Blog ini Tanpa Tampilan Iklan dan Tanpa Download Berbayar Sampai Kiamat!
--- SELALU ADA YANG BARU DI BLOG BANJIR EMBUN: KAMI TIDAK MENGAMBIL KEUNTUNGAN MATERI DARI AKTIVITAS ANDA DI BLOG INI. BLOG BANJIR EMBUN ADALAH BLOG SOSIAL, BUKAN BLOG BERORIENTASI KEUNTUNGAN MATERI (LABA). Terima kasih atas kunjungan Anda”---

Kamis, 13 Juni 2013

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemilihan Metode

 Terima kasih, blog Banjir Embun telah dipercaya untuk digunakan sebagai referensi karya tulis oleh beberapa akademisi dan calon ilmuwan muda. Berikut puluhan BUKTI blog Banjir Embun mendapat kepercayaan masyarakat ilmiah (ilmuwan):

<<  Puluhan bukti blog Banjir Embun mendapat kepercayaan masyarakat luas  >> 



Buku A. Rifqi Amin (pendiri Banjir Embun) berjudul: 



Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemilihan Metode

 
Untuk mencapai hasil yang diharapkan, hendaknya pendidik dalam menerapkan metode terlebih dahulu melihat situasi dan kondisi yang paling tepat untuk dapat diterapkannya suatu  metode tertentu, agar dalam situasi dan kondisi tersebut  dapat  tercapai hasil proses pembelajaran dan membawa peserta didik ke arah yang  sesuai dengan  tujuan  pendidikan. Untuk itu dalam memilih metode yang baik pendidik harus memperhatikan hal-hal di bawah ini:
a.         Faktor Tujuan yang Hendak Dicapai atau Kompetensi yang Harus Dikuasai oleh Peserta Didik.
Sebagaimana diketahui bahwa setiap proses pendidikan atau pembelajaran menargetkan tujuan tertentu. Di dalam sistem pembelajaran tujuan merupakan komponen yang utama. Segala aktivitas pendidik dan peserta didik, harus diupayakan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Hal ini sangat penting karena mengajar adalah proses yang  memiliki tujuan. Adapun tujuan dalam pembelajaran ada yang bersifat kognitif, afektif dan psikomotorik.  Dengan mengetahui perbedaan tujuan tersebut pendidik dapat memiliki gambaran yang jelas tentang apa yang akan dicapainya sehingga dapat mempersiapkan media dan metode pembelajaran yang akan digunakan dengan tepat.
Sedangkan kompetensi, menurut R.M. Guion, sebagaimana dikutip  Hamzah B. Uno,  adalah “kemampuan atau kompetensi sebagai karakteristik yang menonjol bagi seseorang dan mengindikasikan cara-cara berperilaku atau berpikir, dalam segala situasi dan berlangsung terus dalam periode waktu yang lama.”[1]
Dari pendapat tersebut dapat dipahami bahwa suatu  kemampuan merujuk pada kinerja seseorang dalam suatu pekerjaan yang bisa dilihat dari pikiran, sikap dan perilakunya. Di dalam  Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yaitu kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan terdapat kompetensi yang harus dimiliki oleh peserta didik meliputi kompetensi lulusan, kompetensi mata pelajaran dan kompetensi dasar.[2]  Semua kompetensi tersebut harus pula diperhatikan  sebelum memilih metode. Oleh karenanya keberhasilan suatu metode pembelajaran dapat ditentukan dari keberhasilan peserta didik dalam mencapai tujuan pembelajaran atau kompetensi.
b.         Materi atau Bahan Pembelajaran
 Dalam menetapkan metode pembelajaran pendidik hendaknya memperhatikan bahan pembelajaran yang akan disampaikan, baik isi, sifat maupun cakupannya. Kemp dan Merril dalam  Hamzah B.Uno membedakan isi materi pembelajaran menjadi 4 jenis, yaitu fakta, konsep, prosedur dan prinsip.[3] Dengan perbedaan ini terlihat masing-masing jenis materi sudah pasti memerlukan metode pembelajaran yang berbeda pula. Misalnya:
1) Materi fakta  berupa segala hal yang berwujud kenyataan dan kebenaran. Contoh; mengingat nama suatu obyek, simbol atau peristiwa dapat disampaikan dengan alternatif metode seperti  ceramah, tanya jawab, dan diskusi.
2) Materi konsep berupa segala yang berwujud pengertian-pengertian baru yang bisa timbul sebagai hasil pemikiran, meliputi definisi, pengertian, ciri khusus, hakikat, inti/isi, dan sebagainya, maka alternatif metode yang dapat digunakan adalah metode diskusi kelompok atau resitasi.
3) Materi prinsip berupa hal-hal utama, pokok, dan posisi terpenting meliputi dalil, rumus, paradigma, serta hubungan antarkonsep yang menggambarkan implikasi sebab akibat, dapat digunakan alternatif metode  diskusi terpimpin, debat  dan studi kasus.
4) Materi prosedur  meliputi langkah-langkah secara sistematis atau berurutan dalam mengerjakan suatu aktivitas dan kronologi suatu sistem  dengan alternatif metode yang dapat digunakan adalah metode drill, demonstrasi, atau eksperimen.
Berdasarkan perbedaan karakteristik materi pembelajaran tersebut, pendidik harus mempertimbangkan dengan cermat dalam memilih metode, karena apabila di dalam penyampaian materi digunakan  metode yang efektif,  maka tujuan pembelajaran pun  dapat dicapai secara mudah dan efektif pula.
c.         Faktor Peserta Didik
Pembelajaran menaruh perhatian pada bagaimana membelajarkan peserta didik tidak hanya pada apa yang dipelajarinya. Dengan demikian, pembelajaran menempatkan peserta didik sebagai subjek bukan sebagai objek. Maka dari itu, agar pembelajaran dapat mencapai hasil yang optimal, pendidik perlu memahami karakteristik peserta didik karena beberapa metode mengajar ada yang menuntut pengetahuan dan kecakapan serta kecekatan tertentu dan sesuai dengan kemampuan  perkembangan dan kepribadian para peserta didik.
Peserta didik memiliki latar belakang kecerdasan, bakat, minat, hobi, dan kecenderungan yang berbeda. Demikian pula, perbedaan tingkat usia peserta didik menyebabkan terjadinya perbedaan sikap kejiwaan. Keadaan yang demikian itu harus dipertimbangkan dalam pemilihan metode pembelajaran.
Berkaitan  hal  tersebut di atas, Omar Mohammad al Toumy al-Syaibani dalam Abuddin Nata mengatakan;
….maka di antara kewajiban pendidik muslim adalah bahwa ia memahami sepenuhnya kekuatan dan ciri-ciri bio-psikologis, yang bermakna sekumpulan kekuatan dan ciri-ciri jasmaniah dan psikologis yang mempengaruhi tingkah laku pelajar pada proses belajarnya. Seorang pendidik muslim wajib memelihara dan mempertimbangkan berbagai ciri-ciri peserta didik tersebut dalam kegiatan pengajarannya untuk menjamin kejayaan dalam pekerjaannya.[4]

Pendapat di atas menjelaskan pentingnya para pendidik memahami karakteristik peserta didiknya dengan berbagai perbedaan. Agar pembelajaran berjalan dengan efektif dan efisien maka dalam memilih metode harus sesuai dengan tingkat kematangan, bakat, minat, kondisi dan gaya belajar peserta didik. Dengan demikian tidaklah dibenarkan jika dalam melaksanakan proses pembelajaran pendidik hanya menerapkan satu macam metode  tanpa memperhatikan kondisi peserta didiknya.
d.        Faktor Lingkungan
Lingkungan merupakan faktor lain yang dapat mempengaruhi keberhasilan diterapkan suatu metode.  Wina Sanjaya menyatakan bahwa:
Ada dua hal yang termasuk ke dalam faktor lingkungan belajar, yaitu lingkungan fisik dan lingkungan psikologis. Lingkungan fisik meliputi keadaan dan kondisi sekolah, misalnya jumlah peserta didik dalam  kelas, laboratorium, perpustakaan, dan di mana lokasi sekolah itu berada. Lingkungan psikologis adalah iklim sosial yang ada di lingkungan sekolah itu misalnya keharmonisan hubungan antara pendidik dengan pendidik, antara pendidik dengan kepala sekolah, keharmonisan antara pihak sekolah dengan orang tua.[5]

Berdasarkan pendapat di atas terlihat bahwa adanya perbedaan pada lingkungan belajar. Hal ini harus menjadi bahan pertimbangan dalam menetapkan metode pengajaran karena lokasi tempat berlangsungnya suatu kegiatan pembelajaran sangat berpengaruh terhadap pemilihan suatu metode. Suatu contoh sekolah yang berada dekat jalan raya, terminal atau pasar yang bising tentu tidak akan efektif bila pendidik hanya menerapkan metode ceramah semata.
e.          Faktor  Fasilitas
Yang termasuk dalam faktor  fasilitas adalah alat atau media pembelajaran dengan berbagai macamnya dan juga sumber belajar yang tersedia. Faktor ini harus dipertimbangkan pula dalam pemilihan penerapan suatu metode, karena setiap metode menghendaki alat dan sumber yang berbeda-beda. Pengaruh fasilitas dalam pemilihan metode nyata dalam situasi di mana metode demonstrasi dan eksperimen tidak dapat diterapkan karena tidak tersedianya alat-alat dan bahan penunjangnya.
Seringkali terjadi dalam kegiatan proses belajar-mengajar pendidik cenderung hanya menggunakan metode ceramah bila tidak tersedia fasilitas penunjang yang memungkinkan untuk diterapkan metode-metode lainnya. Hal ini disebabkan metode ceramah tidak terlalu menuntut fasilitas yang banyak bila dibandingkan dengan tuntutan metode lainnya seperti diskusi, demonstrasi dan eksperimen.
f.          Faktor Kesiapan Pendidik


Menurut Wina Sanjaya “pendidik merupakan  komponen yang sangat menentukan  dalam implementasi strategi pembelajaran.”[1] Hal ini berarti pendidik dalam proses pembelajaran memegang peran yang sangat penting. Pendidik harus menguasai beraneka strategi dan  metode mengajar yang menuntut berbagai persyaratan tertentu yang perlu dipenuhi oleh pendidik. Persyaratan itu di antaranya; ia harus mengerti tentang metode itu (misalnya jalannya pengajaran serta kebaikan dan kelemahannya,  situasi yang tepat di mana metode itu efektif dan wajar) dan trampil menggunakan metode.  Pendidik yang kualitas berbahasanya kurang baik dan bersuara yang lirih tidak akan tepat jika terlalu sering menggunakan metode ceramah. Begitu pula bila pendidik yang tidak menguasai seluk beluk metode eksperimen dan metode Jigsaw tentunya juga tidak dapat akan menggunakan metode tersebut dengan efektif dalam menyampaikan materi pelajaran. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penggunaan setiap metode menuntut wawasan, ketrampilan dan pengalaman pendidik yang akan menerapkannya.


[1]Wina Sanjaya, Kurikulum dan Pembelajaran, Teori dan praktik Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)  (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2008), 198.


[1]Hamzah B. Uno, Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang Kreatif dan Efektif  (Jakarta: Bumi Aksara, 2011), 78.
[2] Iif Khoiru Ahmadi, dkk., Strategi Pembelajaran Berorientasi KTSP (Jakarta: Prestasi Pustaka, 2011),61.
[3]Ibid.,24.
[4]Abuddin Nata, Perspektif Islam, 200.
[5]Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan (Jakarta: Kencana Prenada Media, 2006),146.
[6]Wina Sanjaya, Kurikulum dan Pembelajaran, Teori dan praktik Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)  (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2008), 198.

0 komentar:

Poskan Komentar