Pengembangan Pendidikan Agama Islam: Reinterpretasi Berbasis Interdisipliner

Pengembangan Pendidikan Agama Islam

--- SELALU ADA YANG BARU DI BLOG BANJIR EMBUN: "Kami Mengucapkan Terima Kasih Atas Kunjungan Anda. Bila butuh bantuan atau ada pertanyaan silakan hubungi ke nomor 08563350350 atau kirim email ke: banjirembun@yahoo.co.id subjek: BanjirEmbun Menjawab”---

Senin, 22 April 2013

Puisi Postmodernisme (Pengertian, Keunikan, Kelebihan, Tips Membuat, dan Contohnya)

Terima kasih, blog Banjir Embun telah dipercaya untuk digunakan sebagai referensi karya tulis oleh beberapa akademisi dan calon ilmuwan muda. Berikut puluhan BUKTI blog Banjir Embun mendapat kepercayaan masyarakat ilmiah (ilmuwan):

<<  Puluhan bukti blog Banjir Embun mendapat kepercayaan masyarakat luas  >>






 

Puisi Postmodernisme
(Pengertian, Keunikan, Kelebihan, Tips Membuat, dan Contohnya)

Puisi postmodernisme adalah puisi jenis baru, setingkat di atas puisi kontemporer. Terjadi perdebatan yang mengatakan bahwa sebenarnya puisi kontemporer merupakan produk dari zaman Postmodern. Namun sebenarnya puisi postmodernisme adalah jenis puisi baru yang sama sekali berbeda dengan puisi kontemporer. Perbedaan yang nyata terletak pada gaya bahasa, yang mana gaya bahasa puisi postmodernisme lebih singkat, lebih padat, dan setiap kata memiliki makna yang ganda. Seringkali puisi ini sangat sulit untuk dimaknai oleh pembaca sastra puisi yang masih pemula bahkan oleh yang ahli sekalipun.  Jenis puisi ini merupakan puisi gaya baru yang tetap mengakomodasi tujuan penulisan puisi sebagaimana yang ada pada puisi-pusi jenis lama. Puisi ini muncul dari perasaan atau jiwa (baca: Hati) penuisnya. Puisi ini tidak hanya merupakan puisi pembaruan, bahkan merupakan puisi pembarunya pembaharuan. Menembus zaman dan menerobos keganasan zaman yang semakin mengalami perkembangan.  Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa definisi puisi postmodernis adalah puisi kebebasan untuk mengungkapkan isi hati yang tak tertahan, tidak membicarakan dan menanggapi sebuah fenomena, dan tidak digunakan untuk kepentingan diri (kelicikan).
Jika kita telusuri lebih dalam, sesungguhnya puisi postmodernisme hadir bukan untuk mengkritik, menyindir, ataupun berkomentar tentang kejadian atau fenomena masyarakat. Namun kemunculannya lebih disebabkan karena adanya keluh kesah dalam diri sendiri yang kemudian dimunculkan dalam bentuk puisi. Keluh kesah ini murni dalam diri sendiri karena tetidak sanggupan mental, jiwa, dan hati yang mengalami kegundahan. Sehingga seringkali bingung mencari tempat pencurahan jiwa. Menghadapi banyak masalah, banyak berita, banyaknya kejadian-kejadian ‘unik’ ataupun yang tidak disetujui oleh isi hati maka caranya adalah mencuruhkan isi hati. Mencurahkan isi hati sangat berbeda dengan mengkritik orang lain, mengkritik peristiwa, bahkan mengkriti diri sendiri, karena pencurahan hati lebih ditekankan pada kepenatan jiwa yang tak terbendung lagi. Maka dimunculkan dalam bentuk puisi postmodernisme yang dalam segi penulisan lebih bebas, dan dalam gaya bahasa ditekankan pada keluhan hati. Inilah perbedaan nyata dengan puisi-puisi sebelumnya.
Kelebihan puisi postmodernisme adalah bisa menjadi cara untuk meluapkan kegelisahan hati, dengan cara tidak menggurui, memfitnah, menceramahi, ataupun menghakimi. Puisi ini menggambarkan isi hati sehingga bisa menceritakan isi hati kepada seseorang dengan cara  bersastra yang keuntungannya adalah tidak ada orang yang bisa memahami puisi itu dengan utuh dan benar kecuali penciptanya sendiri. Kelebihan lainnya adalah diciptakan mengalir tanpa menguras akal fikiran karena puisi ini ditulis oleh keluhan jiwa, bukan keluhan logika yang memiliki tujuan licik. Oleh karena itu dalam membuat puisi ini memerlukan cara-cara khusus dan perlu pembelajaran terlebih dahulu. Salah satunya adalah saat membuat puisi ini jangan sampai memikirkan bahasa apa yang cocok, namun mengalir begitu saja. Sehingga hindari sekecil mungkin pengeditan bahasan bahkan sebuah kata, bila perlu dalam pembuatan puisi ini tidak ada pengeditan sehurufpun dari huruf pertama di awal bait hingga huruf terakhir di akhir bait. Dan lebih baik jika membuat judulnya setelah semua bait dalam puisi telah selesai. Jikapun sudah punya judul di awal sebelum pembuatan isinya, maka jangan sampai judul dari puisi tersebut mengekang penulis untuk mengetik bait demi bait isi hatinya.
Berikut ini adalah contoh-contoh dari puisi postmodernisme yang bertema tentang cinta, tentang alam, tentang pekerjaan, politik, pertemanan, dan contoh puisi postmodern yang lainnya.

Judul-judul puisi postmodernisme karya A. Rifqi Amin:

 - Tentang cinta:
 - Tentang  luapan emosi:
 - Tentang  beban kehidupan
 - Tentang  alam

 - Tentang  politik
 - Tentang yang lainnya


Catatan: ini bukan referensi ilmiah, pendefinisian tentang puisi postmodernisme dimaksudkan untuk membelah serta membedakan dengan jenis-jenis puisi lainnya. 




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar