Pendidikan Islam dalam Kurun Modern. (Jakarta: LP3ES, 1994).
[19] Depag RI, Pedoman Manajemen Berbasis Madrasah (Jakarta: Depag, 2005), hlm. 25.
[20] Menurut Yusufhadi Miarso, mengingat bahwa objek teknologi pendidikan adalah belajar (pada manusia), maka akhir-akhir ini istilah “ teknologi pendidikan” cenderung digantikan dengan “ teknologi pembelajaran”. Penggantian istilah ini juga sekaligus memperluas kawasan penerapannya, yaitu tidak hanya di lembaga pendidikan formal, melainkan dimana saja belajar itu diperlukan dan berlangsung.
[21] Yusufhadi Miarso, Menyemai Benih Teknologi Pendidikan ( Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2007), hlm. 168.
[22] Sebagaimana Permen No 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, pasal 19 ayat 1
[23] Miarso, Ibid., hlm. 171.
[24] Seels & Richey, Instuctional Tecnology: The Definition and Domains of The Field. (Washington DC: Association for Educational Communications and Technology), 1994.
[25] Sebagaimana dikutip oleh Tian Belawati Tian Belawati dalam Materi Pokok Pengembangan Bahan Ajar  Edisi ke Satu (Jakarta: Universitas Terbuka, 2003), hlm. 1.3.
[26] Sebagaimana dikutip oleh Muhaimin. Modul Wawasan tentang Pengembangan Bahan Ajar . Bab V. Malang: LKP2-I , 25 mei 2008. Bahan perkuliahan Pengembangan Bahan Ajar, PPS PGMI UIN Malang, Smt:2
[27] Ibid…
[28] Ibid…
[29] Analisis kurikulum dilakukan untuk menentukan  dan mempelajari standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator yang menendai bahwa sustu KD telah dicapai, materi pokok dan pengalaman belajar yang akan dilakukan oleh peserta didik.
[30] Muhaimin., Op. Cit..
[31] Tian Belawati, Op.Cit., hlm. 2.2.
[32] Paulina Pannen dalam  Ibid., hlm. 2.3.
[33] Richard E. Palmer,  Interpretation Theory in Schleirmacher, Dilthey, Heidegger and Gadamer. Diterj. Musnur Hery dan Damanhuri Muhammed. Terj. Hermeneutika; Teori Baru mengenai Interpretasi (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003).Ia juga digunakan dengan bentuk nominal dalam Epos Oedipus at Colonus , beberpa kali muncul dalam tulisan Plato.
[34] Lihat juga, Sahiron Syamsuddin, dkk. Hermeneutika Alquran Madzhab Yogya (Yogyakarta: Islamika, 2003), hlm. 54.
[35] Richard, Op.Cit., hlm. 15.
[36] Pangkategorian ini dirangkum oleh Muzairi dalam, Sahiron Syamsuddin, Op.Cit., hlm. 54-58.
[37] Ilmu kemanusiaan  disebut oleh Richard dengan Geisteswissenschaften yakni semua disiplin yang memfokuskan pada pemahaman seni, aksi dan tulisan manusia. Lihat Richard, Op.Cit., hlm. 45.
[38] Lihat lebih detail dalam Pokok-Pokok Pikiran Hermeneutika Gadamer dalam Mudjia Rahardjo, Hermeneutika Gadamerian; Kuasa Bahasa Dalam Wacana Politik Gus Dur (Malang: UIN Malang Press, 2007).
[39]    Lihat  juga dalam Fakhruddin Faiz, Hermeneutika Qur’ani; Antara Teks, Konteks dan Kontekstualisasi; Melacak Hermeneutika Tafsir al-Manar dan Tafsir al-Azhar (Yogyakarta: Qalam, 2002), Hermeneutika Qur’ani, Op.Cit., hlm.22-37.
[40] Sebagaimana dikutip oleh Fakhruddin faiz, Hermeneutika Qur’ani, Op.Cit., hlm. 45.
[41] Farid Essack,Op.Cit., hlm.100
[42] Ibid., hlm. 107
[43] Ilham B. Saenong Hermeneutika Pembebasan; Metodologi Tafsir al-Qur’an menurut Hassan Hanafi ( Jakarta: Teraju, 2002), hlm.8-9.
