--- SELALU ADA YANG BARU DI BLOG BANJIR EMBUN: "KAMI TIDAK MENGAMBIL KEUNTUNGAN MATERI DARI AKTIVITAS ANDA DI BLOG INI. BLOG BANJIR EMBUN ADALAH BLOG SOSIAL, BUKAN BLOG BERORIENTASI KEUNTUNGAN MATERI (LABA). Terima kasih atas kunjungan Anda”---

Kamis, 28 Mei 2015

Kata Pengantar Penerbit Buku Berjudul "Pengembangan Pendidikan Agama Islam: Reinterpretasi Berbasis Interdisipliner"



KATA PENGANTAR PENERBIT
Pengembangan pendidikan agama Islam pada dasarnya bertujuan untuk mengembangkan ajaran-ajaran dan nilai-nilai dasar agama yang terdapat di dalam Alqur’an dan hadits. Hanya saja terdapat perspektif yang berbeda-beda dalam memahami dan menjabarkan hakikat Islam dan ilmu pengetahuan. Hal ini berimplikasi pada rumusan-rumusan tujuan pendidikan, materi pendidikan Islam maupun aspek metodologinya.

Sejauh ini diskursus pendidikan agama Islam di lembaga-lembaga pendidikan Islam dan umum masih dihadapkan pada problem klasik yang seakan tiada ujung, khususnya pada aspek normatifnya. Di satu sisi, pendidikan agama Islam belum bisa sepenuhnya keluar dari idealisasi kejayaan pemikiran dan peradaban Islam masa lampau, sehingga penjabarannya pun tampak normatif; sementara di sisi lain, ia juga “dipaksa” untuk mau mene-rima tuntutan-tuntutan masa kini, khususnya yang datang dari Barat, dengan orientasi dan metodologi yang sangat praktis. Dalam dataran historis-empiris, kenyataan tersebut acap kali menimbulkan dualisme dan pola-ri-sasi sistem pendidikan di tengah-tengah masyarakat muslim se-hingga agenda transformasi sosial yang digulirkan seakan berfungsi hanya sekadar “tambal-sulam” saja. Oleh karena itu, tidak meng-heran-kan apabila di satu sisi kita masih saja mendapati tampilan “pendidikan agama Islam” yang sangat tradisional karena tetap memakai “baju lama” (the old fashion), sementara di sisi lain kita juga mendapati “pendidikan agama Islam” yang berorientasi positivistik-sekularistik.

Itu satu permasalahan. Permasalahan lainnya tidak kalah kompleks, yakni menyangkut bagaimana mengemas dan mengembangkan materi pendidikan dan metodologinya, sehingga pendidikan agama Islam mampu mengakomodir kebutuhan masyarakat sebagai subjek pendidikan. Ini tugas yang tidak ringan, karena melibatkan para steakholder pendidikan.

Namun demikian, secercah harapan dari kompleksitas permasalahan di atas terdapat di dalam buku yang ada di hadapan para pembaca ini. Buku yang ditulis oleh A. Rifqi Amin ini, meskipun masih berupa pengantar atau kajian awal bagi siapa pun yang hendak mengembangkan Pendidikan Agama Islam (PAI), buku ini mengulas permasalahan PAI dari empat sudut pandang: filsafat, psikologi, sosiologi, dan institusi. Tujuannya adalah agar PAI dapat berkembang secara dinamis di tengah krisis kebangsaan yang multidimensi. Penulis menyuguhkan gagasan-gagasan baru mulai dari aspek paradigma ilmu pengetahuan hingga bagaimana membenahi infrastruktur pendidikan yang mendukung terciptanya pengembangan pendidikan agama Islam yang responsible terhadap kebutuhan masyarakat, dan dengan demikian bagi penghadiran Islam itu sendiri yang rahmatan lil ‘alamin.

Akhirul kalam, kami mengucapkan terima kasih kepada A. Rifqi Amin, yang telah bersedia menerbitkan karyanya ini kepada kami, dengan harapan semoga dapat berkontribusi bagi pengembanganpendidikan agama Islam, baik di sekolah-sekolah, pesantren, madrasah maupun di perguruan tinggi. []

0 komentar:

Poskan Komentar