Pengembangan Pendidikan Agama Islam: Reinterpretasi Berbasis Interdisipliner

Kamis, 12 September 2013

Faktor yang Mempengaruhi Aktivitas Belajar



Oleh:
Agus Puguh Santosa
(Penulis adalah Alumni Mahasiswa Pascasarjana (S2) STAIN Kediri Tahun 2013)
 

 Sumber foto: Koleksi Pribadi Agus Pugoh Santoso

Belajar merupakan suatu proses. Di dalam proses tersebut, banyak faktor yang mempengaruhi akan keberhasilan atau kegagalannya. Dengan demikian, ada beberapa faktor yang menunjang dan menghambat proses belajarnya.
Penggolongan faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajar, antara lain dikemukakan oleh EP Hutabaret, meliputi faktor kecerdasan, faktor belajar, faktor sikap, faktor fisik, faktor emosi dan sosial, faktor dosen dan faktor lingkungan.[1]
Sedangkan Muhibbin menyebutkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas belajar meliputi faktor internal, faktor eksternal dan pendekatan belajar siswa. Faktor internal meliputi; keadaan jasmani, kecerdasan, sikap minat bakat dan motivasi. Sedang faktor eksternal meliputi lingkungan sosial, yang berupa; keluarga, guru dan staf, masyarakat, teman dan juga lingkungan non sosial yang bisa berupa rumah, sekolah, peralatan dan alam.[2]
Berpijak dari pendapat di atas, maka faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas belajar, baik yang menunjang maupun yang menghambat, dapat digolongkan menjadi dua, yaitu:
1.      Faktor internal, misalnya kondisi fisik, kecerdasan, ingatan, sikap, minat, bakat,  motivasi, konsentrasi dan sebagainya
2.      Faktor eksternal, mencakup lingkungan fisik dan sosial serta pendekatan belajar.
Kedua faktor inilah yang kemudian dijabarkan dalam penjelasan berikut ini:
a.       Motivasi
Menurut Sardiman, motivasi berarti perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan adanya feeling dan didahului dengan adanya tanggapan terhadap adanya tujuan.[3]
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa motivasi adalah dorongan psikis yang ada pada diri individu untuk melakukan sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu. Sedangkan jika dikaitkan dengan aktifitas belajar, maka motivasi berarti dorongan psikis yang ada pada diri siswa untuk melakukan kegiatan belajar secara optimal dalam rangka mencapai tujuan yang sudah ditetapkan. Dengan demikian motivasi mempunyai arti yang sangat penting di dalam kegiatan belajar dan dalam rangka mencapai tujuan belajar.
b.      Konsentrasi
Sardiman mengartikan konsentrasi dalam kaitannya dengan belajar adalah memusatkan segenap kekuatan perhatian pada suatu situasi belajar.[4] Sedangkan Slameto mengartikannya dengan memusatkan seluruh perhatian terhadap belajar serta mengesampingkan hak-hal yang lain yang tidak ada hubungannya dengan belajar.[5] Sebagaimana yang dikemukakan oleh Mahfud Shalahuddin bahwa:
Untuk dapat belajar dengan baik, seseorang anak harus ada perhatian terhadap materi pelajaran yang dipelajarinya. Apabila materi pelajaran yang disajikan kepada mereka tidak menarik baginya, maka timbul rasa bosan, malas untuk belajar, sehingga prestasinya dalam studi menurun. Maka dari itu pendidik harus berusaha semaksimal mungkin, supaya materi pelajaran yang disajikan itu, menarik perhatian anak didik. Oleh karena itu faktor perhatian dalam kegiatan belajar tidak boleh diabaikan begitu saja.[6]

c.       Kecerdasan
Kecerdasan dalam pengertian ini disamakan dengan intelegensi, yaitu: kecakapan yang terdiri dari 3 jenis, meliputi kecakapan untuk menghadapi dan menyesuaikan diri ke dalam situasi yang baru dengan cepat dan efektif, mengetahui dan menggunakan konsep-konsep yang abstrak secara efektif, mengetahui relasi dan mempelajarinya dengan cepat.[7]
Secara sederhana kecerdasan diartikan dengan kemampuan untuk memahami dan menghadapi situasi dan kondisi sekitar dengan cepat. Dalam pembahasan ini, pengertian kecerdasan yang dimaksud adalah kemampuan untuk dapat memahami dan menghadapi persoalan dalam belajar dengan cepat.
d.      Ingatan
Ingatan adalah kekuatan jiwa untuk menyimpan hal-hal yang sudah dilihat, dialami, atau dipahami.[8] Sedangkan fungsinya adalah menerima kesan-kesan, menyimpan dan mereproduksi kesan-kesan.[9]
Dalam kaitannya dengan aktivitas belajar, ingatan berarti kemampuan untuk menerima, menyimpan dan mereproduksi kesan-kesan belajar, baik yang berbentuk materi pelajaran, pengalaman maupun bentuk-bentuk yang lain.
e.       Bakat
Bakat adalah potensi atau kecakapan dasar yang dibawa sejak lahir.[10] Kecakapan ini akan semakin nyata setelah adanya latihan.[11] Jadi jika bahan pelajaran yang diajarkan sesuai dengan bakat anak didik, maka hasil belajarnya akan lebih baik, karena anak didik akan lebih giat dalam menjalani aktivitas belajarnya sebab ia senang dalam mempelajarinya.



f.       Minat
Minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa keterikatan pada suatu hal atau aktivitas tanpa ada yang menyuruh.[12] Yang berguna untuk mempengaruhi kualitas pencapaian hasil belajar siswa dalam bidang studi tertentu.[13] Hal ini dikarenakan siswa yang menaruh minat pada mata pelajaran tertentu, akan berusaha memusatkan perhatiannya secara maksimal. Sehingga akan lebih giat dalam belajar dan pada akhirnya akan mencapai prestasi seperti yang diinginkannya.
g.      Sikap
Sikap adalah gejala internal yang berdimensi afektif berupa kecenderungan untuk merespon dengan cara yang relatif tetap terhadap suatu objek baik secara positif maupun negatif.[14] Sedangkan dalam hal ini sikap yang dimaksud adalah respon positif siswa terhadap guru saat proses pembelajaran. Karena menurut Muhibbin sikap positif siswa terutama pada guru dan mata pelajaran yang diampunya merupakan pertanda awal yang baik bagi proses belajar siswa tersebut. Begitupun sebaliknya, sikap siswa yang negatif, terlebih jika disertai rasa benci terhadap guru dan mata pelajarannya akan menyebabkan munculnya kesulitan belajar bagi siswa tersebut[15] Oleh karena itu dalam proses kegiatan belajar mengajar, sikap siswa juga sangat berpengaruh terhadap proses pembelajarannya.
h.      Keadaan fisik
Kondisi seseorang dapat berpengaruh terhadap aktivitasnya. Demikian pula dengan pelajar, agar seseorang dapat belajar dengan baik maka kesehatan harus dijaga dengan sebaik-baiknya. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Slameto bahwa agar seseorang dapat belajar dengan baik harus mengusahakan kesehatan badannya tetap terjamin dengan cara selalu mengindahkan ketentuan-ketentuan tentang bekerja, tidur, istirahat, makan, olah raga, rekreasi dan ibadah.[16]
Di samping faktor-faktor tersebut, masih banyak faktor yang mempengaruhi belajar siswa, diantaranya adalah faktor yang berasal dari lingkungan, baik lingkungan keluarga, masyarakat maupun sekolah.[17]
Di lingkungan keluarga, faktor yang mempengaruhi diantaranya adalah kondisi ekonomi keluarga, suasana keluarga, cara mendidik orang tua dan lain sebagainya. Sedangkan dalam lingkungan masyarakat, faktor yang berpengaruh adalah faktor manusia maupun non manusia. Dan di lingkungan sekolah, diantaranya adalah guru, kurikulum, fasilitas dan lain sebagainya.
Pada bagian ini, tidak akan diuraikan secara keseluruhan, tetapi hanya akan menguraikan faktor-faktor yang berhubungan langsung dengan aktifitas belajar siswa, yang meliputi:


a.       Pendidik
Pendidik merupakan orang yang langsung berhubungan dengan aktivitas belajar siswa. Oleh karena itu pendidik harus selalu berperan aktif dalam membawa dan menempatkan diri guna menciptakan interaksi belajar mengajar yang kondusif. Menurut Nana Sudjana, peranan dari pendidik adalah:
1.      Pemimpin belajar, yaitu merencanakan, mengorganisasikan dan mengontrol kegiatan
2.      Fasilitator belajar, artinya sebagai pemberi fasilitas-fasilitas dalam proses pembelajaran
3.      Moderator belajar, artinya sebagai pengatur arus belajar
4.      Motivator belajar, artinya sebagai pendorong agar siswa giat belajar
5.      Evaluator, artinya menilai dengan objektif kegiatan belajar tersebut.[18]
Pada sisi lain, pendidik juga mempunyai tugas untuk membimbing anak didik menuju jalan yang lurus dengan cara dan metode yang bijaksana sebagaimna yang telah ditegaskan oleh Allah dalam firman-Nya yang tertera dalam surat An-Nahl ayat 125.
ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.[19]
Dengan demikian jelas bahwa guru mempunyai peranan yang sangat penting dan berpengaruh dalam kegiatan belajar siswa terutama ketika di sekolah.
b.      Materi pelajaran
Aktivitas belajar siswa tidak dapat dipisahkan dengan materi pelajaran, walaupun materi pelajaran bukanlah tujuan. Hal ini karena pendidikan merupakan proses yang berorientasi pada tujuan. Akan tetapi untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan adanya materi pelajaran.
Dalam proses kegiatan belajar mengajar, yang harus diperhatikan oleh guru adalah bagaimana materi-materi pelajaran tersebut dapat dipelajari dan dikuasai oleh siswa.[20]
c.       Lingkungan keluarga
Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama bagi aktivitas belajar anak. Di dalam lingkungan keluarga inilah anak mendapatkan sesuatu yang sangat berarti bagi perkembangannya, baik pengetahuan, ketrampilan maupun sikapnya. Suasana lingkungan keluarga yang bagaimanapun keadaannya akan mempengaruhi perkembangan anak. Oleh karena itu agar anak dapat belajar dengan baik, perlulah diciptakan suasana rumah yang tenang dan tentram.[21]
Dalam keluarga, dengan adanya interaksi yang baik antar anggota keluarga akan dapat menumbuhkan kesadaran bagi diri anak akan fungsinya sebagai makhluk individu dan sebagai makhluk sosial.
Dari uraian tersebut, dapat dikatakan bahwa lingkungan keluarga mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap keberhasilan aktivitas belajar anak. Hal ini mengingat sebagain besar waktu anak berada dalam lingkungan keluarga.


[1] E.P. Hutabaret, Cara Belajar (Jakarta: PT BPK Gunung Mulia, 1988), 18-21
[2] Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan, 139
[3] Sardiman, Interaksi, 71
[4] Ibid., 38-39
[5] Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi (Jakarta: Rineka Cipta, 1995), 86
[6] Mahfud Shalahuddin, Pengantar Psikologi Pendidikan (Surabaya: Bina Ilmu, 1990), 61
[7] Ibid., 46
[8] Agus M Hardjana, Kiat Sukses Studi di Perguruan Tinggi (Yogyakarta: Kanisius, 1994), 109
[9] Sardiman, Interaksi, 44
[10] Abu Ahmadi, Psikologi Belajar (Jakarta: Rineka Cipta, 1991), 78
[11]Slameto, Belajar, 57
[12] Slameto, Belajar, 180
[13] Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan, 136
[14] Ibid., 135
[15] Ibid.
[16] Slameto, Belajar dan Faktor, 55
[17] Ibid., 60-69
[18] Nana Sudjana, Cara Belajar, 32-35
[19] DEPAG RI, Alqur’an dan terjemahny (Surabaya: CV Jaya Sakti, 1989),  421
[20] Slameto, Cara Belajar, 69
[21] Ibid., 63

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar