Pengembangan Pendidikan Agama Islam: Reinterpretasi Berbasis Interdisipliner

Senin, 23 September 2013

Contoh BAB III Tesis Kuantitatif

Terima kasih, blog Banjir Embun telah dipercaya untuk digunakan sebagai referensi karya tulis oleh beberapa akademisi dan calon ilmuwan muda. Berikut puluhan BUKTI blog Banjir Embun mendapat kepercayaan masyarakat ilmiah (ilmuwan):

<<  Puluhan bukti blog Banjir Embun mendapat kepercayaan masyarakat luas  >> 


METODE PENELITIAN

Oleh:
Agus Puguh Santosa
(Penulis adalah Alumni Mahasiswa Pascasarjana (S2) STAIN Kediri Tahun 2013)
 
 Sumber foto: Koleksi Pribadi Agus Pugoh Santoso

Dalam bab ini akan diuraikan tentang; rancangan penelitian, populasi dan sampel, instrument penelitian, pengumpulan data dan analisa data
A.    Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian adalah prosedur untuk mengumpulkan data, menganalisis dan melaporkan hasil penelitian. Jadi rancangan penelitian dipakai untuk menunjuk pada rencana peneliti tentang bagaimana ia akan melaksanakan penelitian.[1]
Penelitian ini bermaksud untuk menguji hubungan antara sikap siswa kepada guru dengan aktivitas belajarnya, dengan menggunakan pendekatan kuantitatif karena didasarkan atas perhitungan angka, yang datanya berujud bilangan (skor atau nilai, peringkat, frekuensi), yang dianalisa dengan menggunakan statistik untuk menjawab pertanyaan atau hipotesis penelititan yang spesifik dan untuk melakukan prediksi bahwa suatu variabel tertentu mempengaruhi variabel yang lain.[2] Pendekatan kuantitatif juga bertujuan untuk menemukan seberapa banyak karakterisitik yang ada dalam populasi induk, mempunyai karakteristik seperti yang terdapat dalam sampel.[3]
Penelitian ini juga untuk menentukan tingkat hubungan antar variabel-variabel yang berada dalam suatu populasi sehingga penelitian ini bisa disebut dengan jenis korelaisonal.[4] Hal ini didasarkan pada karakterisitik dari penelitian korelasional yaitu, menghubungakan dua variabel atau lebih, besarnya hubungan didasarkan pada koefisien korelasi, dalam melihat hubungan tidak dilakukan manipulasi variabel dan datanya bersifat kuantitatif.[5]
Tujuan dari adanya tehnik korelasional adalah untuk mencari bukti berdasarkan hasil pengumpulan data apakah terdapat hubungan antar variabel yang diteliti, kemudian untuk menjawab pertanyaan apakah hubungan antar variabel tersebut kuat atau lemah, dan untuk memperoleh kepastian berdasarkan hitungan matematis apakah hubungan antar variabel merupakan hubungan yang signifikan atau tidak signifikan.[6] Penelitian ini tidak hanya menjelaskan saja akan tetapi juga memastikan besarnya hubungan antar variabel. Hubungan antar variabel ini adalah hubungan asimetris yang merupakan suatu hubungan dimana variabel-variabel dalam penelitian berubah secara bersamaan.[7] Dengan kata lain perubahan variabel bebas juga diikuti perubahan pada variabel terikat.
Penelitian ini berusaha untuk mengkaji hubungan antara variabel bebas (X) yaitu sikap siswa kepada guru dengan variabel terikat (Y) yaitu aktivitas belajarnya. Kemudian lebih jauh lagi penelitian ini juga ingin mengkaji hubungan antar sub variabel sikap dengan sub variabel aktivitas.
Adapun bentuk kerangka kerja model hubungan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

Keterangan:
X         : Sikap siswa kepada guru
Y         : Aktivitas belajar siswa

B.     Populasi dan Sampel
            a.       Populasi
Menurut Riduwan populasi adalah objek atau subjek yang berada pada suatu wilayah dan memenuhi syarat-syarat tertentu berkaitan dengan masalah penelitian.[8] Sedangkan Burhan Bungin mengatakan populasi merupakan keseluruhan dari objek penelitian yang dapat berupa manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, udara, gejala, nilai, peristiwa, sikap hidup, dan sebagainya, sehingga objek-objek ini dapat menjadi sumber data penelitian.[9] Sugiono mengartikan populasi sebagai wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.[10]
Jadi populasi merupakan objek atau subjek yang berada dalam suatu wilayah dan memenuhi syarat-syarat tertentu yang mempunyai kaitan dengan masalah yang diteliti. Populasi sasaran dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMPN I Plosoklaten yang berjumlah 966 siswa.
           b.      Sampel
Sampel adalah sebagian atau wakil dari populasi yang akan diteliti.[11] Adapun pengambilan sampel dalam penelitian ini karena memperhatikan adanya kelompok-kelompok yang bertingkat (adanya kelas 1, 2 dan 3), maka penulis menggunakan tehnik proporsional stratified random sampling yaitu pengambilan sampel dari anggota populasi yang pengambilannya dilakukan secara acak dan berstrata secara proporsional.[12]
Sedangkan besarnya sampel yang diambil secara acak menurut Ulber Silalahi bisa diambil dengan menggunakan daftar tabel sebagai berikut:[13]

TABEL 3.1
UKURAN SAMPEL DARI SUATU POPULASI
 
                                     (Untuk N adalah ukuran populasi dan S adalah ukuran sampel)
 
Berdasarkan table di atas, karena populasi penelitian sebesar 966 maka sampel penelitian yang diambil adalah sebesar 278 siswa. Dengan ketentuan kelas 1 sebanyak 93 siswa, kelas 2 sebanyak 92 siswa dan kelas 3 sebanyak 93 siswa.
C.    Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian merupakan alat bantu bagi peneliti dalam mengumpulkan data. Pembuatan instrumen penelitian diawali dari penyusunan konstruks, perumusan definisi konseptual dan definisi operasional, penyusunan kisi-kisi dan akhirnya dibuat butir-butir pertanyaan atau pernyataan. Setelah itu dilakukan uji coba untuk mengetahui validitas dan reliabilitasnya. tapi sebelum digunakan, instrumen tersebut dikonsultasikan dahulu kepada pembimbing untuk mengetahui tingkat kesesuaian dengan teori dan ketepatan sasaran dari tujuan penelitian dalam pengambilan data.
Instrumen dalam penelitian ini berupa angket yang diberikan langsung kepada responden untuk dijawab sesuai dengan karakteristik dirinya. Sedangkan pengambilan data dilakukan dengan menentukan pengukuran item yang terdiri dari lima alternatif jawaban, yang memiliki gradasi positif atau negatif. Sebagaimana yang tertuang dalam table di bawah ini.[14]

TABEL 3.2
KATAGORI RESPON RESPONDEN
Indikator Promosi
Nilai / Katagori Respon
Sangat setuju
Setuju
Netral
Tidak setuju
Sangat tidak setuju
Positif/ menguntungkan
5
4
3
2
1
Negatif/ tidak menguntungkan
1
2
3
4
5

Instrumen sebagai alat mengumpul data harus betul-betul dirancang dan dibuat sedemikian rupa sehingga menghasilkan data empiris sebagaimana adanya. Untuk itu instrumen penelitian harus memenuhi syarat uji validitas dan reliabelitasnya.[15]
Oleh karena itu, sebelum instrumen tersebut digunakan untuk mengambil data penelitian, maka harus diuji coba terlebih dahulu. Uji coba instrumen dilakukan untuk menentukan validitas dan reliabelitas serta untuk mengetahui tingkat pemahaman responden.
   1.      Variabel penelitian
Penelitian ini terdiri dari dua variabel yaitu sikap siswa kepada guru sebagai variabel bebas (X) dan aktivitas belajar siswa sebagai variabel terikat (Y). secara rinci mengenai variabel dan indikator yang digunakan dalam kuesioner ini dapat dipaparkan sebagai berikut:
a.       Variabel sikap siswa kepada guru (X) 
Sikap didefinisikan sebagai suatu kecenderungan tingkah laku terhadap suatu objek, yang memiliki dimensi kognitif (pengetahuan), afektif (perasaan) dan konasi (prilaku). Sikap siswa kepada guru dalam penelitian ini adalah skor total dari jawaban responden tentang sikap siswa kepada guru yang diukur melalui indikator-indikator yang digunakan dalam instrumen penelitian, yang disusun dan dikembangkan dalam bentuk angket dengan menggunakan pengukuran skala sikap. Skala sikap ini bertujuan untuk menentukan kepercayaan, persepsi, atau perasaan seseorang.[16] Jenis skala sikap yang peneliti pakai adalah skala Likert, yaitu dengan meminta responden untuk memberikan respon terhadap beberapa statemen dengan menunjukkan apakah ia sangat setuju, setuju, netral, tidak setuju atau sangat tidak setuju.[17] 
Dengan mengacu pada sub variabel sikap, sebagaimana yang terdapat dalam definisi operasional yang telah disebutkan diatas, maka disusunlah kisi-kisi skala sikap siswa kepada guru seperti dalam table di bawah ini:
TABEL 3.3
INSTRUMEN SIKAP SISWA KEPADA GURU

Sub variabel
Indikator
Pernyataan
No Item
1
2
3
4
Kognitif
Tanggapan/ keyakinan tentang objek
Guru adalah sosok manusia yang harus dimuliakan
1
Guru adalah manusia yang patut dijadikan teladan
2
Kesan yang muncul terkait objek
Diajar oleh guru sambil bercanda membuat pelajaran lebih mudah untuk diingat
3
Pelajaran akan sulit diterima jika diajar oleh guru yang tidak pernah tersenyum
4
Atribut/ Penafsiran tentang objek
Guru yang selalu berpakaian rapi menandakan ia seorang guru yang baik
5
Ibu guru lebih memiliki sifat penyayang dari pada bapak guru
6
Penilaian tentang objek
Guru yang baik itu adalah guru yang pengertian terhadap muridnya
7
Afektif
Senang atau cinta terhadap objek
Senang jika diajar guru yang mudah tersenyum
8
Gembira dekat dengan objek
Menikmati setiap kali mengikuti pelajarannya
9
Punya keinginan dekat dengan objek
Nyaman dan kerasan ketika diajar guru yang menyenangkan
10
Kagum terhadap objek
Memuji nama bapak/ ibu guru di depan orang lain
11
Sedih jika jauh dari objek
Sedih jika guru tidak hadir untuk mengajar
12
Takut terhadap objek
Takut jika diajar oleh guru yang tidak pernah tersenyum
13
Benci terhadap objek
Benci jika guru memberikan tugas rumah
14
Marah terhadap objek
Marah jika guru memarahiku
15
Konatif
Patuh dan taat
Mematuhi apa yang dikatakan oleh bapak/ibu guru
16
Menghargai
Mendengarkan ketika bapak/ibu guru menerangkan materi pelajaran
17
Tidak memotong pembicaraan bapak/ibu guru saat menjelaskan pelajaran
18
Menghormati
Menyapa ketika bertemu dengan bapak/ibu guru
19
Suka menolong
Membantu jika bapak/ibu guru lagi butuh bantuan
20
Tidak memusuhi
Menjaga nama bapak/ibu guru dimana saja berada
21
Perhatian
Menanyakan kabar bapak/ibu guru ketika bertemu
22

b.      Variabel aktivitas belajar siswa (Y)
Aktivitas belajar didefinisikan sebagai segala kegiatan yang dilakukan dalam rangka merubah diri untuk menuju ke arah yang lebih baik dari sebelumnya. Sedangkan yang dimaksud aktivitas belajar dalam penelitian ini adalah sekor total dari jawaban responden tentang aktivitas belajar, yang dapat diukur melalui indikator-indikator yang ada dalam instrument penelitian, yang disusun dan dikembangkan dalam bentuk angket dengan menggunakan skala pengukuran Likert berupa butir-butir pertanyaan atau pernyataan.
Dengan mengacu pada sub variabel aktivitas belajar, sebagaimana yang terdapat dalam definisi operasional yang telah disebutkan diatas, maka disusunlah kisi-kisi skala aktivitas belajar siswa seperti dalam table di bawah ini:
TABEL 3.4
INSTRUMEN AKTIVITAS BELAJAR SISWA
Sub variabel
Indikator
Pernyataan
No Item
1
2
3
4
Aktivitas fisik
Rajin mencatat
Mencatat hal-hal yang penting yang diterangkan oleh bapak/ ibu guru
1
Mencatat topik inti dari bacaan yang dibaca, jika berhubungan dengan materi
2
Mendengarkan pelajaran dengan seksama
Mendengarkan penjelasan guru dengan sungguh-sungguh ketika mengikuti pelajaran
3
Rajin membaca
Membaca materi pelajaran terlebih dahulu sebelum diterangkan oleh guru
4
Membaca buku lain yang berhubungan dengan materi pelajaran yang diajarkan
5
Rajin mengerjakan tugas
Menyelesaikan tugas yang diberikan dengan sebaik-baiknya
6
Menyelesaikan setiap tugas dengan tepat waktu
7
Rajin mengikuti pelajaran
Rajin masuk mengikuti pelajaran
8
Datang ke sekolah dengan tepat waktu
9
Keluar  kelas saat pelajaran berlangsung
10
Bertanya jika tidak mengerti
Bertanya ketika merasa tidak mengerti
11
Menjawab pertanyaan dengan benar
Menjawab setiap pertanyaan yang diberikan guru dengan benar
12
Mengatur waktu belajar dengan baik
Belajar dirumah dengan teratur
13
Membuat jadwal belajar di rumah
14
Aktivitas psikis
Berfikir sesuai dengan nalarnya
Menyelesaikan tugas sesuai dengan kemampuan sendiri
15
Meniru pekerjaan orang lain
16
Menghubungkan penjelasan guru dgn pengetahuan yg dimiliki sebelumnya
17
Menyelesaikan soal sesuai dengan teori yang sudah diajarkan
18
Mengeluarkan pendapat sesuai pemikiran sendiri
19
Rajin menghafal materi pelajaran
Menghafalkan materi pokok yang ada dalam kompetensi
20
Menghafalkan istilah asing yang ada kaitannya dengan materi pelajaran
21
Menghafalkan rumus atau kaidah-kaidah atau teori yang sudah diajarkan
22

   2.      Validitas dan reliabilitas instrumen
Setelah instrumen terkait dengan sikap dan aktifitas siswa disusun, maka instrumen tersebut terlebih dahulu diuji cobakan kepada 40 siswa di luar sampel penelitian tetapi masih termasuk dalam populasi penelitian sehingga sesuai dengan subjek yang akan diteliti.
1)      Validitas
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahehan suatu instrumen. Suatu instrumen yang valid berarti mempunyai validitas yang tinggi dan sebaliknya, instrumen yang kurang valid berarti memiliki validitas yang rendah.[18]
Instrumen yang disusun dalam penelitian ini, dibuat berdasarkan teori tentang variabel-variabel yang diteliti dalam penelitian ini. Suatu instrumen dapat dikatakan valid apabila mampu mengungkap data dari variabel yang diteliti secara tepat atau informasi dari suatu variabel yang akan diteliti serta mampu mengukur sebagaimana yang diinginkan. [19]
Untuk menguji validitas instrumen sikap, dilakukan dengan cara mencari harga koefisien korelasi antara bagian-bagian dari alat ukur secara keseluruhan, yaitu dengan cara mengkorelasikan setiap butir alat ukur dengan skor total yang merupakan jumlah setiap item soal. Jika hasil perhitungan terjadi thitung lebih besar dari ttabel, maka butir soal dinyatakan valid. Tetapi bila sebaliknya, maka butir soal tersebut dinyatakan tidak valid dan selanjutnya diperbaiki atau tidak digunakan dalam instrumen penelitian.
Kemudian untuk mengukur validitas instrumen, digunakan korelasi product moment pada taraf signifikansi dengan nilai probabilitas 0,05. Adapun rumus yang digunakan dalam menilai tingkat validitas item adalah sebagai berikut:[20]

Keterangan:
r xy          : Korelasi product moment
N         : Jumlah responden atau sampel
X         : Jumlah jawaban variabel X
Y         : Jumlah jawaban variabel Y
Selanjutnya dihitung dengan Uji-t, dengan menggunakan rumus:


dimana :
                  t           : Nilai t hitung
                  r           : Koefisien korelasi hasil t hitung
                  n          : Jumlah responden


Lalu jika instrumen tersebut sudah dinyatakan valid maka kriteria penafsiran mengenai indeks korelasinya adalah sebagai berikut:[21]



TABEL 3.5
KRITERIA KORELASI PRODUCT MOMENT
BESARNYA KOEFISIEN
KATAGORI
0,800 – 1,000
0,600 – 0,799
0,400 – 0,599
0,200 – 0,399
0,000 – 0,199
Sangat tinggi
Tinggi
Cukup tinggi
Rendah
Sangat rendah (tidak valid)

Dari hasil uji coba yang telah dilakukan dan dengan bantuan penghitungan program Excel, maka dari 22 item pernyataan tentang variabel sikap didapat hasil 17 item dinyatakan valid dan 5 item dinyatakan tidak valid seperti yang terlampir dalam LAMPIRAN 15. Selanjutnya 5 item yang tidak valid yaitu item no; 10, 15, 16, 20 dan 22 kemudian dibuang, sedangkan 17 item yang valid kemudian terus disebarkan kepada responden guna dijadikan instrumen dalam pengumpulan data.
Sedangkan untuk validitas instrument aktivitas belajar, berdasarkan hasil uji coba yang telah dilakukan dan dengan bantuan penghitungan program Excel, maka dari 22 item pernyataan tentang variabel aktivitas didapat hasil 20 item dinyatakan valid dan 2 item dinyatakan tidak valid seperti yang terlihat dalam LAMPIRAN 15. Selanjutnya 2 item yang tidak valid yaitu item no 10 dan 16 kemudian dibuang, sedangkan 20 item yang valid kemudian terus disebarkan kepada responden guna dijadikan instrumen dalam pengumpulan data.

2)      Reliabilitas
Reliabilitas adalah tingkatan dimana suatu tes mampu mengukur variabel secara konsisten meskipun digunakan berapa kalipun.[22] Instrumen dalam penelitian dikatakan reliabel apabila mempunyai nilai reliabilitas yang tinggi, apabila alat pengumpul data yang dibuat oleh peneliti mempunyai taraf konsistensi dalam mengukur apa yang hendak diukur.[23]
Reliabilats pada suatu instrumen merujuk pada adanya kepercayaan instrumen untuk bisa digunakan sebagai alat pengumpul data karena isntrumen telah dinyatakan sudah baik. Sebagaimana yang dikatakan Arikunto bahwa instrumen yang dinyatakan baik dan reliabel dapat menghasilkan data yang dapat dipercaya juga.[24]
Reliabilitas suatu tes pada umumnya diekspresikan secara numerik dalam bentuk koefisien. Koefisien reliabilitas digunakan untuk melihat konsistensi jawaban yang diberikan responden. Koefisien tinggi menunjukkan reliabilitas yang tinggi dan begitupun sebaliknya, jika koefisien suatu tes itu rendah maka itu berarti reliabilitas tes itu juga rendah. Suatu tes mempunyai reliabilitas sempurna jika tes tersebut mempunyai koefisien +1 atau – 1.[25]
Adapun rumus untuk mengetahui reliabilitas instrumen ini adalah dengan menggunakan rumus Spearman Brown, yaitu: r11 = 2r/(1+ r) dengan  r11 adalah koefisien Spearman Brown dan r adalah koefisien korelasi product moment.[26]
Dari hasil uji coba yang telah dilakukan dan dengan bantuan penghitungan program Excel, maka dari 22 item pernyataan tentang variabel sikap sebagaimana yang terlampir dalam LAMPIRAN 15 didapat hasil 19 item dinyatakan valid dan 3 item yaitu item no 10, 16 dan 22 dinyatakan tidak valid dan selanjutnya item-item tersebut dibuang. Dan ntuk item no 15 dan 20 meski dinyatakan reliabel tetapi dalam uji validitas sudah dinyatakan tidak valid maka 2 item tersebut juga ikut dibuang. Selanjutnya 17 item yang valid kemudian terus disebarkan kepada responden guna dijadikan instrumen dalam pengumpulan data.
Sedangkan untuk validitas instrument aktivitas belajar, berdasarkan hasil uji coba yang telah dilakukan dan dengan bantuan penghitungan program Excel, maka dari 22 item pernyataan tentang variabel aktivitas sebagaimana yang terlihat dalam LAMPIRAN 15 didapat hasil 21 item dinyatakan reliabel dan 1 item yaitu item no 10 dinyatakan tidak reliabel. Selanjutnya 1 item yang tidak reliable tersebut yaitu item no 10 kemudian dibuang. Dan untuk item no 16 meski dinyatakan reliable, tetapi dalam uji validitas sudah dinyatakan tidak valid maka item tersebut juga ikut dibuang. Sedangkan 20 item yang reliable kemudian terus disebarkan kepada responden guna dijadikan instrumen dalam pengumpulan data.
D.    Pengumpulan Data
Dalam penelitian diperlukan suatu metode pengumpulan data yang berupa tehnik dan cara-cara yang biasa digunakan oleh seorang peneliti untuk mengumpulkan data.
Data adalah bahan mentah yang perlu diolah sehingga menghasilkan informasi atau keterangan yang menunjukkan fakta.[27] Pada dasarnya data dalam penelitian bisa dibedakan menjadi dua, yaitu data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif adalah data yang tidak berbentuk bilangan. Sedangkan data kuantitatif adalah data yang berupa bilangan. Data kuantitatif  berdasarkan cara perolehannya masih dibagi menjadi dua, yaitu data diskrit dan data kontinum. Data diskrit adalah data yang diperoleh dari hasil menghitung dan biasa disebut dengan data nominal. Sedangkan data kontinum diperoleh dari hasil pengukuran dan data ini biasa dikelompokkan menjadi data ordinal, interval dan rasio.[28]
Dari uraian diatas, maka data dalam penelitian ini bisa disebut dengan data kuantitatif yang berbentuk data skala ordinal. Skala ordinal adalah skala yang didasarkan pada ranking yang diurutkan dari jenjang yang lebih tinggi sampai jenjang terendah atau sebaliknya.[29] Data ordinal dalam penelitian ini bisa dikatagorikan ke dalam bentuk tingkatan dengan menggunakan skala pengukuran Linkert[30], yaitu:

TABEL 3.6
KRITERIA SKALA LINKERT
POSITIF
BOBOT NILAI
NEGATIF
Sangat setuju
5
Sangat tidak setuju
Setuju
4
Tidak setuju
Netral
3
Netral
Tidak setuju
2
Setuju
Sangat tidak setuju
1
Sangat setuju

Sumber data dalam penelitian ini berasal dari dua sumber, yaitu manusia dan bukan manusia. Data yang bersumber dari yang bukan manusia bisa berupa dokumen-dokumen yang memaparkan tentang keadaan objek penelitian baik tentang jumlah siswa, guru dan karyawan atau keadaan-keadaan lain di lingkungan sekolah yang masih terkait hubungannya dengan penelitian ini. Adapun sumber data yang berupa manusia adalah responden itu sendiri. Dimana dari responden itu akan dicari data mengenai sikap dan aktivitas belajarnya.
Sedangkan tehnik dan cara pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan kuesioner yang berupa daftar pertanyaan atau pernyataan yang diberikan langsung kepada responden. Responden dalam penelitian ini adalah siswa SMPN I Plosoklaten.
E.     Analisis Data
Analisis data adalah proses penyederhanaan data dan penyajian data dengan mengelompokkannya dalam suatu bentuk yang mudah dibaca dan diinterpretasi.[31] Jenis analisis dalam suatu penelitian sangat berhubungan dengan jenis data yang dikumpulkannya. Jenis data itu bisa berupa data kuantitatif dan data kualitatif. Data kuantitatif adalah data yang berhubungan dengan kuantitas, angka-angka atau jumlah. Sedangkan data kualitatif adalah data yang berhubungan dengan kata-kata atau gambar-gambar. Oleh karena itu data kualitatif merupakan data yang berskala nominal, sedangkan data kuantitatif merupakan data yang memiliki skala ordinal, interval dan rasio. Jadi dalam penelitian ini, karena data yang didapat berupa data kualitatif yang dikuantitatifkan dalam bentuk skala ordinal, maka penelitian ini termasuk jenis penelitian kuantitatif.
Dalam penelitian kuantitatif, analisis data yang dapat dipakai bisa dengan menggunakan analisis statistik deskriptif atau analisis statistik inferensial tergantung dari tujuan penelitian itu sendiri. Jika tujuan dari penelitiannya adalah ingin memaparkan suatu data, maka yang cocok adalah dengan menggunakan analisis statistik deskriptif. Dan jika bertujuan untuk menguji suatu hipotesa dan mengeneralisasikannya, maka yang cocok adalah dengan menggunakan analisis statistik inferensial. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Burhan Bungin bahwa statistik inferensial adalah statistik yang digunakan dalam penelitian sosial sebagai alat untuk menganalisa data dengan tujuan melakukan generalisasi sampel terhadap populasi yang berarti menguji suatu hipotesa penelitian.[32]
Ada dua pilihan dalam penggunaan statistik inferensial, yaitu analsis statistik parametik dan analisis statistik non parametik. Analasis statistik parametik digunakan jika penarikan sampel dari suatu populasi diambil secara acak, data yang dihasilkan berdistribusi normal serta data hasil pengukuran berupa data interval atau rasio. Sedangkan analisis statistik non parametik digunakan jika data yang didapat tidak memperhatilam distibusi yang normal, diperoleh melalui pengukuran nominal atau ordinal dan sampel yang ditarik dari populasi diambil secara acak.[33]
Adapun analisis yang dipakai dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan analisis statistik parametik yaitu dengan menggunakan Rumus Product Moment. Sedangkan untuk mengetahui bersarnya kontribusi variabel dilakukan dengan mencari koefisien determinannya, yaitu dengan menggunakan rumus r2 x 100%. Dan untuk mengetahui signifikansinya dihitung dengan Uji-t, dengan rumus; 

Mengingat persyaratan analisis dengan menggunakan rumus ini adalah data harus berbentuk data interval, maka agar memenuhi persyaratan tersebut, maka data ordinal dalam penelitian ini akan dinaikkan menjadi data interval sehingga menjadi data baku. Dan dalam penelitian ini analisis digunakan untuk menganalisa validitas instrumen dan menganalisa data guna penarikan kesimpulan (uji hipotesa).
Instrument penelitian dikatakan valid jika instrument penelitian tersebut mampu mengukur variabel penelitian sesuai dengan apa yang dikehendaki. Validitas instrument dapat ditentukan dengan dua cara, yaitu dengan cara analisis rasional dan analisis statistic. Analisis rasional digunakan untuk mengukur validitas isi, yaitu untuk memastikan apakah instrumen tersebut mampu mencerminkan isi yang dikehendaki. Dalam hal ini instrument yang telah disusun kemudian diajukan kepada ahli atau pakar untuk mendapatkan tanggapan dan penilaian, apakah butir-butir pertanyaan atau pernyataan yang disusun telah mencerminkan indikator, sub variabel dan variabel yang akan diteliti. Apabila instrument itu telah disetujui oleh pembimbing, maka instrumen tersebut dianggap valid.
Sedangkan analsis statistik dimaksudkan untuk mengetahui validitas instrument ditinjau dari aspek konstruk, artinya instrumen tersebut sudah mampukah mengukur sifat konstruk atau teori yang telah dibangun. Validitas instrumen ditentukan oleh validitas butir-butir soal. Dan validitas butir soal ditentukan oleh besarnya koefiseien korelasi skor masing-masing butir soal dengan skor total yang dianalisis dengan statistik korelasi. Butir-butir soal dalam instrument dinyatakan valid jika harga koefisien korelasi hasil hitungan lebih besar dari koefisien korelasi hasil table pada taraf α = 0,05.
Kemudian analisis dalam uji hipotesis didasarkan pada data yang diperoleh dari responden melalui angket yang telah disebarkan dalam penelitian ini. Pengujian dalam penelitian ini menggunakan analisis korelasi. Uji statistik korelasi dilakukan dengan tujuan untuk menguji signifikan tidaknya hubungan antar variabel yang diukur melalui koefisien korelasinya.
Oleh sebab itu, karena tujuan dari penelitian ini adalah untuk mencari hubungan antara dua variabel, maka yang cocok sebagai bentuk analisis datanya adalah dengan menggunakan analisis korelasional.[34] Analisis korelasional dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode korelasi Pearson Product Moment. Metode ini adalah salah satu tehnik statistik parametik yang menggunakan data interval dan rasio dengan persyaratan; data dipilih secara acak, datanya berdistribusi normal, data yang berhubungan berpola linier dan data yang dihubungkan mempunyai pasangan yang sama sesuai dengan subjek yang sama.[35]
Untuk mengetahui apakah data tersebut berdistribusi normal, maka diadakah uji normalitas data. Sedangkan cara untuk mengetahui dan mengecek normalitas data adalah dengan plot probabilitas normal atau dengan menggunakan rumus Chi Kuadrat.[36] Adapun uji normalitas dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan rumus Chi Kuadrat dengan bantuan penghitungan program Excel.
Uji linieritas data dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui apakah hubungan data antar variabel mengikuti pola linier, yang berarti perubahan yang terjadi dalam suatu variabel diikuti oleh perubahan yang sama atau sebanding dalam variabel lain.[37] Sedangkan pengujiannya dilakukan dengan menggunakan bantuan program SPSS 16.
Selain uji normalitas dan linieritas data, perlu juga dilakukan uji kesamaan (homogenitas) beberapa bagian sampel, yakni untuk mengetahui seragam tidaknya variansi sampel-sampel yang diambil dari populasi yang sama. Pengujian homogenitas ini menjadi sangat penting dilakukan karena peneliti bermaksud untuk mengeneralisasi dari hasil penelitiannya.[38] Adapun pengujian homogenitas ini dilakukan dengan menggunakan tes Bartlet dengan bantuan penghitungan program Excel.
Setelah semua persyaratan terpenuhi maka analisis korelasi antar variabel dapat dilakukan. Sedangkan analisis korelasi dalam penelitian ini dilakukan untuk mencari hubungan antara variabel sikap dengan aktivitas belajar siswa.




[1] Asmadi Alsa, Pendekatan Kuantitatif dan Kualitatif serta Kombinasinya dalam Penelitian Psikologi (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 22011), 18 – 19
[2] Ibid, 13
[3] Ibid.
[4] Husaini Usman, Metodologi Penelitian Sosial (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), 5
[5] Nurul Zuriah, Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan (Jakarta: Bumi Aksara, 2007), 56
[6] Ulber Silalahi, Metode Penelitian Sosial (Bandung: Refika Aditama, 2010), 374 – 375 baca juga  Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), 313
[7]Djunaidi Ghony, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif (Malang:UIN Malang Press, 2009), 206
[8] Riduawan, Metode dan Tehnik Menyusun Tesis (Bandung: Alfabeta, 2010), 55.
[9] Burhan Bungin, Metodologi Penelitian Kuantitatif (Jakarta: Kencana, 2011), 109.
[10] Sugiono, Memahami Penelitian Kualitatif (Bandung: Alfabeta, 2005), 49.
[11] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian, 174.
[12] Riduwan, Metode dan Tehnik Menyusun Tesis, 58.
[13] Ulber Silalahi, Metode Penelitian Sosial, 277.
[14] Ulber Silalahi, Metode Penelitian Sisial, 229
[15] Burhan Bungin, Metodologi Penelitian Kuantitatif, 105
[16] Hamid Darmaji, Metode Penelitian Pendidikan (Bandung: Alfabeta, 2011), 92
[17] Ibid.
[18] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan, 211
[19] Ibid.
[20] Riduan, Metode dan Tehnik Menyusun Tesis, 109-110
[21] Riduan, Metode dan Tehnik, 110
[22] Hamid Darmadi, Metode Penelitian Pendidikan, 88
[23] Ibid, 122
[24] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian, 222
[25] Hamid Darmadi, Metode Penelitian Pendidikan, 122
[26] Riduan, Metode dan Tehnik, 132
[27] Riduan, Metode dan Tehnik, 106
[28] Ulber 280 – 284
[29] Riduan, Metode dan Tehnik, 82
[30] Ibid., 86
[31] Ulber Silalahi, Metode Penelitian Sosial, 332
[32] Burhan Bungin, Metodologi Penelitian Kuantitatif,  191-192
[33] Ulber Silalahi, Metode Penelitian, 338
[34] Ulber Silalahi, Metode Penelitian Sosial, 334
[35] Riduan, Metode dan Tehnik, 136
[36] Suharsimi Arikunto, ProsedurPenelitian, 357
[37] Ulber Silalahi, Metode Penelitian Sosial, 152
[38] Ibid., 364-364

2 komentar:

  1. terimakasih buat contoh bab 3 nya

    BalasHapus
  2. Assalaamualaikum pak. . ijin kopi hand made-nya. syukron

    BalasHapus