[44] Seperti contoh, konsep jihad misalnya, yang sejauh ini sering disalah pahami sebagai perang suci, oleh Asghar Ali Engineer dimaknai sebagai perjuangan untuk menghapuskan eksploitasi, korupsi dan kezaliman dalam berbgai bentuknya. Lihat, Ahmad Baidhowi, Tafsir Feminis; Kajian Perempuan Dalam al-Quran dan Para Mufassir Kontemporer (Bandung: Nuansa, 2005), hlm.147. Lihat juga Asghar Ali Engineer dalam. Islam and Liberation Theology; Essay on Liberative Elements in Islam. Diterj. Agung prihantoro. Terj. Islam dan Teologi Pembebasan (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000,hlm 2-3. Dalam konteks keindonesiaan, Zuhairi Misrawi dalam Justisia; Jurnal Lintas Agama dan Budaya Edisi 22 Th. X 2002 (Semarang: fakultas Syari’ah IAIN Walisongo, 2002, mengangkat tulisan Islam emansipatoris sebagai Islam yang menjunjung teguh arti berkeadilan sosial. Islam emansipatoris dengan pendekatan hermeneutik dan pendekatan lain yang menjadi metodologinya, datang sebagai penengah diantara Islam fundamentalis dan Islam Liberalis dalam merespon modernitas.
[45] Ahmad Baidlawi, Op.Cit.,hlm.140.
[46] Contoh lain dari penafsiran Asghar adalah pada al-Qur’an surat al-Nisa>’ ayat 3 . Menurut Asghar, al-Qur’an tidak memberikan izin umum untuk beristri lebih dari tiga. Menikah lebih dari stu isteri dibenarkan dengan syarat tiga tingkat: dengan jaminan penggunaan harta anak yatim dan para janda secara benar, dengan jaminan keadilan bagi semua isteri pada tingkat materi, dan membagi kasih sayang secara adil diantara isteri-isterinya.
[47] Musahadi HAM, Evolusi Konsep Sunnah; Implikasinya pada Perkembangan Hukum Islam (Semarang: Aneka Ilmu bekerjasama dengan IAIN Wali Songo Press, 2000), hlm.137.
[48] Ibid..
[49]Tiga dimensi dalam hermeneutik  adalah penafsir, teks dan pendengar atau penerima teks.
[50] Pengkategorian mengenai hermeneutika Hadis ini dipetakan oleh Musahadi HAM, dalam Ibid hlm. 142 -155.
[51] Lihat juga dalam buku induknya, Yusuf Qardhawi, Kaifa Nata’amal Ma’a Al-Sunnah al-Nabawiyyah. Diterj. Muhammad al-Baqir. Terj. Bagaimana Memahami Hadis Nabi (Bandung: Karisma,1997), hlm. 92.
[52]Gagasan serupa juga dibangun oleh Muhammad al-Ghazaly dalam bukunya, al-Sunnah al-Nabawiyyah Baina Ahl al-Fiqh wa Ahl al-Hadis. Diterj. Muhammad al-Baqir. Terj.Studi Kritis Atas Hadis Nabi SAW; Antara Pemahaman Tekstual Dan Kontekstual (Bandung: Mizan, 1993). Dalam bukunya, hampir keseluruhan babnya menegaskan betapa pemahaman terhadap Hadis Nabi harus mempertimbangkan petunjuk-petunjuk al-Qur’an.
[53] Lihat, Yusuf Qardhawi, Op.Cit. hlm.106. Hadis ini ditakhrij oleh al Nasai dalam Kitab Sunannya,  Bab Sunan al-Nasai, juz 5, hlm 85. Yakni mengenai larangan memanjangkan kain sampai mata kaki.
[54] Hadis ini ditakhrij oleh al-Bukhari BabTahri>mu jarr al-Tsaub Khaila>an wa Baya>nu Haddin pada juz 14, hlm. 80 dalam CD al-Maktabah al-Sya>milah. Hadis diatas adalah hadis-hadis setema yang muncul dari riwayat lain yang menyebut kebalikannya. Demikian juga terdapat hadis lain yang mendukung redaksi hadis diatas yakni:

ِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ رَأَى رَجُلاً يَجُرُّ إِزَارَهُ فَقَالَ مِمَّنْ أَنْتَ فَانْتَسَبَ لَهُ فَإِذَا رَجُلٌ مِنْ بَنِى لَيْثٍ فَعَرَفَهُ ابْنُ عُمَرَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِأُذُنَىَّ هَاتَيْنِ يَقُولُ « مَنْ جَرَّ إِزَارَهُ لاَ يُرِيدُ بِذَلِكَ إِلاَّ الْمَخِيلَةَ فَإِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ »
Sehingga apabila dapat ditarik kesimpulannya, yang menjadi pesan moral dari Hadis ini adalah pelarangan untuk bersikap sombong dengan gaya bagaimanapun dan dalam bentuk apapun.

