Blog ini Tanpa Tampilan Iklan dan Tanpa Download Berbayar Sampai Kiamat!
--- SELALU ADA YANG BARU DI BLOG BANJIR EMBUN: KAMI TIDAK MENGAMBIL KEUNTUNGAN MATERI DARI AKTIVITAS ANDA DI BLOG INI. BLOG BANJIR EMBUN ADALAH BLOG SOSIAL BUKAN BLOG BERORIENTASI KEUNTUNGAN MATERI (LABA)”---

Jumat, 07 Desember 2012

TESIS BAB I: “Strategi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Universitas Brawijaya dan Universitas Negeri Malang”

Strategi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Universitas Brawijaya dan Universitas Negeri Malang”
Oleh: Riris Lutfi Ni'matul Laila


foto Riris Lutfi Ni'matul Laila  Sumber  foto: Facebook


BAB I
PENDAHULUAN


A.  Konteks Penelitian
Pada era globalisasi, kemajuan industri sebagai salah satu dampak dari modernisasi, telah menuntut masyarakat untuk memiliki kemampuan spesialisasi secara tajam. Tuntutan tersebut pada gilirannya akan menyeret masyarakat kepada pola hidup tertentu yang mengakibatkan hilangnya makna hidup secara hakiki dengan mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan dan nilai-nilai ketuhanan.[1]
Untuk mengantisipasi dampak negatif dari kemajuan IPTEK dan lajunya arus modernisasi yang begitu cepat, umat manusia harus segera menyadari  dan membentengi diri dengan kemampuan kepribadiannya agar tidak kehilangan jati diri bangsa serta ikut terseret dalam pola globalisasi yang jauh dari nilai-nilai agama.
Berbagai krisis multidimensional yang sedang dialami oleh bangsa Indonesia memang tidak bisa hanya dilihat dan diatasi melalui pendekatan mono-dimensional. Namun demikian, karena segala krisis tersebut berpangkal dari krisis akhlak atau moral, maka pendidikan agama dipandang memiliki peranan yang sangat vital dalam membangun watak dan peradaban bangsa yang bermartabat. Untuk itu diperlukan pelaksanaan pendidikan agama yang lebih kondusif dan prospektif terutama di perguruan tinggi, baik Perguruan Tinggi Islam maupun Perguruan Tinggi Umum.[2]
Sebagaimana Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) yang dituntut dapat melahirkan manusia-manusia yang menguasai IPTEK sekaligus nilai-nilai agama serta melaksanakan pengembangan pendidikan agama Islam, begitu pula yang diharapkan dari lulusan Perguruan Tinggi Umum (PTN). Meskipun pada PTN, lebih menekankan pada pengembangan ilmu pengetahuan umum, mahasiswa PTN juga dituntut mampu mengembangkan kepribadiannya menjadi ilmuwan yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT. Salah satunya dikemas melalui pelaksanaan Pendidikan Agama Islam di PTN.
Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi telah disebutkan dalam Keputusan Dirjen Dikti tentang Rambu-rambu Pelaksanaan Kelompok Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian, bahwa PAI merupakan salah satu mata kuliah pengembangan kepribadian (MPK). Visi mata kuliah ini menjadi sumber nilai dan pedoman dalam pengembangan dan penyelenggaraan program studi guna mengantarkan peserta didik memantapkan kepribadiannya sebagai manusia Indonesia seutuhnya. Sedangkan misinya adalah membantu peserta didik memantapkan kepribadiannya agar secara konsisten mampu mewujudkan nilai-nilai dasar keagamaan dan kebudayaan, rasa kebanggan dan cinta tanah air sepanjang hayat dalam menguasai, menerapkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang dimilikinya dengan rasa tanggung jawab. [3]
Dalam Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), mata kuliah pendidikan agama merupakan matakuliah yang wajib diikuti oleh semua mahasiswa yang beragama di seluruh Perguruan Tinggi Umum, di setiap jurusan, program studi dan jenjang pendidikan, baik perguruan tinggi negeri maupun swasta. Dengan adanya mata kuliah pendidikan agama diharapkan dapat menjadi landasan bagi pembentukan watak dan kepribadian para lulusan perguruan tinggi di Indonesia sesuai dengan agama yang dipeluknya.[4]
Pendidikan Agama Islam sebagai salah satu matakuliah di perguruan tinggi merupakan bagian dari Mata Kuliah Umum (MKU) yang diikuti oleh mahasiswa yang beragama Islam mengemban tugas dan peran yang amat penting yakni menanamkan nilai-nilai fundamental bagi pembentukan sikap mahasiswa dan sekaligus pula berfungsi sebagai sumber yang memberi makna, sebagai pengikat nilai-nilai yang dikembangkan oleh mata kuliah lainnya, sehingga dengan demikian perguruan tinggi dapat melahirkan sarjana yang memiliki kepribadian Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT.[5]
Dilihat dari visi dan misi pendidikan agama di PTN tersebut, maka secara konseptual-teoritik masalah keimanan kepada Tuhan YME seharusnya dijadikan sebagai core dan/atau sebagai sumber nilai dan pedoman bagi peserta didik untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat, serta membantu peserta didik agar mampu mewujudkan nilai dasar agama dalam menerapkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Namun demikian, realitasnya di lapangan menunjukkan bahwa pada umumnya masalah keimanan masih dipertanyakan. Akibatnya parah sekali, antara lain lulusan perguruan tinggi kurang memiliki pemahaman tentang ajaran-ajaran agama bahkan berimplikasi pada keimanan yang kurang kuat yang pada gilirannya dapat menimbulkan krisis multidimensional.[6]
Dengan demikian, pendidikan yang diberikan di perguruan tinggi diharapkan dapat mencetak manusia  yang bertakwa kepada Tuhan dan dapat berbudi pekerti yang luhur dalam arti bermoral baik dan berakhlak mulia. Untuk dua tujuan ini nampaknya Pendidikan Agama, khususnya Pendidikan Agama Islam (PAI), mempunyai peran yang sangat besar dalam rangka pencapaian tujuan pendidikan nasional.  Oleh karena itu, persoalan yang muncul adalah bagaimana mengupayakan PAI di PTN dapat berimplikasi terwujudnya insan-insan seperti di atas.
Pembelajaran pendidikan Agama Islam pada umumnya lebih menekankan pengetahuan tentang sikap yang terkesan normatif, kaku, dan kurang menarik. Pengajar sering menempatkan diri sebagai pendakwah dengan memberi petunjuk, perintah, dan aturan yang membuat peserta didik jenuh dan bosan. Pengajar juga jarang memberikan keteladanan dengan sikap dan perilaku.
Keefektifan dan efisiensi pencapaian tujuan pembelajaran Pendidikan Agama Islam menjadi salah satu persoalan lembaga pendidikan. Salah satu faktor yang mempengaruhi adalah persoalan pemilihan, penetapan, dan pengembangan strategi pembelajaran yang kurang sesuai dengan tujuan pembelajaran. Sehingga upaya untuk membelajarkan peserta didik agar dapat mengembangkan semua potensinya sesuai dengan karakteristik, kemampuan, dan keterampilannya tidak tercapai secara maksimal.[7]
Dengan demikian, agar tujuan pembelajaran tersebut dapat tercapai secara efektif dan efisien, maka pendidik dituntut untuk memilih, menetapkan, dan mengembangkan strategi pembelajaran sesuai dengan tujuan pembelajaran.[8]
Permasalahan pembelajaran mata kuliah pendidikan agama Islam di perguruan tinggi seperti diungkapkan Hidayat, menegaskan pembelajaran pendidikan agama Islam yang selama ini berlangsung di institusi pendidikan tinggi, di satu sisi terbukti efektif membelajarkan peserta didik menjadi cendekiawan  yang menguasai ilmu pengetahuan dan memiliki integritas moral. Namun, disisi lain masih belum mampu menjadi sumber  motivasi bagi peserta didik untuk menunjukkan perilaku positif  dalam  kehidupan sehari-hari.[9]
Fenomena tersebut, mengindikasikan bahwa pelaksanaan pendidikan agama Islam di Perguruan Tinggi masih terdapat permasalahan yang perlu dipecahkan baik yang disebabkan oleh faktor internal  maupun faktor eksternal. Dalam terminologi Buchori, kekurangberhasilan pendidikan agama Islam  disebabkan pelaksanaan pendidikan  agama hanya memperhatikan aspek kognitif semata daripada pertumbuhan kesadaran nilai-nilai agama Islam dan mengabaikan pembinaan aspek afektif dan  konatif  volutif, yakni kemauan dan komitmen untuk mengamalkan nilai-nilai ajaran agama.[10] Sehingga belum mampu mempengaruhi perilaku keseharian peserta didik padahal  substansi dari pendidikan agama Islam adalah pendidikan nilai yang termanifestasi dalam perilaku.
Faktor  penyebab lain  kurang berhasilnya   pendidikan agama Islam menurut analisis Thowaf antara lain (1) pendekatan pembelajaran masih cenderung normatif, dalam arti pendidikan agama Islam menyajikan norma-norma yang sering kali tanpa ilustrasi konteks sosial budaya, sehingga peserta didik kurang menghayati nilai-nilai agama  sebagai nilai-nilai yang hidup dalam keseharian, (2) pendidik pendidikan agama Islam kurang berupaya menggali berbagai metode yang dimungkinkan dapat dipakai untuk pendidikan agama, sehingga pelaksanaan  pembelajaran cenderung monoton.[11]
Persoalan yang dihadapi berikutnya adalah bagaimana cara mengemas kegiatan pendidikan agama di Perguruan Tinggi. Sehingga lulusannya mempunyai penguasaan IPTEK yang baik, mempunyai etos kerja yang positif, disertai dengan keimanan dan ketakwaan yang mendalam.
Peneliti memandang perlu, untuk melakukan penelitian tentang strategi pembelajaran pendidikan agama Islam pada perguruan tinggi umum. Peneliti memilih dua lembaga pendidikan tinggi sebagai situs penelitian yaitu Universitas Brawijaya dan Universitas Negeri Malang.  Universitas Brawijaya (UB) dan Universitas Negeri Malang (UM) adalah institusi Perguruan Tinggi Umum Negeri yang berada di Malang Jawa Timur. Kedua PTN tersebut berada pada deretan universitas negeri terkemuka di Indonesia serta masing-masing memiliki latar visi, misi dan kelebihan yang berbeda.
Universitas Brawijaya (disingkat UB) merupakan institusi perguruan tinggi yang  memiliki keunggulan dalam bidang sains dan menjadikan landasan moral agama dalam menetapkannya. Saat ini UB merupakan salah satu universitas negeri terkemuka di Indonesia yang mempunyai jumlah mahasiswa lebih dari 30 ribu orang dari berbagai strata mulai program Diploma, Program Sarjana, Program Magister dan Program Doktor. Visi dari Universitas Brawijaya  menjadi universitas unggul yang berstandar internasional dan mampu berperan aktif dalam pembangunan bangsa melalui proses pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Serta memiliki misi yaitu, salah satunya membangkitkan kekuatan moral dan kesadaran tentang keberadaan penciptaan alam oleh Tuhan YME dan sadar bahwa setiap kehidupan mempunyai hak untuk dihargai. Sehingga bertujuan agar mampu menghasilkan sumberdaya manusia yang berkualitas, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, mampu membelajarkan diri, memiliki wawasan yang luas memiliki disiplin dan etos kerja, sehingga menjadi tenaga akademis dan profesional yang tangguh dan mampu bersaing di tingkat internasional.[12]
Sedangkan Universitas Negeri Malang, merupakan institusi perguruan tinggi yang menekankan pada pembinaan tenaga edukasi. Universitas Negeri Malang (UM) merupakan perguruan tinggi unggul yang peduli ter­hadap nilai kemanusiaan dan menjadi rujukan dalam pengembangan bidang kependidikan, ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. UM merupakan perguruan tinggi negeri yang terletak di Malang dan Blitar. Universitas yang didirikan pada tanggal 18 Oktober 1954  ini sebelumnya bernama IKIP Malang yang merupakan salah satu IKIP tertua di Indonesia.[13]
Sebagaimana tujuan pendidikan Nasional, lulusan yang diharapkan dari kedua PTN itu menjadi sosok-sosok lulusan yang profesional dalam bidangnya serta bermoral, hingga mampu memperbaiki permasalahan moral bangsa saat ini. Untuk mewujudkan hal tersebut, di mulai dari sistem pembelajaran yang diterapkan di masing-masing institusi, terutama pada penekanan pendidikan agama Islam agar semakin kokoh bekal keimanan dan kemuliaan akhlak sehingga mampu mewujudkan bangsa yang bermartabat.
Berdasarkan penelitian pendahuluan yang peneliti lakukan, pada kedua institusi perguruan tinggi tersebut masing-masing memiliki strategi khusus yang dikembangkan dalam pelaksanaan PAI sehingga dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Menurut keterangan Yusuf Hanafi, Koordinator Mata Kuliah Pendidikan Agama UPMU UM, mengatakan bahwa:
PAI merupakan salah satu Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian (MPK). MPK masuk dalam struktur Universitas Negeri Malang di UPMU (Unit Pengembangan Mata Kuliah Universiter), yaitu yang bertugas mengelola kegiatan akademik. Penyelenggaraan Mata Kuliah PAI di Universitas Negeri Malang mempunyai 2 bentuk kegiatan yaitu pertama, kegiatan tutorial yang dilaksanakan di kelas sebanyak 2 sks/2 JS (100 menit), 16 kali pertemuan dalam satu semester. Kedua, yaitu TDI (Tafaqquh fi Dien al-Islam) yang mana kegiatan ini terintegrasi dengan kegiatan tutorial di kelas dan wajib diikuti oleh setiap mahasiswa berupa Kuliah Umum setiap hari Sabtu. Mahasiswa ditugaskan membuat resuman materi ceramah tersebut. Kemudian dilanjutkan dengan kegiatan Bimbingan Baca Quran.[14]
Berdasarkan keterangan tersebut dapat diketahui bahwa pelaksanaan pembelajaran PAI dilaksanakan sebanyak 2 sks sebagai kegiatan tutorial di kelas. Kegiatan tersebut  ditunjang dengan kegiatan ekstrakurikuler di luar jam perkuliahan dengan kegiatan TDI (Tafaqquh fi Dien al-Islam) bagi seluruh mahasiswa yang mengambil mata kuliah PAI berupa kuliah umum dan bimbingan membaca al-Quran.
Berbeda dengan Universitas Negeri Malang, Universitas Brawijaya memiliki strategi tersendiri dalam penyelenggaraan Mata Kuliah PAI.  Menurut keterangan Syamsul Arifin, Dosen PAI Universitas Brawijaya, mengatakan bahwa:
Mata Kuliah PAI di UB di bawah naungan Pusat Pembinaan Agama (PPA) yang dilaksanakan sebanyak 3 sks. Pelaksanaan pembelajaraan PAI di kelas biasanya hanya 2 sks karena 3 sks dirasa terlalu lama, sehingga ada inisiatif yang 1 sks berbentuk program tutorial yang dilaksanakan oleh Dosen PAI di luar jam perkuliahan pada hari sabtu, tapi akhir-akhir ini program itu tidak berjalan dengan baik karena berbenturan dengan program akademik universitas. Pembelajaran PAI diupayakan menjadi suatu mata kuliah kebutuhan, bukan hanya sekedar untuk memenuhi beban akademik.[15]

Berdasarkan keterangan tersebut menunjukkan bahwa pelaksanaan Mata Kuliah PAI di Universitas Brawijaya berbeda dengan pelaksanaan di Universitas Negeri Malang. Mata kuliah PAI di Universitas Brawijaya dilaksanakan sebanyak 3 sks dalam satu semester. Strategi pembelajaran PAI di UB memberikan penekanan kepada mahasiswa agar PAI bukan hanya sekedar beban akademik namun menjadi kebutuhan mahasiswa untuk mencapai tujuan pembelajarannya.
Berdasarkan fenomena tersebut, dan mengingat pentingnya penyelenggaraan pembelajaran mata kuliah pendidikan agama Islam yang sesuai  dengan perkembangan aspek pembelajaran, sekiranya cukup menarik untuk diadakan penelitian terkait strategi pembelajaran PAI yang dilakukan oleh kedua institusi Perguruan Tinggi tersebut. Sehingga peneliti mengambil judulStrategi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Universitas Brawijaya dan Universitas Negeri Malang”.

B.  Fokus Penelitian
Berdasarkan konteks penelitian tersebut, penelitian ini difokuskan pada strategi pembelajaran PAI di Universitas Brawijaya dan Universitas Negeri Malang. Dengan demikian fokus penelitian ini adalah sebagai berikut.
1.    Bagaimana strategi pengorganisasian isi pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di Universitas Brawijaya dan Universitas Negeri Malang?
2.    Bagaimana strategi penyampaian pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di Universitas Brawijaya dan Universitas Negeri Malang?
3.    Bagaimana strategi pengelolaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di Universitas Brawijaya dan Universitas Negeri Malang?

C.  Tujuan Penelitian
Berdasarkan fokus penelitian tersebut, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut.
1.    Mendeskripsikan strategi pengorganisasian isi pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di Universitas Brawijaya dan Universitas Negeri Malang;
2.    Mendeskripsikan strategi penyampaian pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di Universitas Brawijaya dan Universitas Negeri Malang;
3.    Mendeskripsikan strategi pengelolaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di Universitas Brawijaya dan Universitas Negeri Malang.

D.  Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat bagi semua pihak, terutama yang berkecimpung dalam dunia pendidikan. Secara spesifik manfaat penelitian ini dapat ditinjau dari dua aspek, yaitu:
1.    Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai acuan, bahan reflektif dan konstruktif dalam pengembangan keilmuan di Indonesia, khususnya Pendidikan Islam.
2.    Manfaat Praktis
a.    Hasil penelitian ini dapat dijadikan informasi elementer para pakar Pendidikan Islam untuk selalu berinovasi mengembangkan strategi pembelajaran PAI di Perguruan Tinggi;
b.    Masukan bagi para pemegang kebijakan di tingkat pemerintahan khususnya dan Perguruan Tinggi pada umumnya dalam mengeluarkan kebijakan yang khususnya berkaitan dengan pembelajaran PAI bagi mahasiswa di Perguruan Tinggi;
c.    Masukan dan sekaligus ajakan kepada para dosen Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi dalam melaksanakan pembelajaran PAI yang inovatif;
E.  Orisinalitas Penelitian
Berdasarkan eksplorasi peneliti terdapat beberapa hasil penelitian yang mempunyai relevansi dengan penelitian ini. Penelitian-penelitian tersebut dipaparkan sebagai berikut.
Nur Ali[16], dengan judul tesis Strategi Pembelajaran Kitab-Kitab Klasik (Studi Kasus di Pondok Pesantren Nurul Jadid) yang mana mengemukakan tentang strategi pembelajaran kitab pada pondok pesantren. Hasil penemuannya menyebutkan bahwa pada pembelajaran kitab-kitab klasik tersebut tidak diorganisasikan kembali namun mengikuti urutan bab-bab yang telah ada di kitab-kitab tersebut. Pada strategi penyampaian yaitu dilakukan dengan metode sorogan dan bandongan yang mana staf pengajar berasal dari para kyai dan para ustadz sebagai badal atau asisten pengganti kyai saat kyai berhalangan. 
Suhudi[17] dengan penelitian disertasi berjudul Strategi Pembelajaran Agama Islam Di Pondok Pesantren Mohammad Kholil I Bangkalan-Jawa Timur) mengemukakan tentang strategi pembelajaran agama Islam di pondok pesantren. Hasil penemuannya mengemukakan bahwa strategi pembelajaran agama Islam di Pondok Pesantren Muhammad Kholil I Bangkalan Jawa Timur adalah dengan menggunakan metode sorogan, bandongan, mudzakarah dan majlis ta’im, dilaksanakan untuk membentuk muslim yang beriman, bertaqwa dan berahklak mulia yang dapat dicapai melalui ke-barokah-an dari Allah SWT.
Kyai berperilaku sebagai uswatun hasanah (tauladan yang baik) di hadapan santri, artinya kyai menampilkan perilaku yang sesuai dengan ajaran agama Islam sesuai yang diajarkan Rasulullah, seperti berpakaian rapi sesuai dengan adat istiadat, melaksanakan sholat tepat waktu, istiqamah (disiplin waktu), dan selalu menunjukkan sikap yang jelas terhadap pelaksanaan hukum Islam, Sedangkan santri, berperilaku mematuhi dan melaksanakan ajaran agama Islam dan peraturan pesantren, menghormati dan mencintai kyai di pesantren. Dampak dari strategi pembelajaran yang di laksanakan di pondok pesantren adalah ditemukannya sebagian besar santri bisa membaca kitab kuning dan memahami artinya.
Lilik Nur Kholidah[18], dalam disertasinya Implementasi Strategi Pembelajaran Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam Pada Perguruan Tinggi Negeri Di Surabaya. Penelitian ini membahas tentang strategi pembelajaran Mata Kuliah PAI pada 3 Perguruan Tinggi Umum di Surabaya yaitu, Universitas Airlangga (UNAIR), Universitas Negeri Surabaya (UNESA), dan Institut Teknologi Negeri Surabaya (ITS).
Hasil penelitian ini menunjukkan: (1) pengorganisasian materi, menjabarkan isi bahan, mengurutkan isi materi menjadi sub-sub tema; (2) Pemanfaatan media pembelajaran dalam proses penyampaian pembelajaran mata kuliah Pendidikan Agama Islam (dosen, pesan, bahan, alat, teknik dan latar) di ketiga situs terteliti, tampak sangat membantu proses pencapaian tujuan pembelajaran; (3) Pengelolaan motivasional dilakukan dengan cara memberikan penilaian secara langsung, memberikan bimbingan secara individual, dan memberikan penghargaan terhadap kegiatan positif yang dilakukan oleh mahasiswa. Dalam proses pembelajaran mata kuliah pendidikan agama Islam  kontrol belajar yang dilakukan dosen adalah dengan cara mengaktifkan semua mahasiswa dalam mengerjakan tugas-tugas praktek yang diberikan, mendampingi mahasiswa pada saat proses pembelajaran berlangsung; (4) Faktor internal yang mempengaruhi strategi pembelajaran dari sisi dosen adalah kemampuan dan keterampilan dosen dalam bidang Pendidikan Agama Islam, minat dan motivasi dosen dalam mengajar mata kuliah Pendidikan Agama Islam. Dari sisi mahasiswa adalah kemampuan, motivasi dan minat mahasiswa dalam mengikuti proses pembelajaran mata kuliah Pendidikan Agama Islam. Sementara faktor eksternal yang mempengaruhi strategi pembelajaran adalah visi, misi perguruan tinggi, kurikulum, sarana prasarana yang ada pada setiap perguruan tinggi; (5) Sebagian besar mahasiswa PTN di kota Surabaya telah menerapkan mata kuliah pendidikan agama Islam dalam kehidupan sehari-hari; (6) Pembelajaran mata kuliah Pendidikan Agama Islam telah menunjukkan kualitas yang tercermin dari kemampuan dosen memfasilitasi proses belajar dalam menghasilkan proses dan hasil belajar yang optimal sesuai dengan tuntutan kurikuler.
Untuk lebih jelasnya, terkait persamaan, perbedaan dan orisinalitas penelitian, antara penelitian terdahulu dengan penelitian ini dapat dilihat melalui tabel berikut.
Tabel. 1.1
Persamaan, Perbedaan dan Orisinalitas Penelitian

No.
Nama Peneliti, Judul dan Tahun Penelitian
Persamaan
Perbedaan
Orisinalitas Penelitian
1.
Nur Ali. 1996.
Strategi Pembelajaran Kitab-Kitab Klasik (Studi Kasus di Pondok Pesantren Nurul Jadid Probolinggo), Tesis, Program Studi Teknologi Pembelajaran, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang
Strategi pembelajaran
Objek penelitian pada pembelajaran kitab-kitab klasik di pondok pesantren


§  Objek penelitian pada PTU di Kota Malang (Universitas Brawijaya dan Universitas Negeri Malang)
§  Fokus penelitian pada strategi pengorganisasian, strategi penyampaian dan strategi pengelolaan pembelajaran PAI dari masing-masing situs penelitian sehingga bisa diadakan sebuah studi perbandingan sebagai hasil temuan penelitian
2.
Suhudi. 2010. Strategi Pembelajaran Agama Islam Di Pondok Pesantren Mohammad Kholil I Bangkalan-Jawa Timur). Disertasi, Program Studi Teknologi Pembelajaran, Program Pasca Sarjana, Universitas Negeri Malang.

Objek Penelitian pada Pondok Pesantren
3.
Lilik Nur Kholidah, Implementasi Strategi Pembelajaran Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam Pada Perguruan Tinggi Negeri Di Surabaya”. Disertasi. Program Studi Teknologi Pembelajaran, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang.
§  Objek Penelitian pada Perguruan Tinggi Umum di Surabaya (Universitas Airlangga, Universitas Negeri Surabaya, dan Institut Teknologi Negeri Surabaya)

§  Penekanan pada implementasi strategi pembelajaran, dampak pembelajaran PAI terhadap perilaku mahasiswa serta kualitas pembelajar.

Berbeda dengan beberapa penelitian terdahulu, penelitian ini mengambil subjek penelitian pada Perguruan Tinggi Negeri di Malang yaitu Universitas Brawijaya dan Universitas Negeri Malang. Penelitian ini memiliki fokus pada strategi pengorganisasian isi pembelajaran Pendidikan Agama Islam, strategi penyampaian pembelajaran Pendidikan Agama Islam, dan strategi pengelolaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang diterapkan di Universitas Brawijaya dan Universitas Negeri Malang. Setelah ditemukan hasil penelitian pada kedua situs tersebut dilakukan analisis lintas kasus untuk studi perbandingan. Dari hasil perbandingan tersebut kemudian dicari persamaannya. Sehingga ditemukan kesimpulan tentang strategi pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi Negeri.
F.   Definisi Istilah
Untuk mempermudah pemahaman kajian penelitian ini dan untuk menghindari terjadinya kesalahan dalam menginterpretasikan istilah-istilah yang terdapat dalam penelitian ini, maka peneliti perlu menjelaskan definisi istilah-istilah tersebut. Adapun istilah-istilah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1.    Strategi Pembelajaran
Strategi pembelajaran merupakan perpaduan dari urutan kegiatan, cara mengorganisasikan materi pelajaran peserta didik, peralatan dan bahan, dan waktu yang digunakan dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan.[19] Strategi pembelajaran dalam penelitian ini membahas tentang strategi pengorganisasian isi pembelajaran PAI, strategi penyampaian pembelajaran PAI, dan strategi pengelolaan pembelajaran PAI. Strategi pengorganisasian isi adalah tindakan pembelajaran yang direncanakan, disusun dan dilaksanakan oleh dosen yang mengacu pada pembuatan urutan, pembuatan sintesis dan pembuatan rangkuman. Strategi penyampaian adalah tindakan pembelajaran yang direncanakan disusun dan dilaksanakan oleh dosen dalam memilih menetapkan menerapkan media pembelajaran interaksi mahasiswa dengan media dan bentuk pembelajaran dalam menyampaikan pembelajaran mata kuliah PAI. Strategi pengelolaan adalah tindakan pembelajaran yang direncanakan, disusun dan dilaksanakan oleh dosen dalam menata interaksi antara mahasiswa dengan variabel metode lainnya.
2.    Pendidikan Agama Islam
Pendidikan Agama Islam adalah upaya mendidik agama Islam atau ajaran Islam dan nilai-nilainya, agar menjadi way of life (pandangan dan sikap hidup) seseorang. Dengan demikian, PAI berarti usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik dalam meyakini, memahami, menghayati, dan mengamalkan agama Islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan latihan dengan memperhatikan tuntutan untuk menghormati agama lain dalam hubungan kerukunan antar umat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan persatuan nasional.[20] Adapun yang dimaksud dalam penelitian ini adalah PAI sebagai mata kuliah di perguruan tinggi umum.
3.    Perguruan Tinggi
Perguruan Tinggi atau disebut Pendidikan Tinggi merupakan jenjang setelah pendidikan menengah yang mencakup program pendidikan diploma, sarjana, magister, spesialis, dan doktor yang diselenggarakan oleh pendidikan tinggi.[21]  Perguruan Tinggi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah Perguruan Tinggi Negeri yang berada di Malang.
G.   Sistematika Penelitian
Secara keseluruhan penelitian ini terdiri dari enam bab, masing-masing disusun secara rinci dan sistematis sebagai berikut.
Bab pertama merupakan konteks penelitian, fokus penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, orisinalitas penelitian, definisi istilah dan diakhiri dengan sistematika penelitian.
Bab kedua memuat kajian teori yang terdiri dari subbab konsep strategi pembelajaran yang meliputi pengertian strategi pembelajaran, jenis-jenis strategi pembelajaran, faktor-faktor yang mempengaruhi strategi pembelajaran, serta prinsip penggunaan strategi pembelajaran. Subbab kedua membahas Pendidikan Agama Islam di perguruan tinggi meliputi pengertian Pendidikan Agama Islam, dasar pelaksanaan Pendidikan Agama Islam, tujuan Pendidikan Agama Islam, fungsi Pendidikan Agama Islam dan kedudukan Pendidikan Agama Islam dalam kurikulum nasional. Subbab ketiga yaitu strategi pembelajaran pendidikan Agama Islam meliputi, strategi pengorganisasian isi pembelajaran Pendidikan Agama Islam, strategi penyampaian pembelajaran Pendidikan Agama Islam, serta strategi pengelolaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam.
Bab ketiga merupakan metodologi penelitian yang mengurai pendekatan dan jenis penelitian, kehadiran peneliti, lokasi penelitian, data dan sumber data, teknik pengumpulan data, teknik analisis data, dan pengecekan keabsahan data.
Bab keempat memaparkan data-data penelitian tentang gambaran umum lokasi penelitian Universitas Brawijaya dan Universitas Negeri Malang yang meliputi latar belakang sejarah, visi dan misi, asas, dasar dan tujuan, sistem perkuliahan, keberadaan dosen serta sarana dan prasarana. Subbab kedua memaparkan data hasil penelitian dari masing-masing kasus individu di Universitas Brawijaya dan Universitas Negeri Malang. Subbab ketiga memaparkan temuan penelitian dalam lingkup strategi pengorganisasian isi pembelajaran PAI, strategi penyampaian pembelajaran PAI dan strategi pengelolaan pembelajaran PAI pada masing-masing kasus kemudian membahas analisis data lintas kasus sehingga terlihat persamaan serta perbedaannya.
Bab kelima membahas hasil penelitian terkait strategi pembelajaran pengorganisasian isi pembelajaran Pendidikan Agama Islam, strategi penyampaian pembelajaran Pendidikan Agama Islam, dan strategi pengelolaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam baik di Universitas Brawijaya dan Universitas Negeri Malang.
Bab keenam adalah penutup yang menguraikan kesimpulan dan saran-saran, yang kemudian dilanjutkan dengan daftar rujukan dan lampiran-lampiran.     


[1] Wahyuddin dkk., Pendidikan Agama Islam untuk Perguruan Tinggi, (Jakarta: PT. Grasindo, 2009), hlm. 2
[2] Muhaimin, Rekonstruksi Pendidikan Islam; Dari Paradigma Pengembangan, Manajemen Kelembagaan, Kurikulum hingga Strategi Pembelajaran, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2009), hlm. 71
[3] Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Madrasah dan Perguruan Tinggi, (Jakarta: PT. RajaGrafindo persada, 2005), hlm. IX
[4] Muhammad Alim, Pendidikan Agama Islam: Upaya Pembentukan Pemikiran dan Kepribadian Muslim, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2006), hlm. 6
[5] Soedarto, “Tantangan, Kekuatan, dan Kelemahan Penyelenggaraan PAI di PTN dalam Menghadapi Globalisasi Informasi dan Perkembangan Iptek”, dalam Fuaddudin, Cik Hasan (Ed.), Dinamika Pemikiran Islam di Perguruan Tinggi, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), hlm. 71
[6] Ibid., hlm. x
[7] Degeng, Paradigma Baru Pendidikan Memasuki Era Demokratisasi Belajar, makalah disajikan dalam Seminar dan Diskusi Panel Nasional Teknologi Pembelajaran, V.7 Oktober 2000 di UM Malang
[8] Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Jakarta: Kencana, 2009), hlm. 131
[9] S. Hidayat, Pengembangan Sumber Daya Manusia Berwawasan IPTEK: Dinamika Pemikiran Pendidikan Islam di Perguruan Tinggi Wacana tentang Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 2002)
[10] M. Buchori, Posisi dan Fungsi Pendidikan Agama Islam dalam Kurikulum Perguruan Tinggi Umum. Makalah disampaikan pada Seminar Nasional di IKIP Malang, 24 Februari 1992
[11] Siti Malikah Thowaf, Strategi Pembinaan Pendidikan Agama Islam Menyongsong Abad 21, Pendidikan Nilai Vol.2 Nomor 1
[12] http://www.ub.ac.id, Profil, Visi Misi dan Sejarah Universitas Brawijaya Malang, akses tanggal 05 Pebruari 2012
[13] http://www.um.ac.id, Profil, Visi, dan Misi Universitas Negeri Malang, akses tanggal 05 Pebruari 2012
[14] Dr. Yusuf Hanafi, M.Fil., Wawancara, Koordinator Mata Kuliah Pendidikan Agama UPMU UM, 15 Pebruari 2012
[15] Drs. Syamsul Arifin, M.Ag., Wawancara, Dosen PAI Universitas Brawijaya, 09 Pebruari 2012
[16] Nur Ali, 1996. Strategi Pembelajaran Kitab-Kitab Klasik (Studi Kasus di Pondok Pesantren Nurul Jadid Probolinggo), Tesis, tidak diterbitkan. Program Studi Teknologi Pendidikan, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang.
[17] Suhudi. 2010. Strategi Pembelajaran Agama Islam Di Pondok Pesantren Mohammad Kholil I Bangkalan-Jawa Timur). Disertasi, tidak diterbitkan. Program Studi Teknologi Pembelajaran, Program Pasca Sarjana, Universitas Negeri Malang
[18] Lilik Nur Kholidah, Implementasi Strategi Pembelajaran Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam Pada Perguruan Tinggi Negeri Di Surabaya”. Disertasi, tidak diterbitkan. Program Studi Teknologi Pembelajaran, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang.
[19] Suparman Atwi, Desain Instruksional, (Jakarta: PAU Universitas Terbuka, 1997), hlm. 157
[20] Muhaimin, et.al. Paradigma Pendidikan Islam Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004), hlm. 75
[21] Undang-Undang RI Nomor 20 tahun  2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bab VI, Bagian 4 Pendidikan Tinggi, Pasal 19 ayat 1. (Bandung: Media Purana), hlm. 10
 

0 komentar:

Poskan Komentar