Blog ini Tanpa Tampilan Iklan dan Tanpa Download Berbayar Sampai Kiamat!
--- SELALU ADA YANG BARU DI BLOG BANJIR EMBUN: KAMI TIDAK MENGAMBIL KEUNTUNGAN MATERI DARI AKTIVITAS ANDA DI BLOG INI. BLOG BANJIR EMBUN ADALAH BLOG SOSIAL BUKAN BLOG BERORIENTASI KEUNTUNGAN MATERI (LABA)”---

Minggu, 14 Oktober 2012

Pengertian Kompetensi Kepribadian Guru


foto Mulaimul Huda. Sumber foto: Facebook
Oleh: Mualimul Huda
(Mahasiswa Program Pascasarjana S2 STAIN Kediri dan Guru MTs. AL Muttaqin Kec. Plemahan Kab. Kediri)

Dalam pembahasan diatas telah diketahui pengertian kompetensi adalah kemampuan seorang guru dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban secara bertanggungjawab terhadap pendidikan muridnya.
Selanjutnya akan membahas tentang istilah kepribadian. Untuk meninjau tentang kepribadian secara definitif, dapat penulis kemukakan beberapa pendapat sebagai berikut.
a.       F.Patty, MA
Kepribadian adalah Jumlah dari keseluruhan unsur biologis dorongan kecenderungan, keinginan-keinginan, naluri individu dan gaya disposisi serta kecenderungan yang berasal dari pengalaman..[1]
b.      Muhibbin Syah
Kepribadian adalah sifat hakiki individu yang tercemin dalam sikap dan perbuatannya yang membedakan dirinya dari yang lain.[2]
c.       Wayan Nurkencana
Kepribadian adalah menyangkut keseluruhan aspek pada seseorang baik fisik maupun psikis, baik dibawa sejak lahir maupun dari pengalaman.[3]
d.      Hart Man
Kepribadian adalah susunan yang diintegrasi dari ciri-ciri umum seseorang dan individu, sebagaimana yang dinyatakan dalam corak-corak khas yang tegas dan diperhatikan oleh orang lain.[4]
Dari definisi-definisi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kepribadian adalah suatu aspek yang terdapat pada seseorang baik fisik maupun psikis, baik dari keturunan maupun pengalaman dari lingkungan yang menjadikan ciri khas seseorang dalam lingkungan.
Kompetensi pribadi adalah kompetensi yang berkaitan dengan pribadi seseorang (guru). Menurut Uzer Usman yang termasuk bahwa kompetensi pribadi adalah berinteraksi dan berkomunikasi, melaksanakan bimbingan dan penyuluhan, melaksanakan administrasi sosial dan melaksanakan penelitian untuk kepentingan pengajaran”[5]
Sedangkan menurut Cece wijaya dan Tabrani Rusyan, menyatakan bahwa kompetensi pribadi guru meliputi (a) kemantapan dan Integritas pribadi, (b) peka terhadap perubahan dan pembaharuan, (c) berfikir alternative, (d) adil, jujur dan obyektif, (e) berdisiplin dalam memperoleh hasil sebaik-baiknya (f) simpatik dan menarik, luwes, bijaksana dan sederhana dalam bertindak, (g) bersifat terbuka, (h) kreatif dan (i) berwibawa.[6]
Sebagian besar penjelasan kompetensi pribadi diatas, baik yang dikemukakan oleh Uzer Usman maupun Cece wijaya dan Tabrani Rusyan, merupakan indikator-indikator kepribadian seseorang. Kepribadian itu sendiri sebenarnya abstrak, yang dapat dilihat atau diketahui hanyalah indikatornya. Kepribadian ini sesungguhnya abstrak (ma’nawi), sukar dilihat secara nyata, yang dapat dilihat atau diketahui hanyalah indikator atau bekasnya dalam segala segi dan aspek kehidupan14. Kepribadian guru ini dapat dilihat melalui penampilan, tindakan, ucapan, cara berpakaian dan dalan menghadapi persoalan.