[55] Sebagaimaimana dikutip oleh Musahadi HAM, Ibid.hlm. 144. Lihat juga pada buku induknya Syuhudi Ismail, Hadis Nabi Yang Tekstual dan Kontekstual; Telaah Ma’ani al-Hadis tentang Ajaran Islam yang Universal, Temporal dan Lokal (Jakarta: Bulan Bintang, 1994), hlm. 3-4.
[56] Syuhudi Ismail,Ibid., hlm. 6.
[57] Ibid.,hlm. 10-13  , Contoh Hadis yang termasuk dalam jawami’al-kalim. Sebuah Hadis yang diriwayatkan oleh Muslim dari sahabat Ibnu ‘Umar, Hadis ini dilacak dari Cd al-Maktabah al-Syamilah, dengan kata kunci Muskirin,terdapat  dalam kitab Sahih Muslim, Bab Bayanu anna kullu Muskirin Haramun, juz. 13, hlm. 299.
وَحَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ وَأَبُو بَكْرِ بْنُ إِسْحَاقَ كِلاَهُمَا عَنْ رَوْحِ بْنِ عُبَادَةَ حَدَّثَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ أَخْبَرَنِى مُوسَى بْنُ عُقْبَةَ عَنْ نَافِعٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « كُلُّ مُسْكِرٍ خَمْرٌ وَكُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٌ »
Hadis tersebut secara tekstual, memberi petunjuk, bahwa keharaman khamr tidak terikat oleh waktu dan tempat. Dalam hubungannya dengan kebijaksanaan dakwah, dispensasi diberikan kepada orang-orang tertentu yang dibolehkan untuk sementara waktu meminumnya. Dispensasi itu untuk masa sekarang, diterapkan pada orang yang baru saja memeluk Islam, sedang dia selama sebelum masuk Islam telah biasa meminum khamr. Dia diperkenankan untuk tidak sekaligus pada saat masuk Islam menghentikan kebiasaannya tersebut, dia diperbolehkan secara bertahap tetapi pasti untuk menghentikan kebiasaannnya.
Dengan pemahaman demikian, maka dapatlah dinyatakan, bahwa khamr adalah minuman haram, namun secara temporal, kepada orang-orang tertentu, meminum khamr dibolehkan dalam rangka kebijaksanaan dakwah. Demikian pemikiran yang digagas oleh Syuhudi Ismail tentang pembacaan Hadis dengan kacamata hermeneutik. Terdapat banyak contoh Hadis lain yang diungkap oleh beliau sebagai contoh dari stile bahasa sebagaimana dimaksud di atas. Lihat …lebih lanjut tanda pada footnote setiap stile bahasa yang dikategorikan oleh Syuhudi Ismail beserta penjelasan maknanya.
[58] Ibid.., hlm. 13-17
[59] Ibid. hlm. 18-21.
[60] Ibid.hlm.22-27
[61] Ibid. hlm. 29-30.

[62] Ungkapan ini  dikutip dari Musahadi HAM, Op.Cit.,. hlm.147.
[63] Sebagaimana dikutip oleh Ibid., hlm. 150-151.
[64] Ilham B. Saenong, Op.Cit., hlm. 117-121.
[65] Musahadi HAM, Op.Cit., hlm. 155-160.
[66]   Lihat produk buku ajar.
[67] Situasi yang melatarbelakangi bisa situasi umum atau makro maupun situasi khusus/mikro yang melingkupinya (jika ada)
[68] Sebagaimana dikutip oleh Abin Syamsuddin Makmun Op.Cit., hlm.103.
[69] Terstandar dalam hal ini menunjukkan bahwa buku tersebut sesuai dengan pencapaian standar isi dan standar kompetensi lulusan juga sudah mengalami fase uji coba yang dilewati melalui tanggapan ahli materi dan ahli desain  pembelajaran untuk kemudian diuji cobakan di lapangan.
[70] Paulina Pannen dalam Op. Cit., hlm. 2.17-2.27.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar