Blog ini Tanpa Tampilan Iklan dan Tanpa Download Berbayar Sampai Kiamat!
--- SELALU ADA YANG BARU DI BLOG BANJIR EMBUN: KAMI TIDAK MENGAMBIL KEUNTUNGAN MATERI DARI AKTIVITAS ANDA DI BLOG INI. BLOG BANJIR EMBUN ADALAH BLOG SOSIAL BUKAN BLOG BERORIENTASI KEUNTUNGAN MATERI (LABA)”---

Minggu, 14 Oktober 2012

Pengertian, Tujuan, Prinsip, Fungsi, dan Teknik Supervisi Kepala Sekolah


Link terkait tulisan atau kajian tentang sistem pembelajarandi sini

Baca juga:

1. Tesis Lengkap Karya A. Rifqi Amin (Tesis terbaik Tahun 2013)

2. Sistem Pembelajaran Pendidikan Agama Islam pada Perguru Tinggi Umum (Buku karya A. Rifqi Amin pendiri blog Banjir Embun)



 Pengertian, Tujuan, Prinsip, Fungsi, dan Teknik Supervisi Kepala Sekolah

a.      Pengertian  Supervisi
Kata supervisi berasal dari bahasa inggris supervision yang terdiri atas dua kata, yaitu super dan vision. Yang mengandung pengertian melihat dengan sangat teliti pekerjaan secara keseluruhan orang yang melakukan supervisi disebut supervisor.[1]Untuk tercapainya sebuah aktifitas itu tergantung kepada beberapa orang, diperlukan adanya koordinasi di dalam segala gerak langkah. Pimpinan sekolah harus berusaha mengetahui keseluruhan situasi di sekolahnya dalam segala bidang.
Menurut P. Adams dan Frank G. Dickey:
“Supervisi adalah suatu program yang berencana untuk memperbaiki pengajaran”.




Menurut Boardman:
Supervisi adalah suatu usaha menstimulir, mengkoordinir, dan membimbing secara kontinu pertumbuhan guru-guru sekolah, baik secara individuil maupun secara kolektif, agar lebih mengerti, dan lebih efektif dalam mewujudkan seluruh fungsi pengajaran, sehingga dengan demikian mereka mampu dan lebih cakap berpartisipasi dalam masyarakat demokrasi modern.[2]

Menurut Prof. Dr. Bahruddin Harapan (Supervisi Pendidikan, 1983), menyatakan:
“Supervisi adalah kegiatan yang dijalankan terhadap orang yang menimbulkan atau potensial menimbulkan komunikasi dua arah”.[3]

b.      Tujuan Supervisi:
Mengembangkan situasi belajar dan mengajar yang lebih baik. Jadi pengawasan bertujuan untuk mengadakan evaluasi, yaitu untuk pengukuran kemajuan sekolah.[4]
Perbaikan dan perkembangan proses belajar mengajar secara total, ini berarti tujuan supervisi tidak hanya untuk memperbaiki mutu mengajar guru, tapi juga membina pertumbuhan profesi guru dalam arti luas, termasuk di dalamnya pengadaan fasilitas-fasilitas, pelayanan kepemimpinan dan pembinaan human relation yang baik kepada semua pihak yang terkait.[5]


c.       Prinsip-prinsip supervisi
Seorang pemimpin pendidikan yang berfungsi sebagai supervisi dalam melaksanakan supervisi hendaknya bertumpu pada prinsip supervisi sebagai berikut:
1)      Ilmiah, yang mencakup unsur-unsur:
a)      Sistematis, berarti dilaksanakan secara teratur, terencana dan kontinyu.
b)      Obyektif artinya data yang didapat berdasarkan pada observasi nyata, bukan tafsiran pribadi.
c)      Menggunakan alat yang dapat memberi informasi sebagai umpan balik untuk mengadakan penilaian terhadap proses belajar-mengajar.[6]
2)      Demokratis
Servis dan bantuan yang diberikan kepada guru berdasarkan hubungan kemanusian yang akrab dan kehangatan, sehingga guru-guru merasa aman untuk mengembangkan tugasnya.[7]Menjunjung tinggi asas musyawarah. Memiliki jiwa kekeluargaan yang kuat serta sanggup menerima pendapat orang lain
3)      Kooperatif
Seluruh staf sekolah dapat bekerja bersama, mengembangkan usaha bersama dalam menciptakan situasi belajar mengajar yang lebih baik
4)      Konstruktif dan kreatif
Membina inisiatif guru serta mendorongnya untuk aktif menciptakan suasana di mana tiap orang merasa aman dan dapat mengembangkan potensi-potensinya[8]
5)      Praktis, artinya dapat dikerjakan, sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada.
6)      Fungsional
Supervisi dapat berfungsi sebagai sumber informasi bagi pengembangan manajemen pendidikan dan peningkatan proses belajar mengajar.
7)      Relevansi, artinya pelaksanaan supervisi seharusnya sesuai dan menunjang pelaksanaan yang berlaku. Apabila prinsip-prinsip tersebut diatas dapat dipahami dan dilaksanakan oleh Kepala Sekolah, maka dapat di harapkan setiap sekolah akan berangsur-angsur maju dan berkembang sebagai alat yang benar-benar memenuhi syarat untuk mencapai tujuan pendidikan [9]
d.      Fungsi Supervisi Pendidikan
Fungsi utama supervisi pendidikan ditujukan pada perbaikan dan peningkatan kualitas pengajaran. Untuk mengidentifikasikan kebutuhan guru, kemudian untuk meningkatkan kemampuannya dan selanjutnya membimbing guru supaya ia benar-benar berusaha menerapkan kemampuannya untuk meningkatkan situasi belajar-mengajar dengan murid-muridnya, diperlukan kegiatan-kegiatan tertentu, cara-cara tertentu yang khusus dan terarah, agar masing-masing tujuan tercapai sebaik-baiknya.[10] Berikut ini fungsi-fungsi supervisi sebagai berikut:
1.)    Mengkordinir semua usaha sekolah
2.)    Memperlengkap kepemimpinan sekolah
3.)    Memperluas pengalaman guru-guru
4.)    Menstimulasi usaha-usaha sekolah yang kreatif
5.)    Memberikan fasilitas dan penilaian terus-menerus
6.)    Menganalisis situasi belajar-mengajar
7.)    Memperlengkapi setiap anggota staf dengan pengetahuan yang baru dan keterampilan-keterampilan baru pula
8.)    Memadukan dan menyelaraskan tujuan-tujuan pendidikan dan membentuk kemampuan-kemampuan[11]
e.       Teknik-teknik supervisi
Supervisi dapat dilakukan dengan berbagai cara, dengan tujuan agar apa yang diharapkan bersama dapat menjadi kenyataan secara garis besar, cara atau teknik supervisi dapat di golongkan menjadi dua, yaitu teknik perseorangan dan teknik kelompok.

1)      Teknik Perseorangan
 Teknik supervisi yang dilakukan oleh seorang supervisor terhadap seorang guru atau Kepala Sekolah atau terhadap kepala tata usaha. Misalnya mengamati (mengobservasi) cara guru mengajar.[12] Supervisi yang dilakukan secara perseorangan dapat dilakukan atara lain:
a)      Mengadakan kunjungan kelas
Kunjungan kelas adalah kunjungan sewaktu-waktu yang dilakukan oleh seseorang supervisor (Kepala Sekolah, penilik atau pengawas) untuk melihat atau mengamati seseorang guru yang sedang mengajar. Tujuan adanya kunjungan kelas, untuk mengobservasi bagaimana guru mengajar apakah sudah memenuhi syarat-syarat didaktis atau metodik yang sesuai.[13]
Tujuannya, memperoleh data mengenai keadaan sebenarnya selama guru mengajar.[14] Teknik supervisi ini ditujukan langsung kepada perbaikan cara-cara mengajar, penggunaan alat peraga, kerjasama murid dalam kelas. Dalam mengadakan kunjungan kelas itu, kita hendaknya bekerja menurut proses yang teratur yaitu:
a.1. Perencanaan, dilakukan bersama-sama secara demokratis oleh Kepala Sekolah dengan guru kelas yang akan dikunjungi, berdasarkan kesulitan-kesulitan yang telah di alami bersama, apa akan diobservasi, kapan waktu yang sebaik-baiknya.
a.2. Pelaksanaan, observasi dilakukan se-informal mungkin dengan selalu memperhatikan prestase guru dalam kelasnya, tidak menonjolkan diri, tidak banyak interupsi, dan hanya memberikan demokrasi jika diminta.
a.3. Penganalisisan, dilakukan sesudah observasi-observasi
bersama-sama oleh Kepala Sekolah dan guru yang diobservasi, di tempat yang aman dan tentram, untuk membicarakan hasil-hasil observasi itu dan mencari segi-segi kelebihan dan kekurangannya.
a.4. Kesimpulan dan penilaian, kesimpulan sebagai penilaian terakhir dilakukan juga secara kooperatif, dengan disadari dan disetujui sepenuhnya oleh yang bersangkutan.[15]
b)      Mengadakan Kunjungan Observasi (Observation Visits)
Guru-guru dari suatu sekolah sengaja ditugaskan untuk melihat atau mengamati seorang guru yang sedang mendemonstrasikan cara-cara mengajar suatu mata pelajaran tertentu. Misalnya cara menggunakan alat atau media yang baru, seperti audio visual aids, cara mengajar dengan metode tertentu, seperti sosio drama, problem solving, diskusi panel, dan sebagainya.[16]
Tujuan mengadakan kunjungan observasi sebagai berikut:
b.1 Untuk memperoleh data yang seobjektif mungkin sehingga
bahan yang diperoleh dapat digunakan untuk menganalisis kesulitan-kesulitan yang dihadapi guru-guru dalam usaha memperbaiki hal belajar-mengajar.
b.2. Bagi guru sendiri data yang dianalisis akan dapat membantu
untuk mengubah cara-cara mengajar kearah yang lebih baik.
b.3 Bagi murid-murid sudah tentu akan dapat menimbulkan pengaruh positif terhadap kemajuan belajar mereka.[17]
c)      Membimbing guru-guru tentang cara-cara mempelajari pribadi siswa dan atau mengatasi problem yang dialami siswa
Banyak masalah yang dialami guru dalam mengatasi kesulitan-kesulitan belajar siswa. Misalnya siswa lamban dalam belajar, tidak dapat memusatkan perhatian, siswa yang “nakal” siswa yang mengalami perasaan rendah diri dan kurang dapat bergaul dengan teman-temannya.
d)     Membimbing guru-guru dalam hal-hal yang berhubungan dengan pelaksanaan kurikulum sekolah antara lain:
d.1. Menyusun program catur wulan atau program semester.
d.2. Menyusun atau membuat program satuan pelajaran.
d.3. Mengorganisasi kegiatan-kegiatan pengelolaan kelas.
d.4. Melaksanakan teknik-teknik evaluasi pengajaran.
d.5. Menggunakan media dan sumber dalam proses belajar
 mengajar.
d.6. Mengorganisasi kegiatan-kegiatan siswa dalam bidang
ektrakurikuler, study tour dan sebagainya.
2)      Teknik Kelompok
 Supervisi yang dilakukan secara kelompok. Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan antara lain:
a.       Mengadakan pertemuan atau rapat (meetings).
Seorang Kepala Sekolah yang baik umumnya menjalankan tugas-tugasnya berdasarkan rencana yang telah disusunnya. Termasuk di dalam perencanaan itu antara lain mengadakan rapat-rapat secara periodik dengan guru-guru. Berbagai hal yang dapat dijadikan bahan dalam rapat-rapat yang diadakan dalam rangka kegiatan supervisi seperti hal-hal yang berhubungan dengan pelaksanaan dan pengembangan kurikulum.
b.       Mengadakan diskusi kelompok (group discussions)
Diskusi kelompok dapat diadakan dengan membentuk kelompok-kelompok guru bidang studi sejenis. Kelompok-kelompok yang telah terbentuk itu diprogramkan untuk mengadakan pertemuan atau diskusi guna membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan usaha pengembangan dan peranan proses belajar mengajar.
Dengan membentuk kelompok-kelompok belajar antara guru-guru yang perlu peningkatan itu. Kelompok disusun sebaiknya berdasarkan kebutuhan dan kepentingan yang sama. mereka didorong dan dibimbing agar bekerja sama dalam menemukan masalah-masalah dalam bidang tugasnya yang bersama itu, berusaha pula menemukan pemecahannya dan mencari tambahan informasi atau pengetahuan yang diperlukan.[18]
c.       Mengadakan penataran-penataran (inservice-training)
Teknik supervisi kelompok yang dilakukan melalui penataran-penataran sudah banyak dilakukan. Misalnya penataran untuk guru-guru bidang studi tertentu, penataran tentang metodologi pengajaran,  dan penataran tentang administrasi pendidikan mengingat bahwa penataran-penataran yang dilaksanakan tersebut pada umumnya diselenggarakan oleh pusat atau wilayah, maka tugas Kepala Sekolah terutama adalah mengelola dan membimbing pelaksanaan tindak lanjut (follow-up) dari hasil penataran, agar dapat dipraktekkan oleh guru-guru[19]


[1] Nurhayati, Djamas, Pedoman Pelaksanaan Supervisi (Jakarta: Departemen Agama RI Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, 2000), 9.
[2] Ibid,. 120.
[3] Nurhayati, Djamas, Pedoman Pelaksanaan Supervisi. 9.
[4] Ibid,. 172.
[5] Nurhayati, djamas, pedoman pelaksanaan supervisi. Hal 11
[6] Pieta, Sahertian, Frans Matahera, Prinsip dan Teknik Supervisi Pendidikan. 31.
[7] Pieta, Sahertian, Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan dalam Rangka Pengembangan Sumber Daya Manusia (Jakarta: Rineka Cipta, 2000), 20.
[8] Pieta, Sahertian, Frans Matahera, Prinsip Dan Teknik Supervisi Pendidikan (Surabaya: Usaha Nasional 1982), 31
[9] Yusak, Burhanuddin, Administrasi Pendidikan Untuk Fakultas Tarbiya Komponen MKNK (Bandung: Pustaka Setia, 1998), 104-105.
[10] Moh, Rifa’i, Administrasi dan Supervisi Pendidikan (Bandung: Jemmars, 1987), 94.
[11] Pieta, Sahertian, Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan dalam rangka Pengembangan Sumber Daya Manusia. 22.
[12] Nurhayati, Djamas, Pedoman Pelaksanaan Supervisi. 98.
[13] M. Ngalim Purwanto, Administrasi dan Supervisi. 120.
[14] Pieta, Sahertian, Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan dalam Rangka Pengembangan Sumber Daya Manusia. 53.
[15] M. Daryanto, Administrasi Pendidikan. 187.
[16] M. Ngalim Purwanto, Administrasi dan Supervisi. 121.
[17] Pieta, Sahertian,. 56.
[18] Moh, Rifa’i, Administrasi dan Supervisi Pendidikan (Bandung: Jemmars, 1987), 144.
[19] Ibid,. 122.

0 komentar:

Poskan Komentar