2.    Karakteristik Kompetensi Kepribadian Guru Dalam Proses Belajar-Mengajar
Dalam proses belajar-mengajar, guru memegang peran sebagai sutradara sekaligus aktor. Artinya, pada gurulah terletak keberhasilan proses belajar-mengajar, untuk itu guru merupakan faktor yang sangat dominan dalam menentukan keberhasilan proses belajar mengajar di samping faktor-faktor lainnya.
Dengan demikian, untuk mencapai hal tersebut, guru harus memiliki kemampuan dasar dalam melaksanakan tugasnya. Salah satu kemampuan tersebut adalah kemampuan pribadi guru itu sendiri. Menurut Cece Wijaya kemampuan pribadi guru dalam proses belajar-mengajar, ditandai dengan beberapa indicator sebagai berikut:
a.    Kemantapan dan integritas pribadi
b.    Peka terhadap perubahan dan pembaharuan
c.    Berfikir alternative
d.   Adil, jujur dan obyektif
e.    Berdisiplin dalam melaksanakan tugas
f.     Ulet dan tekun bekerja
g.    Berusaha memeproleh hasil kerja sebaik-baiknya
h.    Simpatik dan menarik, luwes, bijaksana, dan sederhana dalam bertindak
i.      Bersifat terbuka
j.      Kreatif
k.    berwibawa[7]
 Adapun penjelasan secara rinci dapat di uraikan sebagai berikut:
a.    Kemantapan dan Integritas Pribadi
Seorang guru dituntut untuk bekerja teratur dan konsisten, serta kreatif dalam menghadapi pekerjaannya sebagai guru. Menurut Oemar Hamalik, yang dikutip oleh Cece Wijaya :
“Kemantapannya dalam bekerja, hendaknya merupakan karakteristik pribadinya, sehingga pola hidup seperti ini terhayati pula oleh siswa sebagai pendidik. Kemantapan dan integritas pribadi ini tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan tumbuh melalui suatu proses belajar yang sengaja diciptakan.”

Menurut Oemar Hamalik,

“Diantara sikap dan karakteristik guru yang disenangi siswa ialah guru yang konsisten, yakni guru yang selalu berkata dan bertindak sama sesuai dengan ucapannya”.[8]

Kemantapan pribadi berpengaruh terhadap tugas yang dijalankannya, demikian juga kemantapan pribadi guru dalam melaksanakan proses belajar-mengajar akan berpengaruh terhadap situasi belajar-mengajar yang diselenggarakannya. Mengapa demikian? Karena dengan pribadi yang mantap dan mempunyai integritas yang tinggi, setiap permasalahan yang dihadapi bisa terpecahkan, dan hal ini akan berpengaruh pula terhadap ketenangan proses belajar-mengajar. Kemantapan dan integritas pribadi harus dimiliki oleh setiap guru demi tercapainya tujuan pendidikan dan mutu pendidikan.
b.    Peka terhadap Perubahan dan Pembaruan
Guru harus peka baik terhadap apa yang sedang berlangsung di sekolah maupun yang sedang berlangsung di sekitarnya. Ini dimaksudkan agar apa yang dilakukan di sekolah tetap konsisten dengan kebutuhan dan tidak ketinggalan zaman. Untuk itu kemampuan penelitian merupakan karakteristik yang mutlak harus dikuasai oleh guru walaupun dalam bentuk dan sifat yang sederhana,sebab dewasa ini penggunaan teknologi seperti komputer, satelit, TV dan video sudah sering kita lihat dan alami, terutama oleh warga kota besar. Hampir setiap lembaga penting di negara kita ini telah memakai komputer; sudah banyak rumah tangga yang memiliki telepon, sebagian besar remaja kota tentu pernah melihat atau memainkan mainan semi komputer seperti videogame.
Pemakaian teknologi biasanya didasarkan atas alasan-alasan efisiensi, keefektifan dan juga kenyamanan. Dalam bidang ekonomi atau perdagangan yang paling menonjol adalah alasan efisiensi. Konsekuensinya, terjadi pengurangan karyawan serta timbul tuntutan untuk menguasai ketrampilan tertentu dalam lapangan pekerjaan. Dalam bidang militer yang utama ialah keefektifan, ketepatan mengenai sasaran. Adapun alasan kenyamanan lebih menonjol dalam bidang jasa dan pelayanan meskipun alasan efisiensi dan keefektifan tetap diperhatikan. Seperti dalam ketiga alasan tersebut, waktu yang tersedia bagi guru(jam pelajaran) harus dimanfaatkan sebaik-baiknya(efisiensi), pelajaran yang diberikan harus membuahkan hasil yang bermanfaat baik bagi siswa maupun bagi masyarakat (efektif), dan hal ini akan berjalan lancar kalau kelas, sumber belajar, dan media atau alat bantu pelajaran dapat dikelola serta tujuan metode ditentukan sehingga memberi gairah belajar-mengajar yang besar bagi siswa dan guru (kenyamanan).
Pembaruan (sering dalam bentuk eksperimen) dalam pengertian kependidikan merupakan suatu upaya lembaga pendidikan untuk menjembatani masa sekarang dan masa yang akan datang dengan jalan memperkenalkan program kurikulum atau metodologi pengajaran yang baru sebagai jawaban atas perkembanagan internal dan eksternal dalam dunia pendidikan yang cenderung mengejar efisiensi dan keefektifan. Pembaruan mengiringi perputaran zaman yang tak henti-hentinya berputar sesuai dengan kurun waktu yang telah ditentukan.
c.    Berpikir Alternatif
Sebelum menyajikan bahan pelajaran, guru harus sudah menyiapkan berbagai kemungkinan permasalahan yang akan dihadapinya beserta alternatif pemecahannya. Ini dimaksud untuk menghindari verbalisme dan absolutisme. Untuk itu, Panduan Belajar untuk setiap pelajaran harus dibuat setiap awal caturwulan atau awal semester.
Guru harus mampu berpikir dan mampu memecahkan masalah yang dihadapi dalam proses belajar-mengajar. Minimal guru harus mampu memberikan berbagai alternatif jawaban dan memilih salah satu alternatif untuk kelancaran proses belajar-mengajar dan peningkatan mutu pendidikan, atau guru harus mampu memilih jalan tertentu untuk memecahakan persoalan yang dihadapinya demi ketenangan dan aktivitas proses belajar-mengajar yang berkadar tinggi sehingga proses belajar-mengajar tersebut berhasil dengan baik.
d.   Adil, Jujur, dan Objektif
Adil, jujur, dan objektif dalam memperlakukan dan juga menilai siswa dalam proses belajar-mengajar merupakan hal yang harus dilaksanakan oleh guru. Sifat-sifat ini harus ditunjang oleh penghayatan dan pengamalan nilai-nilai moral dan nilai-nilai sosial budaya yang diperolehnya dari kehidupan masyarakat dan bernegara serta pengalamn belajar yang diperolehnya.
Adil artinya menempatkan sesuatu pada tempatnya, sedangkan jujur adalah tulus ikhlas dan menjalakan fungsinya sebagi guru, sesuai dengan peraturan yang berlaku, tidak pamrih, dan sesuai pula dengan norma-norma yang berlaku. Objektif artinya benar-benar menjalankan aturan dan kriteria yang telah ditetapkan, tidak pilih kasih, tidak memandang bahwa siswa itu familinya, atau anak si A, si B,dan seterusnya. Jamal Makmur Asmani berpendapat:
“Seseorang guru tidak boleh pilih kasih dalam masalah apapun, sikap pilih kasih akan membuat kebijakan guru tidak dihormati muridnya, seperti tidak mengindahkan perintah guru, oleh sebab itu sikap pilih kasih jangan sampai ditujukan guru kepada muridnya.[9]

Sifat-sifat tersebut di atas harus dimiliki oleh guru guna mencapai hasil belajar-mengajar yang sesuai dengan cita-cita, harapan, dan tujuan pendidikan sehingga mutu pendidikan yang diharapkan benar-benar tercapai.
e.    Berdisiplin dalam Melaksanakan Tugas
Beberapa indikator yang dapat dikemukakan agar disiplin dapat dibina dan dilaksanakan dalam proses pendidikan sehingga mutu pendidikan dapat ditingkatkan adalah sebagai berikut.:
1)        Melaksanakan tata tertib dengan baik, baik bagi guru maupun siswa, karena tata tertib yang berlaku merupakan aturan dan ketentuan yang harus ditaati oleh siapapun demi kelancaran proses pendidikan itu, yang meliputi:
a)   Patuh terhadap aturan sekolah atau lembaga pendidikan;
b)   Mengindahkan petunjuk-petunjuk yang berlaku di sekolah atau suatu lembaga pendidikan tertentu. Contohnya menggunakan kurikulum yang berlaku atau membuat satuan pelajaran;
c)   Tidak membangkang pada peraturan yang berlaku, baik bagi para pendidik maupun peserta didik, contohnya membuat satpel bagi guru dan mengerjakan PR bagi peserta didik;
d)  Tidak suka membohong;
e)   Tingkah laku yang menyenangkan;
f)    Rajin dalam belajar-mengajar;
g)   Tidak suka malas dalam belajar-mengajar;
h)   Tidak menyuruh orang untuk bekerja demi dirinya;
i)     Tepat waktu dalam belajar-mengajar;
j)     Tidak pernah keluar dalam belajar-mengajar;
k)   Tidak pernah membolos dalam belajar-mengajar.
2)        Taat terhadap kebijakan dan kebijaksanaan yang berlaku :
a)        Menerima, menganalisis, dan mengkaji berbagai pembaruan pendidikan;
b)        Berusaha meyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi pendidikan yang ada;
c)        Tidak membuat keributan di dalam kelas;
d)       Mengerjakan tugas sesuai dengan waktu yang telah ditetapakan
e)        Membantu kelancaran proses belajar-mengajar.
3)        Menguasai diri dan intropeksi. Dengan melaksanakan indikator-indikator yang dikemukakan di atas sudah barang tentu disiplin dalam proses pendidikan dapat terlaksana dan mutu pendidikan dapat ditingkatkan.
f.     Ulet dan Tekun Bekerja
Keuletan dan ketekunan bekerja tanpa mengenal lelah dan tanpa pamrih merupakan hal yang harus dimiliki oleh guru. Siswa akan memperoleh imbalan dari guru yang menampilkan pribadi utuh yang bekerja tanpa mengenal lelah dan tanpa pamrih. Guru tidak akan berputus asa apabila menghadapi kegagalan, dan akan terus berusaha mengatasinya.
Guru harus ulet dan tekun dalam bekerja sehingga program pendidikan yang telah digariskan dalam kurikulum yang telah ditetapkan berjalan sebagaimana mestinya. Keuletan dan ketekunan bekerja merupakan faktor pendorong keberhasilan. Demikian juga dalam proses belajar-mengajar, ketekunan dan keuletan yang dimiliki guru merupakan salah satu pendorong keberhasilan proses belajar-mengajar.
g.    Berusaha Memperoleh Hasil Kerja yang Sebaik-baiknya
Dalam mencapai hasil kerja, guru diharapkan akan selalu meningkatkan diri, mencari cara-cara baru, agar mutu pendidikan selalu meningkat, pengetahuan umum yang dimilikinya selalu bertambah dengan menambah bacaan berupa majalah, harian, dan sebagainya.
Dengan adanya usaha untuk menambah pengetahuan, pemahaman, dan ketrampilan, sudah barang tentu kemampuan guru akan bertambah pula sehingga dalam mengelola proses belajar-mengajar tidak akan mendapat kesulitan yang berarti. Di samping berusaha menambah pengetahuan dan pemahaman, guru perlu menjaga pula semangat kerja yang tinggi untuk memperoleh hasil kerja yang sebaik-baiknya. Untuk itu, ia juga akan mempertahankan dedikasi dan loyalitas yang tinggi sehingga program pemerintah yang telah dicanangkan dapat dilaksanakan dan memperoleh hasil yang memuaskan.
h.    Simpatik dan Menarik, Luwes, Bijaksana, dan Sederhana dalam Bertindak
Sifat-sifat itu memerlukan pematangan pribadi, kedewasaan sosial dan emosional, pengalaman hidup bermasyarakat, dan pengalaman belajar yang memadai, khususnya pengalaman dalam prakter mengajar. Oleh karena itu, guru harus menguasai benar hal yang berhubungan dengan sifat tersebut di atas.
Guru harus simpatik karena dengan sifat ini dia akan disenangi oleh para siswa, dan jika siswa menyenangi gurunya, sudah barang tentu pelajarannyapun akan disenangi pula. Demikian juga di dalam melaksanakan proses belajar-mengajar, guru harus menarik. Dengan daya tarik yang diungkapkan oleh guru, motivasi belajar siswa akan lebih meningkat.
Keluwesan merupakan faktor pendukung untuk disenangi para siswa dalam proses belajar-mengajar karena dengan sifat ini guru akan mampu bergaul dan berkomunikasi dengan baik dengan sesama teman sejawat.
Kebijaksanaan dan kesederhanaan akan menjalin keterkaitan batin guru dengan siswa. Dengan adanya keterkaitan tersebut, guru akan mampu mengendalikan proses belajar-mengajar yang di selenggarakannya.
i.      Bersifat Terbuka
Kesiapan mendiskusikan apapun dengan lingkungan tempat ia bekerja, baik dengan murid, orang tua, teman sekerja, ataupundengan masyarakat sekitar sekolah, merupakan salah satu tuntutan  terhadap guru. Ia diharapkan mampu menampung aspirasi berbagai pihak sehingga skolah menjadi agen pembangunan daerah dan guru bersedia menjadi pendukungnya. Ia akan terus berusaha meningkatkan serta memperbaiki suasana kehidupan sekolah berdasarkan kebutuhan dan tuntutan berbagai pihak. Adapun sebagian dari cirri guru yang terbuka adalah guru yang memberikan kesempatan bertanya pada peserta didk, serta menyalurkan keinginan belajar siswanya.[10]
Dengan dimilikinya sifat terbuka oleh guru maka demokrasi dalam proses belajar-mengajar akan terlaksana. Sebab, demokrasi dalam belajar akan mendidik dan melatih siswa untuk bersikap terbuka pula, tidak menutupi kesalahan, terus terang, dan mau dikritik untuk perbaikan pada masa mendatang.
j.      Kreatif
Proses interaksional tidak terjadi dengan sendirinya. Suatu ketika dapat terjadi ketidakberesan hubungan antara guru dan murid. Untuk memberskannya kembali, tidak ada satu rumus yang berlaku umum. Oleh karena itu, guru harus kreatif. Artinya, dia harus mampu melihat berbagai kemungkinan yang menurut perkiraanya sama-sama jitu. Kreatifitas itu erat sekali hubungannya dengan kecerdasan. Kreatifitas hanya dapat diharapkan timbul dari mereka yang memiliki intelegensi tinggi, bukan dari mereka yang berintelegensi rendah. Implikasinya tidak dapat lain kecuali guru itu harus cerdas.
Untuk memperoleh kreatifitas yang tinggi sudah barang tentu guru harus banyak bertanya, banyak belajar, dan berdedikasi tinggi.
k.    Berwibawa
Yang dimaksud kewibawaan disini adalah pengakuan dan penerimaan secara sukarela terhadap pengaruh atau ajnjuran yang dating dari orang lain.[11]
Kewibawaan harus dimiliki oleh guru, sebab, dengan kewibawaan, proses belajar-mengajar akan terlaksana dengan baik, berdisiplin, dan tertib. Dengan demikian kewibawaan bukan berarti siswa harus takut kepada guru,melainkan siswa akan taat dan patuh pada peraturan yang berlaku sesuai dengan apa yang dijelaskan oleh guru. 
l.      Memberikan bimbingan dan penyuluhan
Dalam mencapai tujuan pembelajaran diperlukan dukungan dari berbagai komponen pembelajaran,salah satunya adalah siswa sebagai obyek pembelajaran. Kenyataan dilapangan banyak dijumpai kendala-kendala yang dihadapi guru untuk mengantarkan murid-muridnya menguasai pelajaran, atau yang sering disebut sebagai kesulitan belajar. Hal ini sangatlah wajar terjadi karena memang siswa atau peserta didik memiliki karakteristik yang berbeda-beda satu sama lain. Mulai dari latar belakang keluarga, ekonomi, orang tua ,kecerdasan siswa , lingkungan dan sebagainya Maka dari sinilah diperlukan peran seorang guru untuk memberikan bimbingan terhadap muridnya.
Menurut Dewa Ketut Sukardi dalam bukunya “Proses Bimbingan dan konseling di sekolah” berpendapat bahwa :
“Bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang diberikan kepada seseorang atau sekelompok orang secara terus menerus dan sistematis oleh pembimbing agar individu atau sekelompok individu menjadi pribadi yang mandiri”.[12]

Seorang guru dalam menjalankan tugasnya dituntut untuk memiliki kemampuan untuk bisa berperan sebagai fasilitor dalam membangkitkan semangat belajar, mengidentifikasi kesulitan belajar, serta memberikan bantuan menyelesaikan masalah belajar yang di hadapi peserta didik.[13]
Pemberian bantuan yang dimaksud dapat dilakukan dengan melalui berbagai cara serta dengan menggunakan berbagai saluran dan bahan yang ada.Salah satu bahan yang dapat dipakai misalnya, mereka diberikan kesempatan untuk membaca dan menelaah sebuah buku tentang sopan santun, tata tertip, disiplin, cara belajar yang efektif dan sebagainya.
Cara-cara atau saluran lain yang bisa dilalui dalam memberikan bimbingan atau bantuan ialah dengan memberikan nasehat, mengemukakan gagasan, ide-ide atau buah pikiran, menyediakan alat dan mengembangkan suasana asuhan. Pemberian nasehat dalam suasana bimbingan yang sifatnya langsung memberikan arah atau jawaban terhadap pemecahan masalah yang dihadapi dan menunjukkan apa-apa yang hendaknya dilakukan oleh siswa yang dibimbing. Pengemukaan gagasan, ide-ide atau buah pikiran sifatnya berbeda dengan nasehat. Pengemukaan gagasan, tetap memberikan kesempatan kepada siswa yang dibimbing untuk menelaah dan mempertimbangkannya bahwa lebih jauh dari itu, jika siswa yang dibimbing dapat menerima gagasan tersebut dia diminta mempertimbangkannya lebih lanjut penyediaan alat, misalnya alat bantu belajar, alat alat olah raga atau kesenian dan alat alat yang lain dapat membantu meningkatkan kegiatan siswa yang dibimbing sesuai dengan kebutuhan perkembangannya. [14]  


[1] F. Patty, Pengantar Psikologi Umum (Surabaya : Usaha Nasional, 1996), 149.
[2] Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan (Bandung: Remaja Rosda Karya, 1995), 226
[3] Wayan Nur Kencana, Evaluasi Pendidikan (Surabaya : Usaha Nasional, 1966), 297.
[4] Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Kalam  Mulia 1988 ), 189.
[5] Usman, Menjadi Guru Professional, 16.
[6] Wijaya Dan Rusyan,  Kemampuan Guru Dalam Proses Belajar Mengajar, 14.
[7] Wijaya dan Rusyan, Kemampuan Dasar Guru Dalam Proses Belajar Mengajar, 14.
[8] Oemar Hamalik, Psikologi Belajar Mengajar (Bandung: Sinar Baru, 1992), 39
[9] Jamal Makmur Asmani, Tips Menjadi Guru Inspiratif, Kreatif Dan Inovativ (Yogyakarta: Diva press, 2010), 105.
[10] Ahmad Rohani, Pengelolaan Pengajaran (Jakarta: Rineta cipta, 2004), 12.
[11] Amir Daien Indra Kusuma, Pengantar Ilmu Pendidikan (Surabaya: Usana Offset Printing, t.t), 128.
[12] Dewa Ketut Sukardi Dan Desak PE Nila Kusmawati, Proses Bimbingan dan Konseling di Sekolah ( Jakarta : Rineka Cipta, 2008), 2-4
[13] Ahmad Juntika Nurihsan dan Akur Sudianto, Manajemen Bimbingan Dan Konseling Di SMP (Jakarta ; PT Grasindo, 2005), 7.
[14] Sukardi Dan Kusmawati, Proses Bimbingan dan Konseling,4

0 komentar:

Poskan Komentar