Pengembangan Pendidikan Agama Islam: Reinterpretasi Berbasis Interdisipliner

Sabtu, 24 Agustus 2013

Contoh BAB II Tesis: Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kualitas Sistem Pembelajaran PAI


Berikut adalah link yang terkait dengan tulisan (postingan) pada halaman ini: Tesis Lengkap Karya A. Rifqi Amin
 


5.      Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kualitas Sistem Pembelajaran PAI

Hasil dari pencermatan dari fenomena yang terjadi di masyarakat sekarang ini baik secara global maupun nasional perlu ada perhatian serius pada penggalian format dan model sistem PAI di lembaga pendidikan umum[1] yang ada muatan akomodasi tuntutan dan kebutuhan zaman dalam sinaran Islam sebagai agama rahmatan lil alamin. Oleh karena itu orientasi PAI dalam zaman informasi mendatang perlu diubah, yang semula berorientasi kepada kehidupan ukhrawy menjadi duniawy-ukhrawy.[2]
Untuk pemaparan yang lebih rinci dan praktis maka perlu dipaparkan beberapa faktor yang bisa menjadi pengaruh dalam sistem pembelajaran PAI. Faktor yang mempengaruhi Kualitas sistem pembelajaran PAI secara langsung saat pembelajaran di kelas atau di luar kelas dapat di bagi menjadi tiga yaitu:
a.    Pendidik
Permasalahan pembelajaran adalah permasalahan yang rumit dan dinamis dimana pendidik merupakan komponen yang sangat penting dalam proses pembelajaran. Secara intensif tugas pendidik adalah berperan dalam pembangunan interaksi dan komunikasi dalam proses pembelajaran dengan peserta didik secara efektif. Kesuksesan dosen sebagai pendidik dalam pembangungan suasana harmonis, komunikatif, dan pembelajaran yang efektif tergantung pada metodenya dalam pembelajaran. Tentunya juga peran dosen dalam pemanfaatan media pembelajaran. Ketidaklancaran dalam komunikasi di kelas dapat berakibat terhadap pesan atau materi yang bermuatan afektif, kognitif, dan ketrampilan yang disampaikan oleh pendidik bisa tidak terserap dengan sempurna oleh peserta didik.[3]
Kompetensi pendidik juga menjadi pengaruh dalam kualitas pembelajaran karena pendidik yang bertugas dalam pembangunan interaksi antara pendidik dengan peserta didik, peserta didik dengan peserta didik lainnya, dan peserta didik dengan sumber belajar. Dengan asumsi pendidik adalah penanggung jawab dan teladan hidup bagi murid-muridnya dalam proses pembelajaran. Di sisi lain kualitas dan  profesionalitas dosen juga penting karena bagaimanapun bagusnya dan lengkapnya strategi/metode, sarana prasarana, tujuan pembelajaran, dan canggihnya teknologi pembelajaran jika tidak diimbangi dengan kualitas dosen yang terjamin maka hal tersebut akan tidak berefek yang signifikan bagi kualitas sistem pembelajaran[4].
Dengan demikian dapat disimpulkan tentang faktor pengaruh dosen dalam pembelajaran merupakan komponen penting yang dapat menjadi pengaruh terhadap kualitas pembelajaran PAI. Artinya pembelajaran khususnya dalam PAI tanpa pendampingan dosen atau bahkan dosen hanya duduk diam di dalam kelas atau hanya sebagai pemberi perintah dan pengerjaan tugas kepada mahasiswa, tanpa pemberian materi pendalaman yang bersifat wawasan, aplikatif, dan penciptaan suasana pembelajaran yang canggih maka bisa menjadi penyebab pembelajaran PAI hanya berhenti pada aspek kognitif saja. Padahal menurut pembahasan sebelumnya PAI merupakan ajaran dan pedoman hidup untuk kebahagiaan di dunia dan akhirat yang harus dilaksanakan bagi setiap mahasiswa dengan sadar, mandiri, dan konsisten dalam beribadah serta dinamis dalam pengembangan IPTEK hingga kematiannya tiba.
Pernyataan tersebut secara detail sesuai dengan pendapat Suryo Subroto yaitu faktor-faktor pembelajaran yang terlekat pada pendidik adalah kepribadiannya, penguasaan bahan, penguasaan kelas, cara berbicara (intonasi, penguasaan bahasa, dan pengulangan), penciptaan suasana kelas, pembedaan individu (mahasiswa), dan yang paling penting adalah seorang dosen PAI harus terbuka, mau bekerja sama, tanggap terhadap inovasi, dan secara rutin mampu dalam pelaksanaan penelitian dalam kegiatan pengajarannya.[5]
Selama ini profil dan performa pendidik dalam sistem pembelajaran PAI dianggap masih kurang dalam peningkatan kualitas pembelajaran PAI yang mana penggunaan metode pembelajaran PAI di lembaga pendidikan umum masih banyak digunakan cara-cara pembelajaran tradisional, yaitu ceramah monoton dan statis kontekstual.[6] Hal ini berarti pendidik PAI lebih cenderung menjauhi teks-teks keilmuan dan lebih condong pada penguatan teks-teks al-Quran, Hadis, dan pendapat Ulama dengan minimnya keterkaitan dengan realitas yang ada. Padahal berdasarkan pada pembahasan sebelumnya seorang mahasiswa kapasitasnya tidak lagi hanya memperoleh sumber belajar dari ceramah dosen namun perlu dibiasakan dalam aktivitas pembacaan teks-teks ilmiah yang didasarkan pada kredibilitasnya dan merupakan hasil dari penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademis dan moral.
Sebagaimana menurut Nurcholish Madjid disampaikan tentang peran PAI dalam dunia akademik yang sarat dengan nilai keilmiahan tidak hanya diposisikan pada ranah pembenaran (context of justification), namun  juga yang terpenting adalah pada lingkup penemuan (context of discovery) serta visi baru ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh karena itu penggunaan ayat-ayat Allah yang kauliyah beserta kauniyah perlu dipahami dan diberi intrepretasi sesuai dengan kenyataan terkini. Dengan intrepretasi beserta reintrepretasi tersebut menjadikan agama mampu dan sejajar atau bahkan posisinya lebih tinggi dan teratas dalam berdialog dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.[7]
Permasalahan lain yang sering dijumpai dalam pembelajaran PAI adalah bagaimana cara penyajian materi kepada peserta didik secara baik dan sistematis sehingga diperoleh hasil yang efektif dan efisien. Hal ini dilakukan agar kesan PAI di mata peserta didik bukan mata kuliah kaku dan kuno. Dengan kata lain dosen PAI terbiasa dalam penggunaan variasi metode pembelajaran dan pengembangan materi PAI menjadi lebih menarik bagi mahasiswa sehingga mereka tertantang untuk aktif dalam pendalaman materi karena kedinamisan isinya. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Armai Arif yang dikutip oleh Ismail dikatakan tentang persoalan-persoalan yang selalu menjadi selimut pada dunia PAI sampai saat ini adalah seputar tujuan dan hasil yang tidak sejalan dengan kebutuhan masyarakat, dengan kata lain PAI belum bisa membumi dengan realitas yang terjadi di Masyarakat. Selain itu metode pembelajaran yang statis dan kaku, sikap dan mental pendidik yang dirasa kurang dalam pendukungan proses, dan materi pembelajaran yang tidak progresif.[8]
Ketelitian lain yang perlu diperhatikan tentang mahasiswa adalah karakteristiknya yang berbeda satu dengan yang lain. Karakteristik tersebut meliputi tingkat kemampuannya, tingkat perkembangannya, usia, latar belakang pendidikan, dan unsur lain yang berhubungan dengan proses pembelajaran mahasiswa. Sehinga hal ini dibutuhkan suatu usaha untuk penentuan pendakatan yang tepat. Jika ditinjau dari cara mahasiswa belajar maka salah satu caranya adalah dengan penggunaan pendekatan pembelajaran kooperatif. Artinya  mahasiswa dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk pembahasan suatu masalah, atau pemahanan terhadap suatu teori. Kelompok yang dibentuk bisa heterogen dan homogen, walaupun dari masing-masing cara itu terdapat kelemahan dan keunggulan. Mahasiswa dalam kelompok tersebut belajar bersama melalui diskusi. Pendekatan kooperatif ini digunakan untuk masalah bidang tertentu agar terjadi pengurangan kecemasan pada mahasiswa.[9]
Langkah ini diambil supaya metode pembelajaran PAI tidak didominasi oleh tipe pembelajaran teacher centered, yang mana pendidik dianggap berhak atas kepemilikan otoritas penuh dalam penentuan segala permasalahan pembelajaran. Padahal mahasiswa bisa bermain peran dalam penyelesaian masalah yang di-setting oleh dosen. Aktif dalam penggunaan metode-metode yang tidak menimbulkan kejenuhan, dinamis, dan penggunaan pendekatan-pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan konteks kekinian.
Penyebab lain yang masih menjadi problem pendidik dalam pengembangan PAI adalah minimnya semangat dan produktifitas dalam penciptaan dan penemuan hasil penelitian-penelitian tentang pendidikan, khususnya penelitian yang berkaitan dengan PAI. Sebagaimana yang telah dipaparkan dari hasil penelitian dinyatakan dosen PAI di UPI telah ikut aktif dalam penelitian ilmiah.[10] Gejala lain yang menjadi problematika adalah pembaruan serta reorientasi dosen dalam implementasi pembelajaran PAI. Reorientasi ke dalam bisa dihasilkan pernyataan-pernyataan seperti untuk apa aku mengajar PAI, untuk siapa aku mengajar, bagaimana aku mengajar, mengapa materi ini diajarkan, dan sebagainya. Dan reorientasi ke luar dihasilkan pernyataan-pernyataan akan diarahkan ke mana mahasiswa dan bagaimana agar peserta didik suka terhadap materi serta pembelajaran PAI.
Oleh karena itu untuk penyelesaian permasalahan yang terjadi pada dosen maupun mahasiswa perlu dibentuk suatu wadah profesi dosen PAI di PTU yang menjadi tempat kegiatan akademik, saling berbagi, dan belajar untuk pemertajaman keahlian masing-masing. Diharapkan dengan adanya wadah ini bisa dilanjutkan dengan kegiatan studi bersama seperti seminar, diskusi, penelitian, dan kegiatan ilmiah lainnya yang dapat menjadi cara dalam peningkatan wawasan keilmuan dosen PAI. Melalui wadah ini juga bisa digunakan sebagai sarana komunikasi dengan dosen-dosen lain dari berbagai bidang disiplin ilmu. Dengan kata lain adanya sinergitas dan hubungan antara dosen PAI dengan dosen umum untuk penambahan wawasan keilmuan dari berbagai disiplin keilmuan umum bagi dosen PAI dan wawasan keagamaan bagi dosen-dosen di bidang lain.[11]
b.   Peserta didik
Peserta didik sebagai manusia adalah makhluk yang unik dan penuh misteri, makhluk yang dinamis, dan punya potensi yang pada setiap perkembangannya dimiliki karakteristik yang berbeda-beda. Karena manusia sebagai makhluk hidup punya perbedaan yang khusus dengan makhluk lain. Manusia punya hak untuk kepemilikan iman dan ilmu sedangkan makhluk lain tidak diberi anugerah itu.[12]
Motivasi peserta didik dalam pelaksanaan proses pembelajaran PAI ditentukan oleh tujuan atau paling tidak fasilitas yang sesuai dengan keinginan peserta didik untuk pencapaian tujuan tersebut. Jika tujuan atau motivasi peserta didik dalam melakukan proses pembelajaran tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam maka tugas pendidik adalah bertindak dalam pelurusan ‘niat’ yang ada pada peserta didik dalam melakukan proses pembelajaran PAI. Jika dikaji dan dianalisis dari gelaja sosial akademik yang menjadi latar belakang dalam kekurang minatan atau menjadi beban yang besar bagi mahasiswa untuk ikut aktif dalam pembelajaran PAI di kelas maka dapat dibedakan ke dalam berbagai orientasi berikut ini yaitu banyak tugas yang terlalu sulit secara kuantitas dan kualitasnya, banyaknya pekerjaan lain yang jauh lebih penting dari pada kuliah PAI misalnya tugas mengajar, bekerja di perusahaan, atau untuk pengerjaan tugas mata kuliah lain, ketidak cocokan dengan dosen atau teman sekelas, materi PAI yang sulit karena penuh dengan bahasa Arab, adanya peraturan lembaga atau kontrak belajar dengan dosen yang tidak sesuai dengan keinginannya, materi maupun metode serta media yang monoton, dan niat utama dalam pembelajaran PAI adalah untuk pepenuhan kewajiban beban kuliah serta karena faktor mendapat nilai PAI yang bagus untuk peningkatan jumlah nilai IPK.
Pernyataan tersebut sebagaimana menurut Abdul Aziz dan Martin Handoko disampaikan tentang problematika mahasiswa yang bisa menjadi penghambat dalam sistem pembelajaran adalah segala sesuatu yang bisa menjadi penyebab adanya kelambatan atau ketidak lancaran dalam pencapaian hasil pembelajaran. Hambatan-hambatan tersebut meliputi terjadinya kelambatan dan alenialisasi perkembangan psikologi, terjadinya kelambatan dan alenialisasi daya fikir (kognitif), terjadinya kelambatan dalam komunikasi (linguistik) dan kelambatan dalam pemahaman kehidupan sosial,[13] dan terjadinya kesalahan dalam pembangunan tujuan awal dan kemauan mahasiswa aktif dalam proses pembelajaran (motivasi).[14]
c.    Suasana atau kondisi pembelajaran
Menurut Muhaimin dalam sistem pembelajaran PAI terdapat tiga komponen utama yang saling berpengaruh satu sama lain, yaitu kondisi pembelajaran PAI, metode pembelajaran, dan hasil pembelajaran PAI. Yang mana kondisi pembelajaran PAI seperti tujuan intruksional, karakteristik bidang studi PAI, karakter peserta didik, dan kendala pembelajaran PAI merupakan faktor yang mempengaruhi penggunaan metode dalam upaya peningkatan hasil pembelajaran PAI.[15]
Faktor lain yang perlu diperhatikan adalah metode serta waktu dalam pengimplementasian evaluasi, menurut Muhaimin evaluasi bermanfaat untuk diketahuinya tingkat perubahan belajar mahasiswa terhadap bahan atau materi ajar, metode, dan sarana tertentu yang digunakan untuk tercapainya tujuan yang telah direncanakan. Intinya evaluasi merupakan alat pengukur tercapainya proses interaksi pembelajaran.[16] Dapat disimpulkan evaluasi merupakan salah satu faktor penting dalam proses pembelajaran di kelas. Evaluasi di sini tidak hanya berupa ujian formal sekolah saja semisal Ulangan Harian, UTS, dan UAS namun juga evaluasi secara bertahap tiap satu kali pertemuan untuk diketahui perkembangan kognitif, afektif, dan psikomotorik mahasiswa.
Lebih detailnya menurut Husnul Atiah tentang kualitas sistem pembelajaran disampaikan proses belajar mengajar dapat berlangsung dengan baik apabila seorang pendidik mampu mengatur waktu yang tersedia dengan sebaik mungkin.”[17] Dapat disimpulkan faktor waktu dan kemampuan dosen dalam pengaturan waktu berperan dalam mempengaruhi kualitas pembelajaran. Berikut telah diidentifikasikan oleh Husnul ada empat fungsi umum yang merupakan ciri pekerjaan seorang pendidik sebagai manajer sehingga sangat berpengaruh pada kualitas pembelajaran PAI adalah:
1)   Perencanaan; merupakan pekerjaan pendidikan dalam penyusunan tujuan belajar.
2)   Pengorganisasian; adalah kemampuan pendidik dalam pengaturan dan berperan aktif dalam penghubungan sumber-sumber belajar terhadap peserta didik, sehingga dapat terwujud tujuan pembelajaran dengan cara yang paling efektif dan efisien.
3)   Kepemimpinan; adalah tugas pendidik untuk pemberian motivasi, pendorong, dan pemberi stimulasi peserta didiknya sehingga mereka akan siap dalam upaya perwujudan tujuan pembelajaran.
4)   Pengawasan; adalah pekerjaan seorang pendidik dalam penentuan apakah fungsinya dalam pengorganisasan dan kepemimpinan telah berhasil dalam mewujudkan tujuan yang telah dirumuskan.[18]       

Lebih spesifik selain dari beberapa poin faktor di atas menurut Rohmat ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kualitas pendidikan yaitu ”faktor pendidik, faktor peserta didik, faktor kurikulum, faktor pembiayaan, dan lain-lain.[19] Untuk mempertegas realitas kualitas proses pembelajaran PAI selama ini, maka perlu dipaparkan pendapat Sukirman, berikut pendapatnya:
Suatu kenyataan yang dihadapi dunia pendidikan khususnya Pendidikan Agama Islam di lembaga pendidikan formal saat ini, adalah rendahnya kualitas manajerial pembelajaran baik pada tataran perencanaan, pelaksanaan maupun cara pengendaliannya, akibatnya proses pembelajaran pendidikan Agama Islam kurang berhasil dalam pembentukan perilaku positif peserta didik. Lemahnya aspek metodologi yang dikuasai oleh guru juga merupakan penyebab rendahnya kualitas pembelajaran. Metode yang banyak dipakai adalah model konvensional yang kurang menarik. Ketidakberdayaan pendidikan agama dalam menginternalisasikan nilai-nilai agama juga merupakan salah satu faktor penyebab munculnya output yang tidak mampu mengemban misi pendidikan nasional yaitu menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah Swt. Oleh karenanya rekonstruksi terhadap manajemen program-program pembelajaran agama mutlak dilakukan demi tercapainya tujuan yang diharapkan.[20]


Selain beberapa faktor di atas, kualitas sistem pembelajaran PAI juga dipengaruhi oleh karakteristik kelas. Variabel karakteristik kelas tersebut antara lain pertama besarnya ukuran kelas (class size) artinya banyak sedikitnya jumlah mahasiswa yang ikut serta dalam proses pembelajaran. Kedua suasana pembelajaran yaitu suasana pembelajaran yang demokratis dapat menjadi pemberi peluang dalam pencapaian hasil pembelajaran yang optimal dibandingan dengan suasana yang kaku, disiplin yang ketat dengan otoritas penuh pada pendidik. Dan ketiga fasilitas serta sumber pembelajaran yang tersedia di mana sering ditemukan dalam proses pembelajaran di kelas posisi pendidik sebagai sumber pembelajaran satu-satunya. Padahal seharusnya peserta didik diberi kesempatan untuk berperan sebagai sumber pembelajaran dalam proses pembelajaran.[21]
Faktor pembelajaran PAI di kelas juga bisa dititik tekankan pada organisasi kelas dan organisasi lembaga perguruan tinggi secara umum, baik secara formal maupun non formal. Misalnya hirarkinya, kekuatan pengaruh, nilai-nilai yang tertanam dalam kelas atau dalam lembaga perguruan tinggi yang dibangun oleh mahasiswa, dan iklim sosial psikologisnya.[22] Dengan kata lain tiap mahasiswa berada tidak bisa lepas dari lingkungan sosial kelembagaan perguruan tinggi. Di dalamnya juga mereka berhak atas kepemilikan kebutuhan dalam berkedudukan dan berperan untuk mendapat pengakuan temannya dan lingkungan kampusanya. Jika seorang mahasiswa diterima, maka ia dengan mudah menyesuaikan diri dan segera dapat belajar. Sebaliknya, jika ia tertolak, maka ia akan merasa tertekan.[23]
Faktor-faktor di atas dalam banyak hal sering saling berkaitan dan berpengaruh satu sama lain. Seorang mahasiswa yang bersikap konservatif (faktor internal) terhadap ilmu pengetahuan atau bermotif eksentrik (faktor eksternal) biasanya cenderung mengambil pendekatan belajar sederhana dan tidak mendalam. Sebaliknya, seorang mahasiswa yang berinteligensi tinggi (faktor internal) dan ada dorongan positif dari orang tuanya (faktor eksternal) akan cenderung digunakan pendekatan belajar yang lebih pada kepentingan kualitas hasil belajar.[24]
Dari pembahasan dia atas maka dapat disimpulkan faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas sistem pembelajaran PAI adalah sebagaimana berikut:
1)   Faktor mahasiswa; mahasiswa punya karakteristik dan perbedaan satu sama lain, mulai dari fisik, gaya belajar, motivasi belajar, kecerdasan, orientasi bersekolah, cita-cita, dan berbagai perbedaan lain.[25]
2)   Faktor sarana prasarana; sarana adalah segala yang jadi pendukung secara langsung terhadap proses pembelajaran, contohnya media, alat, perlengkapan sekolah, dan perpustakaan. Sedangkan prasarana merupakan segala yang jadi pendukung secara tidak langsung bagi keberhasilan proses pembelajaran seperti kamar kecil, penerangan, taman, dan infrakstuktur kampus yang lain.
3)   Faktor lingkungan; dibagi menjadi dua faktor yaitu  faktor organisasi kelas dan faktor iklim sosio psikologis.[26]
4)   Faktor Keluarga; mahasiswa  berangkat ke kampus dari rumah tidak hanya membawa buku serta peralatan dan sumber belajar lainnya, namun juga membawa latar belakang ideologi dari rumah (mazhab), serta dibawa pula asumsi-asumsi dasar yang ia bangun dari lingkungan keluarga. Hal tersebut sebagaimana menurut Slameto Faktor keluarga dibagi menjadi tiga yaitu cara orang tua dalam pendidikan anak, relasi antaranggota keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua, dan latar belakang budaya.[27]
5)   Faktor Waktu; Faktor waktu dapat dibagi dua, yaitu yang bersangkutan dengan jumlah waktu dan kondisi waktu. Di mana jumlah waktu diidentifikasikan ke dalam berapa jumlah jam pelajaran yang tersedia untuk proses pembelajaran. Sedangkan yang menyangkut kondisi waktu ialah kapan pembelajaran itu dilaksanakan. Pagi, siang, sore atau malam, kondisinya akan berbeda. Hal tersebut akan menjadi pengaruh terhadap proses pembelajaran yang terjadi.[28]
6)   Faktor pendidik; merupakan faktor utama dalam sistem pembelajaran, karena ia yang bertanggung jawab dalam berperan tercapainya tujuan sistem pembelajaran.


[1]Tidak mengherankan jika terdapat kesimpulan dari sebagian kalangan pendidikan bahwa terjadi ketidak efektifan metode pembelajaran PAI. Hal ini sebagaimana pendapat Armai Arif yang dikutip oleh Ismail dikatakan bahwa persoalan-persoalan yang selalu menyelimuti dunia PAI sampai saat ini adalah seputar tujuan dan hasil yang tidak sejalan dengan kebutuhan masyarakat, dengan kata lain PAI belum bisa membumi dengan realitas yang terjadi di Masyarakat. Selain itu metode pembelajaran yang statis dan kaku, sikap dan mental pendidik yang dirasa kurang mendukung proses, dan materi pembelajaran yang tidak progresif. Lihat http://www.majalahpendidikan.com/2011/04/problematika-pai-di-sekolah.html, diakses pada tanggal 03 Januari 2013.
[2]H.M. Arifin, Kapita Selekta Pendidikan – Islam dan Umum, (Jakarta : Bumi Aksara, 1995), 7.
[3]Asnawir & Basyaruddin Usman, Media Pembelajaran (Jakarta: Ciputat Press 2002), 1.
[4]Mastuhu, “Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi Umum,” dalam Dinamika Pemikiran Islam di Perguruan Tinggi (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), 32-33.
[5]Suryosubroto, Proses Belajar Mengajar di Sekolah (Jakarta: Rineka Cipta, 2009), 153-154.
[6]Muhaimin, Nuansa Baru Pendidikan Islam (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006), 92.
[7]Nurcholish Madjid, “Masalah Pendidikan Agama di Perguruan Tinggi Umum,” dalam Dinamika Pemikiran Islam di Perguruan Tinggi, ed. Fuaduddin&Cik Hasan Bisri (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), 58.
[8]http:// www.majalahpendidikan.com/2011/04/problematika-pai-di-sekolah.html, diakses pada tanggal 03 Januari 2013.
[9]Anonim, dalam Dinamika Pemikiran Islam di Perguruan Tinggi, ed. Fuaduddin&Cik Hasan Bisri (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), 179-180.
[10]Dirjen Kelembagaan Agama Islam Depag RI, Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi Umum (Jakarta: Direktorat Perguruan Tinggi Agama Islam, 2003), 24.
[11]Mastuhu, “Pendidikan Agama Islam,” 37-38.
[12]Abu Ahmadi & Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan (Jakarta: Rineka Cipta, 2001), 24.
[13]Abdul Aziz Asy Syakhs, Kelambanan dalam Belajar dan Cara Penanggulangannya (Jakarta: Gema Insani), 25-30.
[14]Martin Handoko, Motivasi Daya Penggerak Tingkah Laku (Yogyakarta: Penerbit Konisius, 1992), 9.
[15]Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam: Upaya mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2001), 146.
[16]Ibid., 148-149.
[17]Husnul Atiah, “Manajemen Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Sebagai Upaya Guru Dalam Menciptakan Peserta didik Aktif di Sekolah Dasar Negeri 120/V Tungkal Harapan,” (Skripsi, Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) An – Nadwah Kuala Tungkal Kopertais Wilayah XIII, Jambi,2010).
[18]Atiah, “Manajemen Pembelajaran Pendidikan,” (Skripsi, Sekolah Tinggi Agama Islam ( STAI ) An – Nadwah Kuala Tungkal Kopertais Wilayah XIII, Jambi,2010).
[19]Ali Rohmad, Kapita Selekta Pendidikan (Tulungagung: STAIN Tulungagung, 2004),  20.
[20]Sukirman, “Manajemen Pengembangan Program Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Malang,” (Tesis MA., Universitas Islam Negeri Malang, Malang, 2010), v.
[21]Sabri, Strategi Belajar Mengajar, 51-52.
[22]Wina Sanjaya, Kurikulum dan Pembelajaran: Teori dan Praktik Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan pendidikan (KTSP), (Jakarta: Kencana, 2010), 202.
[23]Dimyati, Belajar dan Pembelajaran (Jakarta : Rineka Cipta, 2009), 239.
[24]Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam,“ http:// www.id.shvoong.com/social-sciences/education/2194125-faktor-faktor-yang-mempengaruhi-pembelajaran/#ixzz2F0ahy41L, diakses tanggal 05 Desember 2013.
[25]Hamzah B. Uno dan Nurdin Mohammad, Belajar dengan Pendekatan PAILKEM: Pembelajaran Aktif, Inovatif, Lingkungan, Kreatif, Efektif, Menarik (Jakarta: Bumi Aksara, 2011), 198-202.
[26]Sanjaya, Kurikulum dan Pembelajaran, 197-201.
[27]Slameto, Belajar Dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), 60-64.
[28]Toto Fathoni dan Cepi Riyana, “Komponen-Komponen Pembelajaran”, dalam Kurikulum dan Pembelajaran dalam Kurikulum dan Pembelajaran, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2011),  156.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar