Pengembangan Pendidikan Agama Islam: Reinterpretasi Berbasis Interdisipliner

Rabu, 10 Desember 2014

UPAYA KRITIK TERHADAP GAGASAN JOHN F. HAUGHT TENTANG RELASI ANTARA AGAMA-SAINS

UPAYA KRITIK TERHADAP GAGASAN JOHN F. HAUGHT  TENTANG RELASI ANTARA AGAMA-SAINS


BAB I
Pendahuluan


A.  Latar Belakang Masalah
Kajian tentang hubungan antara agama dengan sains merupakan tema terhangat pada satu dasawarsa terakhir ini. Bagaimana tidak, selama berapa ratus tahun hubungan antara sains dengan agama merenggang, utamanya setelah tragedi Galileo yang dihukum mati oleh para tokoh teologi. Terlebih, setelah sains mampu menunjukkan taring dengan berbagai karya “revolusi industrinya,” sehingga berani mengklaim bahwa sains merupakan satu-satunya solusi bagi semua permasalahan kehidupan manusia. Di sisi lain, agama sebagai “otoritas” tidak mau kalah, teks wahyu diklaim sebagai kebenaran tunggal dan mutlak, harus diikuti tanpa boleh dikritik sedikitpun. Pada akhirnya tibalah pada titik puncak, hingga seolah terjadi kerinduan mendalam dari sebagian kalangan untuk menyatukan agama dengan sains. Namun, dalam masalah ini timbul perdebatan, penyatuan seperti apakah yang dikehendaki? Di sinilah banyak aroma kritis terhadap berbagai upaya integrasi yang dilakukan siapapun.
Permasalahan tersebut menjadikan inspirasi penulis untuk merumuskan fokus pembahasan pada makalah ini. Di mana dikhususkan pada salah satu tokoh teolog Katolik Roma, yang ahli dalam bidang teologi sistematis[1] dari Universitas Georgetown di Amerika, yaitu John F. Haught.[2] Penulis berusaha mengkritisi peran Haught terkait gagasannya yang paling “orisinil” yaitu perjumpaan antara agama dan sains melalui pendekatan konfirmasi.[3] Pendalaman mengenai permasalahan tersebut dirasa sangat penting. Mengingat, selama ini perjumpaan antara agama dan sains hanya bersifat basa-basi (perjumpaan semu). Di mana meski dikatakan saling mendukung tapi pada kenyataannya dukungan tersebut karena faktor keterpaksaan. Yakni, sebagai dalih pembenaran bahwa sains dan agama bisa saling berkerjasama. Kenyataannya, di antara keduanya ternyata masih ada saling kecurigaan satu sama lain.
Terkait hal tersebut, maka dipandang sangat penting untuk merumuskan perjumpaan yang idealis antara agama dan sains. Bukan didadasarkan pada kepalsuan belaka, dengan maksud menenangkan “permusuhan” antara masyarakat ilmiah dengan masyarakat agama. Namun, sesungguhnya didambakan perjumpaan yang benar-benar menciptakan kesatuan epistemologi antara agama dengan sains. Lebih gamblangnya, konsep Haught tentang empat tingkatan model relasi sains dan agama memungkinkan bagi masyarakat pengikut keduanya untuk saling intropeksi. Dengan itu, lambat laun keduanya akan menemukan jati diri masing-masing, yang mana sesungguhnya dalam jati diri antara keduanya pada intinya tidak ada perbedaan. Di sinilah kesalingmengertian, memahami, dan “manjaga” akan terjadi satu sama lain.
Salah satu yang mendasari pemikiran Haught, sehingga dimungkinkan terjadi saling konfirmasi antara keduanya adalah teologi itu bersifat adaptif.[4] Asumsinya, bila ada teologi yang statis sesungguhnya bukan teologinya yang statis tapi pemahaman manusia terhadap ajaran agamalah yang “menstatiskan” teologi. Dengan dasar pemikiran itu, para teolog ataupun pengikut agama tidak akan cemas (curiga) bila sains telah menemukan hal-hal baru. Sebaliknya, mereka akan memperhatikan bahkan menunggu perkembangan sains dengan seksama, tapi pada saat yang sama tetap kritis (ilmiah) dan menjadi manusia yang religius.
Impian seperti itu bukan tanpa kendala sama sekali, bagi kaum
“pesimistis,” menyatukan antara dua hal yang “berbeda” merupakan sebuah kesulitan (sebagai ganti dari kemustahilan). Ajaran agama didominasi oleh keimanan (faith), di sisi lain sains didominasi oleh materialsime, empiris, dan rasional-objektif. Di mana paradigma keimanan merupakan sesuatu yang tidak bisa disentuh (diurai) dengan paradigma (metode) sains. Dari dua paradigma tersebut bila dipertemukan maka bisa terjadi sebuah resistensi.
Dari kenyataan tersebut, Haught mencoba menawarkan paradigma baru, yaitu upaya perjumpaan secara konfirmatif. Tujuannya adalah mengupayakan agar semakin banyak studi tentang teologi yang menghasilkan cara-cara lebih mendalam tentang bagaimana agama (teologi) melandasi dan memelihara seluruh kegiatan ilmiah.[5] Dengan demikian, secara tidak langsung dia ingin mengajak (memaksa) kaum agamawan untuk merangkul sains. Namun, di sisi lain membiarkan ilmuwan (saintis) tetap bekerja secara “liar”[6] untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Alasannya, Haught tidak pernah secara tegas mengatakan bahwa ilmu pengetahuan itu tidak bebas nilai.[7] Yakni, paradigma apapun tidak boleh mempengharuhi ilmu pengetahuan dalam menciptakan atau mengembangkan sesuatu, terkecuali “paradigma” agama[8] saja.
Dari semua pembahasan di atas, penulis berasumsi bahwa ada konsep-konsep dari Haught yang masih perlu dikrititisi. Bagaimanapun, latar belakang keilmuan maupun teologi yang melekat padanya senantiasa mempengaruhi ide-idenya. Kendati demikian, terlepas dari beberapa kelemahan yang dimilikinya maka pembahasan makalah tentang konsep Haught tetap menjadi daya tarik. Mengingat, keberaniannya dalam mengajak kaum agamawan bertindak realistis untuk “mengilmiahkan” pemahaman (tafsir) tentang teologi. Hal itulah yang menjadi inspirasi bagi siapapun untuk mengintegrasikan agama dengan sains.


B.  Batasan Masalah dan Topik Pembahasan
Agar pembahasan makalah ini konsisten pada fokus persoalannya, maka diperlukan suatu batasan masalah. Oleh karena itu penulis merumuskan batasan topik pembahasan yang dikerucutkan sebagai berikut:
a.       Konsep Dasar yang meliputi: pengertian relasi (hubungan) sains dengan agama, identifikasi empat model perjuapaan sains dengan agama, dan kritik terhadap gagasan Haught
b.      Gagasan John F. Haught tentang rekonstruksi hubungan sains dengan agama
c.       Implementasi Paradigma baru relasi sains dengan agama dalam dunia PAI




BAB II
Pembahasan

A.      Pengertian Relasi Sains dengan Agama
Supaya terjadi pemahaman utuh tentang permasalahan yang dibahas dalam makalah ini, maka dipandang perlu menkonstruk definsi tema yang dibahas secara utuh. Upaya itu dimaksudkan untuk mengkaitkan antara nomenklatur yang digunakan pada makalah ini dengan gagasan yang dibangun oleh John F. Haught. Salah satu contohnya yang paling mencolok yaitu digunakannya istilah “sains” bukan istilah lain, semisal “ilmu pengetahuan.” Alasannya kata “sains” yang dibangun dan diarahkan oleh Haught kebanyakan tertuju pada “sains alam” atau ilmu pengetahuan alam. Misalnya membahas masalah teori evolusi (biologi), alam semesta (kosmologi), dan ekologi.
Kenyataannya, sangat sedikit sekali Haught mengangkat “sains sosial” atau ilmu pengetahuan sosial sebagai “sains” yang diperjumpakan dengan agama. Bilapun ada, ternyata “sains sosial” itu tidak lain adalah sosok “agama” itu sendiri yang dipertemukan dengan “sains alam.” Dengan kata lain, sains dalam prespektif Haught di sini adalah hanya menyentuh pada yang empiris/kebendaan (alam), bukan masalah kejiwaan (psikologi), budaya (antropologi), maupun etika (sosial). Oleh karena itu, penulis memutuskan menggunakan kata “sains,” karena kata tersebut secara “definisi” memang lebih condong pada “sains alam.”
Sebagaimana menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, bahwa kata “sains” punya arti pertama ilmu pengetahuan pada umumnya, kedua pengetahuan sistematis tentang alam dan dunia fisik, temasuk ilmu tentang makhluk hidup dan benda mati secara detail (ilmu pengetahuan alam), ketiga pengetahuan sistematis yang diperoleh dari observasi, penelitian, dan uji coba yang mengarah pada penentuan sifat dasar atau prinsip sesuatu yang sedang diselidiki, dipelajari dan sebagainya.[9] Dari definisi tersebut, kandungan arti pada umumnya mengarah pada sains alam (ilmu pengetahuan alam). Dengan demikian, penggunakan nomenklatur “sains” pada makalah ini dipandang tepat bila dikaitkan dengan gagasan Haught yang juga cenderung ke arah tersebut.
  Adapun kata “relasi” berarti pertama “hubungan; perhubungan; pertalian:” kedua “kenalan:” ketiga “pelanggan.” Sedangkan kata “agama” punya arti “ajaran, sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya.”[10] Dari penjelasan tersebut dapat dipahami bahwa kata “relasi” bermakna menjalin hubungan, pertemanan, atau kerjasama yang saling menguntungkan. Selanjutnya, kata “agama” bermakna ajaran dogmatis dan transendental yang terkait dengan pergaulan antar manusia maupun dengan lingkungannya. Dari semua pembahasan di atas, dapat disimpulkan definisi tentang relasi antara agama dengan sains dalam makalah ini adalah kerjasama saling menguntungkan antara “dogma” agama yang diajarkan[11] dan tersistem di seluruh komponen mayarakat (manusia dan lingkungan) dengan ilmu pengetahuan sistematis tentang alam dan dunia fisik.

B.       Identifikasi Empat Model Relasi Sains dengan Agama
Sesuai dengan penjelasan di Bab I latar belakang masalah, gagasan Haught tentang empat model relasi sains dengan agama sesungguhnya bukan murni hasil pemikirannya sendiri. Barbour punya andil besar dalam pengklasifikasian empat tipe pendekatan tersebut. Haught menyebutkan istilah konflik,[12] kontras,[13] kontak,[14] dan konfirmasi.[15] Adapun Barbour mengemukakan istilah konflik, independensi,[16] dialog,[17] dan integrasi.[18] Bila digambarkan maka perbedaan antara keduanya adalah sebagai berikut:






                                                                                                                     

Dari gambar tersebut, dari sudut pandang gagasan Haught, menurut paradigma kaum yang mendukung pendekatan konflik mengatakan antara agama itu saling “bermusuhan.” Di mana agama menentang sains dan sains membatalkan konsep agama. Di antaranya keduanya mustahil bisa dirujukkan. Untuk para pendukung pendekatan kontras (Barbour menamakan pendekatan independensi) lebih longgar pernyataannya. Mereka mengatakan, silakan yang mau percaya gereja (agama) dan silakan yang mau percaya Galileo (sains). Masing-masing punya wewenang untuk memberi tanggapan terhadap masalah yang sangat berbeda. Gereja mengurusi masalah imateri, di sisi lain “Galileo” mengurusi masalah materi (kebendaan). Keduanya memiliki batas wilayah masing-masing dan tidak dapat disatukan. Adapun para pengusung Pendekatan kontak (gabungan gagasan Barbour, antara pendekatan dialog dengan pendekatan integrasi) menggagas usaha agar kedunya saling “berkenalan.” Caranya adalah dengan dialog, interaksi, penyesuaian, dan saling memahami. Utamanya, bagaimana sains ikut mempengaruhi pemahaman teologis dan religius. Terkhir, pendekatan konfirmasi menyatakan bahwa antara keduanya saling mengonfirmasi atau menguatkan. Telah terjadi titik temu, tapi bukan pada bidang metode dan tidak terjadi peleburan. Kedudukan  agama sebagai dasar dan sumber inspirasi dalam “menghidupkan” pengembangan ilmu.[19]
Sedangkan menurut gagasan Barbour, para pendukung pendekatan independensi mengangkat isu eksistensi masing-masing di antara keduanya. Di mana, masing-masing mengakui keabsahan “kebenaran” yang lain serta menyatakan bahwa antara sains dengan agama tak ada irisan satu sama lainnya. Selanjutnya, para pengusung pendekatan dialog mengatakan di antara sains dan agama terdapat kesamaan yang bisa didialogkan antara ilmuwan dan agamawan, bahkan kemungkinan bisa saling mendukung. Dari empat pendekatan yang dikemukaan, Barbour memilih (mengunggulkan) hubungan yang keempat, yaitu pendekatan integrasi. Dari gabungan antara sains dan agama tersebut, ia mengemukakan dua varian integrasi. Pertama, teologi natural (natural theology) yaitu teologi yang mencari dukungan (pembenaran) pada penemuan-penemuan ilmiah. Kedua, teologi alam (theoloy of nature) yaitu teologi yang sangat dimungkinkan merubah pandangan (pemahaman teks) teologis  tentang alam, disesuaikan dengan penemuan-penemuan sains yang mutakhir tentang alam.[20]
Dari semua penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa empat model relasi antara sains dengan ilmu itu secara historis bukanlah suatu sifat pentahapan. Yakni, yang awalnya berkutat pada persoalan konflik kemudian lambat laun seiring dengan perjalanan sejarah menuju pendekatan konfirmasi. Meski demikian, secara epistemologi empat model ini merupakan suatu tahapan (perjalanan) dari yang awalnya mempertentangkan antara keduanya menuju hubungan “pengonfirmasian.” Dengan kata lain terjadi penyatuan epistemologis.[21] Pada fase tersebut, masing-masing pengusung tipe pendekatan punya argumen yang meyakinkan. Seakan semua argumen tersebut dapat diterima secara rasional, sehingga berhak menjadi kebenaran. Namun, Haught lebih “membela” pendekatan kontak dan pendekatan konfirmasi[22] yang dinilai jauh lebih “rasional” daripada yang lainnya.

C.      Kritik Terhadap Gagasan Haught
Haught sebagai individu yang “beragama”[23]  hampir bisa dipastikan setiap pikiran yang “ditelurkan” dipengaruhi oleh agamanya. Hal ini terindikasi dalam hasil wawancara yang dilakukan Jon M. Sweeney terhadap Haught. Salah satu pernyataan Haught adalah:[24]

Anyway, if the God of Christian faith is a God of love then God would not overpower the world and force it to conform too closely to a rigid design. A God of love would not compel the world to follow a stiffly prefabricated itinerary. Otherwise freedom would not exist.


Dari pemaparan tersebut, dapat disimpulkan bahwa Tuhannya iman Kristen ialah Tuhan yang Pengasih. Oleh karena itu, Tuhan tidak akan memaksa dunia agar sesuai “desain’’ yang kaku. Dengan kata lain Tuhan harus memberikan kebebabasn kepada alam untuk menyesuaikan diri. Lebih detail, dari wawancara selanjutnya, ia mengemukakan:

Furthermore, God, we may now assert with the Bible, is not exclusively “up above,” but also “up ahead.” In some sense God is the world’s future just as God was Abraham’s and Jesus’s future.  Reflecting on the evolutionary process allows theology to retrieve a deeply biblical sense of God as One who makes promises and thus always opens up a new future not just for us but for the whole universe. God is the “One who makes all things new.” This is not so much a qualitative change in our understanding of God as a radical recovery of forgotten biblical insights. The epic of evolution expands our sense of God by making us realize that divine care embraces the destiny of the whole cosmos. 


Pernyataan Haught tersebut lebih banyak menekankan kata Alkitab, Yesus, dan Biblikal. Di mana kata biblikal sering muncul atau disebutkan dalam bukunya. Kendati demikian penulis juga menyadari bahwa usaha dia dalam menyatukan epistemologi Agama “salibis” dengan Sains “alam” menjadi inspirasi bagi siapapun yang ingin mendamaikan dua entitas sains secara umum dan agama secara terperinci. Termasuk bagi tokoh-tokoh Islam sekalipun, dengan mengkonversikan gagasan Haught tersebut ke dalam epistemologi Islam secara utuh. Bagaimanapun Haught ikut andil besar dalam meramaikan tren integrasi di era posmodern[25] ini. Oleh karena itu, “panggilan” integrasi Haught harus direspon dengan positif.
Adapun Mohsen Miri dalam “pengantar” mengkritisi (perlu diadakan telaah secara seksama) beberapa gagasan Haught yang terurai sebagai berikut:
a.    Perspektif teologi (agama) secara mutlak harus direvisi, untuk disesuaikan dengan perpsektif “teori evolusi.”
b.    Teologi itu bersifat dinamis, tidak mutlak. Oleh karena itu, konsep (pemahaman) manusia tentang Tuhan juga harus dinamis. Misalnya, pemahaman Tuhan tentang Kemahakasihsayangan diartikan Tuhan “rela” membagi kekuasaannya (memberi izin) kepada alam (termasuk manusia) untuk menata diri mereka sendiri (konsep evolusi).
c.    Kemahakuasaan dan Kemahatahuan Tuhan terancam menjadi terbatas, karena Ia tidak menguasai (merancang) dan mengetahui kejadian di masa datang. Alam dibiarkan berevolusi menuju puncak “seleksi” alamnya sendiri. Bila konsep itu ada, maka teori evolusi dapat diterima oleh Agama. Dengan kata lain, Haught berpandangan bahwa Tuhan menurunkan (mengejawantahkan) sifatnya (utamanya Kemahakuasaan) kepada alam. Artinya, prinsip evolusi adalah proses Tuhan dalam menjalankan sifat Kemahakuasaan yang “diberikan” terwujud dalam bentuk proses alam.
d.   Tujuan alam, termasuk tujuan penciptaannya, tidak dapat dicari pada wilayah sains. Begitu pula juga tidak akan tersingkap oleh agama. Oleh karena itu, biarkan itu tetap menjadi rahasia dan harus tetap menjadi rahasia selamanya.[26]
Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa Haught seakan menghalalkan segala cara. Tidak lain, tujuannya agar “penggabungan” antara sains dengan agama bisa tercapai. Selain itu dapat digambarkan bahwa Haught sesungguhnya lebih menekankan penggabungan antaran sains dengan agama untuk mencari kebenaran ilmu tertinggi. Akibatnya, segala apa yang dilontarkannya seakan bersifat terburu-buru. Hanya mencari jalan pintas dengan berbagai dalih, demi mengandalkan rasionalitas dan keobjektifan. Padahal menurut Thomas Kuhn, pengembangan ilmu pengetahuan dilakukan  bukan untuk mencari kebenaran, tapi untuk tujuan puzzle-solving.[27] Dengan konsep Kuhn ini, “kebenaran” dari paradigma tertentu, misalnya agama, tidak boleh menghakimi kebenaran paradigma lain, misalnya sains. Asumsinya, setiap kebenaran tersebut sifatnya tidak kekal, karena akan ada kebenaran lain yang lebih kuat setelah ditemukan melalui proses ilmiah di kemudian hari.
Dari pemaparan tersebut, bila dikaitkan dengan gagasan Haught tentang pemahaman (tafsir) teks harus dirubah untuk disesuaikan dengan “kebenaran” ilmiah -yang bisa jadi sifatnya sementara- maka akan terjadi ketidak konsistenan dalam (memahami) beragama. Asumsinya, ketika suatu saat ditemukan kebenaran (paradigma) baru apakah pemaham teks tersebut harus disesuaikan lagi? Selanjutnya, penulis merumuskan analisis sebagai kritik gagasan Haught, utamanya pertanyaan mendasar “Seberapa lama eksistensi sains ilmiah (teori evolusi) akan bertahan dari hantaman teori penentangnya di kemudian hari?” permasalahan inilah yang tidak disentuh Haught, seakan teori evolusi sudah menjadi harga mati dan kebenaran satu-satunya dalam ilmu alam maupun ilmu sosial, sehingga agama harus dipaksa menyesuaikan diri dengannya.
Implikasi lain dari gagasan Haught adalah teori evolusi memberikan ruang bagi pemahaman tentang Rahmat Ilahi yang tak terbatas. Hal tersebut ditekankan karena Tuhan membuka lebar kesempatan, proses kebetulan (ketidak sengajaan), dan “kecelakaan” bagi mekanisme alam semesta. Dengan kata lain Tuhan memberikan hak independen (otonom) kepada alam semesta untuk menata diri sebagai wujud karunia-Nya. Bila pandangan itu disetujui, akibatnya secara tidak langsung akan meniadakan nilai kewibaaan Tuhan. Tuhan hanya direpresentasikan sebagai Yang Maha Kasih, tidak lebih dari itu. Dengan kata lain, nilai-nilai kemahatahuan, kemahajeniusan, kemahamengaturan, dan kemaha-lainya dihapuskan begitu saja demi untuk menyamakan antara agama dengan sains.
Permasalahan lainnya adalah dalam gagasan Haught seakan sains itu bisa memberikan “pencerahan” berjangka sangat panjang[28] kepada manusia seperti halnya agama. Dengan kata lain, teori dalam ilmu pengetahuan disejajarkan dengan agama untuk dijadikan patokan dalam mendapatkan kebenaran. Meskipun dalam beberapa pernyataanya secara serta-merta ia menolak saintisme.[29] Asumsi itu berbanding terbalik dengan pemahaman (khususnya Islam) bahwa teks kitab suci (ayat kauliyah) itu abadi. Sedangkan “teks alam” (salah satu komponen ayat kauniyah) sebagai sumber ilmu pengetahuan murni, baik secara fisik maupun pemahamannya (tafsir) senantiasa dinamis. Meski penulis juga sepakat bahwa pemahaman (tafsir) terhadap kedua teks tersebut juga senantiasi dinamis.
Artinya, secara “keabadian” atau masa waktunya, Haught menganggap bahwa antara kedua teks memiliki sifat keabadian yang sama. Padahal alam hanyalah materi (benda) yang sangat multi makna, lebih multi makna dari pada teks (bahasa). Selain itu “alam” adalah benda mati yang menjadi objek bagi budaya, sedangkan teks “wahyu” bisa wujud tidak bisa lepas dari manusia.
Akhirnya, sebagai penutup penulis akan meangalisis secara “nakal” tentang semesta. Di mana, dulu tata surya dianggap jumlahnya hanya satu yaitu tata surya “Matahari.” Ternyata keyakinan itu kemudian terbantahkan, tata surya berjumlah banyak. Bahkan penemuan selanjutnya, galaksi (kumpulan berjuta tata surya) jumlahnya pun ternyata juga banyak. Dan ternyata alam semesta (kumpulan galaksi) ini hakikatnya tidak statis (diam) tapi senantiasa bergerak mengembang akibat dari kelanjutnya teori “big bang.” Pertanyaan menggelitik selanjutnya adalah jangan-jangan alam semesta ini tidak tunggal tapi banyak? Inilah kelemahan dari sains yang mempunyai keterbatasan jangkauan waktu dan kebenaran yang tidak “permanen.”
Di sisi lain, agama memiliki modal teks (wahyu) yang belum tentu bisa dipahami dengan sebenarnya dan seutuhnya oleh pemeluknya. Bisa jadi, apa yang dikemukakan di dalam teks (wahyu) tentang kosmos memang sesuai dengan kenyataan di lapangan. Akan tetapi faktor kelemahan manusialah yang belum mampu memahami hakikat teks secara sesungguhnya. Menemukan jawaban atas “apa maksud” teks tersebut di turunkan oleh Allah kepada manusia adalah sesuatu yang sulit didapatkan. Dengan kata lain, teks wahyu (ayat kauliyah) dengan teks alam dan teks sosial (ayat kauniyah) adalah sesuatu hal yang tidak dapat terpisahkan untuk menemukan jawaban pertanyaan tersebut. Oleh karena itu, gagasan Haught tidak boleh serta-merta ditelan mentah oleh umat Islam. perlu konsep lain yang mampu menghadirkan gagasan dari pandanang Islam. Wallahu a’lam bishawab.



DAFTAR RUJUKAN


“Kamus Besar Bahasa Indonesia Luar Jaringan (Luring),” KBBI Offline Versi 1.5http://kbbi-offline.googlecode.com/files/kbbi-offline-1.5.zip, didownload tanggal 21 April 2014.

Anonim., “John F. Haught,” dalam http://en.wikipedia.org/wiki/John_F._Haught, diakses pada 19 Nopember 2014.


Barbour, Ian.  “Menemukan Tuhan dalam,” Sains Kontemporer dan Agama,” dalam Nature, Human Natur, and God, terj. Fransisku Borgias M. Bandung: Mizan, 2005.

Echols, John M. dan Shadily, Hassan. Kamus Inggirs-Indonesia. Jakarta: Gramedia, 2013.

Haught, John F. “Perjumpaan Sains dan Agama: Dari Konflik ke Dialog,” dalam Science and Religion: From Conflict to Conversation, terj. Fransiskus Borgias. Bandung: Mizan, 2004.

Minhadji, H. Akh. “Masa Depan Perguruan Tinggi Islam di Indonesia (Perspektif Sejarah-Sosial), Tadris. Volume 2. Nomor 2. 2007, hlm. 145-175.

Soleh, A. Khudori. Integrasi Agama dan Filsafat. Malang: Uin Maliki, 2010.

Sweeney, Jon M. “The New Atheists’ Mistake: God and the New Atheism author Dr. John Haught Explains,” dalam http://www.explorefaith.org/faith/new_atheism/dr._john_haught.php, 2008. Diakses tanggal 19 November 2014.

Thoyib, Muhammad. Model Integrasi Sains dan Agama dalam Perspektif J.F Haught dan M. Golshani: Landasan Filosofis Bagi Penguatan PTAI di Indonesia (STAIN Ponorogo, email: thoyibmuhammad99@yahoo.co.id).


[1]Teologi sistematis menurut  pemahaman penulis adalah teologi yang didasarkan pada suatu filsafat yang utuh terpadu, yang diuraikan secara sistematik (saling terkait/bersangkutpaut). Pemahaman seperti ini lebih cenderung kepada teologi alam (theologi of nature) yang senantiasa merumuskan kembali pemahaman terhadap teks agama untuk disesuaikan dengan “pencerahan” kebenaran dari teori-teori ilmiah khusus. Lihat, Barbour,  “Menemukan Tuhan dalam,” Sains Kontemporer dan Agama,” dalam Nature, Human Natur, and God, terj. Fransisku Borgias M. (Bandung: Mizan, 2005), hlm. 32-33.
[2]“John F. Haught,” dalam http://en.wikipedia.org/wiki/John_F._Haught, diakses pada 19 Nopember 2014.
[3]Dari empat model pendekatan yang diajukan oleh Haught, hanya pendekatan konfirmasi yang merupakan gagasan “orisinilnya.” Gagasan mengenai pendekatan konflik, pendekatan kontras (Barbour menamianya dengan pendekatan independen), dan pendekatan kontak (gabungan/peleburan dari pendekatan dialog dan pendekatan integrasi milik Barbour) merupakan hasil pemapahaman sekaligus pengembangan Haught terhadap gagasan Barbour. Lihat, John F. Haught, “Perjumpaan Sains dan Agama: Dari Konflik ke Dialog,” dalam Science and Religion: From Conflict to Conversation, terj. Fransiskus Borgias (Bandung: Mizan, 2004), hlm. 359-360.  Empat model pendekatan milik Barbour itu adalah konflik, indipendensi, dialog, dan integarsi. Lihat, Barbour,  “Menemukan Tuhan dalam,” hlm. 31-32.
[4]Teologi adalah bagian dari pemahan manusiawi yang senantiasa bergerak, sehingga ketika teologi ditemukan dengan “perubahan” sains maka pemahaman manusia tersebut dimungkina juga terjadi perubahan (menyesuaikan diri). Lihat, Muhammad Thoyib, Model Integrasi Sains dan Agama dalam Perspektif J.F Haught dan M. Golshani: Landasan Filosofis Bagi Penguatan PTAI di Indonesia (STAIN Ponorogo, email: thoyibmuhammad99@yahoo.co.id).
[5]Haught, “Perjumpaan Sains dan,” hlm. 360.
[6]Menurut penulis pola perkembangan sains tetap “liar” meskipun agama memberikan bimbingan (inspirasi). Bagaimanapun, bimbingan yang dilakukan oleh agama dalam kacamata Haught tidak boleh memaksa, tapi harus menyesuaikan.
[7]Haught lebih cenderung mengatakan ilmu pengetahuan dimaknai sebagai hasil proses pencarian kebenaran dari pada untuk mencari “makna” atau “nilai,” terlebih untuk mencari jalan keluar atas permasalahan hidup. Di sinilah tugas agama berkewajiban “membimbing” sains sehingga sains bisa bermakna. Sebagaimana menurut Thoyib, bahwa “dalam pandangan Haught sains tidak bisa memenuhi dirinya sendiri (self sufficient) dalam melakukan upaya-upaya ilmiah. Sains selalu merujuk atau mengakar pada keimanan (faith)... Oleh karena itu sains tidak bisa berdiri sendiri, namun ia bergantung pada entitas yang sifatnya permanen tersebut. Haught mendefinisikan nilai permanen tersebut sebagai sumber inspirasi yang akhirnya menghidupkan dan mengembangkan lebih jauh eksplorasi ilmiah. Hal yang bersifat tetap dan selalu mendasari sains tersebut adalah “iman” (faith) bahwa alam semesta bersifat teratur (beserta hukum yang menyertainya) dan rasional. Lihat, Thoyib, Model Integrasi Sains, (STAIN Ponorogo, email: thoyibmuhammad99@yahoo.co.id).
[8]Pemahaman dari gagasan Haught, bahwa ilmu pengetahuan tidak mampu mencapai sifat menyeluruh dan utuh tatkala membatasi dirinya dalam ranah materi belaka. Ilmu harus melibatkan agama sebagai inspirasi. Ia meyakini, bahwa kehadiran iman sebagai bentuk pandangan dunia metafisik terinspirasi oleh agama. Selanjutnya akan mengarah pada pemahaman yang mendalam tentang peristiwa evolusi . Baginya , setiap konsep dan pemahaman ilmuwan selalu dibentuk oleh visi umum dari realitas yang dia miliki. Jadi menurut  Haught teologi (agama) sebagai dasar atau akar ilmu pengetahuan, sedangkan batang, ranting, dan daun sebagai sistem ilmu pengetahuan. Dengan dasar ini, maka integrasi dapat terwujud . Lihat, Thoyib, Model Integrasi Sains, (STAIN Ponorogo, email: thoyibmuhammad99@yahoo.co.id).
[9]“Kamus Besar Bahasa Indonesia Luar Jaringan (Luring),” KBBI Offline Versi 1.5http://kbbi-offline.googlecode.com/files/kbbi-offline-1.5.zip, didownload tanggal 21 April 2014.
[10]Ibid.
[11]Istilah “diajarkan” di sini bisa bermkna luas, salah satunya dimaknai dengan “disebarluaskan,” misalnya penyebarluasan melalui dunia pendidikan. Asumsinya, dalam setiap proses pendidikan pasti terjadi dinamika, baik dari segi organisasinya, kurikulumnya (utamanya ilmu), metode, serta lain sebagainya. Implikasinya, dalam dunia pendidikan yang senantiasa dituntut untuk dinamis seperti sekarang ini, satu pemahaman “saja” tidak cukup untuk membangun. Perlu pemahaman lain, bila tidak ada maka perlu diadakan pemahaman atau penafsiran ulang tentang teks (wahyu).
[12]Konflik berarti terjadinya percekcokan, perselisihan, dan pertentangan sehingga menyebabkan ketegangan hubungan. Lihat, “Kamus Besar Bahasa,” didownload tanggal 21 April 2014.
[13]Kontras punya arti terlihatnya perbedaan mencolok antara dua hal bila keduanya dibandingkan (didekatkan). Lihat, Ibid.
[14]Kontak artinya hubungan yang dekat (tersembung dan bertemu) satu pihak dengan yang lainnya. Lihat, Ibid.
[15]Konfirmasi mengandung arti terjadi saling penegasan, pengesahan, dan pembenaran satu sama lainnya. Lihat, Ibid.
[16]Dalam kamus, Indepence berarti kemerdekaan, kebebasan. Lihat, John M. Echols dan Hassan Shadily, Kamus Inggirs-Indonesia (Jakarta: Gramedia, 2013), hlm. 318.
[17]Dialog berasal dari kata Conversation artinya percakapan, pembicaraan. Lihat, Ibid., hlm. 145.
[18]Integrasion berarti integrasi, penggabungan pembauran hingga menjadi kesatuan yg utuh atau bulat; Lihat, Ibid. 326.
[19]Haught, “Perjumpaan Sains dan,” hlm. 1-2.
[20]Barbour,  “Menemukan Tuhan dalam Sains,” hlm. 10-11.
[21]Menurut A. Khudori Soleh, Haught (termasuk Barbour) berusaha memecahkan permasalahan dan kelemahan dari epistemologi yang tidak utuh. Yaitu, yang hanya mengunggulkan nalar empirisime sehingga terjadi reduksionisme yang menyebabkan penggambaran tentang dunia dan realitas tidak dilakukan dengan tepat. Selain itu, “rasionalisme dan empirisme yang lepas dari ajaran wahyu dan agama telah menyebabkan terjadinya kekeringan spiritual dan hilangnya jati diri manusia dan kemanusiaan.” Intinya, Haught ingin mengisi kekurang-kekurangan dari epistemogi tersebut dengan mengisinya dengan epistemologi lain (agama) sehingga menjadi epistemologi baru yang utuh. Lihat, A. Khudori Soleh, Integrasi Agama dan Filsafat (Malang: Uin Maliki, 2010), hlm. 8.
[22]Pada pendekatan konfirmasi secara sepintas agama yang seakan yang peduli (membutuhkan) dan mendekati sains. namun, pada kenyataannya sains “berhutang” budi pada agama, yaitu dalam perkembangan ilmu pengetahuan agama berperan penting sebaga dasar pemahaman manusia terhadap realitas yang rasional dan teratur.
[23]Ia berasal dari konteks Kristianitas Katolik Roma. Haught mengklaim, bahwa dalam pembahasan tentang “agama” lebih menekankan pada aspek umum, secara luas, dan merata. Utamanya meliputi Yudaisme, Kristinitas, dan Islam. Dalam artian, ia tidak terlalu menekankan aspek teologi secara terperinci dari masing-masing tradisi agama. Akan tetapi lebih mengedepankan pendekatan kesamaan dari beberapa agama tadi secara menyeluruh. Menurutnya, semua “agama” memiliki permasalahan yang sama, yaitu terancamnya “eksistensi” tuhan setelah munculnya sains modern. Lihat, Haught, “Perjumpaan Sains dan,” hlm. xxii-xxiii. Namun demikian, menurut penulis, Haught tidak benar-benar bisa memahami “Tuhan” yang dikonsturk agama lain secara benar, utamanya agama Islam. Ia lebih cenderung merekonstruksi pemahaman tentang “tuhan” secara liar hanya berlandaskan demi mencari “kebenaran.” Misalnya, dalam memahami kemahakasihan dan kemahakuasaan Tuhan, ia sangat nekat menghilangkan “kewibawaan” Tuhan. Tujuannya tidak lain agar konsep Tuhan menurut Haught tersebut sesuai (terkonfirmasi) dengan konsep sains modern, utamanya teori evolusi.
[24]Jon M. Sweeney , “The New Atheists’ Mistake: God and the New Atheism author Dr. John Haught Explains,” dalam http://www.explorefaith.org/faith/new_atheism/dr._john_haught.php, 2008. Diakses tanggal 19 November 2014.
[25]“Tidak seperti masa modern, Post-Modern ditandai dengan “kembalinya” agama ke dalam semua aspek kehidupan. Pemisahan agama dengan aspek kehidupan manusia lainnya semakin dikritisi, bahkan dikhotomi ilmu agama dengan ilmu umum dipandang tidak lagi relevan. Jika karya-karya sebelumnya cenderung menulis dikhotomi ilmu dan agama atau ilmu agama dan ilmu umum, maka pada abad ke-21 (atau akhir abad ke-20) karya-karya dengan topik integrasi ilmu dengan agama (dan integrasi ilmu agama dan ilmu umum) semakin mengedepan dan menjadi topik hangat hampir di seluruh belahan dunia. Kecenderungan ini bisa dipahami secara gamblang dan mudah dari judul karya John F. Haugth, Science and Religion : From Conflict to Conversation.” Lihat, H. Akh. Minhadji, “Masa Depan Perguruan Tinggi Islam di Indonesia (Perspektif Sejarah-Sosial), Tadris. Volume 2. Nomor 2. 2007, hlm. 145-175.
[26]Haught, “Perjumpaan Sains dan,” hlm. xi-xii.
[28]Every science leaves something out that future generations may partially uncover. And every religious symbol or teaching leaves something out too. The depth beneath the surface is inexhaustible.  For that reason we can say that both science and religion have an indefinitely long future ahead of them. Lihat, Sweeney , “The New Atheists’,” diakses tanggal 19 November 2014.
[29]Sain“Unfortunately, scientific naturalists and the new atheists believe that science can in psrinciple capture everything that exists beneath the surface. They have lost all sense of the limitations of science. As a result they present us with a world from which God, purpose and values are inherently missing.  This is what scientism, belief in the unlimited range of science, leads to:  a shallow, dimensionless world. Lihat, Ibid.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar