Pengembangan Pendidikan Agama Islam: Reinterpretasi Berbasis Interdisipliner

Pengembangan Pendidikan Agama Islam

--- BUKU MURAH (ASLI bukan FOTOCOPY-AN/BUKAN BUKU BAJAKAN): " Buku MURAH BERKUALITAS hanya Rp.47.000,- (belum ongkos kirim. Ongkos kirim diperkirakan Rp. 18.000 - Rp. 35.000 tergantung lokasi pengiriman) berjudul PENGEMBANGAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM: REINTERPRETASI BERBASIS INTERDISIPLINER (Yogyakarta: LKiS, 2015). Sebagai info harga buku ini di pasaran berkisar 70-90 ribu). Serta buku ini hanya dijual di toko buku daerah YOGYAKARTA saja.Info lebih lanjut hubungi: 08563-350-350 (11 digit)”---

Saturday, March 7, 2015

DESAIN PRODUK UNTUK R&D: PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM BERBASIS KECERDASAN BERAGAM (MULTIPLE INTELLIGENCES)

BUKU MURAH (ASLI bukan FOTOCOPY-AN): Buku MURAH BERKUALITAS hanya Rp.47.000,- (belum ongkos kirim. Ongkos kirim diperkirakan Rp. 18.000 - Rp. 35.000 tergantung lokasi pengiriman) berjudul PENGEMBANGAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM: REINTERPRETASI BERBASIS INTERDISIPLINER (Yogyakarta: LKiS, 2015). Sebagai info harga buku ini di pasaran berkisar 70-90 ribu). Serta buku ini hanya dijual di toko buku daerah YOGYAKARTA saja Info lebih lanjut hubungi: 0856-3350-350 (11 digit)


 

Link Terkait buku A. Rifqi Amin:

DESAIN PRODUK UNTUK R&D:
PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM BERBASIS KECERDASAN BERAGAM (MULTIPLE INTELLIGENCES)


Tulisan ini telah direvisi (ditambahi dan dikurangi) untuk dijadikan ke dalam salah satu BAB dalam buku terbaru. Untuk mengetahui isi buku silakan klik di sini.


 BUKU-BUKU KARYA A. RIFQI AMIN TERBEBAS DARI KEJAHATAN ILMIAH (UTAMANYA PLAGIASI)!!!

DOWNLOAD BAGIAN BUKU 

"PENGEMBANGAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM: REINTERPRETASI BERBASIS INTERDISIPLINER"


FORMAT PDF  >> di sini <<



 Sistem Pembelajaran Pendidikan Agama Islam pada Perguru Tinggi Umum (Buku pertama karya A. Rifqi Amin pendiri blog Banjir Embun) 



BAB I

Pendahuluan


1.    Latar Belakang Masalah
Kajian tentang “kecerdasan beragam”[1] atau yang sering disebut dengan multiple intelegences[2] tidak akan pernah lepas dari pencetusnya, yaitu Howard Earl Garnder.[3] Berkat teori tersebut paradigma baru pada bidang pendidikan dan psikologi tentang kecerdasan telah bersemi (mendapat pengakuan). Pada akhirnya revolusi paradigma tentang teori kecerdasan telah terjadi. Teori ini ciri utamanya adalah mendudukan semua peserta didik berdasarkan jenis kecerdasan yang dikuasainya adalah sama derajatnya satu sama lain. Asumsinya, setiap siswa punya bidang kecerdasan masing-masing dan guru tidak boleh mengarahkan siswa hanya pada satu bidang kecerdasan saja. Oleh karena itu, klasifikasi murid berdasarkan tes kecerdasan IQ sebagai satu-satunya tolok ukur tidaklah tepat.
Anggapan yang selama ini terjadi adalah manusia (peserta didik) dikatakan hanya memiliki satu jenis “kecerdasan” dan yang dapat diukur melalui tes standar saja. Namun, Howard memperkirakan pada manusia punya 7 hingga 10 kecerdasan utama yang berbeda antara satu individu satu dengan yang lain.[4] Ini artinya, tidak ada dalam lingkungan manapun bahwa peserta didik yang satu lebih cerdas dari peserta didik lainnya. Namun, yang ada adalah peserta didik mana yang sudah menemukan bidang kecerdasannya serta mana yang belum menemukan. Bahkan dimungkinkan ada peserta didik yang menemukan atau cenderung punya lebih dari satu bidang kecerdasan yang ia kuasai.
Masalahnya, sebagaimana yang telah umum diketahui dalam beberapa dekade para pakar “kecerdasan” utamanya dalam dunia pendidikan hanya menggunakan tes inteligence quotient (IQ) sebagai pijakan satu-satunya dalam “menilai” kemampuan (kecerdasan) anak. Bahkan juga digunakan sebagai bahan utama dan rujukan satu-satunya dalam memprediksi masa depan anak. Padahal, utamanya untuk zaman yang serba kompleks sekarang ini, faktor-faktor (kecerdesan) lain sebenarnya juga bisa menjadi andil bagi penentu dasar masa depan anak kelak. Dengan kata lain, di zaman yang serba butuh aspek “kompleksitas” ini, IQ saja tidak akan pernah bisa menjadi solusi masalah kehidupan bagi pribadi maupun kehidupan masyarakat.
Dunia sekarang ini utamanya pada negara miskin dan berkembang dilanda ledakan jumlah penduduk. Hal tersebut berakibat pada minimanya lapangan kerja, bertambahnya polusi udara, rawan penyakit menular, dan perkembangan IPTEK yang tak terkontrol menyebabkan masyarakat tidak hanya membutuhkan atau diharuskan mengembangkan satu jenis kecerdasan saja. Artinya, semakin beragamnya potensi kecerdasan yang dimiliki lingkungan masyarakat maka kemungkinan besar segala aspek kehidupan masyarakat tersebut akan terpenuhi. Asumsinya, apapun yang dibutuhkan oleh masyarakat maka generasi-generasi yang punya kecerdasan beragam mampu untuk memenuhi dan mengatasinya sesuai dengan bidang kecerdasan masing-masing. Misalkan, dengan kecerdasan naturalnya seseorang akan mampu mengatasi pencemaran udara dengan mengadakn program penghijauan dan bisa juga menciptakan vaksin bagi penyakit tertentu untuk mencegah penularan. Dengan kecerdasan musikalnya seseorang akan mampu menciptakan dan memainkan lirik lagu yang menginspirasi dan menggugah emosi pendengarnya untuk semangat menjalani hidup.
Dapat dikatakan bahwa teori milik Gardner telah merangsang dunia pendidikan di berbagai negara untuk melakukan inovasi. Baik yang dilakukan secara utuh (totalitas) maupun diadakan filter dan pengembangan-pengembangan yang disesuikan dengan nilai di negera masing-masing (invention). Inovasi dilakukan biasanya untuk memenuhi “kerinduan” masyarakat dalam merasakan sesuatu yang baru sehingga bisa meninggalkan model (paradigma) lama. Dengan kata lain, dalam setiap inovasi pasti akan mendapat respon berbeda-beda dari masyarakat. Ada yang menolak secara mutlak, ada yang mendukung secara mutlak, ada yang memfilter dengan ketat, dan ada yang menanggapinya secara biasa-biasa saja.
Bila diacu pada keadaan beberapa lembaga pendidikan di Indonesia ini akhir-akhir ini –utamanya untuk lembaga pendidikan berbentuk madrasah yang mulai mendapat tempat di masyarakat-- tidak sedikit yang memiliki jumlah peserta didik banyak. Namun, kenyataannya jumlah peserta didik tersebut tidak diimbangi dengan sarana dan prasarana yang memadai. Hal ini tentu menyebabkan pengelola lembaga harus ekstra keras mengerahkan otak untuk mengoptimalkan kegiatan pembelajaran. Dengan kata lain jumlah peserta didik yang banyak merupakan sebuah potensi sekaligus menjadi masalah di tengah minimnya anggaran, sarana, dan prasarana. Adapun nilai potensinya adalah dengan jumlah yang banyak maka kemungkinan tingkat beragamnya jenis kecerdasan peserta didik yang diterima di lembaga pendidikan pun juga semakin tinggi. Artinya, pada materi serta strategi pembelajaran tertentu peserta didik dapat dipilah (dikelompokkan) berdasarkan jenis kecerdasan tertentu[5] dengan jumlah (populasi) yang cukup ideal untuk pembelajaran.
Dalam mengahadapi keadaan tersebut, maka dipandang perlu untuk mengadakan sebuah pengembangan produk pembelajaran yang mampu memberikan konstribusi positif. Diharapkan dengan pengembangan tersebut –khususnya bagi pembelajaran PAI—mampu menjadi daya tarik siswa untuk lebih termotivasi dalam mengkaji ajaran Islam. Tidak hanya ajaran simbolis, ibadah (ritual), dan hafalannya saja namun juga terjadi internalisasi nilai-nilai esensialnya. Dengan demikian, PAI tidak hanya dipahami dan difungsikan sebagai mata pelajaran keilmuan. Namun lebih dari itu, PAI mampu memberikan “kesadaran” psikologis peserta didiknya supaya lebih semangat dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Selain itu desain produk yang ditawarkan tersebut juga harus lebih efektif dan efisien dari pada produk lama, sehingga bisa dijadikan dasar untuk melakukan penelitian tindak lanjut melalui research and devolopment.
Kenyataannya, selama ini pembelajaran PAI pada umumnya masih didasarkan pada dua jenis kecerdasan saja yaitu linguistik-verbal dan intrapersonal. Yakni, peserta didik diasumsikan “pasti” semuanya menguasai bidang kecerdasan linguistik-verbal dan intrapersonal.[6] Walaupun sering kali –utamanya pada kelas yang jumlah peserta didiknya banyak– pada hakikatnnya tidak demikian. Di dalam kelas terdapat kecerdasan beragam yang masing-masing dimiliki oleh mereka. Akibatnya peserta didik yang tidak memiliki jenis kecerdasan tersebut akan merasa tertekan. Hal tersebut bisa jadi karena ia tidak punya “kecerdasan” tertentu seperti teman lainnya yang mampu menguasai materi tertentu dengan cepat. Dengan kata lain, untuk memahami materi tertentu seorang peserta didik kadangkala butuh strategi pembelajaran khusus. Misalnya ketika ia merasa lemah dan tak menguasi materi dalam menghafal dan membaca al Qur’an, praktik ibadah, memahami materi sejarah Islam, dan memahami materi-materi yang terlalu dogmatis.
Padahal seharusnya, pola pembelajaran PAI harus mengakomodasi semua jenis kecerdasan tersebut. Hal ini dilakukan selain untuk “memanusiakan” dan memberikan “hak” kepada peserta didik untuk berkembang dengan optimal sesuai bidang kecerdasannya juga untuk mengoptimalkan misi dakwah Islam. Asumsinya, bila peserta didik mampu “berprofesi” sesuai dengan kecerdasan dominannya misalnya menjadi wartawan (linguistik), penemu teknologi baru komputer (logis-matematis), penyanyi (musik), pelukis (spasial-visual), politikus (interpersonal), motivator atau psikolog (intrapersonal), dan ahli lingkungan hidup (naturalis) maka semuanya dilakukan atas dasar atau dimasukkan misi dakwah Islam di dalamnya. Dengan kata lain, PAI harus memberikan ruang aktualisasi diri[7] peserta didik untuk “melampiaskan” jenis kecerdasan peserta didik. Pada akhirnya, nilai-nilai Islam tidak hanya dipersempit pada jenis kecerdasan linguistik-verbal dan intrapersonal akan tetapi pada semua jenis kecerdasan.
Dari semua pemaparan di atas maka penulis mengasumsikan bahwa teori Gardner cukup relevan untuk diterapkan dalam pembelajaran PAI meski ada beberapa hal yang masih perlu dikritisi. Teori ini akan sangat membantu peserta didik, membantu guru, membantu sekolah, dan membantu misi dakwah Islam untuk membentuk generasi Islam yang unggul sesuai dengan bidang kecerdasannya. Asumsinya, bila seseorang berprofesi atau mendalami sesuatu yang terkait dengan bidang kecerdasan yang ia punyai maka ia akan cenderung bisa menikmati. Bahkan sangat dimungkinkan mampu menghasilkan nilai yang jauh lebih “berharga” apabila ia harus berada pada “zona” profesi di luar bidang kecerdasannya. Oleh karena itu, dalam pengembangan pembelajaran PAI berbasis multiple intelligences ini penulis tidak membuat gagasan baru (discovery) tetapi melakukan pengembangan dari teori Gardner (invention).

2.    Batasan Masalah dan Topik Pembahasan
Agar pembahasan makalah ini konsisten pada fokus persoalannya, maka diperlukan suatu batasan masalah. Oleh karena itu penulis merumuskan batasan topik pembahasan yang dikerucutkan sebagai berikut:
a.       Konsep dasar tentang Desain Produk untuk R&D
b.      Produk Pengembangan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam berbasis kecerdasan beragam (multiple intelligences)

3.    Tujuan Pembahasan
Bertolak pada pembahasan di latar belakang serta adanya pembatasan masalah maka dapat dirumuskan tujuan penulisan makalah sebagai berikut:
a.       Menguraikan konsep dasar tentang Desain Produk untuk R&D
b.      Merancang Produk Pengembangan Pembelajaran PAI berbasis kecerdasan beraga (multiple intelligences)

4.    Kata Kunci
Dari semua pemaparan di atas maka penulis dapat merumuskan kata kunci (keyword) dari makalah ini. Maanfaat kata kunci adalah sebagai dasar untuk pengembangan masalah yang diulas di bab selanjutnya. Oleh karena itu, kata kunci makalah ini adalah:

Produk Pengembangan, Research and Development, Pendidikan Agama Islam, dan Kecerdasan Beragam (Multiple Intelligences).

BAB II
Pembahasan

A.      Konsep Dasar
1.      Pengertian Desain Produk
Berdasarkan Kamus Besar Bahasan Indonesia kata “desian” punya arti pertama “kerangkan bentuk; rancangan,” kedua “motif; pola; corak.” Sedangkan kata “produk” salah satunya berarti pertama barang atau jasa yg dibuat dan ditambah gunanya atau nilainya dl proses produksi dan menjadi hasil akhir dr proses produksi itu.” Kedua hasil atau hasil kerja.[8] Secara aplikatif menurut Sugiyono sebagaimana dikutip Putra, Desain produk adalah “hasil akhir dari serangkaian penelitian awal, dapat berupa rancangan kerja baru, atau produk baru.”[9] Dengan demikian desain produk merupakan rancangan yang bisa berupa gambar atau bagan serta bentuk lainnya yang menjadi hipotesis, sehingga masih butuh pembuktian keefektifannya melalui pengujian (eksperimen) di lapangan.

2.      Tentang Research and Development
Menurut Borg & Gall sebagaimana dikutip Setyosari menjelaskan bahwa penelitian pengembangan adalah “suatu proses yang dipakai untuk mengembangkan dan mevalidasi produk pendidikan.”[10] Dengan demikian, R&D bertujuan menghasilkan produk, sehingga perlu diadakan analisis kebutuhan secara mendasar dan menyeluruh. Hal ini berarti pembelajaran yang diampu oleh guru di kelas tidak hanya terpatok pada “juklak” dan “juknis” semata tapi juga ada pengembangan “produk” pendidikan yang jauh lebih efektif.[11] Bila dikaitkan dengan “desain produk” maka dapat dipahami bahwa penelitian pengembangan merupakan proses “penyempurnaan” desain produk yang ditawarkan. Adapaun langkah-langkah untuk mencapi kesempurnaan tersebut adalah sebagai berikut:[12]
 










Adapun langkah-langkah R&D menurut Sugiyono sebagaimana dikutip oleh Putra adalah sebagai berikut:[13]
Right Arrow Callout: Potensi dan Masalah
Right Arrow Callout: Pengumpulan Data
Right Arrow Callout: Revisi 
Desain
,Right Arrow Callout: Uji Coba Produk,Right Arrow Callout: Revisi 
Produk
Uji Coba
Pemakaian
 
 










Dari kedua bagan tersebut dapat dipahami bahwa dalam melakukan penelitian pengembangan dari awal hingga akhir membutuhkan langkah-langkah yang cukup spesifik. Di mana untuk gambar di atas lebih cenderung bersifat prosedural. Artinya, langkah-langkah tersebut harus dilakukan bertahap dari yang bersifat sederhana ke arah yang lebih kompleks. Dapat dikatakan bahwa R&D merupakan penelitian yang sangat berbeda dengan jenis penelitian lainnya. Secara detail putra mengidentifikasi beberapa identitas utama yang ada pada R&D yaitu:
a.       Penelitian yang punya ciri dan tujuan spesifik, yakni menggunakan metode campuran, bersifat multi atau interdisipliner, bertujuan inovasi, dan mencaritemukan kebaruan, efektifitas, produktifitas, dan kualitas.
b.      Penelitian yang dilakukan secara bertahap, berkelanjutan, terstruktur, dan terukur. Terdapat beberapa tahapan panjang dalam merumuskan, menguji, dan menyebarluaskan temuan baru.
c.       Penelitian yang berbeda dengan “penelitian dasar” dan “penelitian terapan/praktik.” Akan tetapi tidak dapat dipisahkan karena R&D adalah pengembangan lebih lanjut dari hasil dua jenis penelitian tersebut.
d.      Penelitian yang dimaksudkan untuk tujuan praktis yang memiliki kegunaan langsung dan bersifat operasional. Oleh karena itu, R&D fokus pada masalah, tantangan, tuntutan, potensi, dan kebutuhan nyata masyarakat.
e.       Penelitian yang perlu waktu cukup lama disebabkan proses dan tahapan yang panjang. Implikasinya, R&D butuh banyak dana, perhatian, dan kesabaran.[14]
Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa research and development adalah penelitian yang terfokus pada inovasi produk yang dilakukan dengan prosuder tepat dengan harapan diperoleh kualitas dan efektifitas yang tinggi dalam memecahkan permasalah. Hal ini berarti produk baru atau produk dari hasil pengembangan tersebut harus memiliki kemanfaatan yang jauh lebih baik. Salah satu cirinya adalah produk tersebut memiliki “efek samping” negatif jauh lebih sedikit dari pada produk yang lama. Dalam konteks dunia PAI, penelitian pengembangan bukan untuk tujuan komersial atau industri.[15] Akan tetapi pengembangan pembelajaran PAI dilakukan untuk memperoleh generasi Islam yang unggul. Asumsinya, dengan dana dan prasarana yang sama tapi bisa menghasilkan kualitas muslim yang brilian dengan menggunakan produk baru yang ditemukan atau yang telah dikembangkan.

3.      Pengertian Pembelajaran PAI
Sedangkan arti pembelajaran adalah proses mental dan emosional, serta berfikir dan merasakan. Seseorang pembelajar dikatakan melakukan pembelajaranan apabila pikiran dan perasaannya aktif.[16] Berbeda menurut Ahmad Sabri disampaikan tentang orang yang sudah aktif terlibat pada proses pembelajaran diharapkan akan bisa merasa lebih bahagia, dan lebih pantas untuk pemanfaatan alam sekitar. Selain itu juga peserta didik juga aktif dalam penjagaan kesehatan, peningkatan pengabdian untuk ketrampilan, dan berhasil dalam pengimplementasian pembedaan (terdapat perbedaan keadaan antara sebelum dan sesudah melakukan proses pembelajaran).[17] Dengan demikian dalam pembelajaran peserta didik ditekankan punya kesadaran, motivasi, dan kondisi yang dimungkinkan untuk terjadinya interaksi antara peserta didik terhadap sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.[18] Lebih jauh peserta didik diharapkan terlatih pada pembiasaan diri untuk pemecahan masalah dan mampu terbiasa pada penggunaan empati beserta logikanya. Oleh karena itu dapat disimpulkan pembelajaran bisa terjadi di mana saja, tidak hanya di dalam kelas yang sangat formal, terbatasi waktu maupun tempat, dan kaku.
Selanjutnya untuk pendalaman tentang makna PAI, bahwasanya secara terminologi kata Pendidikan Agama Islam dimiliki pengertian sebuah kajian ilmu yang menjadi materi ajar serta bertujuan agar peserta didik mampu dalam penerapan nilai-nilai Islam secara sadar (tanpa paksaan dari orang lain). Penerapan tersebut meliputi penerapan nilai ibadah, nilai humanisme, keselamatan (kemaslahatan), nilai patriotisme (nasionalisme), nilai semangat dalam pengembangan diri maupun masyarakat, dan nilai-nilai kedamaian di kehidupan sehari-hari secara konsisten. Hal ini berarti setelah peserta didik aktif pada pembelajaran PAI diharapkan bisa termotivasi, tergugah, dan sadar dalam pengimplementasian nilai-nilai universalisme ajaran Islam secara konsisten dengan segenap logika atau alam pikirnya serta alam spiritualitasnya. Analisis tentang Pendidikan Agama Islam di atas didasarkan pada pendapat Syukri Fathuddin disampaikan bahwa hendaknya “... Pendidikan Agama Islam atau ajaran Islam dan nilai-nilainya, agar menjadi jiwa, motivasi bahkan dapat dikatakan way of life seseorang.”[19]
Didasarkan pada semua rangkaian penjelasan di atas maka dapat disimpulkan sistem pembelajaran Pendidikan Agama Islam adalah sebuah tatanan dari beberapa komponen pembelajaran yang terorganisir, saling terkait, dan isinya termuat nilai-nilai agama Islam secara universal sebagai pedoman berperilaku, berfikir, dan berkehendak dalam perjalanan hidup sampai mati. Meninjau dari definisi tersebut maka materi dan tujuan pada sistem pembelajaran Pendidikan Agama Islam sangat berbeda jauh jika dibandingkan dengan sistem pembelajaran bidang ilmu yang lain. Di mana salah satunya Pendidikan Agama Islam diajarkan sebagai pedoman hidup secara mendalam dan luas. Sedangkan kebanyakan bidang ilmu lain dipelajari sebatas untuk bagaimana cara mempertahankan kehidupan, mengembangkan kehidupan, cara menyelesaikan masalah kehidupan, dan semacamnya tanpa melibatkan aspek ‘ketuhanan’ sama sekali.[20]

4.      Pengertian Kecerdasan Beragam (Multiple Intelligences)
Kata ragam salah satu diantaranya memiliki arti pertama “tingkah; laku; ulah” kedua “macam; jenis” dan ketiga “warna; corak;.” Sedangkan kecerdasan berasal dari kata dasar “cerdas” yang artinya “sempurna perkembangan akal budinya (untuk berpikir, mengerti, dsb); tajam pikiran;” atau bisa juga berarti “sempurna pertumbungan tubuhnya (sehat, kuat).” Secara terpisah kecerdasan spiritual mempunyai arti tersendiri yaitu “kecerdasan yang berkenaan dengan hati dan kepedulian antarsesama manusia, makhluk lain, dan alam sekitar berdasarkan keyakinan akan adanya Tuhan Yang Maha Esa.”[21]
Sebagai penggagas teori multiple intelligences, Garnder mendifinisikan kecerdasan dengan singkat dan fungsional, yaitu kemampuan untuk memecahkan atau menciptakan sesuatu yang bernilai bagi budaya tertentu.” Adapaun Alfred Binet dan Theodore Simon, membagi kecerdasan menjadi tiga komponen: pertama “kemampuan mengarahkan pikiran dan atau tindakan,” kedua “kemampuan mengubah arah tindakan jika tindakan tersebut telah dilakukan,” dan ketiga “kemampuan mengkriti diri sendiri.”[22]
Garder juga mengatakan bahwa kecerdasan yang “utama” itu berdasarkan faktor keturunan (gen) sehingga tidak dapat dilatih. Misalkan kecerdasan musikal, menurutnya ada pengaruh gen yang menyebabkan seseorang pintar memainkan musik. Bahkan, menurutnya perbedaan dalam lingkungan seseorang tidak memberikan kontribusi material terhadap perbedaan dalam kapasitas untuk membedakan irama maupun melodi.[23]
Lebih spesifik Widayati dan Widijati mengungkapkan bahwa kecerdasan itu tidak dapat diamati secara langsung. Diperlukan kesimpulan dari pengamatan berberapa perilaku nyata yang merupakan perwujudan dari proses berpikir rasional.[24] Dengan demikian, penilain terhadap kecerdasan tidak harus dilakukan dengan tes tulis. Hal ini utamanya untuk menilai kecerdasan anak kecil (balita) yang belum bisa baca tulis.
Dari pembahasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa arti kecerdasan beragam adalah beberapa jenis kemampuan dasar yang salah satunya atau beberapa diantaranya bisa menjadi ciri khas (dimiliki) masing-masing manusia untuk berbudaya dan menjalankan kehidupan bersama. Selain itu, Widayati dan Widijati mengklasifikasikan sifat-sifat dari kecerdasan sebagai berikut:
1.      Adaptif; adanya respon yang fleksibel bila ada stimulus dalam berbagai situasi dan masalah, sehingga tahu pemecahannya dan tidak merasa sulit setiap kali menghadapi permasalahan.
2.      Kemampuan belajar; kemampuan belajar pada sesuatu yang baru, tergantung pada setiap anak sejauh mana ia mampu menyerap dan menyimpan sesuatu yang baru itu.
3.      Belajar dari pengalaman luar dan dalam dirinya; menggunakan pengetahuan sebelumnya sebagai analisis dan pemahaman situasi yang baru, sehingga senantiasa menunjukkan kreativitas.[25]
Penggunaaan istilah “kecerdasan beragam”[26] dalam tulisan ini dimaksudkan oleh penulis sebagai pengganti istilah multiple intelligences. Alasannya, kata ragam secara arti (makna) lebih cocok digunakan dari pada kata lainnya. Misalkan, kata majemuk memiliki dua arti yang satupun tidak cocok sebagai pengganti istilah teori Gardner tersebut yaitu “terdiri atas beberapa bagian yang merupakan kesatuan” dan “mengenai penambahan bunga kepada pokok berdasarkan waktu dengan tujuan mendapatkan dasar baru untuk menghitung bunga berikutnya:.”[27] Padahal menurut teori Gardner, satu jenis kecerdasan itu bisa berdiri sendiri dan bukan terdiri atas beberapa bagian yang saling menyatukan, walaupun kadang kala antara jenis kecerdasan satu dengan yang lain saling mendukung (terkait).
Bilapun menggunakan istilah kecerdasan ganda, maka kata “ganda” memiliki tiga arti yaitu pertama “(tentang hitungan) kali; lipat,” kedua “berbayang (seakan-akan ada dua),” ketiga “berpasangan (terdiri atas dua); berpasangan dua-dua (dalam bulu tangkis, tenis, dsb).”[28] dari sudut pandang teori Gardner penggunaan istilah “ganda” kurang cocok karena jenis kecerdasan menurut garder itu tak terbatas (tidak terhitung).

5.      Kegunaan Produk
Penerapan mutlitple intelligences dalam lingkup satu lembaga secara konsisten, optimal, dan sungguh-sungguh mampu menciptakan iklim sekolah yang hidup. Sekolah yang awalnya tampak mencekam dan serba kaku menjadi lebih menggembirakan dan memuaskan hasrat peserta didik untuk belajar. Sekolah yang awalnya muridnya sedikit menjadi lebih banyak. Sekolah yang awalnya minim prestasi menjadi lebih banyak menelurkan prestasi. Adapun dalam lingkup mata pelajaran dengan teori multiple intelligences banyak guru yang terbantu memecahkan masalah murid yang tidak mampu dan tidak termotivasi untuk melakukan pembelajaran. Dengan strategi yang tepat banyak murid yang awalnya tidak mampu dan tidak termotivasi untuk belajar matetimatika atau mata pelajaran lainnya akhirnya mereka bisa tergugah “kesadarannya” untuk belajar.[29]
Lebih dari itu, teori multiple intelligences yang terkait erat dengan perkembangan otak bisa mengoptimalkan penggunaan (fungsi) otak. Artinya, peserta didik dibekali dan diajak “mengelola” otaknya sehingga segala potensinya dapat berkembang dengan optimal. Dengan kata lain, peserta didik yang berhasil bukanlah peserta didik yang harus menguasai kecerdasan tertentu misalnya IQ. Namun, peserta didik yang mampu mengoptimalkan potensi kecerdasan yang ia miliki untuk diterapkan dalam kehidupan nyata. Hal ini juga terkait dengan keberagaman sosio-kultur dan geograsif (termasuk potensi alam) daerah di Indonesia yang mengharuskan generasi mudanya mampu memenuhi berbagai macam kebutuhan yang kompleks tersebut. Oleh karena itu, untuk memenuhinya diperlukan suatu sistem pendidikan yang bisa melahirkan generasi yang satu dengan lainnya punya kemampuan beragam (tidak homogen).
Selanjutnya, berdasarkan hasil beberapa penelitian yang dilakukan oleh para ahli sebagaimana dikutip Septiani, dkk. terdeskripsi sebagai berikut:

Hasil penelitian Temur (2007) pada pembelajaran matematika kelas IV SD di Gazi University Foundation Private Primary School menunjukkan bahwa hasil belajar siswa dengan penerapan multiple intelligences lebih tinggi dibanding menggunakan pembelajaran tradisional. Penelitian yang dilakukan Bas dan Beyhan (2010) terhadap 50 siswa kelas V SD di Turkey menunjukkan bahwa penerapan multiple intelligences didukung pembelajaran berbasis proyek lebih unggul dibanding metode pengajaran tradisional ditinjau dari sikap dan motivasi belajar siswa. Hasil penelitian Xie dan Lin (2009) menunjukkan bahwa hasil evaluasi pada kelas yang menerapkan multiple intelligences lebih unggul dibanding menggunakan pembelajaran tradisional dilihat dari kemampuan mahasiswa dalam mengerjakan proyek-proyek desain. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat diketahui bahwa penerapan multiple intelligences dapat memberikan hasil yang efektif dalam proses pembelajaran. Rizal dan Wasis (2012) mengemukakan apabila kecerdasan majemuk ditumbuhkan, dikembangkan dan dilibatkan dalam proses pembelajaran akan meningkatkan efektivitas dan hasil pembelajaran.[30]

Selain itu, menurut pendapat Hernowo sebagaiman dikutip Nurani menyatakan teori multiple intelligences menjadi sistem pendidikan baru pada lembaga sekolah. Secara detail identifikasinya adalah sebagai berikut:

Pertama, dulu, sekolah tepatnya para guru, memisahkan atau memberikan identifikasi kepada peserta didiknya sebagai anak yang pandai disatu sisi dan anak yang bodoh disisi lainnya. Sekarang, melalui penerapan kecerdasan jamak, ternyata tidak ada anak yang bodoh, setiap anak hampir dapat dipastikan memiliki satu atau dua jenis kecerdasan yang menonjol. Kedua, dulu, suasana kelas cenderung monoton dan membosankan karena guru biasanya hanya bertumpu pada satu atau dua jenis kecerdasan saja dalam mengajar, yaitu kecerdasan bahasa dan logika matematika saja. Sekarang, melalui pembelajaran yang berbasis pada delapan jenis kecerdasan, seorang guru dapat membuat variasi metode dan gaya mengajarnya. Ketiga, dulu, sebagian guru seringkali agak kesulitan dalam membangkitkan minat atau gairah belajar peserta didiknya. Sekarang, melalui teori kecerdasan jamak, guru dapat memunculkan berbagai media dan sumber belajar yang terdapat di lingkungan sekitar melalui contoh-contoh yang kongkrit dan nyata sehingga mudah dipahami oleh anak. [31]

Berangkat dari kenyataan di atas, maka “produk” yang ditawarkan dalam makalah ini yaitu terkait teori multiple intelligences diharapkan nanti mempunyai nilai guna yang cukup signifikan bagi proses Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Sejalan dengan itu, produk ini semoga bisa menjadi acuan dasar bagi guru dalam melaksanakan pembelajaran PAI. Harapan selanjutnya adalah produk ini bisa membangun paradigma positif PAI bagi siswa, guru, dan masyarakat. Lantas pada akhirnya PAI tidak lagi dipandang sebagai kegiatan pembelajaran “sampingan.” Namun merupakan kegiatan pembelajaran inspiratif, penyemangat, dan fungsional.

B.       Produk Pengembangan Pembelajaran PAI Berbasis Multiple Intelligence

1.      Tujuan Pengembangan
Pengembangan ini diharapkan menghasilkan strategi pembelajaran PAI yang lebih fleskibel, kontekstual, dan menumbuhkan empati peserta didik.
2.      Asumsi Pengembangan
Seluruh peserta didik dilibatkan secara optimal, totalitas, detail, dan konsisten (sungguh-sungguh) dalam pembelajaran berbasis mulitple intelleginces. Di mana guru mengakomodir potensi kecerdasan masing-masing peserta didik dalam satu kegiatan pembelajaran.
3.      Spesifikasi produk
Produk ini digunakan untuk peserta didik pada jenjang Pendidikan Menengah (SMA). Di mana diharapkan bisa menghasilkan rancang bangun strategi pembelajaran yang lebih efektif dalam lingkup tujuan intruksional atau tujuan pembelajaran. Secara detail spesifikasi produk strategi pembelajaran ini adalah:
a.       Penyeleksian (identifikasi) pesert didik untuk menemukan jenis kecerdasan paling dominan yang dimiliki oleh individu.



 







b.      Orientasi pembelajaran PAI diawali dengan merangsang dan menumbuhkan kecerdasan yang sesuai dengan potensinya. Serta berupaya menemukan kemungkinan kecerdasan lain yang dimiliki individu selain kecerdasan utama (dominan).
 










c.       Strategi pembelajaran, siswa mengaktualisasikan diri sesuai dengan potensi kecerdasan yang dimiliki. Misalnya dalam materi zakat, diadakan simulasi (metode bermain peran/role play), bentuk penugasan mengarang[32], atau dipraktekan secara nyata dengan pembentukan lembaga (organisasi) zakat yang berlokasi di sekolah. Lebih detailnya maka penulis membuat produk pembagian tugas berdasarkan jenis kecerdasan masing-masing peserta didik sebagai berikut:

NO.
JENIS KECERDASAN UTAMA (DOMINAN)
JABATAN
TUGAS
ALAT
TEMPAT KERJA
1.
Linguistik-verbal
(dibutuhakn kecerdasan spasial untuk mendesain gambar iklan)
Tim manajer pemasaran
Membuat proposal, selebaran/pamflet (iklan) untuk masyarakat
Komputer
Ruangan
2.
Matematis-logis-numerikal
(dibutuhkan kecerdasan spasial untuk memetakan masyarakat berdasarkan tingkat ekonominya)
Tim manajer keuangan
Membuat daftar prioritas penerima zakat serta prioritas warga paling dermawan dan menghitung pengeluaran dan pemasukan)
Komputer
Ruangan
3.
Spasial-visual
(dibutuhkan kecerdasan interpersonal untuk mengadakan pendekatan dengan pejabat terkait)
Tim manajer perencanaan
Memetakan warga mana saja di sekitar sekolah yang berstatus mustahiq dan warga dermawan
Kertas gambar, pensil, dan spidol berwarna
Lapangan dan ruangan
4.
Kinestetik-jasmaniah
(dibutuhkan kecerdasan matematis-logis untuk menganalisis data stastitik)
Tim manajer pengelolaan barang atau perlengkapan
Mengambil zakat dari warga dermawan (muzakki) disetorkan ke “panitia zakat” lalu didistribusikan kemustahiq.
Kendaraan, timbangan,
Lapangan
5.
Musikal
(dibutuhkan kecerdasan interpersonal untuk mempengaruhi teman-temannya agar mau mengikuti komando lirik lagu yang dibuatnya)
Tim manajer kesegaran jiwa/mental (SDM)
Menggubah lirik lagu-lagu terkini dengan lirik lagu Islami tentang zakat, kemudian dia disuruh memimpin teman-temannya agar bersemangat dalam menjalankan misi panitia zakat.
Sound, kertas, kaset,
Ruangan
6.
Interpersonal
(dibutuhkan kecerdasan linguistik-verbal untuk mengenalkan zakat kepada calon muzakki)
Tim manajer humas
Menjadi pimpinan panitia zakat atau ditugaskan untuk mengadakan pendekatan dengan warga dermawan (muzakki) dan para mustahiq.
Kendaraan, data statistik, materi zakat,
Lapangan dan ruangan
7.
Intrapersonal
(butuh kecerdasan interpersonal untuk mempengaruhi teman-temannya)
Tim manajer kesegaran jiwa/mental (SDM)
Memotivator teman-temannya, meluruskan niat, dan menentukan (merumuskan) hukum dan jumlah zakat dari semua jenis zakat
Kertas
Ruangan dan lapangan
8.
Natural
(butuh kecerdasan spasial untuk menyeting ruangan)
Tim manajer kesegaran jiwa/mental (SDM)
Menata keindahan dan kenyamanan ruangan rapat/kelas untuk konsolidasi “panitia zakat” menggunakan tanaman.
Pot, tanaman, poster flora atau fauna,
Ruangan

Dari dua tabel tersebut dapat disimpulkan bahwa apabila guru hendak menerapkan pembelajaran PAI berbasis multiple intelligences dalam arti gaya belajarnya, maka guru harus mempunyai kemampuan delapan jenis kecerdasan untuk mengajar peserta didik. Namun, bila hendak menerapkannya dalam arti esensinya, maka guru harus mengakomodasi perbedaan dan mengakui adanya kecerdasan beragam yang dimiliki masing-masing peserta didik. Konsekuensinya, guru memberikan kesempatan pada peserta didik untuk mengekspresikan muatan PAI sesuai dengan bidang kecerdasannya. Misalnya dalam satu tema/materi pelajaran PAI, satu siswa ditugaskan untuk memeragakan materi yang sesuai dengan bidang kecerdasannya (kinestetik). Sedangkan siswa lainnya ditugaskan untuk membuat gambar terkait materi sesui dengan bidang kecerdasannya (spasial-visual). Dengan demikian, karena tersalurkannya[33] potensi masing-masing kecerdasan siswa secara layak serta semuanya didasarkan pada nilai-nilai Islam, maka diharapkan siswa akan benar-benar menjadi orang sukses.
d.      Sistem evaluasi berbasis multiple intellegences.
4.      Flowchart: Internal Storage: Misi dakwah Islam melalui bidang kecerdasan masing-masing individuFlowchart: Internal Storage: Memasukkan nilai-nilai Islam dalam bidang kecerdasan yang dimilikiFlowchart: Internal Storage: PAI sebagai instruen, motivasi, dasar, dan pedomanFolded Corner: Siswa berprestasi sesuai dengan bidang kecerdasannyaText Box: Revisi strategi pembelajaran
Peserta didik difokuskan pada bidang kecerdasannya
 
Text Box: Dinamika lebih kompleks
Revisi strategi pembelajaran
 
Dinamika lapangan
 
Memutuskan strategi pembelajaran
 
Seleksi atau identifikasi siswa
 
Peran PAI dalam memotivasi siswa supaya berprestasi sesuai bidang kecerdasannya
Daftar Rujukan


“Kamus Besar Bahasa Indonesia Luar Jaringan (Luring),” KBBI Offline Versi 1.5,  http://kbbi-offline.googlecode.com/files/kbbi-offline-1.5.zip, didownload tanggal 21 April 2014.

Amin, A. Rifqi. Sistem Pembelajaran Pendidikan Agama Islam pada Perguruan Tinggi Umum. Yogyakarta: Deepublish, 2014.

Chatib, Munif. Sekolahnya Manusia: Sekolah Berbasis Multiple Intelligences di Indonesia. Bandung: Kaifa, 2010.

Conny R. Semiawan. Catatan Kecil Tentang Penelitian dan Pengembangan Ilmu Pengetahuan. Jakarta: Kencana, 2008.

Efendi, Agus. Revolusi Kecerdasan Abad 21: Kritik MI, EI, SQ, AQ & Successful Intelligence Atas IQ. Bandung: Alfabeta, 2005.

Fathuddin, Syukri. “Pendidikan Islam,” dalam Din al-Islam: Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi Umum, ed. Yudiati Rahman. Yogyakarta: UNY Press, 2008.

Howard Gardner, “Practice Does Not Make Perfect,” http://multipleintelligencesoasis.org/practice-does-not-make-perfect/, diakses tanggal 23 Oktober 2014.

Ibrahim, R.dkk. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Rajawal, 2011.

Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Madrasah, dan Perguruan Tinggi. Jakarta: Rajawali Pers, 2009.

Nurani, Yuliani. “Sinopsis Disertasi Pengembangan Model Program Kegiatan Bermain Berbasis Kecerdasan Jamak dalam Rangka Peningkatan Kreativitas Anak usia Dini,” Pascasarjana Universitas Jakarta 2008, dalam http://yebefo.com/wp-content/uploads/2013/04/Sinopsis-Disertasi.pdf, diakses 06 Januari 2014.

Penjelasan ibu Sutiah tentang langkah-langkah R&D menurut Dick & Carey saat memberikan tugas UAS pada mahasiswa S3 PAI semester I tahun 2014.

Putra, Nusa. Research & Development Penelitian dan Pengembangan: Suatu Pengantar.  Jakarta: Rajawali, 2012.

Sabri, Ahmad. Strategi Belajar Mengajar dan Micro Teaching. Jakarta: Quantum Teaching, 2005.
Septiana, Dwi. dkk. “Pengembangan Lembar Kerja Siswa Berbasis Multiple Intelligences pada Materi Pertumbuhan dan Perkembangan,” Unnes Journal of Biology Education dalam http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/ujeb, diaskes tanggal 31 Desember 2014.

Setyosari, Punaji. Metode Penelitian Pendidikan dan Pengembangan. Jakarta: Kencana, 2012.

Strauss, Valeria. “Howard Gardner: ‘Multiple Intelligences’ are not ‘Learning Styles’,” http://www.washingtonpost.com/blogs/answer-sheet/wp/2013/10/16/howard-gardner-multiple-intelligences-are-not-learning-styles/?tid=auto_complete, 16 Oktober 2013, diakses 23 Oktober 2014.

Undang-undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003, Pasal 1 ayat 20.

Widayati, Sri dan Utami Widijati, Mengoptimalkan 9 Zona Kecerdasan Majemuk Anak. Yogyakarta: Luna, 2008.


[1]Dalam referensi lain adakalanya digunakan istilahkecerdasan ganda,” “kecerdasan jamak,” “ragam kecerdasan,” dan “kecerdasan majemuk” sebagai pengganti istilah multiple intelligences yang digunakan oleh Gardner dalam mengembangkan teorinya..
[2]Teori Gardner awalnya hanya mengidentifikasikan tujuh jenis kecerdasan, yaitu linguistik, logis-matematis, musik, kinestetik-jasmani, spasial-visual, interpersonal dan intrapersonal. Ia kemudian menambahkan satu jenis kecerdasan lagi yaitu naturalis. Ia juga mengatakan bahwa mungkin saja ada beberapa kecerdasan lain lagi. Walupun seiring waktu, teori "multiple intelligences" ini entah bagaimana bisa menjadi identik dengan konsep "gaya belajar" meskipun kedua hal tersebut sangat berbeda. Lihat, Valeria Strauss, “Howard Gardner: ‘Multiple Intelligences’ are not ‘Learning Styles’,” http://www.washingtonpost.com/blogs/answer-sheet/wp/2013/10/16/howard-gardner-multiple-intelligences-are-not-learning-styles/?tid=auto_complete, 16 Oktober 2013, diakses 23 Oktober 2014.
[3]Howard Gardner adalah tokoh revolusioner dunia pendidikan dan psikologi. Bukunya Frames of Mind: The Theory of Multiple Intelligences (terbit 1983) telah mengguncang paradigma kecerdasan yang lama. Sampai sekarang ini (Oktober 2014) ia masih hidup. Bahkan masih aktif melakukan kegiatan ilmiah di dunia maya. Di internet ia sering mem-posting pendapat maupun kritikannya terhadap pelaksaan serta perkembangan Multiple Intelelligences di berbagai negara.
[4]StraussHoward Gardner: ‘Multiple,” diakses tanggal 23 Oktober 2014.
[5]Untuk melakukan pemilahan perindividu berdasarkan kecerdasan yang ia kuasai maka perlu dilakukan test tertentu agar diketahui kecenderungan kecerdasan apa yang dimiliki peserta didik. Bahkan tak jarang siswa memiliki kecenderungan kecerdasan lebih dari satu bidang hal ini ditemukan pada beberapa lembaga pendidikan yang murni dan totalitas melaksanakan teori multiple intelligences. Namun, lembaga-lembaga tersebut tentu mengidentifikasi satu jenis atau bidang kecerdasan yang paling menonjol yang dimiliki oleh masing-masing peserta didik.
[6]Bila ini dianalogikan dengan “bakat” bawaan hewan, maka guru mempresepsikan semua binatang adalah burung. Oleh karena itu, semuanya diasumsikan punya kemampuan yang sama yaitu terbang untuk mencapai tujuan. Padahal, kenyataannya tidak semua hewan bisa terbang. Ada jenis kemampuan lain yang dimiliki oleh beberapa jenis hewan yaitu berenang, lari, melompat, dan sebagainya. Kenyataannya guru PAI selama ini masih menghendaki ikan, harimau, dan kodok supaya mempunyai kemampuan terbang. Dampaknya, ikan, harimau, dan kodok tidak akan mampu mencapai tujuan yang dikendaki bersama karena mereka disibukkan untuk mendalami dan menggunakan strategi yang di luar “kecerdasannya.”
[7]Kenyataan yang terjadi secara umum dalam dunia pembelajaran PAI adalah terjadinya penyeragaman siswa. Yakni, siswa diseragamkan strategi pembelajarannya dan diseragamkan kemampuannya dalam menghayati dan “mengamalkan” nilai-nilai Islam hanya dari dua sudut kecerdasan saja. Siswa diajarkan atau diarahkan untuk menjadi muslim yang baik, tapi ironisnya strategi pembelajarannya tidak menunjukkan sebagai muslim baik yang mampu menghargai jenis kecerdasan yang dimiliki individu. Artinya, dalam suatu materi tertentu strategi pembelajaran dan pemberlakuan siswa dengan siswa lainnya disamakan tanpa memedulikan jenis kecerdasan yang masing-masing miliki. Pada akhirnya guru PAI akan memfonis siswa yang tidak mampu membaca al Quran, tidak mampu sholat, tidak memaki simbol-simbol Islam, dan kelemahan-kelemahan lain sebagai individu yang bodoh dan tidak taat agama. Padahal, kesalahannya terletak pada kegagalan guru dalam mengidentifikasi jenis kecerdasan apa yang dominan dimiliki individu. Kemudian ditindaklanjuti dengan pendekatan atau strategi apa yang cocok, sehingga materi-materi yang dianggap sulit tersebut tidak menurunkan motivasi peserta dalam belajar PAI bahkan dengan strategi yang tepat ia akan mampu memahami materi yang awalnya dianggap sulit menjadi lebih mudah dicerna. Pada akhirnya peserta didik akan merasa puas karena telah melakukan proses pembelajaran sesuai dengan jenis kecerdasannya.
[8]“Kamus Besar Bahasa Indonesia Luar Jaringan (Luring),” KBBI Offline Versi 1.5,  http://kbbi-offline.googlecode.com/files/kbbi-offline-1.5.zip, didownload tanggal 21 April 2014.
[9]Nusa Putra, Research & Development Penelitian dan Pengembangan: Suatu Pengantar (Jakarta: Rajawali, 2012), hlm. 125.
[10]Punaji Setyosari, Metode Penelitian Pendidikan dan Pengembangan (Jakarta: Kencana, 2012), hlm. 215.
[11]Conny R. Semiawan, Catatan Kecil Tentang Penelitian dan Pengembangan Ilmu Pengetahuan (Jakarta: Kencana, 2008), hlm. 183.
[12]Penjelasan ibu Sutiah tentang langkah-langkah R&D menurut Dick & Carey saat memberikan tugas UAS pada mahasiswa S3 PAI semester I tahun 2014..
[13]Putra, Research & Development Penelitian, hlm. 125.
[14]Putra, Research & Development Penelitian, hlm. 87-88.
[15]Penelitian pengembangan pada PAI idealnya dapat meningkatkan jumlah lulusan berkualitas yang lebih banyak dan relevan atau mampu memenuhi kebutuhan masyarakat. Bukan sebaliknya, untuk dapat “mengeruk” uang rakyat sebanyak-banyaknya.
[16]R. Ibrahim, dkk., Kurikulum dan Pembelajaran (Jakarta: Rajawal, 2011), 125.
[17]Ahmad Sabri, Strategi Belajar Mengajar dan Micro Teaching (Jakarta: Quantum Teaching, 2005), 34.
[18]Undang-undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003, Pasal 1 ayat 20.
[19]Syukri Fathuddin, “Pendidikan Islam,” dalam Din al-Islam: Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi Umum, ed. Yudiati Rahman (Yogyakarta: UNY Press, 2008), 130.
[20]A. Rifqi Amin, Sistem Pembelajaran Pendidikan Agama Islam pada Perguruan Tinggi Umum (Yogyakarta: Deepublish, 2014)
[21]“Kamus Besar Bahasa," didownload tanggal 21 April 2014.
[22]Agus Efendi, Revolusi Kecerdasan Abad 21: Kritik MI, EI, SQ, AQ & Successful Intelligence Atas IQ (Bandung: Alfabeta, 2005), hlm. 81.
[23]Howard Gardner, “Practice Does Not Make Perfect,” http://multipleintelligencesoasis.org/practice-does-not-make-perfect/, diakses tanggal 23 Oktober 2014.
[24]Sri Widayati dan Utami Widijati, Mengoptimalkan 9 Zona Kecerdasan Majemuk Anak (Yogyakarta: Luna, 2008), hlm. 2.
[25]Ibid., 4.
[26]Selama ini multiple intelligences lebih dikaitkan dengan gaya belajar, bukan melihat sisi kecerdasan apa yang mungkin ada pada siswa sehingga siswa tidak harus dipaksakan untuk menggunakan gaya belajar yang berbasis MI. Oleh karena itu, penulis menggunakan istilah “kecerdasan beragam” sebagai pengganti dari kata “MI” agar bisa menegaskan bahwa kecerdasan itu beragam. Lebih lanjut, Garnder memaparkan bahwa kadang-kadang terdapat istilah pelajar yang gaya belajarnya visual atau pelajar yang gaya belajarnya mendengar. Hal ini menurutnya adalah kesalahan, karena ini akan mengartikan bahwa seseorang belajar melalui mata mereka, orang lain melalui telinga mereka dan seterusnya. Dalam dua jenis kecerdasan seseorang bisa saja sama-sama menggunakan mata sebagai alat pengumpul informasinya. Namun di antara keduanya dalam belajar menggunakan kemampuan kogintif yang sama sekali berbeda. Misalkan saja kecerdasan musik dan kecerdasan berbicara (linguistik) meski sama-sama mengaktifkan telika, tetapi penggunaan kemampuan kognitifnya dalam memahami “suara” sama sekali berbeda.Dengan demikian, konsep kecerdasan tidak berfokus pada masalah bagaimana informasi linguistik atau spasial mencapai otak, apa melalui mata, telinga, atau tangan. Namun yang penting adalah kekuatan mental dan kecerdasan yang memiliki peran. Lihat, StraussHoward Gardner: ‘Multiple,” diakses tanggal 23 Oktober 2014.
[27]“Kamus Besar Bahasa, didownload tanggal 21 April 2014.
[28]Ibid.
[29]Mengenai keberhasilan dan kelebihan penggunaan teori MI secara nyata dalam konteks Indonesia telah berhasil dilakukan di SMP YMI di Gresik dan MTs YAMI di Bondowoso. Lihat, Munif Chatib, Sekolahnya Manusia: Sekolah Berbasis Multiple Intelligences di Indonesia (Bandung: Kaifa, 2010).
[30]Dwi Septiana, dkk. “Pengembangan Lembar Kerja Siswa Berbasis Multiple Intelligences pada Materi Pertumbuhan dan Perkembangan,” Unnes Journal of Biology Education dalam http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/ujeb, diaskes tanggal 31 Desember 2014.
[31]Yuliani Nurani, “Sinopsis Disertasi Pengembangan Model Program Kegiatan Bermain Berbasis Kecerdasan Jamak dalam Rangka Peningkatan Kreativitas Anak usia Dini,” Pascasarjana Universitas Jakarta 2008, dalam http://yebefo.com/wp-content/uploads/2013/04/Sinopsis-Disertasi.pdf, diakses 06 Januari 2014.
[32]Peserta didik disuruh untuk memilih tugas apa yang ia inginkan kemudian disuruh menerangkan secara detail apa saja yang akan dilakukan untuk menyukseskan tugas tersebut dalam bentuk tugas menulis dengan kalimat deskriptif.
[33]Dilihat dari aspek pskilogis, setiap peserta didik punya potensi dasar (bakat, minat, dan kemampuan/kecerdasan) yang butuh diaktualisasikan dan ditumbuhkembangkan secara terus-menerus untuk dapat menerapkan fungsinya sebagai hamba Allah dan Khalifah-Nya di bumi. Oleh karena itu setiap peserta didik idealnya membutuhkan treatment yang berbeda-beda pula. Lihat, Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Madrasah, dan Perguruan Tinggi (Jakarta: Rajawali Pers, 2009), hlm. 226.
 


tag: Multiple Intelegences, Howard Gardner, Kecerdasan Majemuk, Kecerdasan Ganda, Pengembangan Pendidikan Agama Islam