Pengembangan Pendidikan Agama Islam: Reinterpretasi Berbasis Interdisipliner

Pengembangan Pendidikan Agama Islam

--- BUKU MURAH (ASLI bukan FOTOCOPY-AN/BUKAN BUKU BAJAKAN): " Buku MURAH BERKUALITAS hanya Rp.47.000,- (belum ongkos kirim) berjudul PENGEMBANGAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM: REINTERPRETASI BERBASIS INTERDISIPLINER (Yogyakarta: LKiS, 2015). Sebagai info harga buku ini di pasaran berkisar 70-90 ribu). Info lebih lanjut hubungi: 08563-350-350 (11 digit)”---

Friday, December 7, 2012

JENIS-JENIS STRATEGI PEMBELAJARAN


Link terkait tulisan atau kajian tentang sistem pembelajarandi sini

Baca juga:

1. Tesis Lengkap Karya A. Rifqi Amin (Tesis terbaik Tahun 2013)

2. Sistem Pembelajaran Pendidikan Agama Islam pada Perguru Tinggi Umum (Buku karya A. Rifqi Amin pendiri blog Banjir Embun) 



Jenis-Jenis Strategi Pembelajaran

Oleh: Riris Lutfi Ni'matul Laila


foto Riris Lutfi Ni'matul Laila  Sumber  foto: Facebook 



Menurut Rowntree dalam Wina Sanjaya[1], ada beberapa strategi pembelajaran yang dapat digunakan. Rowntree mengelompokkan ke dalam strategi penyampaian penemuan (exposition-discovery learning), strategi pembelajaran kelompok, dan strategi pembelajaran individual (groups-individual learning).

1.    Strategi Penyampaian (exposition)
Strategi pembelajaran ekspositori adalah strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses penyampaian materi secara verbal dari seorang guru kepada sekelompok peserta didik dengan maksud agar peserta didik dapat menguasai materi pelajaran secara optimal.[2]
Berbeda dengan strategi discovery, yang mana bahan pelajaran dicari dan ditemukan sendiri oleh peserta didik melalui berbagai aktifitas, sehingga tugas pendidik lebih banyak sebagai fasilitator dan pembimbing. Karena sifatnya yang demikian strategi ini sering disebut juga sebagai strategi pembelajaran tidak langsung.
2.    Strategi Kelompok
Belajar kelompok dilakukan secara beregu. Bentuk belajar kelompok ini bisa dalam pembelajaran kelompok besar atau klasikal; atau bisa juga dalam kelompok-kelompok kecil. Strategi ini tidak memperhatikan kecepatan belajar individual, semua dianggap sama. Oleh karena itu, dalam belajar kelompok dapat terjadi peserta didik yang memiliki kemampuan tinggi akan terhambat oleh peserta didik yang kemampuannya biasa-biasa saja. Begitu pula sebaliknya, peserta didik yang memiliki kemampuan kurang akan merasa tergusur oleh peserta didik yang kemampuannya tinggi.
3.    Strategi Pembelajaran Individual (groups-individual learning)
Strategi pembelajaran individual dilakukan peserta didik secara mandiri. Kecepatan, kelambatan, dan keberhasilan siswa sangat ditentukan oleh kemampuan individu peserta didik yang bersangkutan. Bahan pelajaran serta bagaimana mempelajarinya didesain untuk belajar sendiri. Contoh dari strategi pembelajaran ini adalah belajar melalui modul atau melalui kaset audio.
Strategi pembelajaran merupakan kegiatan yang dipilih oleh pengajar atau dosen dalam proses pembelajaran yang dapat membantu dan memudahkan peserta didik ke arah tercapainya tujuan pengajaran tertentu.
Jenis-jenis strategi pembelajaran dapat dipilah berdasarkan karakteristik sebagai berikut.[3]
a.    Berdasarkan rasio pendidik dan peserta didik yang terlibat dalam pembelajaran
Berdasarkan rasio pendidik dan peserta didik yang terlibat dalam pembelajaran, terdapat lima jenis strategi pembelajaran, yaitu:
1.    Pembelajaran oleh seorang pendidik dengan sekelompok besar (satu kelas) peserta didik.
2.    Pembelajaran oleh seorang pendidik dengan sekelompok kecil (5-7 orang) peserta didik.
3.    Pembelajaran oleh seorang pendidik terhadap seorang peserta didik.
4.    Pembelajaran oleh satu tim pendidik terhadap sekelompok besar (satu kelas) peserta didik.
5.    Pembelajaran oleh satu tim pendidik terhadap sekelompok kecil (5-7 orang) peserta didik.
b.    Berdasarkan pola hubungan pendidik dan peserta didik dalam pembelajaran
Berdasarkan pola hubungan pendidik dan peserta didik dalam pembelajaran, terdapat tiga jenis strategi pembelajaran, yaitu:
1.    Pembelajaran tatap muka
2.    Pembelajaran melalui media
3.    Pembelajaran tatap muka dan melalui media.

c.    Berdasarkan peranan pendidik dan peserta didik dalam pengelolaan pembelajaran
Ditinjau berdasarkan peranan pendidik dan peserta didik dalam pengelolaan pembelajaran, pada umumnya ada dua jenis strategi pembelajaran, yaitu:
1.    Pembelajaran yang berpusat pada pendidik (teacher centre)
Strategi pembelajaran yang berpusat pada pendidik merupakan strategi yang paling tuas, disebut juga strategi pembelajaran tradisional. Pengajar berlaku sebagai sumber informasi yang mempunyai posisi sangat dominan. Pengajar harus berusaha mengalihkan pengetahuan dan menyampaikan informasi sebanyak-banyaknya kepada peserta didik.
Teknik penyajian yang paralel dengan strategi pembelajaran ini adalah teknik ceramah, teknik sumbangsaran, teknik demonstrasi.[4]
2.    Pembelajaran yang berpusat pada peserta didik (student centre)
Strategi pembelajaran yang berpusat kepada peserta didik, atau disebut student center strategies, bertitik tolak pada sudut pandang yang memberi arti bahwa mengajar merupakan usaha menciptakan sistem lingkungan yang mengoptimalkan kegiatan belajar. Dalam proses pembelajaran peserta didik berusaha secara aktif untuk mengembangkan dirinya di bawah bimbingan pendidik.
Teknik penyajian yang paralel dengan strategi pembelajaran ini adalah teknik inkuiri, teknik diskusi, teknik kerja kelompok, teknik nondirektif dan teknik penyajian kasus.
d.    Berdasarkan peranan pendidik dan peserta didik dalam mengolah “pesan” atau materi pembelajaran
Berdasarkan peranan pendidik dan peserta didik dalam mengolah “pesan” atau materi pembelajaran, terdapat dua jenis strategi pembelajaran, yaitu:
1.    Pembelajaran Ekspositorik
Strategi ekspositorik merupakan strategi berbentuk penguraian, baik berupa bahan tertulis maupun penjelasan atau penyajian verbal. Pengajar mengolah materi secara tuntas sebelum disampaikan di kelas. Strategi pembelajaran ini menyiasati agar semua aspek dari komponen-komponen pembentuk sistem instruksional mengarah pada sampainya isi pelajaran kepada peserta didik secara langsung.[5]
Teknik penyajian yang paralel dengan strategi ini adalah teknik ceramah, teknik diskusi, teknik interaksi massa, teknik antardisiplin, teknik simulasi.
2.    Pembelajaran Heuristik
Strategi pembelajaran heuristik adalah strategi pembelajaran yang bertolak belakang dengan strategi pembelajaran ekspositorik karena dalam strategi ini peserta didik diberi kesempatan untuk berperan dominan dalam proses pembelajaran. Strategi ini menyiasati agar aspek-aspek komponen pembentuk sistem instruksional mengarah pada pengaktifan peserta didik mencari dan menemukan sendiri fakta, prinsip, dan konsep yang mereka butuhkan.
Dalam strategi heuristik pengajar pertama-tama mengarahkan peserta didik kepada data-data terpilih, selanjutnya peserta didik merumuskan kesimpulan berdasarkan data-data tersebut. Bila kesimpulan tepat, tercapailah tujuan strategi. Sebaliknya, bila kesimpulan salah, pengajar bisa memberikan data baru sampai peserta didik memperoleh kesimpulan yang tepat.[6]


e.    Berdasarkan proses berpikir dalam mengolah “pesan” atau materi pembelajaran
Berdasarkan proses berpikir dalam mengolah “pesan” atau materi pembelajaran, terdapat tiga strategi pembelajaran, yaitu:
1.    Pembelajaran Deduktif
Dalam strategi pembelajaran deduktif, pesan diolah mulai hal umum menuju kepada hal yang khusus, dari hal-hal yang abstrak kepada hal-hal yang nyata, dari konsep-konsep yang abstrak kepada contoh-contoh yang konkret, dari sebuah premis menuju kesimpulan yang logis. Langkah-langkah dalam strategi deduktif meliputi tiga tahap. Pertama, pengajar memilih pengetahuan untuk diajarkan. Kedua, pengajar memberikan pengetahuan kepada peserta didik. Ketiga, pengajar memberikan contoh dan membuktikannya kepada peserta didik.[7]
Teknik penyajian pelajaran yang paralel dengan strategi pembelajaran deduktif adalah teknik ceramah.
2.    Pembelajaran Induktif
Strategi pembelajaran induktif adalah pengolahan pesan yang dimulai dari hal-hal yang khusus, dari peristiwa-peristiwa yang bersifat individual menuju generalisasi, dari pengalaman-pengalaman empiris yang individual menuju kepada konsep yang bersifat umum. Menurut Kenneth B Anderson ada beberapa langkah untuk menentukan strategi pembelajaran induksi. Pertama, pengajar memilih bagian dari pengetahuan, aturan umum, prinsip, konsep yang akan diajarkan. Kedua, pengajar menyajikan contoh-contoh spesifik untuk dijadikan bagian penyusunan hipotesis. Ketiga, bukti-bukti disajikan dengan maksud membenarkan atau menyangkal berbagai hipotesis tersebut. Keempat, menyimpulkan bukti dan contoh-contoh tersebut.[8]
Teknik penyajian yang paralel adalah teknik penemuan, teknik penyajian kasus, dan teknik nondirektif.                
3.    Pembelajaran deduktif-induktif
Strategi pembelajaran ini pengolahan pesan dilaksanakan secara campuran.


[1] Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. (Jakarta: Kencana. 2009), hlm. 128-129
[2] Ibid., hlm. 179
[3]Tim Pengembang MKDP, Kurikulum dan Pembelajaran, (Jakarta: Rajawali Press, 2011), hlm. 195-198
[4] Iskandarwassid dan Dadang Sunendar, op.cit.,hlm. 26-27
[5] Ibid., hlm. 29
[6] Ibid., hlm. 30
[7] Ibid., hlm. 31
[8] Ibid., hlm. 31-32

1 comment: