--- SELALU ADA YANG BARU DI BLOG BANJIR EMBUN: "Kami Mengucapkan Terima Kasih Atas Kunjungan Anda. Bila butuh bantuan atau ada pertanyaan silakan hubungi ke nomor 08563350350 atau kirim email ke: banjirembun@yahoo.co.id subjek: BanjirEmbun Menjawab”---

Sabtu, 22 Desember 2012

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMBELAJARAN PAI

Terima kasih, blog Banjir Embun telah dipercaya untuk digunakan sebagai referensi karya tulis oleh beberapa akademisi dan calon ilmuwan muda. Berikut puluhan BUKTI blog Banjir Embun mendapat kepercayaan masyarakat ilmiah (ilmuwan):

<<  Puluhan bukti blog Banjir Embun mendapat kepercayaan masyarakat luas  >>
Baca juga:
Tesis Lengkap Karya A. Rifqi Amin
(Tesis terbaik Tahun 2013)

Download lengkap Tesis Berjudul:
"Sistem Pembelajaran Pendidikan Agama Islam pada Perguruan Tinggi Umum (Studi Kasus di Universitas Nusantara PGRI Kediri)"
Silakan download TESIS tersebut satu persatu di bawah ini:
-  Sebelum BAB [Download PDF]
-  BAB I [Download PDF
-  BAB II [Download PDF]
-  BAB III [Download PDF]
-  BAB IV [Download PDF]
-  BAB V [Download PDF]
-  BAB VI [Download PDF] 
-  Sesudah BAB [Download PDF]
 
Resensi Buku “Sistem Pembelajaran Pendidikan Agama Islam pada Perguruan Tinggi Umum"
Konsep utama Buku: "Revolusi Pembelajaran PAI pada PTU"



FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMBELAJARAN PAI

Oleh: 

DAVID FAJAR HIDAYAT    
BAHAK UDIN                         
DARYANTO                     
       

PENDAHULUAN

Pendidikan Agama Islam merupakan mata pelajaran yang tidak hanya menjadikan peserta didik dari belum paham menjadi paham, dari yang belum bisa menjadi bisa melakukan, dan dari yang belum taat menjadi taat. Namun lebih dari sekedar itu, PAI merupakan penanaman nilai-nilai keislaman dalam diri peserta didik dan memiliki tugas kepada peserta didik sebagai pedoman hidup bagi mereka. Indikatornya adalah mereka mencintai ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kesejahteraan umat manusia sebagai wujud dari syiar Islam. Tidak hanya pedoman hidup dalam beribadah secara normatif, namun juga pedoman hidup dalam menghadapi permasalah kehidupan yang semakin dinamis. Kehidupan yang dinamis ini tidak lepas dari fenomena modernitas yang ditandai oleh perkembangan ilmu pengetahuan teknologi yang semakin pesat dalam berlomba-lomba memenuhi kebutuhan gaya hidup manusia. 
Oleh karena itu inilah tugas bagi PAI dalam menyikapi perkembangan teknologi, tentu umat islam tidak mungkin bisa menghindari atau tidak menggunakan sama sekali teknologi tersebut. Karena perkembangan teknologi pasti terus mengalami kemajuan dan peningkatan kualitas yang sangat pesat. Sebuah tindakan yang tidak arif jika umat islam apatis dan sinis terhadap perkembangan teknologi. Maka daripada itu umat islam hendaknya membuka diri menghadapi fenomena tersebut, tentu penulis perkirakan memang saat ini umat islam belum mampu memproduksi teknologi digital atau teknologi canggih lainnya. Namun kenyataannya sekarang ini umat islam masih sebatas sebagai pengguna teknologi, itupun kebanyakan digunakan bukan untuk kemaslahatan umat tapi hanya untuk memenuhi kebutuhan gaya hidup.
Maka jika kita mengkaji lebih jauh lagi bagaimana mungkin umat islam bisa memiliki generasi umat yang unggul apabila dalam proses pembelajaran pendidikannya tidak unggul dan berkualitas. Kualitas pembelajaran PAI terwujud tidak hanya dengan kebetulan atau kepasrahan buta pada Tuhan namun diusahakan serta direncanakan. Oleh sebab itu perlu adanya pengkajian dan pendalaman khusus tentang faktor-faktor yang mempengaruhi pembelajaran PAI. Pembelajaran PAI selama ini dipandang sebelah mata oleh kebanyakan kalangan masyarakat baik yang awam maupun yang memiliki keahlian dan ilmu. Cara pandang seperti itu disebabkan karena PAI selama ini hanyak diedentikan dengan ketertinggalan karana sifatnya yang dianggap tidak mau berubah dari dulu hingga sekarang terus tetap mulai dari metode, materi, tujuan, hingga teknologi atau media pembelajarannya.
Memang ajaran islam bersifat dogmatis dan statis dari zaman Nabi Muhammad hingga kiamat, namun semangat serta cara memperjuangkan dan menyebarluaskan syiar islam tidak bersifat statis melainkan dinamis, luwes, dan universal. Penggunaan teknologi modern dalam proses pembelajaran PAI bisa menjadi bukti nyata untuk masyarakat bahwa secara ekspilisit menggambarkan tentang islam yang mencintai ilmu pengetahuan dan teknologi dengan cara memanfaatkannya dalam dunia pendidikan. Tentu dalam pemilihan teknologi tersebut tidak asal pakai dan asal senang. Namun perlu adanya perencanaan dalam pemanfaatan teknologi pembelajaran. Media atau teknologi pembelajaran merupakan salah satu komponen penting dalam proses pembelajaran PAI sebagai alat penunjang bagi pembelajaran. Namun perlu penulis tegaskan bahwa faktor keberhasilan pembelajaran PAI tidak tergantung dari canggih atau tidaknya media pembelajaran yang digunakan, tetapi dari ketepatan memilih dan keefektifan media yang digunakan oleh pendidik.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pembelajaran PAI secara umum pada konteks kekinian terletak pada kualitas, semangat perjuangan, berniat untuk syiar, dan dakwah islam yang dimiliki oleh pendidik. Dalam konteks agama islam pun kedudukan pendidik atau guru merupakan prioritas utama, bagaimanapun canggihnya teknologi pembelajaran yang menjadikan peserta didik mampu mencari sumber pembelajaran sendiri tetap membutuhkan guru. Dalam Islam kehadiran guru tidak hanya sebagai sebagai penghakim benar dan salah, pembimbing peserta didik dalam perjalanan belajar, dan sebagai perpanjangan tangan ilmu-ilmu atau ajaran dari para pendahulu. Namun pendidik dalam islam merupakan pewaris para nabi, tidak hanya mewarisi ilmu-ilmu nabi namun juga mewaris sifat-sifat nabi yaitu patut menjadi contoh, memiliki semangat memperjuangkan agama islam (bukan memperjuangkan dengan paksaan dan kekerasan namun dengan cara kelembuatan dan kasih sayang), dan mendidik umat dengan semangat pembaruan (mendobrak tatanan yang mapan untuk kemajuan umat).
Oleh karena itu dalam upaya melakukan pembaruan pembelajaran PAI menurut penulis terlebih dahulu perlu melihat faktor-faktor yang mempengaruhi pembelajaran PAI. Berhubung pembelajaran PAI di Indosesia pada saat ini masih sangat berbeda dengan pembelajaran lainnya. Dari pemaparan di atas untuk lebih fokusnya pembahasan makalah ini maka perlu kiranya dibuat rumusan masalah terlebih dahulu, di antaranya adalah sebagai berikut:
1.      Apa faktor-faktor  yan g mempengaruhi kualitas pembelajaran PAI?
2.      Bagaimana problematika pembelajaran PAI?
PEMBAHASAN



A.    Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kualitas Pembelajaran PAI
Kualitas proses pembelajaran merupakan salah satu titik tolak ukur yang dapat menentukan berhasil atau tidaknya proses pembelajaran. Perlu penulis tegaskan di sini bahwa ukuran berkualitas atau tidaknya suatu sekolah adalah relatif, karena tolak ukur yang digunakan terus menerus akan senantiasia mengalami perubahan sesuai dengan perubahan tantangan era atau zaman. Bisa jadi suatu saat tolak ukur keberhasilan sebuah pembelajaran adalah apabila dalam proses pembelajaran seorang guru menggunakan teknologi canggih, namun kemudian hari timbul antitesis tentang pernyataan tersebut sehingga terjadilah perubahan tolak ukur tersebut.
Kompetensi pendidik mempengaruhi kualitas pembelajaran karena pendidik yang bertugas membangun interaksi antara pendidik dengan peserta didik, peserta didik dengan peserta didik lainnya, dan peserta didik dengan sumber belajar. Seperti dalam pembahasan sebelumnya dalam PENDAHULUAN salah satu yang mempengaruhi kualitas pembelajaran PAI adalah pendidik (dalam hal ini adalah kompetensi, kualitas, dan nilai-nilai islam yang dimilikinya). Dengan asumsi, bahwa pendidik adalah penanggung jawab dan teladan berhidup bagi murid-muridnya dalam proses pembelajaran. Di sisi lain kualitas dan  profesionalitas guru juga penting karena bagaimanapun bagusnya dan lengkapnya strategi/metode, sarana prasarana, tujuan pembelajaran, dan canggihnya teknologi pembelajaran jika tidak diimbangi dengan kulaitas guru yang mumpuni maka hal tersebut akan tidak memiliki efek yang signifikan bagi kualitas pembelajaran.
Pengaruh faktor guru dalam pembelajaran merupakan komponen penting dalam mempengaruhi kualitas pembelajaran PAI. Karena pembelajaran khususnya dalam PAI tanpa pendampingan guru atau guru hanya duduk diam di dalam kelas serta hanya memberikan perintah atau tugas saja tanpa memberikan materi pendalaman yang bersifat wawasan, aplikatif, dan menciptakan suasana pembelajaran yang canggih maka bisa menyebabkan pembelajaran PAI hanya berhenti pada aspek kognitif saja. Padahal PAI merupakan ajaran dan pedoman hidup untuk kebahagiaan di dunia dan akhirat yang harus dilaksanakan bagi setiap siswa dengan sadar, mandiri, dan konsisten dalam beribadan serta dinamis dalam mengembangkan IPTEK hingga kematiannya tiba. Secara detail faktor-faktor yang melekat pada guru    adalah kepribadiannya, penguasaan bahan, penguasaan kelas, cara guru berbicara (intonasi, penguasaan bahasa, dan pengulangan), penciptaan suasana kelas, pembedaan individu (siswa), dan yang paling penting adalah seorang guru PAI harus terbuka, mau bekerja sama, tanggap terhadap inovasi, dan secara rutin mampu melaksanakan penelitian dalam kegiatan mengajarnya.[1]
Yang menjadi perhatian khusus dalam kualitas proses pembelajaran di sini adalah efektif dan efisien tidaknya proses pembelajaran dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Sehingga ini sejalan dengan nilai-nilai islam yang tidak menghendaki pemborosan waktu dan biaya. Untuk memenuhi proses pembelajaran PAI yang berkualitas maka hal tersebut dipengaruhi oleh dua faktor utama yakni faktor dari lingkungan misalnya seperti latar belakang keluarga, pergaulan teman, karkateristik sekolah, dan guru. Sedangkan faktor dari diri peserta didik seperti motivasi pembelajaran, minat dan  perhatian, sikap dan kebiasaan gaya belajar, ketekunan, sosial, ekonomi dan faktor fisik dan psikis serta faktor utama yaitu kemampuan yang dimiliki peserta didik untuk cepat memahami segala sesuatu.
Menurut Muhaimin dalam pembelajaran PAI terdapat tiga komponen utama ang saling berpengaruh satu sama lain, yaitu kondisi pembelajaran PAI, metode pembelajaran, dan hasil pembelajaran PAI. Yang mana kondisi pembelajaran PAI seperti tujuan intruksional, karakteristik bidang studi PAI, karakter siswa, dan kendalam pembelajaran PAI merupakan faktor yang mempengaruhi penggunaan metode dalam upaya untuk meningkatkan hasil pembelajaran PAI.[2]
Faktor lain yang perlu diperhatikan adalah metode serta waktu dalam melakukan evaluasi, menurut Suryosubroto evaluasi bermanfaat untuk mengetahui tingkat perubahan belajar siswa terhadap bahan atau materi ajar, metode, dan sarana tertentu telah mencapai tujuan yang telah direncanakan. Intinya evaluasi merupakan alat untuk mengukur tercapainya proses interaksi pembelajaran.[3] Sehingga dapat penulis simpulkan bahwa evaluasi merupakan salah satu faktor penting dalam proses pembelajaran di kelas. Evaluasi di sini tidak hanya berupa ujian formal sekolah saja semisal Ulangan Harian, UTS, dan UAS saja.
Menurut Husnul Atiah tentang kualitas pembelajaran bahwa “Proses belajar mengajar dapat berlangsung dengan baik apabila seorang pendidik mampu mengatur waktu yang tersedia dengan sebaik mungkin.”[4] Dengan demikian dapat penulis simpulkan bahwa faktor waktu dan kemampuan guru dalam mengatur waktu dapat memepengaruhi kualitas pembelajaran. Berikut ini Husnul mengidentifikasi empat fungsi umum yang merupakan ciri pekerjaan seorang guru sebagai manajer  yang sangat mempengaruhi kualitas pembelajaran PAI adalah:
1. Merencanakan. Ini pekerjaan seorang guru untuk menyusun tujuan belajar
2. Mengorganisasikan. Ini adalah pekerjaan seorang guru untuk mengatur dan menghubungkan sumber-sumber belajar, sehingga dapat mewujudkan tujuan pembelajaran dengan cara yang paling efektif dan efisien.
3. Memimpin. Ini adalah pekerjaan seorang guru untuk memotivasikan, mendorong dan menstimulasikan peserta didiknya, sehingga mereka akan siap untuk mewujudkan tujuan pembelajaran.
4. Mengawasi. Ini adalah pekerjaan seorang guru untuk menentukan apakah fungsinya dalam mengorganisasikan dan memimpin telah berhasil dalam mewujudkan tujuan yang telah dirumuskan.[5]
        Lebih spesifik lagi menurut Rohmat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kualitas pendidikan yaitu ”faktor pendidik, faktor peserta didik, faktor kurikulum, faktor pembiayaan, dan lain-lain.[6] Untuk mempertegas realitas kualitas Proses Pembelajaran PAI selama ini, maka penulis akan memaparkan pendapat Sukirman, berikut pendapatnya:


Suatu kenyataan yang dihadapi dunia pendidikan khususnya Pendidikan Agama Islam di lembaga pendidikan formal saat ini, adalah rendahnya kualitas manajerial pembelajaran baik pada tataran perencanaan, pelaksanaan maupun cara pengendaliannya, akibatnya proses pembelajaran pendidikan Agama Islam kurang berhasil dalam pembentukan perilaku positif peserta didik. Lemahnya aspek metodologi yang dikuasai oleh guru juga merupakan penyebab rendahnya kualitas pembelajaran. Metode yang banyak dipakai adalah model konvensional yang kurang menarik. Ketidakberdayaan pendidikan agama dalam menginternalisasikan nilai-nilai agama juga merupakan salah satu faktor penyebab munculnya output yang tidak mampu mengemban misi pendidikan nasional yaitu menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah Swt. Oleh karenanya rekonstruksi terhadap manajemen program-program pembelajaran agama mutlak dilakukan demi tercapainya tujuan yang diharapkan.[7]

Selain karena faktor pendidik, kualitas pengajaran juga dipengaruhi oleh karakteristik kelas. Variabel karakteristik kelas antara lain;
1.    Besarnya (class size). Artinya, banyak sedikitnya jumlah peserta didik yang mengikuti proses pengajaran.
2.    Suasana pembelajaran. Suasana pembelajaran yang demokratis akan memberi peluang mencapai hasil pembelajaran yang optimal, dibandingan dengan suasana yang kaku, disiplin yang ketat dengan otoritas penuh pada pendidik.
3.    Fasilitas dan sumber pembelajaran yang tersedia. Sering kita temukan dalam proses pembelajaran di kelas bahwa pendidik sebagai sumber pembelajaran satu-satunya. Padahal seharusnya peserta didik diberi kesempatan untuk berperan sebagai sumber pembelajaran dalam proses pembelajaran.[8]

Faktor pembelajaran PAI di kelas juga bisa dititik tekankan pada organisasi kelas dan di sekolah secara umum, baik secara formal maumupun non formal. Misalnya hirarkinya, kekuatan pengaruh, nilai-nilai yang tertanam dalam kelas atau sekolah yang dibangun oleh siswa, dan iklim sosial psikologis.[9] Tiap siswa berada dalam lingkungan sosial di sekolah. Ia memiliki kebutuhan dalam berkedudukan dan berperan untuk mendapat pengakuan temannya. Jika seorang siswa diterima, maka ia dengan mudah menyesuaikan diri dan segera dapat belajar. Sebaliknya, jika ia tertolak, maka ia akan merasa tertekan.[10]
Faktor lain yang mempengaruhi kualitas pengajaran di sekolah adalah karakteristik sekolah itu sendiri, yang mana sangat berkaitan erat dengan disiplin (tata tertib) sekolah, media pembelajaran yang dimiliki, letak geografis sekolah, lingkungan sekolah, estetika dan etika dalam arti sekolah memberikan perasaan nyaman, kepuasan peserta didik, bersih, rapi dan memberikan inspirasi.
Secara global, faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa dapat dibedakan menjadi tiga macam, yakni:
a.    Faktor internal (faktor dari dalam siswa), yakni keadaan/kondisi jasmanidan rohani siswa
b.    Faktor eksternal (faktor dari luar siswa), yakni kondisi lingkungan disekitar siswa.
c.    Faktor pendekatan belajar (approach to learning), yakni jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan mempelajari materi-materi pelajaran.
Faktor-faktor di atas dalam banyak hal sering saling berkaitan dan memperngaruhi satu sama lain. Seorang siswa yang bersikap konservatif (faktor internal) terhadap ilmu pengetahuan atau bermotif eksentrik (faktor eksternal) biasanya cenderung mengambil pendekatan belajar sederhana dan tidak mendalam. Sebaliknya, seorang siswa yang berinteligensi tinggi (faktor internal) dan mendapat dorongan positif dari orang tuanya (faktor eksternal) akan cenderung menggunakan pendekatan belajar yang lebih mementingkan kualitas hasil belajar.[11]
Sedangkan faktor-faktor lain yang mempengaruhi pembelajaran secara umum adalah, faktor siswa, sarana, alat atau media pembelajaran, dan lingkungan. Berikut ini adalah pemaparannya lebih lanjut:
1.      Faktor siswa; siswa juga memiliki karakteristik dan perbedaan satu sama lain, mulai dari fisik, gaya belajar, motivasi belajar, kecerdasan, orientasi bersekolah, cita-cita, dan berbagai perbedaan lain.[12]
2.      Faktor sarana prasarana; sarana adalah segala yang mendukung secara langsung terhadap proses pembelajaran, contohnya media, alat, perlengkapan sekolah, dan perpustakaan. Sedangkan prasarana merupakan segala yang tidak mendukung secara langsung bagi keberhasilan proses pembelajaran seperti kamar kecil, penerangan, taman, dan infrakstuktur sekolah.
3.      Faktor lingkungan; dibagi menjadi dua faktor yaitu  faktor organisasi kelas dan faktor iklim sosio psikologis.[13]
4.      Faktor Keluarga; siswa  berangkat ke sekolah dari rumah tidak hanya membawa buku, membawa uang saku namun juga membawa latar belakang ideologi dari rumah (madhab), serta membawa asumsi-asumsi dasar yang ia bangun dari lingkungan keluarga. Menurut Slameto Faktor keluarga dibagi menjadi tiga yaitu cara orang tua mendidik, relasi antaranggota kelarga, suasana rumah, keadaan ekonomi keluaraga, pengertian orang tua, dan latar belakang budaya.[14]
5.      Faktor Waktu; Faktor waktu dapat dibagi dua, yaitu yang menyangkut jumlah waktu dan kondisi waktu. Hal yang menyangkut jumlah waktu adalah berapa jumlah jam pelajaran yang tersedia untuk proses pembelajaran. Sedangkan yang menyangkut kondisi waktu ialah kapan pembelajaran itu dilaksanakan. Pagi, siang, sore atau malam, kondisinya akan berbeda. Hal tersebut akan berpengaruh terhadap proses pembelajaran yang terjadi.[15]
Menurut penulis faktor-faktor tersebut merupakan komponen pendidikan yang satu diantara yang lain saling berhubungan dan menunjang, karena apabila salah satu diantara unsur tersebut tidak memenuhi standar kualitas  pendidikan, maka kemungkinan besar kualitas pembelajaran tidak akan tercapai secara optimal.


B.     Problematika Pembelajaran PAI
Sebelum penulis membahas tentang beberapa problem yang ada pada peserta didik, perlu kiranya penulis jabarkan dulu arti dari kata ‘problematika’ itu sendiri. Kata problematika berasal dari kata problem yang berarti masalah atau persoalan, dan juga berakar kata dari kata problematik yang berarti permasalahan; hal yang menimbulkan masalah, hal yang belum dapat dipecahkan.[16] Sehingga penulis dapat menyimpulkan bahwa problematika yang ada pada peserta didik merupakan suatu masalah yang ada pada diri peserta didik yakni dapat berupa multiculturnya peserta didik dalam satu kelas, perbedaan golongan agama, perbedaan latar belakang ekonomi dan ideologi politik serta ideologi fanatisme pada ‘sesuatu’ yang ada pada keluarganya.
Menurut penulis ada enam macam istilah problematika pemanfaatan media pembelajaran yang istilah tersebut penulis ambil dari pendapat Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati dalam bukunya yang sebenarnya problematika itu menyangkut promblematika pendidikan secara umum, berhubung istilah itu sangat relevan maka penulis mengambil isitlah itu untuk dimasukkan ke dalam problematika proses pembelajaran PAI secara umum. Problematika yang berkaitan dengan proses pembelajaran itu menyangkut 5 W 1 H, yaitu:
1.      Probelamatika Who (siapa), menyangkut pendidik dan anak didik dalam menyukseskan proses pembelajaran.
2.      Problematika Why (mengapa), menyangkut pelaksanaan proses pembelajaran.
3.      Problematika Where (di mana), menyangkut tempat proses pembelajaran, di laboratorium PAI, terjun langsung di Masyarakat, atau di dalam kelas.
4.      Problematika When (bilamana/kapan), menyangkut pengaturan waktu dalam pelaksanaan proses pembalajaran, juga menyangkut usia peserta didik dalam menentukan pendekatan pendidik dalam mengajar.
5.      Problematika What (apa), menyangkut dasar, tujuan dan bahan/materi proses pembelajaran itu sendiri.
6.      Problematika How (bagaimana), menyangkut cara/metode yang digunakan dalam proses pembelajaran, berhubung peserta didik mempunyai sifat dan bakat yang berbeda-beda dalam proses pembelajaran.[17]

Peserta didik sebagai manusia adalah makhluk yang unik dan penuh misteri, makhluk yang dinamis, dan memiliki potensi yang pada setiap perkembangannya  memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Manusia sebagai makhluk hidup memiliki perbedaan dengan makhluk lain yaitu hanya manusia yang memiliki iman dan ilmu.[18]
Mencermati fenomena yang terjadi di masyarakat sekarang ini baik secara global maupun nasional perlu mendapat perhatian serius dalam menyelami format dan model sistem pendidikan agama Islam di sekolah, yang dapat mengakomodir tuntutan dan kebutuhan zaman dalam sinaran Islam sebagai agama rahmatan lil alamin. Orientasi pendidikan agama Islam dalam zaman informasi mendatang perlu diubah, yang semula berorientasi kepada kehidupan ukhrawy menjadi duniawy-ukhrawy.[19]
Dari problematika organisasi dan kelembagaan pendidikan agama Islam belum dikelola secara professonal, manajemen yang dibangun belum terstrukturisasi secara modern, sehingga kelihatan  sudah lapuk dan rapuh serta tertindas oleh kemajuan. Profesionalisme di sini, bukan hanya memperhatikan dari segi honorarium pengelola, akan tetapi profesionalisme tersebut perlu diwujudkan dalam perencanaan, penyiapan tenaga kerja, kurikulum dan pelaksanaan pendidikan agama Islam itu sendiri di sekolah. Dengan kurang professional pengelola akan berelasikan dengan sumber daya manusia (SDM). Jadi SDM terbatas akan mempengaruhi gerak dan langkah dalam pencapaian tujuan pendidikan Islam, terutama di era globalisasi sekarang ini.
Kemudian yang menjadi tantangan pendidikan agama Islam sekarang ini di sekolah ialah terjadinya dekadensi moral, baik bagi tenaga pendidik maupun peserta didik. Bagi tenaga pendidik terlihat dengan adanya yang kurang disiplin dalam mengajar, adanya korupsi dana anggaran pendidikan di sekolah, penyalahgunaan narkotika, dan sebagainya. Kemudian bagi peserta didik dapat terlihat dalam kehidupan yang ’ugal-ugalan’, tawuran, malas belajar, mengkonsumsi narkoba, kumpul kebo, dan sebagainya. Akan tetapi, orang yang beragama tidak mesti bagus akhlaknya, karena ada pengaruh atau penyebab yang lain.[20]
Dalam pembelajaran pendidikan agama Islam banyak sekali permasalahan yang dihadapi yang seringkali permasalahan tersebut menjadi hambatan untuk mencapai tujuan secara maksimal, probematika tersebut antara lain[21]:

1.    Problem Anak Didik Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Peserta didik sebagai manusia memiliki karakter dan nilai-nilai bawaan yang telah melakat terakumulasi sejak ia dari bayi bahkan bawaan dari orang tuanya secara genetis. Karakter tersebut secara rinci dapat dikatagorikan sebagai beriku:
a.    Karakteristik Kelainan Psikologi.
b.    Karakter Kelainan Daya Pikir (Kognitif)
c.    Karakter Kelainan Kemauan (Motivasi)
d.   Karakter Kelainan Interaksi (Emosional) Dan Sosial

2.    Problem Pendidik (Guru) Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Guru sebagai pengambil keputusan di dalam kelas memiliki peran sangat penting, ketidak hadiran guru bisa berpengaruh buruk atau malah bisa berpengaruh baik bagi siswa. Oleh karena itu seorang guru seyogyanya mempunyai kualitas keilmuan jauh di atas siswanya. Secara garis besar faktor-faktor yang mempengaruhi peningkatan kualitas guru sebagaimana berikut:
a)       Orientasi guru terhadap profesinya.
b)      Keadaan kesehatan guru.
c)       Keadaan ekonomi guru.
d)      Pengalaman mengajar guru.
e)       Latar belakang pendidikan guru.








DAFTAR RUJUKAN
Ahmadi, Abu&Uhbiyati, Nur. Ilmu Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta, 2001.

Affandi, Rahmad. “Upaya Mapenda dalam Mengembangkan Kurikulum PAI MA Kota Kediri”. Skripsi, STAIN Kediri, Kediri, 2011.

Arifin, H.M. Kapita Selekta Pendidikan – Islam dan Umum. Jakarta : Bumi Aksara, 1995.

Atiah, Husnul.“Manajemen Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Sebagai Upaya Guru Dalam Menciptakan Peserta didik Aktif di Sekolah Dasar Negeri 120/V Tungkal Harapan,” (Skripsi, Sekolah Tinggi Agama Islam ( Stai ) An – Nadwah Kuala Tungkal Kopertais Wilayah XIII, Jambi,2010).

B.  Uno, Hamzah&Mohammad, Nurdin. Belajar dengan Pendekatan PAILKEM:Pembelajaran Aktif, Inovatif, Lingkungan, Kreatif, Efektif, Menarik. Jakarta: Bumi Aksara, 2011.

Departeman Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 1993.

Dimyati, Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta, 2009.

Fathoni, Toto&Riyana, Cepi. “Komponen-Komponen Pembelajaran”, dalam Kurikulum dan Pembelajaran dalam Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2011.



Muhaimin.  Paradigma Pendidikan Islam: Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2001.

Nata, Abudin.  Manajemen Pendidikan: Mengatasi Kelemahan Pendidikan Islam di Indonesia. Bogor: Prenada Media, 2003.

Rohmad, Ali. Kapita Selekta Pendidikan. Tulungagung: STAIN Tulungagung, 2004.

Sabri, Ahmad. Strategi Belajar Mengajar dan Micro Teaching. Jakarta: Quantum Teaching, 2005.

Sanjaya, Wina. Kurikulum dan Pembelajaran: Teori dan Praktik Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan pendidikan (KTSP). Jakarta: Kencana, 2010.

Slameto, Belajar Dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta, 2010.

Sukirman, “Manajemen Pengembangan Program Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Malang,” (Tesis MA., Universita Islam Negeri Malang,Malang, 2010), V.

Suryosubroto.  Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta, 2009.



[1]Suryosubroto, Proses Belajar Mengajar di Sekolah (Jakarta: Rineka Cipta, 2009), 153-154.
[2]Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam: Upaya mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2001), 146.
[3]Ibid., 148-149.
[4]Husnul Atiah, “Manajemen Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Sebagai Upaya Guru Dalam Menciptakan Peserta didik Aktif di Sekolah Dasar Negeri 120/V Tungkal Harapan,” (Skripsi, Sekolah Tinggi Agama Islam ( Stai ) An – Nadwah Kuala Tungkal Kopertais Wilayah XIII, Jambi,2010).
[5]Ibid,.
[6]Ali Rohmad, Kapita Selekta Pendidikan (Tulungagung: STAIN Tulungagung, 2004),  20.
[7]Sukirman, “Manajemen Pengembangan Program Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Malang,” (Tesis MA., Universita Islam Negeri Malang,Malang, 2010), V.
[8]Ahmad Sabri, Strategi Belajar Mengajar dan Micro Teaching, (Jakarta: Quantum Teaching, 2005), 51-52.
[9]Wina Sanjaya, Kurikulum dan Pembelajaran: Teori dan Praktik Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan pendidikan (KTSP), (Jakarta: Kencana, 2010), 202.
[10]Dimyati, Belajar dan Pembelajaran (Jakarta : Rineka Cipta, 2009), 239
[12]Hamzah B. Uno dan Nurdin Mohammad, Belajar dengan Pendekatan PAILKEM:Pembelajaran Aktif, Inovatif, Lingkungan, Kreatif, Efektif, Menarik (Jakarta: Bumi Aksara, 2011), 198-202.
[13]Sanjaya, Kurikulum dan Pembelajaran, 197-201.
[14]Slameto, Belajar Dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), 60-64.
[15]Toto Fathoni dan Cepi Riyana, “Komponen-Komponen Pembelajaran”, dalam Kurikulum dan Pembelajaran dalam Kurikulum dan Pembelajaran, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2011),  156
[16]Departeman Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia(Jakarta: Balai Pustaka, 1993), 701.
[17]Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan (Jakarta: Rineka Cipta, 2001), 255-260.
[18]Ibid,. 24.
[19]H.M. Arifin, Kapita Selekta Pendidikan – Islam dan Umum, (Jakarta : Bumi Aksara, 1995), 7.
[20]Abuddin Nata, Manajemen Pendidikan: Mengatasi Kelemahan Pendidikan Islam di Indonesia, (Bogor: Prenada Media, 2003), 221-222.
[21]Rahmat Affandi, “Upaya Mapenda dalam Mengembangkan Kurikulum PAI MA Kota Kediri” (Skripsi, STAIN Kediri, Kediri, 2011).

0 komentar:

Poskan Komentar