Judul buku Pengembangan Pendidikan Agama Islam: Reinterpretasi Berbasis Interdisipliner

Judul buku Pengembangan Pendidikan Agama Islam: Reinterpretasi Berbasis Interdisipliner
--- SELALU ADA YANG BARU DI BLOG BANJIR EMBUN: "Kami Mengucapkan Terima Kasih Atas Kunjungan Anda. Bila butuh bantuan atau ada pertanyaan silakan hubungi ke nomor 08563350350 atau kirim email ke: banjirembun@yahoo.co.id subjek: BanjirEmbun Menjawab”---

Wednesday, January 14, 2015

Contoh Review Jurnal

DOWNLOAD BAGIAN BUKU 

"PENGEMBANGAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM: REINTERPRETASI BERBASIS INTERDISIPLINER"

FORMAT PDF  >> di sini <<


REVIEW JURNAL
Berjudul: “KONSEP EPISTIMOLOGI PARADIGMA THOMAS KUHN”
Oleh:
 Nurkhalis
Fakultas Ushuluddin IAIN Ar-Raniry
Kopelma Darussalam Kota Banda Aceh
Email: nurchalis@yahoo.com


Pengertian Review
Review adalah tinjauan, timbangan buku, resensi, dan pemeriksaan.[1]

Langkah-langkah Review yang telah dilakukan terhadap jurnal di atas:
1.      Membaca dan memahami seluruh isi jurnal.
2.      Menandai istilah, pernyataan, dan gagasan yang penting.
3.      Mengkritisi isi jurnal dari segi penulisan, kelengkapan isi, dan sistematika penulisan.
4.      Merangkum prinsip dasar teori yang terkait dengan pengembangan pendidikan Agama Islam.
5.      Menerapkan prinsip dasar teori tersebut untuk digunakan dalam pengembangan Pendidikan Agama Islam

A.    UPAYA MENGKRITISI ISI JURNAL
1.      Penulisan
Kalimat yang digunakan sulit dipahami, antara kata satu dengan kata lain, kalimat satu dengan kalimat lain, dan paragraf satu dengan paragraf selanjutnya cukup sulit dihapami secara berkesinambungan. Hal ini menjadi kendala pembaca dalam menemukan pokok pikiran inti dari sebuah paragraf. Referensi yang digunakan sebagian besar berbahasa asing, termasuk buku Primer Thomas Kuhn.

2.      Kelengkapan Isi
Pokok-pokok pemikiran Kuhn tentang “paradigma” disampaikan secara mendalam. Konsep tentang paradigma diuraikan secara detail dari berbagai tokoh-tokoh luar negeri. Akan tetapi tidak dilengkapi dengan skema, gambar, bagan, atau ilustrasi lainnya yang memudahkan pembaca dalam memahami konsep praktis dari teori Kuhn.

3.      Sistematika penulisan
Penyampaian dilakukan secara sistematis, akan tetapi ada point tertentu yang seakan masih belum dijelaskan sehingga terkesan masih ada yang kurang (terjadi lompatan bahasan). Misalnya, tidak dijelaskan secara gamblang (contoh konkrit) tentang bagaimana sebuah paradigma itu bisa terbangun dan “terjaga” dari ancaman “anomali” untuk beberapa waktu. Kekurangan lainnya adalah tidak dijelaskan bagiaman suatu paradigma lama yang “digoyang” anomali bisa bertahan.

Secara detail sistematika penulisan jurnal tersebut meliputi sub-sub bahasan sebagai berikut:
Pendahuluan (hlm. 210), Paradigma Identik sebagai Wordview (hlm. 212), Paradigma Bersifat Shifting (hlm. 214), Paradigma Menjawab Puzzle Solving (hlm. 215),  Paradigma Dipahami sebagai Revolusi Ilmiyah (hlm. 217), Hirarki Paradigma (hlm 219), Kesimpulan (hlm. 221), dan Daftar Kepustakaan (hlm. 223)

B.     Rangkuman Teori-teori Penting dalam Jurnal
Pengertian paradigma menurut berbagai tokoh adalah keyakinan (asumsi) yang dibangun sesuai standar universal dan worldview (cara pandang) ilmiah yang diperoleh dari realitas yang dipahami secara individual (subjektif) sebagai proses kreatif dan berkebebasan dalam mendapatkan pengetahuan idealis, pragmatis, dan hedonis. Dengan demikian sains sebenarnya tidak bebas nilai, tapi penuh dengan “nilai kepentingan.” Misalnya, penemuan-penemuan sains tidak terjadi secara alami untuk “menemukan kebenaran” tapi memiliki tujuan tertentu yaitu untuk mengekspoitasi alam demi kepentingan pribadi. Dalam kasus ini paradigma “kepentingan” inilah yang terasa menonjol dari pada paradigma “idealis”
Menurut Khun, perkembangan ilmu tidak terjadi secara evolutif (bertahap), kumulatif (continuitas), dan hasil dari proses penyempurnaan. Baginya kebenaran ilmu berkembang secara revolutif, yaitu proses perubahan teori (ilmu) senantiasa berpotensi berubah sewaktu-waktu.
Karekateristik dari konsep “paradigma” Kuhn: 1. Memberikan cara baru yang lebih menarik sehingga para ilmuwan ingin/mau “keluar” dari zona kekakuan persaingan metode dan kegiatan ilmiah sebelumnya, 2. Memberikan permasalahan-permasalahan baru serta lebih menarik yang masih terbuka dan belum terselesaikan.
Epestimologi paradigma: 1. Mengkritik epistemologi sains modern yang hanya dilandaskan (direpresentasikan) pada realitas (empiris) dan rasionalitas oleh kaum posotifistik, 2. Membuka kesempatan lebar bahkan mendorong terjadinya revolusi perkembangan sains dengan sebebasnya. Artinya, tidak mengakui epistemologi sains yang punya ruang otonom, kaku, dan mengisolasi dalam pencarian kebenaran.
Bila sains pra-modern bersifat lebih alami dan pularalis, maka sains modern bersifat bebas nilai, humanistik, dan individualistik. Di mana kedua jenis sains tersebut selalu bertalian dengan dinamika sejarah, perkembangan alam, dan komunitas (masyarakat) ilmuwan yang menemukan fakta-fakta baru secara terus-menerus. Perkembangan sains tidak hanya ditandai oelh akumulasi fakta, tetapi oleh berkembangnya metode ilmiah dan sikap ilmiah para pengembangnya.
Menurut Kuhn, kebenaran sains bisa bertahan tergantung pada pertama ketepatan (ketelitian) pendapat yang dipegang teguh bersama-sama komunitas sains. Kedua, terjadinya kesepakatan antar komunitas ilmuwan dalam mekanisme menguatkan teori lama ketika terjadi perbedaan ilmiah terhadap teori baru. Dengan demikian, masyarakat ilmiah merupakan instrumen yang efisien dalam mengoptimalkan dan menyelesaikan masalah sehingga bila berhasil menyelesaikannya bisa terjadi pergeseran paradigma.
Paradigma lama ditinggalkan karena sudah tidak dapat lagi mampu memecahkan masalah (Puzzle Solving) dari pada paradigma baru yang lebih bermutu dalam memecahkan masalah.
Khun menyatakan bahwa setiap penemuan (invention) selalau disertai dengan perubahan paradigma lama yang pernah berlaku. Oleh karena itu, bila yang dilakukan hanya pembaruan (discovery) maka disebut revolusi kecil. Alasannya, semua hal baru berupa fakta (penemuan) atau teori mengarah pada puncak sains normal. Serta sains normal tidak bertujuan untuk memperbarui diri sendiri melainkan menghendaki adanya revolusi sains.
Dalam pemahaman Kuhn, sains bukan suatu aktifitas menemukan kebenaran di alam, karena manusia selamnya terpisah dari kebenaran. implikasinya, kebenaran tidak memberi petunjuk terhadap sains, akhirnya menjadikan sains mencapai kebenaran dalam target teologis. Yakni, suatu pengungkapan bahwa kebenaran itu disebabkan karena adanya penyebab akhir (final cause).
Struktur perkembangan sains menurut Kuhn adalah sebagai berikut:

pra paradigma -> pra science -> paradigma normal science -> normal science -> anomaly -> krisis revolusi -> paradigma baru -> ekstra ordinary science -> revolusi.

Keterangan:

Pra paradigma : belum ada sesuatu penemuan yang berarti sehingga bisa dianggap ilmu.
Pra science   : belum ada kesepakatan dari masyaraka ilmiah, perkembangan ilmu terjadi secara individualis, tidak diorganisir, dipublikasikan secara luas, dan belum terlegitimasi secara terbuka.
Paradigma normal sains: suatu keadaaan ilmu yang eksis dengan cara tegas melegitimasi sebagai kebenaran tunggal, sehingga harus terlindungi dari kritik dan falsifikasi.
Normal sains: kondisi di mana paradigma menjadi sangat dominan sehingga bisa digunakan menjadi tolok ukur utama dan umum. Pada akhirnya pada masyarakat ilmuwan terjadi kesepakatan umum.
Anomali            : terjadi penyerangan terhadap paradigma lama secara fundamenal, karena ia tidak lagi mampu menjadi harapan bagi terjadinya discovery (pembaruan). Akibatnya, terjadi ketidak sepakatan antar para ilmuwan dalam menanggapi fenomena tersebut.
Krisis evolusi: adanya gejala baru dan tidak terduga yang muncul berulangkali disertai dengan teori-teori baru. Bila teori baru tersebut mampu menyelesaikan masalah dari pada paradigma lama maka muncullah paradigma baru.
Paradigma baru:  ditemukannya paradigma baru yang didasarkan pada studi ilmiah baru yang dilahirkan dari pembaruan (discovery) sehingga melahirkan teori baru dengan metode yang lebih baik dalam memecahkan masalah.
Extra ordinary science: Masyarakat ilmuwan sangat mendukung sains baru yang telah ada serta meyakinkan para pendukung paradigma lama bahwa sains baru tersebut jauh lebih memadai dari pada sebelumnya. Asumsinya, mereka mengajak para pendukung paradigma lama untuk berpindah secara keseluruhan atau tidak sama sekali.
Revolusi: terjadinya pergeseran paradigma karena terdapat paradigma yang lebih unggul.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa tidak ada paradigma yang sempurna dan terbebas dari anomali-anomali. Konsekuensinya, suatu teori harus mencari jalan keluar (pemecahan masalah) dari satu paradigma ke paradigma lain yang lebih baik, inilah fungsi revolusi tersebut.

C.    Paralesasi Konsep Epistimologi Paradigma Thomas Kuhn Dalam Pengembangan Pendidikan Agama Islam

Pembaruan Paradigma Pendidikan Islam harus dilakukan diawali dengan menemukan anomali-anomali (kegagalan-kegagalan) paradigma Pendidikan Agama Islam. Setelah itu, dilanjutkan dengan menemukan konsep-konsep baru PAI yang jauh lebih canggih dalam menyelesaikan masalah. Kemudian konsep canggih tersebut disebarluaskan keberbagai pihak (utamanya komunitas ilmuwan) melalui buku, pelatihan, dan sebagainya. Bila konsep tersebut disepakati bersama maka timbullah paradigma baru yang bisa digunakan bersama dalam kegiatan PAI.

Dari segi fungsi praktis, PAI juga bisa digunakan untuk menyebarkan paradigma baru tentang pemahaman tentang ajaran Islam. Bagaimana suatu ajaran itu bisa dipahami sedemikian rupa sehingga mampu menyelesaikan masalah kontemporer. Dengan demikian, PAI sebenarnya bukan untuk mengkultuskan pemahaman ajaran yang telah ada. Bukan pula mencari kebenaran yang berasal dari intrepretasi manusia. Namun, PAI berfungsi sebagai puzzle solving (pemecah masalah) yang akan terus selalu ada dan berkembang bentuknya. Lebih rinci berikut uraian tentang pemanfaatan konsep Kuhn dalam pengembangan PAI:

1.      Aspek Proses Pembelajaran PAI
Dalam pelaksanaan proses pembelajaran perlu adanya desain ulang. Di mana bila dikaitkan dengan konsep Kuhn, salah satu contohnya guru dapat merangsang muridnya dengan menunjukkan data-data “anomali.” Dari data tersebut diharapkan guru mampu mengubah paradigma (nilai kehidupan, mental, dan kognisi) peserta didik ke arah yang lebih baik. Asumsinya, selama peserta didik tidak mau merubah paradigmanya (merevolusi) ke arah yang lebih unggul, maka tingkat pengetahuannya akan tetap seperti semula, tidak terjadi perkembangan.[2]
Dengan demikian, “paradigma” lama peserta didik diguncang bukan dengan cara pendoktrinan secara langsung. Namun, dengan cara menggunggah peserta didik bisa menemukan sendiri solusi dari anomali yang diajukan. Khawatirnya, bila diguncang dengan cara pendoktrinan secara langsung bisa jadi perseta didik atau orang tuanya akan menentang “doktrin” tersebut. Kendati demikian, tidak serta merta peserta didik diberi kebebasan untuk menemukan “kebenaran” secara liberal. Bagaimanapun otoritas guru untuk mendoktrin harus tetap ada. Tergantung pada jenjang pendidikannya dan latar belakang kehidupan peserta didik.

2.      Aspek Reintrepretasi Ayat Kauliyah dalam Pembelajaran PAI
Agama Islam merupakan agama yang benar dan sempurna. Oleh sebab itu, tak seorangpun bisa mengadakan pembaruan terhadap ajaran (teks) Islam. Akan tetapi yang perlu diperbarui adalah “paradigma” manusia terhadap agama. Serta bukan dinamika al Quran yang harus digugat untuk menghadapi perkembangan zaman. Namun dinamika umat Islam dalam memahami teks al Quranlah yang harus dimulai dan terus-menerus dilakukan sepanjang zaman.[3]
Hal tersebut hampir sama maksudnya dengan pandangan Kuhn, bahwa “kunci utama perubahan revolusioner ini ada pada metodologi. Alam tidak terlalu berubah namun metode pencarian penjelasan akan gejala alam kadang-kadang revolutif.”[4] Dengan kata lain bukan teks al Qurannya yang dirubah. Namun metodologi dalam memahami teksnya yang harus dirubah (direvolusi).
Berdasarkan pemaparan di atas, ketika dalam proses pembelajaran ditemukan “anomali” (keganjilan) dari paradigma manusia tentang isi al Quran maka perlu diadakan reintrepretasi terhadap teksnya. Bagaimanapun, tafsir merupakan ilmu, sebagaimana dengan ilmu lainnya. Walaupun tak dapat dinafikkan bahwa  konteks dan kualitas “perumusnya” tentu berbeda. Proses tersebut dilakukan agar pembelajaran PAI bisa kontekstual dan memiliki nilai praktis bagi masyarakat. Serta tentunya agar PAI tidak dicap bertentangan dengan ilmu pengetahuan lain.[5]

3.      Aspek Penggunaan Ayat Kauniyah dalam Pembelajaran PAI
Ayat Kauniyah adalah ayat-ayat di luar teks al Quran sebagai tanda Kemaha Besaran Allah SWT sekaligus pembenar kandungan al Quran yang sebagiannya bersifat mungkin untuk dikembangkan. Bisa berbentuk benda (zat/materi), peristiwa, dan mekanisme. Manusia wajib bertafakur terhadap sebagiannya dengan akal.[6] Dengan demikian, materi pembelajaran PAI sebenarnya tidak hanya berhenti pada aspek normatif dan doktrin ajaran agamanya saja. Namun, bagaimana menjadikan peserta didik mampu memahami, menghayati, dan memanfaatkan alam ini menjadi lebih baik. Yakni, dengan cara pengembangan ilmu pengetahuan yang muaranya bisa terciptanya produk yang berguna bagi kehidupan manusia.
Sebagaimana menurut “paradigma” Kuhn seperti pembahasan sebelumnya bahwa perkembangan ilmu pengetahuan itu tidak pernah bisa lepas dari nilai. Termasuk di dalamnya nilai-nilai agama, sosial, dan kemanusiaan. Dengan kata lain ilmu pengetahuan tidak bisa berdiri sendiri. Nilai tersebut memiliki peran yang sangat signifikan dalam menentukan arah perkembangan ilmu pengetahuan. Bisa dikatakan, tanpa adanya unsur nilai maka kehadiran ilmu pengetahuan akan hampa tanpa makna. Adanya hanya kepuasaan, kesenangan, dan kehidupan yang semu. Bahkan bila terus-menerus dibiarkan akan berujung pada bencana kehidupan manusia.
Pernyataan tersebut diperkuat oleh pemaparan Nurcholis Madjid bahwa penggunaan ayat-ayat Allah yang kauliyah beserta kauniyah perlu dipahami dan diberi intrepretasi sesuai dengan kenyataan terkini. Dengan intrepretasi beserta reintrpretasi tersebut menjadikan agama mampu dan sejajar atau bahkan posisinya lebih tinggi dan teratas dalam berdialog dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.[7]

D.   Kesimpulan
Dari semua pembahasan sebelumnya dapat simpulkan bahwa gagasan “paradigma” juga “revolusi” ilmu pengetahuannya telah membuka jalan lebar bagi segala macam ilmu untuk ikut serta dalam pengembangan diri. Bagaimanapun, Allah SWT telah memberikan dan menunjukkan berbagai “fenomena” kehidupan, sehingga tugas ilmuwan adalah “membuat” teorinya. Termasuk di dalamnya “ilmu” Pendidikan Agama Islam yang selama ini dianggap sebagai ilmu dogmatis yang tidak dapat dianggap (tidak memenuhi syarat) sebagai ilmu pengetahuan.
Ilmu Pendidikan Agama Islam sebagai salah satu “alat” agama Islam untuk mengembangkan ajarannya perlu diinovasi dan diperbarui. Yakni, dengan cara reintrepasi atau penafsiran ulang terhadap sebagian “paradigma” lama yang dipandang sudah tidak mampu lagi memecahkan masalah kekinian. Dengan kata lain, bila melihat konteks kehidupan masyarakat sekarang ini kebutuhan terhadap revolusi perkembangan ilmu pengetahuan Pendidikan Agama Islam merupakan kebutuhan.
Ide-ide Kuhn tersebut memang di satu sisi oleh kalangan positivistik tidak bisa dikatan ilmiah. Namun, berkat ide-ide yang cermelangnya tersebut, Khunian bisa menyentuh konteks masyarakat yang tidak bisa dijangkau oleh kaum positivistik. Misalnya, apakah kaum positivistik bisa menyentuh aspek sosiologis, psikologis, dan kepercayaan yang menancap kuat pada suatu fenomena secara tepat dan mendalam. Selain itu dari gagasan Khun tersebut, sebenarnya ilmuwan diajak untuk berfikir kritis. Di mana dengan sikap kritis itu kemungkinanan besar intesites perkembangan ilmu pengetahuan akan berjalan dinamis sesuai zamannya.





[1]John M. Echols dan Hassan Shadily, Kamus Inggirs-Indonesia (Jakarta: Gramedia, 2013), hlm.  484.
[2]Filsafat Barat: Dari Logika Baru Rene Descartes hingga Revolusi Sains ala Thomas Kuhn  (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2007), hlm. 209.
[3]Ahmad Muflih Saefuddin, “Pembaharuan Pemikiran Islam: Sebuah Pengantar,” dalam Percakapan Cendekiawan tentang Pembaharuan Pemikiran Islam di Indonesia (Bandung: Mizan, 1991), hlm. 15.
[4]Surjani Wonorajardjo, Dasar-dasar  Sains: Menciptakan Masyarakat Sadar Sains (Jakarta: Indeks, 2010), hlm. hlm. 121.
[5]Misalnya, bagaimana guru PAI bisa menjelaskan keberadaan fosil manusia purba yang  nyata-nyatanya memang benar adanya. Sedangkan di dalam al Quran sendiri belum pernah ditemukan penjelasan tentang “keberadaan” fosil tersebut.
[7]Nurcholis Madjid, “Masalah Pendidikan Agama di Perguruan Tinggi Umum,” dalam Dinamika Pemikiran Islam di Perguruan Tinggi, ed. Fuaduddin&Cik Hasan Bisri (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), hlm. 58.

0 comments:

Post a Comment